
"Axa....bagaimana? " bisa ga sih nih orang ga beredar di dekat aku. apalagi setelah sofi curhat dari ilfiil tingkat Tk sekarang ilfiilku udah sampe ketingkat dewa.
"Apanya?" jawabku dengan malas, aku bener-bener ga siap dengan Pram.
"Stop axa belajarlah buat nerima aku, jangan selalu ketus begitu, aku ini calon suamimu" apa....aku ga salah denger ya Pram ngomong kaya gitu… calon suami sejak kapan? aku harus bicara padanya aku ga bisa bersamanya. urusan Saddam biarlah jadi urusan nanti, toh dia anak kecil, anak - anak gampang lupa.
"Stop pram…berhenti"Pram reflek menginjak rem avanzanya, apakah suaraku terlalu keras ya? bodo amat deh
"Mau bahas ini sekarang? oke kita bahas sebentar aku telfon bik amah"
"apa...siapa ... "bibirku sudah di stop dengan jari telunjuknya
"bik....jaga Saddam ya saya pulang larut malam, jagan biarkan siapun ambil saddam…mengerti bik…ok bagus"
Saddam…saddam anakku kau menyanderanya Pram. kutepis jari Pram. kugigit jarinya. Pram hanya tertawa merasa menang dia.
"Rudi…lembur ya, jaga rumah jangan ada yang ambil saddam…kau tau kan harus apa…baguus…aku mau culik Ibunya dulu"
__ADS_1
segila itukah Pram? apa salah saddam? dia anak kecil anakku yang kecil dia yang memberiku nafas semangat. Ya Allah jaga Saddam untukku.aku ga mau Tina mencaci makiku di ahirat nanti.
"Turun" sebuah perintah kawasan Gunung Sindur Bogor gapura di depan tadi yang sempat aku baca. hari menjelang magrib.
Pram dengan kasarnya menarikku keluar mobil. jantungku berdegup tak berirama hanya bisa bertakbir dalam hati, Pras yang kasar kini Pram pun tak jauh berbeda.
Pondok kecil di pinggir sawah...terlihat sederhana ternyata pondok yang lumayan, depan pondok berjejer pohon pinus mini tertata rapi, di pojok sana ada my favorit flower kenanga, kolam ikan gemricik hadeeeh indah banget deh, rumah impianku tapi sayang yang punya rumah bukan pria impianku.
tangan Pram terlihat gemetar memasukkan anak kunci ke dalam lubang kunci, tangan kirinya semakin erat memegang lenganku. kasihan …keringat mengucur ketawan banget deh jika orang salah pasti g tenang. kutarik nafas dalam-dalam, ku coba membantu Pram membuka kunci bukan karna aku setuju ya di culik Pram tapi adzan magrib telah berkumandang mendayu dayu di cakrawala.
"Berikan...biar aku yang buka" pintaku pada Pram. wajah Pram sungguh culun pengen banget ketawa seandainya tidak dalam kondisi seerti ini.
"see,… gampangkan!! isi otak kamu dengan hal positif Pramudia Utomo" kudorong pintu pondok…temaram Pram mencoba mencari Saklar di dinding. seketika ruangan menjadi terang hmmm hangat. seperti rumah di Bandung. Oh ya aku harus shalat. ku edarkan pandanganku ada 2 kamar ruang tamu dan ruang makan hanya di sekat bilik rotan, dapur minimalis. berbingkai jendela lebar. kamar ya aku akan ke kamar aku harus shalat…
"Heiii...nyaman…suka?? ini akan jadi milikmu dan Saddam menikahlah denganku axa" nafasnya memburu di telingaku hangat penuh ambisi. seberharga itukah aku di matamu Pram? lalu bagaimna dengan hatiku ini, shalat...shalat...shalat. ku tinggalkan Pram yang masih memburu...Pram ingin meraihku kembali...terlambat aku sudah enghilang di balik kamar. kamar sederhana mungkin ini kamar anak-anak.
Berwudhu membuatku terasa lebih baik… takbir 3 rakaat. shalat caraku berkomunikasi dengan Dzat Maha Tinggi…Tempatku mencurahkan semua isi di hati dan otakku, tempat teraman di Dunia ini tanpa aku harus takut di ceritakan kembali curhatanku pada orang lain.
__ADS_1
" Ya Rob Dzat yang Agung…bantu aku ya Allah bantu aku menyelesaikan semua ini…tunjukan padaku apa yang harus aku lakukan. apa memang aku harus bersamanya?" doaku di sujud terakhir shalat maghrib.
Aku percaya … aku yakin…iam belived… doa di sujud terakhir setiap ibadah akan di ijabah. so…aku tak pernah melewati momen ini…
**
Sudah hampir satu jam aku mondar mandir di kamar ini dengan fikiran yang bermain-main dalam otakku, di luar sepertinya sunyi… ya hampir memasuki shalat isya. aku ini manusia…haus…dan sayangnya tidak ada air minum di kamar ini. apakah aku harus mati kehausan? hadeeeh tindakan bodoh, menjauhkan diri dari Pram saat ini adalah yang terbaik…tapi rasa haus di tenggorokan aku ini bagaimana?
Bismillahirrahmanirrahim…ku beranikan diriku melangkah keluar…alhamdulillah seertinya Pram ada di kamar sebelah. aku melangkah hampir seperti maling karna aku ga mau Pram tau aku keluar kamar, jika memungkinkan aku pun ingin sekalian kabur dari tempat ini, di luar ma bagaimana nanti ajalah, Pram begitu menakutkan saat ini. aku bergidik sendiri membayangkan apa yang akan terjadi padaku jika aku terlalu lama di pondok ini.
Alhamdulillah…hilang hausku. sekarang aku harus berfikir bagaimana caranya melarikan diri, di kunci tidak ya? semoga saja tidak di kunci,tiba-tiba lengan kokoh itu melingkar di pinggangku kepalanya sudah bersender di bahuku. astagfirullah …sial aku terlambat. hatiku mulai kesal lagi. bagaimana Pram tau aku keluar kamar?
"Pram … lepaskan, kita ga bisa seperti ini, kita bukan muhrim, lepaskan Pram please, jangan bodoh Pram, lepaskan" aku mulai meronta sekuat tenaga, aku tau rontaanku hanya membuang tenaga saja, dan berakhir sia-sia, Pram membalikkan tubuhku kini kami saling berhadapan ku tatap mata hitam yang penuh ambisi itu, aku tunjukan padanya aku tidak takut, toh aku lebih tua 3 tahun darinya, aku tunjukan padanya bahwa aku menantangnya…sebenarnya nyaliku tidaklah sebesar itu jika bajuku transparat dan bisa menembus jantung pasti terlihat bagaimana jantungku berdegup dengan kencang, tak beraturan penuh amarah. hatiku tak kalah kalutnya memohon terus pada Allah agar aku terbebas dari Pram
"Kenapa kau selalu takut padaku axa…apakah kau tak tahu aku lumayan di gilai wanita, bahkan mereka rela tidur denganku, hayolah axa jangan takut, saat ini aku ga akan memakanmu" what…tidur dengan wanita…ingtanku mundur beberapa jam lalu akan pertemuanku dengan Sofi…ini petunjuk dari Allah Sofi tidak berbohong, mulut Pram sendiri secara tidak langsung membenarkan cerita Sofi…Ya Allah aku akan di jadikan mainan Pram
"Aku bukan mereka, aku ga perduli sama kelakuan kamu, sama simpati kamu, everything You doit i dont care, i want go home now dan aku bukan wanitamu yang tergila gila padamu. "
__ADS_1
"Jangan pernah menolakku axa…aku tidak pernah di tolak" suara Pram mulai meninggi
"Aku bukan tahanan kamu. jadi jangan main-main sama aku Pram, kasihanilah aku Pram, jangan seperti ini, ada Saddam yang membutuhkan aku." ku lemahkan suaraku Pram tidak bisa di tentang dengan cara keras. ku coba dengan lembut… and than......