PETAKA PERCERAIAN

PETAKA PERCERAIAN
Aset Untuk Tika dan Sifa


__ADS_3

Arka dan Tika keluar dari restoran favorit mereka itu dengan hati yang lebih tenang. Mereka sudah bisa menyamakan pemikiran. Keputusan keduanya sudah seiring sejalan. Mereka akan berusaha ikhlas untuk saling melepaskan dengan harapan beban mental, pikiran dan fisik mereka menjadi lebih ringan. Mereka berkomitmen, dulu mereka bersama dengan cara yang baik begitu pula sekarang ketika sudah tidak menginginkan lagi kebersamaan maka akan mereka akhiri dengan cara yang baik. Mereka telah sepakat menjadi saudara dan teman yang baik untuk menjaga dan merawat Sifa setelah mereka resmi berpisah.


Mobil yang mereka tumpangi meluncur ke jalan raya berbaur dengan kendaraan lain menuju tujuan masing-masing. Kendaraan roda empat itu melaju dengan kecepatan sedang menuju suatu tempat yang sebenarnya menjadi tujuan kunjungannya selanjutnya.


Arka menghentikan mobil kesayangannya di sebuah masjid, keduanya melaksanakan kewajiban mereka sebagai orang Muslim, berbaur dengan umat Islam yang lain, sungguh suatu pemandangan yang sangat menakjubkan. Umat nabi Muhammad itu dengan penuh kesadaran melaksanakan kewajiban dengan khusuk dan tertib melakukan gerak yang sama mengikuti gerakan imam sholat tanpa harus adanya tekanan dari berbagai pihak.


Setelah sholat kendaraan roda empat milik Arka bergerak meninggalkan area masjid menuju pemakaman ayah Tika. Sebuah tempat yang memang sudah dijadwalkan oleh Tika untuk dikunjunginya hari ini, biarpun Arka baru saja mengunjungi makam mertuanya itu, ia tidak keberatan mengantar Tika untuk berkunjung ke sana lagi. Tika dan Arka berdoa dengan khusuk di pusara laki-laki yang sangat berarti bagi mereka dengan kenangan yang tentu saja berbeda. Tika mengenalnya sebagai seorang ayah yang bertanggung jawab, tegas, dan penyayang. Sedangkan bagi Arka mertuanya adalah sosok yang sangat ia hormati dan dia segani, ucapannya miliki makna yang dalam dan penuh makna dan yang paling terkesan baginya, petuahnya begitu menginspirasi.


Setelah bacaan yasin dan tahlil di tutup doa, keduanya menabur bunga dan menyiram pusara dengan sebotol air. Tika berusaha terlihat tegar saat berada di makam ayahnya, ia tidak ingin Arka masih memandangnya sebagai wanita rapuh yang pantas dikasihani sehingga ia akan ragu untuk menceraikannya. Ia ingin menunjukkan pada Arka bahwa ia wanita yang kuat. Tika ingin meninggalkan sebuah kesan di otak Arka bahwa ia baik-baik saja, kehilangan cintanya tidak akan membuat dunianya sebagai sebagai wanita yang sangat mencintai suaminya runtuh.


Arka memperhatikan Tika, sebenarnya ia merasa hatinya tercabik-cabik, ia merasa menjadi lelaki yang egois yang hanya mementingkan diri sendiri. Saat menyadari perasaannya ke Tika sudah berubah ia begitu menggebu ingin lepas dari tautan cinta. Ia merasa sangat tersiksa dan tertekan bila harus bertahan dengan seseorang yang tak lagi dicintainya. Gairah Hidupnya surut, serasa hidupnya tiada berarti bila harus menghabiskan sisa hidupnya dengan belahan jiwa yang sudah tidak ada rasa, semuanya akan terperangkap dalam kecewa dan hampa. Namun ketika kini, Tika dengan teguh dan berbesar hati mengikhlaskan cinta yang pernah ia tanam di hatinya tercerabut dengan paksa, mengapa hatinya juga sakit, hancur berkeping-keping, apalagi saat melihat Tika yang gigih untuk tetap tersenyum dan bersikap bijak dan baik hati sampai saat ini. Arka mengira Tika akan sangat membencinya, namun tiada sangka Tika tetap mencintai sepenuh hati walau Arka tak sudah tiada punya rasa lagi. Cinta Tika tulus suci walau sudah tak dicintai. Cinta Tika tak mengharap balasan, hanya memberi tak harap kembali bagai sang Surya menyinari dunia.

__ADS_1


...****************...


"Bun, ada yang ingin ayah bicarakan dengan bunda". Ucap Arka suatu malam saat mereka hendak tidur.


Arka duduk bersandar di ranjang dan Tika sedang melakukan rutinitas setiap malamnya sebelum tidur, memulas wajahnya yang memang sudah terlihat cantik dengan krim malam kesukaannya, serta menyisir surai hitam legam yang menghiasi batok kepalanya dan menjulur hingga sampai pinggangnya yang ramping. Hanya satu sekarang yang tidak dilakukannya, menyemprotkan minyak kasturi di beberapa bagian daerah sensitifnya.


Meski keduanya sudah kompak untuk mengakhiri bahtera rumah tangga mereka, mereka sepakat tetap tidur dalam satu ranjang karena sebelum kata talak diucapkan mereka masih sah dalam status ikatan pernikahan. Selain itu keduanya juga masih menyembunyikan fakta menyakitkan yang pasti tidak hanya menyakiti hati mereka berdua tapi juga ibu dan adik laki-laki Tika yang merupakan saudara kandung Tika satu-satunya yang masih tersisa. Kenyataan pahit ini tentu akan menimbulkan shock yang sangat hebat bahkan luka batin mendalam yang tak berdarah tapi sanggup meluluhlantakan rasa kasih sayang yang selama ini mereka pupuk dan jaga dengan sepenuh jiwa.


"Ayah mau bicara apa". Jawab Tika, tanpa menghentikan kesibukannya. Ia masih sibuk menelusuri rambut legamnya dengan menggunakan sebuah sisir yang bergerak indah ditangannya.


Sejenak Tika memindai penampilannya yang terpampang di meja rias, dirapikanya rambutnya yang sebenarnya sudah dalam keadaan rapi.

__ADS_1


Tika mendekati pembaringan, ia menghempaskan pelan tubuhnya yang langsing di sebelah suaminya. Matanya menatap langit-langit kamar yang di hiasi plafon motif taman bunga.


"Katakanlah apa yang harus bunda dengar". Ucap Tika perlahan tapi penuh penekanan.


"Ayah sudah menyiapkan 100 H perkebunan kelapa sawit yang ada di Kalimantan lengkap dengan pabriknya untuk menopang masa depan bunda dan juga anak kita, Sifa. Saat ini orang ayah yang mengelolanya di sana. Mereka akan memberi laporan setiap bulan pada bunda. Hasil dari pengolahan sawit itu akan masuk ke rekening khusus yang sudah ayah siapkan untuk bunda. Saat ini semuanya sudah atas nama bunda. Setelah usia Sifa berumur 20 tahun 50 persen kepemilikan kebun dan pabrik itu akan beralih kepada anak kita, Sifa. Bisa dikelolanya sendiri atau pengelolaannya tetap dibawah kendali bunda. Setelah ini, ayah akan menempati rumah papa dan mama di Palembang. Rumah ini adalah milik bunda seutuhnya". Terang Arka. Tangannya membelai pelan rambut kepala Tika, semakin lama ada rasa berat untuk mengakhiri semuanya. Bagaimanapun Tika sudah mendampingi dan mengabdikan diri padanya dengan sangat baik.


"Mengapa begitu banyak yang ayah tinggalkan untuk kami. bagaimana dengan ayah?." Tanggap Tika. Matanya terkadang terpejam menikmati belaian tangan suaminya yang mungkin adalah kali terakhirnya.


"Jangan khawatirkan ayah. Ayah akan mengembangkan perusahaan ayah. Ayah juga masih punya aset warisan dari kedua orang tua ayah. Itu semua lebih dari cukup untuk ayah. Ayah tidak tahu kedepannya ayah akan seperti apa, tapi ayah tidak khawatir lagi pada keadaan kalian. Aset yang ayah tinggalkan pada kalian akan mencukupi kebutuhan kalian". Terang Arka meyakinkan.


"Terima kasih bila demikian, ayah. Akan bunda pegang amanah ayah dengan baik". Ucap Tika, ia memeluk Arka dengan senyum tersungging di bibirnya, ada rasa bahagia menelusup kalbunya sang calon manta suami ternyata masih perduli pada masa depan mereka berdua.

__ADS_1


"Ayah, kapan ayah mengembalikan bunda pada ibu dan juga Farhan selaku walinya bunda". Tanya Tika dengan suara yang sedikit bergetar.


Arka meregangkan pelukannya ia menatap lekat wajah Tika dengan sorot mata sendu dan menyiratkan sebuah makna.


__ADS_2