PETAKA PERCERAIAN

PETAKA PERCERAIAN
Koper Besar


__ADS_3

Arka terpekur di ruang kerjanya, sepulang dari shalat subuh berjamaah di masjid yang tidak jauh dari rumahnya ia memilih masuk ke ruang kerjanya. Tempurung kepalanya bergolak dipenuhi pertanyaan yang dilontarkan Tika semalam. Pertanyaan itu terngiang-ngiang di telinganya. Pada dasarnya bukan pertanyaannya yang sulit dijawab tapi Arka yang masih berusaha mencari cara yang terbaik untuk mengembalikan Tika pada sang ibu juga adiknya Farhan sebagai walinya. Ia sadar tidak ada cara sedikit pun untuk menghindari timbulnya luka yang sudah pasti menggores hati orang yang selama ini begitu mencintainya itu. Rasa hormatnya pada sang ibu mertua juga membuat keberaniannya menciut untuk berucap kata yang mungkin akan berakibat sangat berpengaruh pada kejiwaan ibu mertua yang dia kenal sebagai seorang ibu yang berhati lembut dan bijak itu. Arka memijit lembut dahi dan pangkal hidungnya, berharap bisa meringankan nyeri di kepalanya yang berdenyut semakin kuat.


...****************...


Arka dan Farhan sudah berangkat ke kantor mereka masing-masing. Seperti biasa Tika dan Sifa mengantar Arka hingga ke mobilnya sambil bercengkrama layaknya keluarga bahagia yang tidak sedang dalam keadaan bermasalah.


Sejenak Tika duduk di teras rumahnya. Ia pandangi bunga-bunga yang tertata rapi di teras depan rumahnya. Bunga-bunga itu diatur sedemikian rupa di rak khusus tempat bunga dengan berbagai model dan ukuran, berjajar rapi menghiasi teras yang cukup luas berpadu dengan taman kecil di sisi kanan kiri halaman. Taman mini sebelah kiri dilengkapi dengan air mancur dan kolam ikan yang dipercantik dengan tanaman hias yang memiliki sulur terjuntai dan bebatuan aneka jenis dan bentuk serta beranekaragam warna. Kursi taman yang mengelilingi meja bundar bertaut dengan peneduh berbentuk payung yang terletak antara air terjun dan kolam ikan mempermanis tempat itu. Mengingatkan nuansa alam pedesaan yang asri dan sangat memanjakan mata. Sedangkan taman mungil di sisi kanan juga tidak kalah menarik, tatanan aneka tanaman hias dan bunga aneka warna berpadu dengan saung ukuran 2MX2M berbentuk panggung rendah yang bagian sisinya dibuat seperti pagar berukir bunga-bunga setinggi pinggang orang dewasa. Lantai saungnya berupa karpet tebal bermotif daun-daunan hijau berbatang sulur dengan bunga kecil berwarna merah dan kuning. Ada sebuah meja panjang terbuat dari kayu dengan penutup meja berupa karpet yang bercorak senada dengan karpet yang digunakan sebagai alas yang digelar di lantai saung.


Matanya beralih ke sosok gadis kecil yang berlari kesana kemari mengejar kupu-kupu yang dengan lincah hinggap dari satu bunga ke bunga yang lain. Meski tidak luas taman di halaman rumah Tika sangat cantik sehingga mengundang aneka binatang penyuka bunga bertandang ke sana. Tidak ada sedu sedan tapi setitik bulir bening yang lolos dari pelupuk matanya sudah mengekspresikan betapa hatinya menanggung lara. Begitulah Tika. Ia sesaat merasa menjadi seorang ibu yang jahat, ibu egois yang bertindak tanpa memikirkan perasaan bocah umur 5 tahun itu dikemudian hari. Tika seolah menjadi sosok ibu yang lebih peduli pada kenyamanan dirinya dan ayah dari anaknya. Sesungguhnya ia bisa saja tetap memberikan Sifa keluarga yang utuh. Arka telah rela mengorbankan dirinya untuk bertahan menjalani kehidupan berumah tangga dengannya, mengabaikan rasa cintanya yang sudah tak lagi ada untuknya. Dengan kerelaan hatinya bersedia dengan lapang dada membina mahligai rumah tangga dengan orang yang tidak lagi memiliki rasa cinta padanya. Maka, Sifa akan tetap menikmati kasih sayang utuh kedua orang tuanya. Tapi sekali lagi, Tika merasa tidak sanggup bertahan dengan segala bentuk kepalsuan. Tekadnya sudah kuat untuk mengakhiri kisah rumah tangganya dengan Arka yang sangat ia cintai.


"Kamu tidak ke butik, nak?". Tanya Bu Murni membuyarkan rentetan kata yang terus mengular dalam pikiran Tika.


Bu Murni duduk di kursi yang terletak di depan Tika dengan meja kecil sebagai pembatasnya. Pandangannya lurus ke depan mengikuti gerak gesit Sifa yang begitu lucu mengejar kupu-kupu dan capung yang berterbangan di sekelilingnya. Gadis kecil itu terlihat riang, ia tertawa lepas dan sesekali bersorak dengan gembira.


Tika menoleh, memandang ibunya dan tersenyum penuh arti kemudian kembali menatap putri semata wayangnya yang masih sibuk dengan keceriaannya.


"Sebentar lagi, bu. Tika harus mengecek kualitas bahan yang baru datang pagi ini. Memastikan pesanan sudah sesuai dengan permintaan konsumen dan dikirim sesuai jadwal. Tika juga harus mengecek stok bahan sudah sesuai dengan pesanan masuk". Terang Tika tanpa berpaling dari pandangannya.

__ADS_1


"Hmm....Kamu sebaiknya mengurangi aktivitasmu, jangan terlalu sibuk. Menurut ibu Sifa juga sudah besar, sepertinya ia sudah layak mempunyai seorang adik agar ia punya teman bermain". Bu Murni mengutarakan isi hatinya.


"Iya bu" Jawab Tika singkat. Senyum kecut terbit dari bibirnya.


Hati ibu muda ini tercubit, ada denyut nyeri meremas dadanya. Ia masih belum bisa menceritakan kondisi rumah tangganya yang sedang tidak baik-baik saja. Tika sedang menunggu kesiapan Arka untuk mengembalikan dirinya pada sang ibu.


Sifa berlalu kecil mendekat kearah sang ibu dengan keringat bercucuran. Senyumnya yang manis dan mata bening berkilau membuat siapapun akan menatap gemas padanya.


Tika menarik sang buah hati dan memeluknya erat, terasa damai menelusup jiwanya. Dikecupnya kening dan pipi gembul sang anak yang meronta dan tertawa geli.


"Bun, Sifa mau jus alpukat dan SOP buah". Ucap Sifa, menatap manik mata sang bunda.


"Baiklah tuan putri, akan bunda buatkan yang spesial untukmu. Tunggu sebentar, ya!". Jawab Tika bersemangat seraya mencubit lembut hidung gadis kecil berkerudung abu-abu itu.


"Oke, tuan putri kecil bunda menunggu." Kelakar Sifa seraya beralih ke sang nenek.


Tika sudah beranjak dari duduknya ketika mbok Sarmi muncul dari balik pintu dengan tiga jus alpukat yang lezat tertata rapi di nampan yang di bawanya dan meletakan di atas meja.

__ADS_1


"Ini dia jus alpukatnya ndoro putri". Ucap mbok Sarmi mengundang binar bahagia mata bening Sifa.


"Terima kasih mbok".


"Terima kasih mbok".


Ibu dan anak itu berucap berbarengan yang sontak membuat semuanya tertawa renyah.


Sifa segera mengulurkan tangannya mengambil dua gelas jus alpukat dan mengangsurkannya segelas juz dari tangan kanannya ke arah sang nenek.


"Terima kasih cucuku yang manis". Ucap sang nenek sambil mengelus pipi tembem Sifa. Sifa mengangguk dan tersenyum sok cantik.


Semuanya terhibur menyaksikan tingkah polah tingkah Sifa, seorang gadis kecil yang ramah dan periang.


Ketiganya menikmati jus alpukat buatan mbok Sarmi dengan sukaria. Sedangkan Mbok Sarmi sudah kembali sibuk dengan aktivitasnya kembali.


"Bun, kemarin Sifa melihat ayah mengambil koper besar dari gudang. Memangnya ayah mau pergi kemana?". Tanya Sifa tiba-tiba, membuat suasana menjadi hening.

__ADS_1


__ADS_2