PETAKA PERCERAIAN

PETAKA PERCERAIAN
Kegelisahan bu Murni dan Farhan


__ADS_3

Bu Murni duduk bersantai menonton tv, Farhan duduk disampingnya dengan jari yang tak berhenti menari di atas gawai mahalnya itu. Bu Murni memperhatikan anak bungsunya itu dan berharap ia segera meletakkan gawainya, tapi Farhan masih saja berkutat dengan benda persegi empat tersebut tanpa menyadari ibunya yang sedang menunggunya menyelesaikan pekerjaannya. Bu Murni menghela nafas keras membuat Farhan sejenak menoleh pada wanita setengah baya yang sudah melalui banyak hal merawat dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Diletakkan benda berteknologi canggih yang ada digenggamannya, matanya menatap heran pada wanita berwajah teduh dan menenangkan yang selalu membuatnya nyaman itu. Tatapan menyelidik terhunus pada ibunya yang nampak sedang memikirkan sesuatu. Mata tua itu tertutup rapat dengan kepala menyandar di sandaran sofa rumah ya yang empuk dan tangan memijit lembut dahinya yang sudah dipenuhi kerutan halus. Tidak biasanya ibu bermuram durja seperti ini.


"Maaf, bu. Apa ibu sedang sakit. Farhan lihat sejak tadi ibu tidak semangat, ibu juga terlihat tidak selera makan. Atau ada sesuatu hal yang membebani pikiran ibu?".Tanya Farhan pada ibu yang masih diam.


Bu Murni membuka matanya, meraup mukanya dan berpikir sejenak. Helaan nafas pelan terdengar di gendang telinga Farhan membuat hatinya semakin gelisah.


"Han, apa kau tahu suatu hal antara mas dan mbkmu?". Tanya Bu Murni, matanya menatap sendu manik mata putranya.


Farhan mengernyitkan dahinya, ia sama sekali tak mengerti maksud pertanyaan ibunya yang terdengar aneh itu.


"Apa maksud ibu aku tak mengerti?. Ibu bisa melihat tadi sore mbak Tika menyambut kedatangan mas Arka dengan antusias dan semangat yang tak pernah luntur. Apa ibu mencurigai atau mencium gelagat yang kurang beres tentang mereka?". Tanya Arka dengan tatapan bingung.

__ADS_1


Lagi-lagi Bu Murni menghela nafas, tatapannya lurus ke depan.


"Tadi pagi sebelum berangkat ke kantor, ibu sempat memperhatikan mas Arka seperti orang yang frustasi, seolah memikul beban berat yang sangat menyiksanya. Ibu sempat bertanya tapi mbak mu bilang mas mu hanya lagi banyak pikiran menyelesaikan banyak proyek yang sedang ditanganinya. Ibu merasa ada yang sedang disembunyikan oleh kedua kakakmu. Ibu sangat khawatir hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja". Ucap bu Murni mengungkapkan kegundahannya.


Farhan meraih tangan wanita kuat yang sudah ditinggal oleh belahan jiwanya itu dengan lembut, dicium tangannya dengan penuh cinta dan seulas senyum dipersembahkannya untuk menenangkan hati ibundanya yang sedang gundah gulana.


"Mereka baik-baik saja, bu. Ibu tidak usah berpikir yang tidak-tidak, doakan saja biduk rumah tangga mereka diberi kehidupan yang barokah dunia dan akhirat. Jangan lupa juga doakan aku agar segera bisa memberikan ibu seorang menantu yang tidak hanya mencintaiku tapi juga mencintai ibu, menghormati saudaraku dan menyayangi keponakanku. Pokoknya paket lengkaplah".Canda Farhan sembari tersenyum kecil dibalas anggukan sang ibu dan diaminkannya.


"Doa ibu selalu terlantun untuk kebahagiaan kalian, nak. Semoga semua hal yang ingin kamu wujudkan diijabah oleh sang pengatur jagad." Doa tulus terurai dari bibir Bu Murni. Diusapnya dengan lembut lengan anak laki-lakinya yang sangat menyayanginya itu.


"Nak, kau adalah saudara laki-laki satu-satunya mbak Tika, ibu sangat berharap kau bisa menjaga mbak mu dengan baik, walaupun ia sudah punya suami kau tetap harus menjadi pelindung kakakmu itu sebagai wujud tanggung jawab yang seharusnya dipikul almarhum ayahmu. Semoga firasat ibu tidak benar, nak. Ibu merasa saudara perempuanmu satu-satunya itu sedang menghadapi masalah besar yang cukup rumit. Ibu yakin mbak mu, butuh sandaran yang kuat untuk menahan segala beban yang sedang dihadapinya. Jadilah sandaran yang kokoh bagi kakakmu, nak. Janganlah kau menjadi pria yang lembek dan rapuh. Jangankan menjaga kakakmu. Menopang diri sendiri aja gak akan sanggup".Ucap Bu Murni mencurahkan segala keluh kesahnya pada Farhan. Tangannya sesekali menyeka air mata yang meluncur dari sudut matanya.

__ADS_1


Farhan mencium tangan ibunya bertubi-tubi, hatinya terenyuh, penuturan dari ibunya ini menyadarkan bahwa tanggung jawab yang dipikulnya tidak main-main.


"Ibu, ini sudah malam. Ibu istirahat dulu, ya!. Ibu tidak usah terlalu khawatir, aku akan selalu ada untuk mbak Tika. Ia tidak sendirian , ada seorang ibu hebat yang juga mendampinginya, ibu juga jangan lupa bersama putri kecilnya yang cerdas itu kita akan bersatu membangun perisai yang kokoh untuk membentengi mbak Tika dari segala hal yang mungkin akan membuatnya terpuruk".Ujar Farhan. Dituntunnya wanita yang telah melahirkannya itu menuju kamarnya.


Setelah mengantar ibunya dan memastikan ibunya sudah berbaring dengan nyaman. Farhan kembali duduk dan kembali menyibukkan dirinya dengan ponsel di tangannya.


Farhan menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, TV dimatikan dan merebahkan badannya kesadaran sofa dengan tangan dibelakang kepala, diraupnya oksigen sebanyak-banyaknya lalu dihembuskannya perlahan. Matanya terpejam tapi pikirannya kemana-mana terusik dengan ucapan ibunya barusan. Ia berharap tidak akan ada hal buruk yang terjadi seperti apa yang diresahkan ibunya. Akan tetapi ia juga tidak memungkiri firasat seorang ibu itu sangatlah tajam. Ia teringat saat ibu mengutarakan bahwa perasaan ibu mendadak tidak enak ketika ayahnya sering kali mengingatnya dan menasehati Tika untuk selalu menjaga ibu dan memupuk rasa saling mencintai sesama saudara agar bisa selalu bahu membahu membuat ibu bahagia, jangan sampai berkubang apalagi larut dalam kesedihan. Ibu juga tidak luput dari pesan intens yang hampir setiap kesempatan diulang-ulang tanpa bosan seolah ayah akan pergi jauh dan lama. Ayahnya juga berpesan pada Arka untuk selalu menjaga, mencintai dan menyayangi kakak perempuannya. Mengembalikan dengan hormat bila suatu saat kakak iparnya itu tak lagi menginginkannya. Dan pada akhirnya firasat ibunya itu terbukti seminggu kemudian ayahnya menghadap ke Penguasa Alam, Allah SWT. Ayah meninggal setelah menjadi imam shalat subuh di mushola kecil keluarga mereka.


Farhan duduk dengan tangan menangkup muka dan siku bertumpu di lututnya. Muncul rasa takut di hatinya, kepalanya menggeleng-geleng menyiratkan rasa tak sanggup bila pada akhirnyanya apa yang mengganggu isi otaknya itu bakal menjadi kenyataan.


Farhan melangkahkan kaki menuju kamarnya dengan pikiran campur aduk. Ia berbaring dengan gelisah, dipaksanya matanya untuk terpejam dan berusaha mengusir bayang-bayang menakutkan yang terus menggelayut, seolah tak memperkenakannya untuk beristirahat. Malam sudah sangat larut ketika akhirnya ia bisa terbuai dalam mimpi, hingga suara alarm dengan nada khusus untuk menunaikan qiyamullail membangunkannya.

__ADS_1


Dihamparkannya sajadah, dengan khusuk Farhan menunaikan tahajud, hatinya terasa tenang. Dengan rasa tawakal, ia memasrahkan diri pada Zat Yang Maha Segala-galanya atas semua kegelisahannya dan memohonkan yang terbaik untuk kehidupannya dan keluarganya.


__ADS_2