Pernikahan Lintas

Pernikahan Lintas
Salting


__ADS_3

"axa…axa kan?"sebenarnya aku enggan menoleh dan aku tahu siapa pria yang memanggilku…setyawan kakak kelasku yang lumayan populer, zaman sekolah terkenal alim ga lewat sholat bahkan sering jadi imam…lumayan pinterlah, ga sombong sama ade kelas juga hambel…tapi sekarang kelakuannya dah kaya orang kurang di ajar…kasihan sekali dirimu bung.


Setyawan mendekatiku dan menyingkirkan wanita itu, wanitanya begituuuu kecewa dan bersungut sungut ga jelas, sebenarnya aku mau ketawa sekenceng-kencengnya ada ya pasangan romantisan di tempat umum begitu prianya down karna malu wanitanya masiiih saja merengek minta di lanjuuut…sumpah rasanya aku mau ketawa tapi aku tahan , ga enak juga di depan mereka nanti aku di anggap ga waras lagi, sebenernya merek kan yang ga waras.

__ADS_1


"ke lantai berapa?" reflek kutoleh pria itu…pertanyaan bodoh sudah pasti terlihat di tombol lift aku akan kelantai berapa masiiiih saja bertanya, mungkin dia berusaha mengalihkan rasa malunya padaku, setyawan…setyawan.


"bisa lihat kan aku akan kemana?" ketus ya aku memang seperti ini, ketus judes aku bukan tipe orang basa basi takut basi beneran.

__ADS_1


"semua ga seperti yang kamu fikir axa…" setyawan berusaha menjelaskan kejadian menjijikan yang kulihat tadi…di luar norma romantisan ga tau tempat. nafsu di umbar semaunya, mungkin dia berasa di Luar Negeri kali ya oh ya aku lupa kabar terakhir yang ku terima dari Diani setyawan kuliah di Amerika…hmmm pantas saja adab timur dilupakan di ganti adab free.


"Alhamdulillah …silahkan di teruskan kasihan pacarmu itu sudah merengek rengek dari tadi" kulahkan kakiku keluar lift aku dah ga tahan lagi buat nahan ketawaku, tetangga yang berpapasan denganku mungkin menganggapku sudah tak waras…padahal aku sedang menertawakan kakak kelasku yang terpergok sedang berciuman.

__ADS_1


"seneng.....seneng bisa ketemu mantan" suara bariton Pras menghentikan tawaku, seketika aku menegang…kenapa dia tau aku ketemu setyawan? apa dia punya mata di dinding lift? ah ga mungkin dan dia salah setyawan bukan mantanku, aku hanya punya satu kekasih Dito…ingin rasanya aku menjawab perkataannya tapi buatku akan percuma, Pras hanya memancingku agar kami bertengkar lagi…suka banget dia bertengkar denganku. kutinggalkan dia di ruang tamu…dengan setengah ikhlas aku membuatkannya kopi hitam favoritnya. ku letakkan kopiny di atas nakas dekat meja Tv aku ga mau memberinya langsung bisa di siram wajah jelekku ini…ku tinggalkan dia dalam kesendirian…aku sudah tak ingin berdebat dengannya. aku pun sudah tak mau berlama lama di hadapannya…bukankah dimatanya aku wanita menjijikkan?


Jam menunjukkan pukul 22:00 tanganku mulai pegal mengetik cerpen…ya aku memang masih aktif menulis untuk beberapa majalah Ibu kota…setidaknya aku punya penghasilan sendiri jika hari itu tiba aku tidak akan membawa uang sepeserpun dari sang Bos diktator…aku masih punya harga diri untuk mengambil yang bukan hakku…walaupun aku menjijikkan tetap saja aku manusia…Allah yang membentukku bukan Ibu dan Ayahku.

__ADS_1


__ADS_2