Pernikahan Lintas

Pernikahan Lintas
Bintaro


__ADS_3

Stasiun Pondok Ranji.....ku baca lagi secarik kertas bertuliskan alamat Ibu. kota baru Daerah baru....asing...semua terasa asing panas banget udara kota, orang lalu lalang seperti tumpah di jalan. Aku yang terbiasa hidup damai, adem, kini Allahu akbar.


Panas banget bener - bener aku ga tahan. ku baca papan petunjuk rute kereta api Palmerah - kebayoran - Pondok Ranji. berarti aku harus turun di stasiun ke dua. aku ingat - ingat harus aku ingat kalo aku ga mau ke sasar.


Segerombol anak - anak berseragam SMA asik bercengkrama, ini belum musim masuk sekolah kenapa mereka Sekolah?


apakah Ibu akan menyekolahkanku? membayangkan sambutan Ibu padaku saja aku ga berani apalagi membayangkan Ibu menyekolahkanku....andai saja aku tetap di Cianjur mungkin aku ga akan berlari dari satu tempat ke tempat yang lain....


otak kecil dan hatiku hanyalah ketakuatan di nikahkan. bodohnya aku......mungkin ini balasan Allah kepadaku atas perlakuanku ke kang Juna yang sudah tulus kepadaku.


Kereta merah datang dengan berisiknya....orang - orang menyebutnya kereta lansam..penuh...sesak...buat menginjakkan kaki saja sudah sangat sulit.


"apa ga ada kereta lagi ya?" batinku, aku juga yakin pasti banyak copet tas ransel ku kedepankan bukan tanpa sebab...bukan karna ada uang jutaan...boro- boro aku punya uang segitu banyaknya, mungkin jika aku pamit lain halnya....tapi ada modal masa depanku.....Ijazah.


Ku edarkan pandanganku di Stasiun Pondok Ranji..


"aku harus kemana?" batinku


kang ojek..ya aku akan minta bantuan Kang ojek


"hayoo neng..."

__ADS_1


"perum Pertamina pak"


"Duapuluh ribu neng"


"Yaaah pak uang saya kurang....memang perum pertamina di mana ya pak?"


"Jauh neng, kalo neng jalan kaki nanti malam baru sampe, jalannya serem neng, masih sepi, banyak orang jahatnya"


lama ku terdiam uangku hanya lima ribu...ini uang terakhirku jika aku nekat naek ojek apa Ibu akan membayarnya?? sesuatu yang tidak berani aku bayangkan.


"Ayooooo.." suara laki - laki tinggi juga badannya aku harus mendongak. ku pandangi wajahnya, jelas saja aku tak mengenalnya, ini tempat baru untukku, apakah Orang Kota seperti ini? tidak sopan...dengusku


"Ayo..aku anter....perum pertamina kan? hayolah...aku ga akan nyakitin kamu"


Jika saja aku masih punya uang, aku pasti akan menolaknya, semoga saja Pria ini orang baik, jika dia tidak baik sudah nasibku, salah sendiri Aku mau di ajak Pria tak di kenal.


"Nomer berapa?"


"Sebentar aku lihat dulu, hmm nomer 12"


"Ok....pegangan ya"

__ADS_1


"Dah sampe..hayo turun mo ikut aku ke rumahku?" tawanya menggelegar....dasar orang kota


Rumah sederhana dengan gerbang hitam menandakan kekerasan hati pemiliknya. haruskah aku menekan bel? atau mundur? Bismillah.


belum sempat ku pencet bel sudah terbuka saja gerbang itu.


"cari siapa non?"


"I..Iiiibu Aida Rosmala....benar ini rumahnya?"


"Benar non..hayo masuk"


"Teteeeeeh...Ibuuuu....teteh dateng...."Alif berlarian ke arahku, alif kaka kangen Alif....ku ciumi ke dua pipi adikku. satu persatu adikku memelukku Arga, Rafi,Muti, Rina tentu saja si bungsu Alif yang tidak lepas dari gendonganku. air mata kerinduanku..


"Ada apa ini.....!!" tegang suara galak itu membuyarkan pelukan kami


"Ooooh.....kalian masuklah dan kamu diam di situ"


Astagfirullah baru saja aku tiba apa aku akan di usir seperti yang sudah - sudah atauuu…


"Hmmmmm...baiklah kamu boleh tinggal di sini tapi tidak bersama anak-anakku, kamu tinggal di kamar belakang. aku tidak mau melihat mukamu, mengerti ! Bik Rum rus dia"

__ADS_1


__ADS_2