
Gedung ini… dulu, zaman menjadi istri Pras tidak pernah sekalipun aku menginjak gedung ini, kini aku berdiri disini,tidaklah susah mencari gedung ini, tanpa harus bertanya tinggal klik di Goegel maps kelar.
"Maaf…saya mau ketemu dengan Tuan Pras"
Kataku di resepsionis, kedua Resepsionis saling berpandangan entah apa maksudnya.
"Apa…Ibu sudah buat janji?" tanya salah satu dari mereka
"Belum sih mba…tapi tolonglah mba beritahu Pak Pras Axa mau menemuinya" Aku mulai cemas jika tidak sampai bertemu Pras hari ini, aku gak mungkin menemui Pras di Butik Dora, Aku gak mau Dora merasa merebut Pras dariku.
"Tunggu saja ya bu,"
Sudah satu jam aku duduk di ruang tunggu, aku mulai gelisah lagi, sebenarnya Pras masuk kantor atau tidak ya? jika tak menyangkut Saddam Aku ga akan menemuinya. kini Aku mulai mondar mandir ga jelas majalah di tanganku tak bisa membuatku sedikit tenang.
Baiklah setengah jam lagi tidak bertemu Aku akan pulang.
Setengah jam berlalu, baru saja Aku akan melangkah keluar pintu, Anton asisten Pras memanggilku.
"Mba…Mba axa," Aku menoleh untuk meyakinkan bahwa benar Anton yang memanggilku.
"Mba mau bertemu dengan Tuan?"
"Iya pak Saya ada perlu dengannya"
"Mari mba ikut dengan saya"
Aku mengekor mengikuti Anton, kami menaiki lift VIP tujuan kami lantai teratas gedung ini lantai tiga puluh.
Hatiku gedebak-gedebuk gak menentu, seandainya, saja dapat terlihat pasti aku sudah malu sendiri. Aku mulai menerka nerka apa yang akan terjadi nanti antara aku dan Pras...semoga saja Pras tidak berlaku konyol.
__ADS_1
"Silahkan mba Axa," Anton mempersilahkan Aku keluar lift dan mengikutinya. Kami berhenti di depan pintu besar, tertera di depannya, Vice President.
Aku mencoba menata hatiku, semua akan baik-baik saja. Ku tarik nafas dalam-dalam, kembali ku yakinkan diriku, Bismillah.
Ku ketuk pintu dengan tangan bergetar tak ada jawaban.
" Mba Axa, masuk aja Tuan lagi keluar sebentar, Saya sudah menghubungi beliau" rupanya anton kembali menemuiku.
Ruang besar, dingin, beku, mengesankan keangkuhan… lagi-lagi aku harus menunggu, hal yang membosankan namun , sudah menjadi bagian hidupku, menunggu.
Di meja kerja Pras terdapat bingkai foto, aku menerka itu pasti foto Dora, aaah…apa kabarnya mantan bosku itu ya !! tanpa sadar aku tersenyum sendiri.
Tadi di bawah aku harus menunggu setengah jam untuk bisa naik keruangan ini. Kini, kembali harus menunggu, Aku mulai nyaman duduk di sofa panjang ini seperti layaknya kasur lembut, ku senderkan kepalaku semakin lama aku terbuai dengan suasana, ngantuuk merayap, lama-lama aku terlelap.
Aku terbangun ketika ku mendengar suara gebrakan meja, Astaghfirullah… Ku coba membuka mataku yang masih malas, ku tarik selimut merah jambu, seperti sudah tidak tidur selama berhari-hari saja. tiba-tiba aku tersadar, ini bukan rumah yaa…ini kantor, kantor Pras, kantor ada kamarnya juga!! pantas saja ruangan ini sangat besar, mau keluar tapi malu karna suara Pras masih sangat tinggi, akhirnya aku memutuskan menunggu…again.
Shalat empat rakaat di sore hari, ini shalat ashar pertamaku di kantor mantan suamiku. seandainya, aku tidak terlalu sakit mungkin kami masih bersama, bahkan mungkin, aku sudah melahirkan Pras dan Axa kecil. Aku hanya bisa tersenyum getir mengingat kejadian yang telah lewat.
"Hai…cantik, maaf ya tadi aku gendong, maaf ga izin dulu" bisik Pras, yang tiba-tiba saja sudah ada di belakangku dan memeluk pinggangku.
Aku hanya mengangguk ga berani berbalik badan, aku hanya berusaha tuk melepaskan tangan kokohnya.
"Biarkan Axa, biarkan sebentaaaar saja, aku kangen axa, lima menit ga lebih " kembali Pras memintaku, akhirnya aku menyerah, ku biarkan pria bukan muhrimku ini memelukku gratis.
Lima menit aku benar-benar melototin jam tanganku, Pras masih belum mau melepaskanku, ku balikkan tubuhku. tanpa sengaja aku mendongak kini wajah kami saling berpandangan, sudah bisa di tebak apa yang terjadi, Pras memburuku, seperti petualang yang sudah bertahun tahun tidak melihat makanan enak. Pras begitu lembut beda dengan Pram yang buas.
Pras mulai menagih yang lain, seketika aku tersadar dia bukan milikku lagi, ku dorong dada bidang itu. aku sudah berusaha keluar kamar, tangan Pras meraih tanganku kembali aku dalam pelukannya, kini dia mulai melepas jilbabku, leherku jadi sasaran empuknya, stop...stop...axa...stop...dia bukan milikmu...
"Lepaskan Pras....aku bukan milikmu, " seketika, Pras menghentikan aktivitasnya.
__ADS_1
" Maaf...sorry, aaakku.."
" Sudahlah Pras, aku yang salah, aku yang membiarkanmu terbawa arus "
"Axa....kembalilah padaku....aku berjanji ga akan melukaimu lagi "
Ku tatap langit-langit ruangan ini, menahan rasa, semua rasa, kerinduan, kebencian, bercampur aduk menjadi satu. kembali padamu? ga akan Pras aku ga akan melukai Dora, berbahagialah Pras bersama Dora.
...****************...
" Pras … aku mau tahu tentang Pram" Aku mulai membuka pembicaraan ketika kami menunggu makanan di restoran favorite ku.
" What…kamu bersama ******** tengik itu? please Axa, lebih baik kamu bersamaku…jangan dengannya" wajah Pras terlihat tegang, tangannya mulai mengepal.
" Hmmm… A..akku terpaksa Pras, ada anak yang harus aku perjuangkan" jawabku terbata-bata.
" Aapa anak?" suara Pras mulai meninggi beberapa orang menoleh ke arah kami.
"Pras kecilkan suaramu… kamu seperti menolak anak saja"
" Maaf…Axa kamu hamil? hamil anak ******** itu? Axa lepaskan Pram, aku yang akan jadi Dadynya, Axa …lihat aku, kembali padaku Axa, aku ga mau kamu jadi korban mereka, " suara Pram begitu khawatir.
"Dora…apakah kau akan mengkhianati Dora? seperti kau mengkhianati aku di malam itu, malam ketika aku siap menyerahkan semuanya? malam ketika aku sangat mengharapkanmu, malam aku memulai dari nol, apakah kau akan meninggalkan Dora? demi pembayar hutang ini?" Aku mulai terisak, sesak sekali mengingat malam itu, Pras pindah duduk ke sampingku, dia meraih kepalaku menyenderkannya di dadanya, pecah aku benar-benar terisak. aku merindumu Pras
" Katakan Axa...katakan kau mencintaiku...akan aku lepas Dora demimu, jangan siksa aku lagi Axa, aku sangat tersiksa tanpamu, biarkan aku masuk dalam hidupmu lagi, izinkan aku menjadi dady nya, "
"Aku ga hamil Pras, aku masih menjaganya" jawabku tangisku mulai reda,
" Jangan tinggalkan Dora… jika kau tak ingin aku bersama Pram, katakan semuanya Pras, "
__ADS_1
" Lalu maksudnya kau bilang ada anak…itu apa Axa?...oh Axaku....kau mencintaiku Axa, aku tahu itu, Kau menjaganya untukku kan ?"
Aku menceritakan semuanya pada Pras ttg Pram, tentang Saddam, kecurigaanku pada Pram. kegelisahanku. saat ini Pras adalah penolongku, Aku tahu ada harga yang harus aku bayar demi ini semua. tak apalah asalkan Saddam dan aku bisa lepas dari Pram.