
Mobil bergerak semakin menjauh, meninggalkan tempat yang selama ini menyimpan berjuta-juta kenangan yang tidak mungkin akan dilupakan oleh Arka begitu saja. Meski cintanya berakhir, akan tetapi kisahnya akan menjadi sebuah cerita hidup yang mewarnai kisah indah yang pernah ia kecap.
Air mata semakin melimpah ruah, memenuhi rongga matanya dan bersimbah ke seluruh penjuru pipinya. Karena hal ini sangat mengganggu terutama penglihatan dan konsentrasinya, maka ia memutuskan untuk menepikan kendaraannya sejenak menuntaskan gejolak rasa yang begitu menyesakkan rongga pernafasannya. Ia sungguh tidak menyangka perpisahan dengan wanita yang kini tidak ia cintai lagi itu masih sanggup merobek-robek hatinya. Cukup lama Arka menikmati rasa sakit yang tidak ia pahami dalam kesendiriannya. Bukankah ini yang ia inginkan tapi mengapa hati dan jiwanya masih juga meradang, seharusnya ia sekarang beruforia dengan kebebasannya ini.
Lelaki yang beberapa hari lalu dengan penuh keyakinan berkata bahwa cintanya sudah terkikis habis untuk istri yang telah memberikan seorang gadis kecil yang Sholeha dan mendampinginya dengan penuh rasa hormat dan cinta itu tergugu hingga badannya terguncang seolah ia baru menyadari bahwa ia baru saja membuat kesalahan yang teramat fatal. Bahkan kini tidak bisa ia perbaiki meskipun ia teramat ingin.
Cukup lama Arka tenggelam dalam suasana hati yang menyedihkan , ia merasa begitu bodoh dan tidak berguna sebagai laki-laki, suami, ayah dan sekaligus menantu. Ia benar-benar merasakan suatu kegagalan yang nyata.
...****************...
Farhan duduk termenung di bangku panjang yang banyak terdapat di taman tempatnya biasa melepas gundah. Pikirannya kacau kejadian tadi pagi berputar dalam otaknya seperti video yang menampilkan adegan sebuah film yang sangat menyedihkan. Keluarga kecil kakaknya tercinta tinggal menunggu keputusan peradilan karena Arka akan mengajukan permohonan cerai. Ya, kakak semata wayangnya akan diceraikan. Mengingat itu dada Farhan bergemuruh tangannya mengepal dengan keras hingga buku-buku jari tangannya terlihat memutih. Ternyata, feelingnya selama ini benar, rasa was-was yang berkecamuk di gilirannya ternyata sebuah firasat kalau keluarga kecil kakak perempuannya itu sedang tidak baik-baik saja, hingga pagi tadi puncak dari firasatnya itu berbuah pada sebuah kenyataan kalau bahtera cinta yang mereka jalani berada pada fase dan detik-detik terakhir.
Farhan merasa kepalanya berdenyut nyeri seiring dengan rasa sesak di dadanya yang makin membuatnya tersiksa. Bila beberapa bulan terakhir ini ia begitu antusias untuk segera menikah dan membina keluarga yang sebahagia keluarga kecil kakaknya. Bahkan ia sudah menyusun suatu rencana untuk melakukan ta'aruf dengan sesosok gadis yang sholeha melalui perantara seorang kyai, pengasuh sebuah pondok pesantren yang merupakan ayah dari teman kerjanya.
__ADS_1
Pertama kali ia melihat gadis yang telah mengusik hatinya ketika ia sowan ke pondok tersebut untuk menindaklanjuti kerjasama pelatihan leadership dan periklanan yang diselenggarakan perusahaannya dalam rangka menjaring generasi berbakat di bidang tersebut. Gadis berhijab lebar seperti yang digunakan kakak perempuannya, Tika. Saat itu ia sangat terkesan dengan sikap santun yang diperlihatkan gadis itu saat menyuguhkan minuman dan aneka cemilan. Meskipun hanya memerhatikan sekilas saja tapi sosoknya mampu membuatnya mabuk kepayang.
Beberapa kali berkunjung ke pondok tersebut membuat kesempatan mencuri pandang semakin tinggi. Sampai suatu ketika, sang kyai yang dikenal dengan sebutan Kyai Mahmud itu pun mengendus hal tersebut dan akhirnya membeberkan identitas gadis yang beberapa waktu terakhir disisipkan dalam doa di sepertiga malamnya. Gadis yang mencuri hatinya itu bernama Siti Rahmatin, seorang gadis yatim piatu yang sudah tiada berpapa dan bernama sejak bayi, ayahnya meninggal karena kecelakaan saat ia masih beberapa bulan dalam kandungan sedangkan ibunya meninggal sesaat setelah melahirkannya.
Berdasarkan penjelasan kyai Mahmud yang ternyata kakak kandung ayah Rahma. Sejak saat itulah Rahma berada dalam asuhannya. Ia mengasuh Rahma dan putranya Reihan, teman kerja Farhan dengan penuh kasih sayang. Perbedaan umur yang hanya selisih bulan menyebabkan banyak orang mengira Rahma dan Reihan itu sebagai saudara kembar padahal Rahma lahir setelah Reihan berumur 6 bulan. Ayah Rahma meninggalkan harta yang tidak sedikit dan saat ini pengelolaannya di bawah pengawasan kyai Mahmud. Rahma masih belum mau mengambil alih harta peninggalan kedua orang tuanya dengan dalih masih ingin konsentrasi menuntut ilmu.
Saat itu kyai Mahmud menawarkan untuk berta'aruf dengan keponakannya bila ia memang sudah siap untuk menikah dan menginginkan keponakannya itu menjadi makmumnya. Saat itu, hati Farhan sangat berbunga-bunga. Ia sedang mencari waktu yang tepat untuk menyampaikan niatnya berta'aruf dengan sang pujaan hati namun naas kakak iparnya memberikan sebuah kejutan yang dalam hitungan detik meluluhlantakan harapannya, kisah rumah tangga kakak perempuan yang selama ini ia banggakan dan ia jadikan suritauladan kini diambang kehancuran, hatinya mencelos bersama dengan rasa bangga yang hancur berkeping-keping. Ia benar-benar tidak bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam keluarga kakak perempuan yangsangat ia cintai itu. Ia tidak habis pikir kakak perempuan dan iparnya lebih memilih jalur perceraian. Apakah sedemikian rapuhkah mahligai rumah tangga yang mereka bangun hingga tidak dapat diselamatkan lagi.
Hari sudah sore tapi Farhan masih belum bergeming dari tempat duduknya, tatapan matanya kosong tanpa semangat hidup dan pikirannya berkelana entah kemana hingga suara merdu adzan maghrib mengembalikan kesadarannya, ia pun bangkit dan berlalu meninggalkan taman kota melangkah menuju masjid terdekat untuk menunaikan shalat maghrib.
...****************...
Air mata Tika bersimbah membasahi pipinya, ia tumpahkan keluh kesahnya di dalam doa yang ia panjatkan seusai menjalankan ibadah shalat maghrib. Ia kini benar-benar harus berusaha tegar menerima kenyataan laki-laki yang sangat ia cintai pergi dari sisinya. Sungguh ingin sekali ia tetap mengekang sang suami pujaan hati tapi sisi kemanusiaan dalam jiwanya membuatnya menahan diri untuk berlaku begitu. Ia lebih memilih menyimpan luka hatinya karena harus berpisah dengan cintanya daripada tetap bersama namun orang yang amat dicintainya meregang asa, tersiksa dan merasa terpuruk karena terpaksa harus hidup seatap dengan wanita yang tidak dicintai lagi. Terbayang di pelupuk matanya keromantisan yang selalu tercipta dalam setiap kebersamaannya dengan sang suami yang pada akhirnya menenggelamkan rasa cintanya pada pusara perceraian.. Tika tergugu tanpa suara hingga ucapan salam dari buah hati yang sangat ia cintai mengejutkannya.
__ADS_1
"Assalamualaikum, bun". Sapa Sifa sambil berjalan melewati pintu yang setengah terbuka.
"Wa'alikum Salam". Jawab Tika dengan suara serak tanpa menoleh.
Ibu muda satu anak itu sibuk menyeka air matanya berusaha untuk menyembunyikan kesedihan dan luka hatinya. Luka hati yang berusaha akan ia simpan sendiri dan tidak ingin diketahui oleh orang lain termasuk putri semata wayangnya.
Sifa mendekati ibunya yang masih memunggunginya. Ia bersimpuh di samping ibunya dan meletakan kepalanya di pangkuan sang bunda. Tika membelai rambut putrinya dan tersenyum getir, hatinya perih karena kini putrinya harus merasakan kehilangan kehangatan kasih sayang seorang ayah.
"Bu mengapa Sifa merasa sangat sedih, ya?. Padahal ayah hanya tugas ke luar kota untuk sementara waktu. Hati Sifa semakin sedih karena sejak ayah pergi tadi semua orang kehilangan keceriaannya. Ibu lebih suka diam di kamar, nenek tidak banyak bicara dan om Farhan juga pulang dengan lesu. Sifa merasa dicuekin, bim."
Deg.......
MOHON MAAF TELAH MENGECEWAKAN PEMBACA, YA. INI MURNI KARENA KESIBUKAN AUTHOR. MOHON DUKUNGANNYA SELALU AGAR AUTHOR SEMANGAT DAN RAJIN UP LAGI.TERIMA KASIH
__ADS_1