
Tika justru terkekeh melihat wajah tegang Arka. Ia terlihat sekali ingin membangun komunikasi yang menyenangkan sebelum biduk rumah tangganya benar-benar karam. Ia ingin Arka pergi meninggalkan dirinya yang masih sangat mencintanya tanpa beban. Cukuplah kejadian tadi pagi sebagai shock Terapy baginya.
"Lah kok malah tertawa, sih. Orang lagi tegang juga". Ucap Arka pura-pura sewot sambil mencubit kecil pemilik hidung bangir di hadapannya. Sejurus kemudian tatapannya menjadi lebih sendu dan serius.
"Maafkan ayah, bunda. Ayah tidak akan meninggalkan bunda. Ayah akan berusaha belajar mencintai bunda lagi. Beri waktu ayah menata hati kembali. Yakinlah semua akan baik-baik saja". Rayu Arka berusaha meyakinkan.Tangannya memegang erat jari jemari istrinya dan menciumnya.
Tika tersenyum manis, dihirupnya nafasnya sedalam-dalamnya, kemudian terdengar helaan nafas perlahan.
"Ayah nggak perlu berubah pikiran, ayah tidak salah jadi tidak ada yang perlu dimaafkan, ayah sudah melakukan hal yang tepat, bunda sangat salut dengan kejujuran ayah. Kejadian tadi pagi jangan dijadikan beban. Bunda tidak apa-apa, bunda hanya sedikit shock saja. Ternyata masalah yang ayah hadapi beberapa hari ini hingga merasa begitu terpuruk dan tenggelam dalam rasa bersalah yang tak berkesudahan itu adalah karena ayah merasa ruang yang biasanya terisi nama bunda sekarang telah hampa. Benar-benar tidak sesuai ekspektasi,ha ha ha ha ha". Jawab Tika tertawa lebar menutupi rasa nyelekit di sudut dihatinya saat kata-kata terurai dari bibir manisnya.
"Bunda ikhlas dengan karamnya biduk rumah tangga kita. Buang jauh-jauh rasa bersalah ayah. Ayah sudah melakukan yang terbaik. Walaupun bahtera rumah tangga kita harus kita tenggelamkan, setidaknya masih banyak yang bisa diselamatkan. Lebih baik mengakhiri kisah cinta kita daripada ayah merasa tersiksa karena harus berpura-pura masih cinta. Sedangkan bunda terbuai pada cinta fatamorgana tanpa menyadari bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan. Tentu itu lebih menyakitkan dan belum tentu bunda bisa terima karena merasa dipecundangi dan dibodohi. Keterusterangan yang ayah utarakan membuat pembelajaran tersendiri pada diri bunda untuk tidak terlena dalam pusaran cinta karena cinta bisa saja luntur. Seperti cintamu padaku....ha....ha....ha". Tegas Tika diakhiri tawa yang membuncah.
Ucapan Tika terdengar biasa saja, tapi terasa menohok bagi Arka. Ucapan di kalimat terakhir seolah menjadi penegas bahwa Tika tidak yakin Arka bisa mencintainya dengan sepenuh hati lagi bila ia memberi kesempatan kedua. Arka merasa kerongkongannya mendadak kering, dadanya berdenyut nyeri dan bibirnya terkatup, kelu lidahnya tak mampu menyanggah ucapan Tika. Mulutnya seolah terkunci sehingga satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah bungkam.
"Apakah bunda benar-benar tidak mau lagi memberi kesempatan ayah untuk menjadi nakhoda bahtera rumah tangga kita?". Tanya Arka meyakinkan dengan untaian kata yang dengan susah payah berhamburan dari mulutnya.
__ADS_1
Bila perceraian ini sangat menyakiti hati istrinya itu, ia lebih baik mengorbankan dirinya, menghabiskan akhir hidupnya dengan istri dan anaknya walaupun sudah tiada cinta.
"Tidak ayah, bunda tidak bisa melanjutkan pelayaran bahtera rumah tangga dengan nakhoda yang sebenarnya sudah enggan untuk meneruskan pelayaran, bunda takut kapal kita terpaksa tenggelam tanpa ada yang bisa diselamatkan". Jawab Tika tegas menolak. Ia kekeh untuk mengakhiri kisah cinta mereka.
Arka tertunduk, di dalam hatinya ia membenarkan keresahan istrinya dan sejujurnya ia pun tak yakin keluarganya bisa baik-baik saja setelah istrinya tahu kalau ia tak lagi cinta.
"Sebelum ayah menalak bunda, bunda hanya berharap ayah berkenan mengabulkan dulu 3 permintaan yang bunda ajukan, tenang saja permintaan bunda nggak sulit kok dan itu masih dalam batas kemampuan ayah". Tika menangkup kedua pipi suaminya, mengerlingkan matanya dan tersenyum serta menganggukkan kepala meminta persetujuan.
Arka menatap mata wanita berhidung mancung di depannya dengan ragu namun sorot mata penuh keikhlasan yang terpancar dari manik matanya kemudian membuatnya tersenyum dan perlahan mengangguk, mengiyakan harapan Tika.
"Yang pertama, aku mohon kepadamu untuk merelakan hak asuh Sifa jatuh ke tangan bunda. Bunda janji tidak akan menghalangi hak ayah pada Sifa. Yang kedua beri kenangan terakhir untuk keluarga kita dengan kita menikmati waktu bertiga sehari penuh. Kita jalan-jalan di tempat wisata, berbelanja dan makan di tempat favorit kita. Yang ketiga ....". Tika menghentikan ucapannya, senyumnya mengembang.
Arka yang masih khusuk mendengarkan celoteh Tika dalam mengutarakan permintaannya, mengerutkan dahinya saat Tika tidak melanjutkan kata-katanya.
"Apa permintaan bunda yang ketiga?". Tanya Arka tidak sabar.
__ADS_1
Tika kembali melekuk senyum dan menatap manik mata suaminya cukup lama.
"Bunda mohon ayah tetap mengizinkan bunda mencintai ayah. Biarkan cinta bunda pada ayah tetap tersimpan rapi di hati bunda. Jangan pernah meminta bunda untuk menguburkan rasa cinta ini apalagi membunuhnya. Bunda tidak sanggup". Tika menundukkan wajahnya buliran air mata lolos dari sudut matanya.
Arka menyeka air mata di pipi wanita yang pernah sangat dicintainya itu, hatinya menghangat. Ada rasa sesal mengapa kata "cinta ayah sudah terkikis habis untuk bunda" pernah terucap. Matanya memerah menahan haru akan besarnya cinta wanita yang masih berstatus istrinya itu.
"Bunda tidak boleh terperangkap dalam cinta yang sudah bunda relakan. Jangan buat hati bunda kian hancur. Bunda berhak mendapatkan kebahagiaan dari lelaki lain yang bisa mencintai bunda. Bunda tidak boleh putus asa. Ayah sebenarnya merasa sangat bodoh bagaimana mungkin cinta ayah bisa tergerus waktu seperti ini". Tekan Arka tidak terima bila Tika masih larut dengan rasa cinta yang tidak bisa dibalasnya.
Tika mengukir senyum di sela-sela air mata yang terus merebak di sudut mata sambil menghela nafasnya kasar.
"Ayah, bunda mohon sebagaimana bunda menghargai kalau ayah tidak lagi cinta pada bunda. Tolong hargailah rasa cinta yang masih bersemayam dalam hati bunda. Rasa cinta di hati bunda muncul dalam waktu sekedip mata, bertambah dalam ketika ayah meminta pada ayahnya bunda untuk diizinkan merajut benang-benang cinta dalam mahligai rumah tangga. Cinta itu selalu bunda rawat, bunda pupuk dan bunda sirami hingga kini tumbuh sangat subur. Sepertinya butuh waktu seumur hidup untuk membuat cinta ini punah begitu saja, ayah. Mungkin ini memang tidak mudah tapi jangan jadikan beban bagi ayah. Bunda tahu hidup harus terus berlanjut walaupun mungkin orang yang dicintainya sudah merenda cinta dengan orang lain, merakit biduk rumah tangga yang bahagia. Jangan pernah jadikan beban rasa cinta yang bunda miliki dalam perjalanan hidup ayah nanti setelah kita resmi bercerai". Jelas Tika dengan suara serak dan parau.
Arka tergugu, direngkuhnya erat tubuh wanita yang begitu mencintainya itu. Ia merasa sangat bersalah tidak bisa menjaga rasa cintanya agar tetap subur seperti yang istrinya lakukan. Ia pun menyanggupi untuk mengabulkan 3 permintaan istrinya itu. Rasa syukur dan ucapan terima kasih berhamburan berulangkali dari bibir manis Tika. Keduanya larut dalam isakan tangis dan rasa haru yang menelusup ke pori-pori jiwa dan raga mereka.
Tanpa mereka sadari momen romantis mereka terekam dengan jelas oleh dua pasang mata yang saling pandang tanpa mengetahui apa yang sedang terjadi. Mereka tadi sudah mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban dari penghuninya, akhirnya keduanya menerobos masuk dan melihat Arka dan Tika berpelukan erat sambil bertangisan
__ADS_1