Pernikahan Lintas

Pernikahan Lintas
Merantau


__ADS_3

"Sekarang tentukan aku atau anak haram itu" suara Tante Lidya kali ini begitu meledak


"Please Lidya jangan beri aku pilihan.... biarkan dia bersamaku...axa tanggung jawabku.. axa darah dagingku....anak kakakku...amanah Ibu lidya …tolonglah lembutkan hatimu....axa ga punya siapa- siapa lagi selain kita....jangan sampe kamu menyesal nanti lidya" om selalu bisa lembut berbanding terbalik dengan tante lidya yang selalu meledak ledak.


"Aku ga mau mati konyol karna kutukan anak haram pram. cobalah kau mengerti"


"Otak kamu terlalu kotor lidya"


"Bawa di ke Ibunya...Ibu yang melahirkannya...mungkin dia lebih bermanfaat buat Ibunya dari pada buat kita"


Perutku yang sedari tadi sudah keroncongan nagih buat di isi dengan hebatnya seketika hilang rasa lapar itu karna pertengkaran om dan tante...lebih baik aku tidur...aku juga dah cukup lelah hari ini. baru saja aku mau terlelap pintu kamarku di ketuk


"Teteh axa...boleh masuk ga....?" suara ria anak sulung Om ku


"masuk aja Ri...ga di kunci kok"


"Teteh....ria mau minta tolong boleh ga? tanya gadis sebelas tahun di depan pintu kamarku

__ADS_1


"Boleh dong kemarilah kita bicara....ria perlu bantuan apa?"


"Teteh bantuin Ria biar ayah dan bunda ga berantem lagi, Ria sedih teteh ...Ayah Bunda setiap hari berantem terus, Ria ga maksud buat teteh sedih juga tapi Ria perlu bantuan teteh"


"baiklah Ria cantik...nanti teteh bantu"


Ada seberkas senyum di bibir munggilnya...aku tahu bukan tanpa alasan dia memintaku membantunya, karna sudah sangat jelas jika aku penyebab pertengkaran orangtuanya. aku akarnya. bagaimana pun juga aku harus bertindak.


Genap dua minggu aku tinggal di Bandung tiada hari tanpa ku dengar ocehan tanteku...pagi ini aku bertekad melangkahkan kakiku keluar dari rumah ini setelah kemarin aku memaksa mang Ujang memberiku alamat rumah Ibuku di Jakarta. ku buat Bik mar dan mang Ujang tutup mulut. agar mereka tidak memberi tahu omku akan niatku ini.


Ku tinggalkan sepucuk pesan di atas nakas kamarku


Om tolong maafkan Axa...selama di sini Axa selalu saja menyusahkan Om dan Tante.


Axa pamit Om


Wassalamualaikum"

__ADS_1


Untung saja aku punya uang sisa dari Cianjur kemrin jadi aku bisa membayar bis, sepanjang jalan mataku nanar menerawang apa yang akan terjadi di Jakarta nanti? apakah aku akan mendapatkan perlakuan yang tidak adil lagi? aku bertekad apapun yang terjadi di Jakarta aku akan tetap bertahan.


Aku anak lima belas tahun sudah tidak tahu kemana lagi harus melangkah. lelap....aku terlelap dalam lamunanku...akhir akhir ini tidurku memang sungguh tak beres.


"Slipi.....Slipi...." tereak kondektur bis....bergegas aku turun waaw inikah Ibu kota?


Kendaraan bersliweran tanpa henti, inikah wajah Ibu Kota yang tak pernah lelah dan selalu sibuk. Gedung-gedung pencakar langit bertengger dengan kokoh dan sombongnya, debu bertebaran di mana-mana, udara panas sampai tembus ke dalam bajuku, sungguh kondisi yang berbalik 180 derajat dengan kampungku.


Ku langkahkan kakiku yang mulai goyah aku ga tau harus kemana aku bingung. ada segerombolan pelajar SMA asik bercanda di pinggir jalan...ku beranikan diri bertanya pada mereka .


"Maaf kak...saya mau tanya kalo stasiun Palmerah ada di mana ya kak?"


" Waah dari kampung ya....ayo aku antar kamu....sekalian aku pulang"


Mimpi apa aku ketemu orang baik di tengah hari bolong gini.


Ibu…Adik-adik iam comming

__ADS_1


Aku datang Ibu.


Teruslah berbuat baik. maka pertolongan Allah akan datang melalui siapa saja, di mana saja, kapan saja, ketika kita sangat membutuhkannya.


__ADS_2