Pernikahan Lintas

Pernikahan Lintas
Titipan Tina


__ADS_3

Sudah seminggu sejak aku tiba kembali dari Bandung, aku belum juga mendapat pekerjaan, sebenarnya aku masih berniat kembali bekerja di Butik Miss Dora. tapi entah mengapa kakiku masih berat mendatangi Butik apalagi setelah Tina mearangku, sepertinya memang ada sesuatu rahasia di Butik .


Pendidikanku tidaklah tinggi hanya sampai SMK walaupun saat sekolah aku termasuk terbaik. seandainya saja aku kuliah mungkin tidak akan sesulit ini mencari pekerjaan. sepanjang hari aku mendatangi kantor-kantor siapa tau aja ada lowongan pekerjaan jadi cleaning service pun tak apalah. yang penting halal. Aku rela hidup susah di Jakarta demi dekat dengan adik-adikku.


Aku kangen sekolahku…kangen anak-anak panti, sekolah SMK Muhammadiyah memang memiliki Panti asuhan juga...aku sering membantu anak-anak panti sekedar mengerjakan tugas sekolah mereka, aku memang suka anak-anak.


Sekolah ini terasa asing buatku mungkin karna aku sudah lumayan lama. bangunan yang sama mungkin guru-gurunya pun masih sama. aku ga niat bernostalgia di ruang kelas tujuanku Panti Asuhan.


"kaaaak axaaaaa" aku masih mengingat ngingat anak kecil ini siapa yaaa, sumpah aku lupa.


"kakak pasti lupa ya....aku nina ka....aku duluu keciil banget kak, sekarang aku udah mau SMP"


"Ya Allah perasaan baru kemaren deh kaka lulus, gimana sekolah kamu? teman-teman yang lain di mana?"


"semua baik ka"


ehmmm…pengganggu saja siapa sih yang usil sama kami? ku danggakan kepalaku tepat di atas tubuhku berdiri tegak dia lagi…dia lagi.


"Apa kabar axa?" sapanya suara bariton setyawan, ada apa dia di sini, apa hanya kebetulan saja, aaaah buat apa aku mengurus yang ga perlu aku urus. mungkinmemang hanya kebetulan saja.


"Baik, kamu sendiri gimana? masih dengan wanita dalam lift itu? "skak matt aku paling seneng bikin setyawan skak matt so dia ga akan ganggu aku lagi. ternyata pikiranku salah.

__ADS_1


"Axa minta nomer Hand phone mu, jangan Geer ya gw cuman mau masukin ke grup sekolah aja. biar silatrahmi tetep jalan."


"Maaf aku ga punya Hand phone" aku berusaha menutupi kebohonganku. aku tau modus dia.


"mau pulang?aku antar ya"


"G usah wan… aku masih mau ke tempat lain"


"Baiklah aku tinggal ya" setyawan kakak kelas yang pernah jadi inceran teman-teman sekelas. pendiam berwibawa ga sombong. ga arogan. aku dengar sekarang dia menggantikan papahnya mengurus perusahaan tambang. Tajir lah pantas saja tinggal di apartemen elite.


**


"mamaaah…" anak lelakiku yang hansem menyambutku dengan senyumnya yang merekah. sebenarnya sadam anak Tina. masih ku ingat ketika hendak melahirkan tina mengalami kesulitan harusnya dia menjalani seccar tapi kekeuh dia ga mau. hasilnya dia pergi meninggalkan aku dan saddam. aku bingung harus membawa sadam ke mana. Tina sebatang kara dan suaminya entah kemana, sebenarnya bukan suaminya…pacarnya. biarlah saddam bersamaku sampai aku menutup mata.


Aku meminta semua keluarga menutup mulut masalah sadam termasuk om dan tanteku. Saddam selamanya menjadi anakku. semua surat-suratnya atas namaku. kini usianya sudah 4 tahun.


"Assalamualaikum Rafinya ada kak?"


"Ga ada " hampir setiap sore Pram datang kekontrakan. bermain bersama saddam. dan rima... lama-lama aku bosan jika Pram datang. lagi pula mulut tetangga sangat ramai di depanku mereka ramah, di belakangku habis aku di kulitin bahakan di tambahin bumbu-bumbu aneka rasa. hadeeeh ema-ema kurang kerjaan apaa aja jadi bahan omongan.


"Rafiiii…bisa nga sih temanmu itu ga setiap hari datang. teteh ga suka fi…omongan orang udah menggunung fii"

__ADS_1


"teteh ma ga pekaa, Pram tuh suka sama teteh." dengan entengnya Rafi menjawab sambil mengambil laptop. dan menyuruh muti membuatkan teh untuknya


"Kapan kamu lulus, sepertinya kamu ga lulus-lulus kuliahnya. ga mau pundah kerja apa fii"


mulutku ngomel tapi tanganku masih asik dengan tumpukan cucian.


"izzi lah teh...pokonya nanti Rafi bakal banggain teteh gitu aja."tangannya mulai sibuk di laptop aku sudah tak ingin mengnggunya. bulan ini wisuda muti di SMA, sebenarnya uang bukanlah masalah serius buat kami Arga setiap bulan mentransfer untuk adik-adiknya.


"Aku mau kuliah di Jawa teh. teman-temanku banyak yang hijrah ke jawa." apalagi iniiii…muti memang pendiam, justru sikapnya yang seperti itu yang membuatku takut.


"yaaaaaah...di coba saja lah ikut SBMPTN ya, siapa tau saja rejeki kamu bisa kuliah di kampus Negeri"


**


Alhamdulillah adik-adikku lulus dengan nilai baik. Rafi juga langsung mendapat pekerjaan di perusahaan minyak dan mengharuskan aku mengikhlaskannya kerja jauh di Penang.Malaysia. Muti mendapat beasiswa di kampus Surabaya. terpaksa aku menitipkannya pada sahabat koplakku Herlina.Rima masuk sekolah keperawatan. sedangkan Alif bertahan dengan IBu. Ibu iya Ibu hampir saja aku melupakan Ibu…beliau pasti sudah sepuh, keriput sudah mulai menjalar di kulitnya, Besok aku akan sowan ke rumah Ibu, sebenarnya aku ga mau mengajak Saddam hanya saja di rumah tidak ada yang menemani, sikap benci Ibu padaku sudah mulai memudar, aku yakin tidak ada Ibu yang tidak luluh dengan anaknya. tapi kini dengan saddam...mungkin saddam mengingatkan Ibu padaku, ah sepertinya tidak juga. Ibu di perkosa Ayah, Tina tidak di perkosa, Ibu memilih melahirkan tanpa status. Tina di tinggal kabur pacar laknatnya. semoga saja pria itu tidak datang mengambil saddam dari hidupku. Tina memberinya padaku bukan pada laki-laki brengsek itu.


"Mamah kita mau kemana? Hari ini saddam ga mau sekolah" rengek saddam di pagi buta itu.


"sayangnya mamah. kita mau jalan-jalan, inikan hari minggu." sudah sangat lama saddam tidak ku ajak jalan-jalan, skejulku pagi ini aku akan mengajak saddam ke B Xchange lanjut ke rumah Omanya.


"Mamah...apa Papah ikut?" Papah? aku ga salah denger? Papah yang mana? siapa yang mengajarinya? Rima tertawa dengan senangnya dan aku… dengan kedunguanku.

__ADS_1


__ADS_2