
"Nek, Sifa sangat senang sekali kemarin bisa jalan-jalan bertiga dengan ayah dan ibu. Sifa menjadi tahu banyak hal". Sifa berceloteh ria saat bermain di taman belakang ditemani oleh neneknya.
"Emangnya Sifa kemarin jalan-jalan kemana saja". Tanya Bu Murni tersenyum simpul, menoleh pada cucu satu-satunya itu. Ia sedang memetik buah cabe yang sudah berwarna merah.
Bu Marni menanam aneka sayuran dan bumbu dapur di belakang rumah. Ia menanam itu sebagai sebuah hobi. Walaupun tidak luas tapi membuat kebun di belakang rumah itu menjadi lebih asri dan menjadi tempat yang menyenangkan untuk bersantai. Aneka tanaman yang tumbuhnya subur dan berbuah lebat sangat memanjakan mata dan membuat hati menjadi lebih adem sehingga otak pun menjadi lebih fresh.
Sifa mendekati neneknya, matanya berbinar dan bibirnya menguar senyum yang begitu menggemaskan.
"Kami ke Benteng Kuto Besak dan ke Masjid Cheng Ho, nenek".Jawab Sifa riang gembira.
"Nenek pernah ke sana?". Tanya Sifa antusias.
Bu Murni menggeleng sambil mengulas senyum. Matahari sudah meninggi ia mengajak cucunya berteduh, mereka duduk di emper rumah setelah tadi membersihkan tangan dan kaki terlebih dahulu , ada beberapa kursi dan meja yang memang disediakan untuk sekedar bersantai menikmati sejuknya udara siang dan sore hari, memanjakan mata dengan aneka pohon yang kini sedang berbuah lebat seperti jambu madu, jambu Jamaika, mangga madu, Alpukat dan lain sebagainya, menambah semarak menjadi pelengkap yang menyegarkan mata.
Sifa tidak berhenti mengoceh, ia menceritakan semua hal yang ia kagumi dari tempat yang ia kunjungi serta keseruannya berfoto selfie di spot-spot menarik dengan kedua orang tuanya.
"Apakah ayah dan bundamu juga kelihatan bahagia saat jalan-jalan kemarin". Tanya nenek Sifa itu dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
"Tentu saja, Nek. Kami semua sangat bahagia". Ucap Sifa riang. Ia menerima jus buah yang disodorkan neneknya.
"Nanti kalau ayah pulang, Sifa tunjukkan foto kami biar nenek bisa melihat sendiri kalau kami bahagia. Semua foto ada di HP ayah". Celoteh Sifa lagi. Bu Murni merangkul cucu kesayangannya itu dan mencium keningnya. Ada rasa khawatir yang melesak dihatinya mengingat kejadian di rumah sakit saat ia memergoki anak dan menantunya sedang bertangisan. Ia masih menangkap ada hal yang tidak beres yang sedang terjadi pada mereka. Ia tidak bisa menerka-nerka karena bila dilihat lebih jauh tidak ada yang perlu dicemaskan dari hubungan mereka.
...****************...
Tika mengendarai mobilnya dengan memasuki area parkir sebuah pemakaman elit. Ia keluar dari mobilnya dengan menenteng sebuah botol Aqua besar berisi air. Beberapa pedagang bunga menjajakan dagangannya ketika ia berjalan memasuki gapura makam. Langkahnya terhenti pada seorang nenek tua penjual bunga, ia membeli beberapa bungkus bunga. Sang nenek penjual bunga dengan gesit melayaninya walaupun usianya sudah tidak muda lagi, tangan dengan lincah membungkus bunga yang diinginkan Tika. Tika mengulurkan 2 lembar uang warna merah dan meminta kelebihannya agar disimpan sang nenek saja. Ucapan syukur, dan terima kasih berhamburan dari mulut sang nenek, beliau juga merapal setumpuk doa untuk wanita dermawan itu.
Dengan langkah pasti, ia menyusuri jalanan makam dan berhenti pada sebuah makam yang sangat ia hapal tempat dan posisinya.
"Papa, mama, maafkan Tika, ya. Tika tidak bisa mendampingi mas Arka lagi. Tika tidak bisa mempertahankan rumah tangga Tika lagi. Mas Arka sudah tidak mencintai Tika lagi. Tika tidak ingin membuat mas Arka tertekan dengan memaksakan diri mempertahankan biduk rumah tangga kami. Tika sangat mencintai mas Arka, oleh karena itu Tika tidak ingin mengekangnya. Demi rasa cinta yang sangat besar dan tulus pada mas Arka. Tika ikhlaskan keputusannya untuk menyeraikan Tika. Kalau papa dan mama bertanya apakah hatiku tidak sakit?, tentu saja hatiku sakit bahkan hatiku hancur lebur menjadi butiran debu". Tika meminta maaf di depan makam mertuanya seolah kedua mertuanya mendengar segala curahan hatinya. Hatinya perih, air matanya berderai menganak sungai di pipinya yang mulus.
"Tika tidak pernah menyesal pernah dicintai mas Arka. Cintanya boleh terkikis habis tak tersisa tapi tidak dengan cinta Tika. Meski kini tidak berbalas, Cinta Tika pada mas Arka tetap tersimpan rapi di hati Tika. Tika tidak tahu apakah cinta yang tumbuh subur di hati Tika akan bisa digantikan oleh cinta lain atau cinta Tika untuk mas Arka akan Tika bawa sampai mati. Papa, mama aku relakan mas Arka mencari cinta lain seperti anggapannya bahwa bahagianya tidak lagi bersamaku seperti mas Arka juga tak bisa memberiku lagi rasa bahagia. Tika terima anggapannya. Papa, mama. Tika tidak akan bertanya mengapa mas Arka tidak lagi mencintai Tika seperti halnya Tika tidak pernah bertanya mengapa dulu mas Arka sangat mencintai Tika". Tika melanjutkan curahan hatinya dengan berurai air mata.
Dengan tangan gemetar, Tika menabur bunga di kedua makam orang yang sangat dihormatinya itu. Air di botol Aqua yang di bawanya tadi pun tandas mengguyur kedua makam tersebut. Dikecupnya cukup lama kedua nisan makam dengan cucuran air mata yang tak kunjung berhenti.
Setelah agak lebih tenang, Tika berbalik badan hendak meninggalkan makamnya, langkahnya terhenti, tubuhnya tiba-tiba terasa berat, kakinya seperti terpaku dengan erat. Sesosok lelaki yang saat ini masih sah menjadi imamnya berdiri lunglai dengan gelombang air mata yang mengalir deras di kedua pipinya yang berahang tegas. Laki-laki yang tampak rapuh itu menubruk Tika dan memeluknya erat dengan untaian kata maaf yang tiada henti. Tika hanya diam, tubuhnya menegang dan terasa kaku. Tidak bisa bergerak walaupun hanya sekedar membalas pelukan laki-laki yang sampai kini masih amat dicintainya itu.
__ADS_1
Arka merenggangkan pelukannya. Tangannya terulur menghapus rintik bening yang masih menggumpal di pipi wanita yang masih sah menjadi makmumnya itu. Sang makmum tersenyum pedih tangannya bergerak bergerilya menyingkirkan lelehan air mata yang menggenang di wajah ayah dari putrinya itu.
"Maafkan ayah, bun". Ucap Arka lirih. Hatinya perih mengingat curahan hati Tika di depan makam orang tuanya tadi. Rasa bersalah enggan pergi dari fikiranya.
lagi-lagi Tika hanya tersenyum kaku dan mengangguk.
Arka mencium penuh haru kedua tangan istrinya yang ia genggam.
"Temani ayah menemui papa mama, bun!". Pinta Arka seraya menyeret tangan Tika tanpa meminta persetujuan menuju makam. Tika pun mau tidak mau mengekor menuruti kemauan suaminya.
Dua orang yang sudah tak lagi saling cinta itu terpekur di depan makam. Mata Arka memerah menahan riak air mata yang berdesakan di sudut bening matanya, ia kembali terisak tak sanggup menahan banjir bandang yang sudah jebol dan lirih di pipinya.
"Pa, ma maafkan Arka, ya. Arka sudah menyakiti hati menantu yang sangat menyayangi kalian. Papa dan mama jangan sedih, ya. Arka akan berusaha menjadi suami yang baik untuk Tika. Arka akan bertahan di sisi Tika. Arka tidak akan menceraikannya." Tutur Arka pasrah membuat kening Tika berkerut dan ia pun menggelengkan kepalanya pertanda tak menyetujui apa yang baru saja Arka tuturkan.
"Tidak, yah. Kita harus tetap bercerai. Kondisi kita tidak lagi sama dan kita tidak bisa memaksakan diri untuk melanjutkan perjalanan bahtera cinta kita lagi. Bunda tidak bersedia". Sanggah Tika berucap tegas.
Arka menoleh, ia terbelalak juga sangat kaget dan tak menyangka wanita yang sangat mencintainya itu tetap menginginkan perceraian. Pandangan mata Tika menghunus tajam merasuk ke manik matanya membuatnya tertunduk kelu.
__ADS_1