
masih pagi....hawa dingin masih menusuk tulang rusukku, jaket super tebal pun tak mampu menahan dinginnya suhu Bandung, pukul enam pagi namun kabut tebal masih menyelimuti daerahku.....tidak musim panas, musim hujan udara Bandung tidak berubah, secangkir teh manis panas buatan bik mar udah super nikmat.
"bik...aku mau keluar ya sebentar...nanti kalo om tanya bilang aja aku jalan-jalan" pamitku pada bik mar asisten rumah tangga omku, usianya belumlah tua sekitar tiga puluh tahunanlah, tapi raut mukanya menunjukkan dia lebih tua dari umurnya, mungkin karena faktor ekonomi atau entahlah aku ga mau bertanya dan ga mau tau juga toh itu urusan orang dewasa.
ku telusuri jalan menurun..di Bandung jalanan memang tidak rata. satu tempat yang akan ku datangi makam Ibu..Ibu aku datang bu...aku rindu Ibu...maafin aku bu ga pernah datang ke makammu sekalipun, karna jarak, usia dan keadaan yang menghalangiku tuk datang ke makammu. aku hanya bisa memberimu lantunan AlQur'an dan doa di setiap sujudku.
udara masih dingin saja,ingin rasanya kembali ke kamar selimutan lagi....ngeringkel lagi di dalam selimut tebal itu, tapi aku tak mau...ku lawan hawa dingin ini demi kerinduanku. ku masukkan kedua telapak tanganku dalam jaket berharap agar dingin tidak terlalu menyerang.
Gerbang Tinggi menjulang mengesankan keangkeran tanah pemakaman harum kamboja dan melati menusuk hidungku...yaa aku sampai juga di makammu Ibu, ternyata aku tidak nyasar kedua kakiku sangat hafal jalan ini. ku usap nisan Ibu. Ibu yang tidak melahirkanku tapi tulus membesarkan aku dengan cinta dan kasih sayangnya. sayang cancer payudara merenggut nyawa orang terkasihku.
__ADS_1
Alfatihah.....lama aku terdiam di makam Ibu. tanpa air mata
ku ceritakan tentang semua yang terjadi setelah Ibu tiada, sampai kedatanganku ke Bandung lagi dan pertengkaran yang terjadi antara om dan tante lidya kemaren sore.
"Ibu benarkah aku anak haram? benarkah aku haram Ibu? Ibu kau bawa rahasia tentang diriku selamanya ke dalam kuburmu....aku tidak menyalahkanmu Ibu....namun aku sangat berhutang kepadamu....dan kemarin sore bertambah pula hutangku padamu Ibu...Kau membesarkan aku tanpa pamrih, Kau pasti mendapat tekanan dari semua orang karna mengasuhku. apa itu yang membuatmu jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Aku harus menemukan jawabannya... ya harus aku temukan sendiri.
"Ibu....aku pulang ya..."ku usap kembali nisan hitam itu dingin....marmer dingin....apakah Ibu kedinginan juga?astagfirullah haladzim aku tersadar "bodoh...bodoh...."ku rutuki kebodohanku sendiri kenapa aku harus berkata seperti itu.
"Assalamualaikum....nek..."salamku di depan rumah bibi marni kakak tertua Nenekku
__ADS_1
"waalaikum salam....sebentar ya nak" sahutnya dari dalam....terdengar suara tongkat menari di atas lantai keramik tua
"Axa....axa kapan dateng? hayolah masuk nak"
"Nek....nenek sehat kan?? nenek tinggal sama siapa? "
"alhamdulillah axa nenek sehat....semua anak nenek tinggal di sini"
nenek marni mengajakku ke dapur....dapur kampung memang sangat luas.
__ADS_1
"duduklah axa....kamu mau minum apa?"
"ga nek...nenek ga usah repot-repot.....axa hanya mau bicara sama nenek tentang axa"