
Tika terjaga ketika telinganya menangkap suara alarm yang sengaja ia setel untuk membangunkannya di sepertiga malam. Tangan dan kaki Arka masih memeluknya erat seolah ia adalah bantal guling hingga menyulitkannya untuk meloloskan diri. Tubuh keduanya masih polos tersembunyi di bawah selimut tebal. Pelan-pelan disisihkannya kaki dan tangan Arka dengan susah payah kemudian beringsut meraih handuk yang tersampir di sandaran kursi meja hias, tapi gerakannya tertahan oleh tangan Arka yang melingkar memeluk perutnya. Tika menoleh ia melihat Arka mengerjap-ngerjapkan j🥰🥰 matanya berulangkali.
"Kamu mau kemana, ini masih malam lo?. Ayo tidur lagi!". Ajak Arka seraya menarik tubuh Tika dalam dekapannya namun menolaknya dengan mendorong lembut dada sang suami.
"Maaf, yah. Bunda izin mau qiyamullail dulu. Ayah juga sekalian bangun, yuk. Kita qiyamullail berjamaah setidaknya untuk terakhir kali". Ajak Tika mengulas senyum getir sambil mengelus rambut laki-laki yang sebentar lagi berencana menalaknya itu.
Seketika Arka terhenyak dan membuka matanya lebar-lebar, wajahnya berubah sendu , tampak gurat kesedihan terpancar dari raut muka laki-laki tampan itu. Ia menegakkan tubuhnya hingga terduduk mensejajari sang istri, digenggamnya tangan wanita yang sudah melahirkan seorang anak perempuan yang sangat cantik itu penuh dengan rasa bersalah yang berkali-kali lipat. Direngkuhnya erat tubuh sang istri dengan mata memerah menahan tangis.
"Maafkanlah ayah, bunda. Kita urungkan saja perceraian ini ya?. Ayah akan berusaha sekuat tenaga untuk mencintai bunda. Bunda pasti bisa membuat ayah jatuh cinta sekali lagi, Bun. Tolong terimalah ayah lagi, bun!". Rengek Arka untuk kesekian kalinya.
Tika mengurai rengkuhan Arka dan menatap lekat laki-laki di depannya. Tika termangu mendengar rengekan suaminya, di lubuk hatinya yang paling dalam ia ingin sekali memberi kesempatan pada suaminya untuk berusaha mencintainya kembali, tapi di sisi sudut hatinya yang lain muncul ketakutan akan adanya pengkhianatan atau permintaan 'izinkan hatiku mendua' terucap dari bibir pria yang sangat ia cintai itu. Saat itu datang, belum tentu ia setegar dan sesabar ini melepaskannya.
"Seandainya ayah memintaku tetap bertahan karena ayah masih merasa ada getaran cinta untuk bunda di dada ayah, tentu bunda akan dengan senang hati tetap berada dalam rengkuhan ayah sebagai istri yang dengan semangat berupaya menyuburkan cinta di hati ayah, tapi kalau harus bersusah payah membuat ayah menumbuhkan cinta di hati ayah bunda nggak sanggup dan nggak yakin bisa bersabar, yah. Maafkan bunda, yah. Kalau ayah tidak mau menalak bunda besok. Bunda yang akan menggugat cerai ayah". Batin Tika bermonolog.
"Kita mandi dan qiyamullail dulu ya, yah. Nanti kita bicara lagi. Sebentar lagi adzan subuh.Keburu waktunya habis!". Tika berusaha mengalihkan pembicaraan sambil mengelus rahang tegas suami tampannya.
Tika memasang senyum terpaksa dan ia kembali beringsut mengulurkan tangannya meraih handuk yang tadi belum sempat diambilnya. Wanita langsing dan cantik itu turun dari ranjangnya sambil melilitkan handuk lebarnya menutupi tubuhnya yang polos. Tidak lupa diulurkannya piyama mandi untuk sang suami agar suaminya itu juga beranjak dari ranjang nyaman yang sudah keduanya tempati selama mengarungi kehidupan berumah tangga. Kemudian ibu muda itu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi di sudut kamar mereka hingga tidak berapa lama terdengar suara gemericik air yang menyembur dari shower.
"Mandilah, yah. Rasanya segar sekali". Cicit Tika yang keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil di tangannya.
__ADS_1
Arka yang sedang duduk di pinggir ranjang mengangguk dan melekuk senyum di bibirnya. Dengan bahagia Arka membawa langkah kakinya menuju kamar mandi. Ketika berpapasan dengan istrinya, ia memberikan sebuah ciuman di pipi istrinya tanpa disadari oleh sang istri yang membuat Tika terkejut dan bersorak keras atas kejahilan suaminya itu.
"Yah, bunda kan sudah wudhu. Jadi harus wudhu lagi, deh". Sorak Tika pura-pura cemberut.
"He he he, maaf, bun. Ayah gemes banget, sayang. Bunda wudhu lagi, ya!". Balas Arka santai seolah tak bersalah.
Tika tidak menyahuti ucapan Arka ada seonggok daging dalam tubuhnya yang merasakan ngilu luar biasa.
"Seandainya kata sayang yang telah engkau ucapkan itu tulus, yah. Benar-benar ketulusan yang muncul dari lubuk hatimu lantaran masih ada sekerat cinta yang tertinggal di sana, yah. Tentu, bunda akan sangat bahagia dan berkenan mempertimbangkan permintaannya untuk memperbaiki rumah tangga kita ini". Batin Tika, tangannya membelai pipi yang barusan di kecup Arka tanpa sepengetahuannya.
Tika menghela nafas, matanya merebak, gagal menahan setetes air mata yang menyeruak di pelupuk matanya. Meskipun terdengar romantis tapi kata sayang yang baru saja ia dengar terkesan menyesakan dada dan menyumbat rongga pernafasannya yang masih sangat mencintai sang suami.
Arka segera menempati posisi yang telah disediakan istrinya, keduanya khusuk menunaikan shalat malam hingga beberapa rakaat yang diakhiri dengan shalat witir 3 rakaat. Selanjutnya mereka berzikir dan kemudian bermunajat kepada Allah Sang Maha Pembolak-balik hati dan Maha Penguasa Jagad Raya. Arka berdoa dengan penuh harap agar dapat memiliki hati sang istri. Sedang sang istri memohon untuk diberikan kebaikan atas segala perkara yang ditimpakan pada keluarganya dan memohon agar dikuatkan iman serta Islamnya.
Tika tersenyum melihat suaminya yang mengambil sebuah mushaf Al-Qur'an yang berjajar rapi di dalam rak kayu jati Jepara berukir. Arka membaca surat Al-Imran dengan lantunan suara merdu. Tika menyimak bacaan suaminya sambil menatap wajah tampannya dari sebelah samping, sudut hatinya berderit dan bertalu-talu kala menyadari sebentar lagi laki-laki yang biasa disebut suaminya itu akan menjadi masa lalu.
Arka menyudahi bacaan Al-Qur'annya dan meletakan kembali ke tempatnya semula saat terdengar kumandang adzan subuh dari masjid dekat rumah mereka.
"Silahkan kalau ayah hendak berjamaah ke masjid". Ucap Tika saat Arka menoleh padanya.
__ADS_1
"Ayah shalat di rumah saja. Ayah ingin shalat berjamaah sama bunda". Jawab Arka dengan senyum mengembang.
Tika hanya mengangguk untuk merespon kemauan suaminya itu.
Keduanya salat qobliyah subuh dan setelah mengumandangkan iqomah, mereka pun menunaikan shalat subuh berjamaah dengan khusuk dan hikmat. Dilanjutkan dengan zikir dan doa.
Arka membalikan tubuhnya menghadap istrinya yang masih dalam balutan mukena, tangan istrinya menyambut uluran tangannya dan menciumnya takdzim, Arka seperti biasa mengecup kening sang istri. Selanjutnya mata mereka bertemu pandang dan saling mengunci, ditatapnya wajah ayu wanita yang pernah menggetarkan dan membuat detak jantungnya tak beraturan di hadapannya, sungguh, ia tidak tahu dapat mendeskripsikan apa yang membuat getar di dada sirna untuk istrinya itu, padahal wanita berwajah lembut nan ayu ini benar-benar tiada cela yang patut dijadikan alasan untuk tidak lagi mencintainya. Ibu dari anaknya itu sangat istimewa, bahkan di hari-hari terakhir pernikahannya, ia masih berkenan menganggap dan memperlakukan layaknya suami sebagaimana mestinya. Sedang di luar sana banyak sekali wanita yang saat mengetahui suaminya sudah tidak cinta lagi maka akan terjadi pertikaian besar dan berucap saling menyakiti satu sama lain, seolah tiada kebaikan yang pernah didapat oleh satu sama lainnya.
Tika membiarkan suaminya menatapnya tanpa kata, ia bisa melihat sorot mata suaminya penuh harapan padanya,
"Bun, tolong izinkan ayah berusaha mencintai bunda sekali lagi, ya. Ayah mohon". Pinta Arka dengan mimik muka penuh harap, tangannya menggenggam erat jemari wanita yang berusaha diluluhkan hatinya.
Tika tak bergeming, hatinya sudah tidak mantap untuk melepas laki-laki yang amat dicintainya.
"Yah, bunda yakin bisa menjaga hati bunda untuk ayah bahkan meskipun cinta ayah tidak lagi ada untuk bunda. Tapi apakah ayah yakin akan bisa menjaga hati ayah untuk bunda jika ayah tidak lagi punya cinta untuk bunda". Tanya Tika menohok perasaan Arka. Menghujam tanpa menimbang rasa.
Jawaban tegas istrinya membuat Arka tidak sanggup lagi menatap wajah ayu sang istri. Ia benar-benar sudah kalah telak. Ia hanya menunduk sedih sekaligus malu.
"Jawab,yah!". Tanya Tika sekali lagi saat Arka masih bergelut dalam bungkamnya
__ADS_1