
Tersentak tubuh Tika sehingga terlepaslah pelukan Arka. Sejenak Tika merasa tubuhnya membeku dan dadanya sesak seolah dihimpit batu besar saja. Sorot matanya menghunus tak percaya dengan apa yang didengarnya, keterkejutannya membuat dirinya dengan sisa-sisa kewarasannya menelaah ucapan suaminya. Ditatapnya lekat, terpancar raut dan sorot mata suaminya yang seolah menanggung beban berat.
"Sayang, apa yang baru saja ayah ucapkan? ayah jangan melucu deh". Senyum Tika menenangkan suaminya dan berharap apa yang didengar tadi hanyalah gurauan saja. Arka melorotkan tubuhnya memeluk kaki istrinya, tergugu. Tika semakin terkejut dan bingung
"Maafkan aku sayang tapi kita memang tidak lagi layak bersama. Bunda layak hidup bahagia dengan orang yang mencintai bunda". Cicit Arka diiringi sedu sedan miris.
Celotehan Arka membuat Tika mengernyit bingung, ia meras selalu bahagia di sisi Arka. Tika merasa ada yang sedang disembunyikan oleh suaminya itu.Tika melepas pelukan Arka di kakinya kemudian ia duduk berselonjor sejajar di samping suaminya. Di baringkannya tubuh suaminya dipangkuannya. Tangannya membelai lembut kepala suami yang amat dicintai dan tampak rapuh itu. Sesekali diciumnya pucuk kepala suaminya untuk menyalurkan ketenangan dengan harapan suaminya bisa berbagi beban dengannya. Ia akan berusaha mendengarkan segala keluh kesah suaminya dan menarik benang merah penyebab suaminya itu ingin berpisah dengannya. Dia yakin suaminya punya alasan kuat dibalik permintaaannya tersebut. Dia sangat tahu bahwa suaminya tidak akan meminta sesuatu yang sangat dibenci Allah tersebut meskipun hal itu halal. Tika ingin berbicara dari hati ke hati dengan suaminya nya tersebut meski dadanya bergemuruh dan hatinya terasa berkeping-berkeping. Dia berharap bisa membantu permasalahan suaminya tanpa terjadi perceraian.
"Apa ayah telah berpaling ke wanita lain, ayah punya selingkuhan?". Selidik Tika dengan penasaran.
"Tidak bunda, sama sekali tidak ada wanita lain yang dihatiku, aku hanya ingin bunda bahagia".Jawab Arka tulus.
Tika semakin bingung dengan jawaban suaminya, Arka.
__ADS_1
"Bunda adalah wanita yang baik, aku menyayangi bunda tapi ayah tidak boleh egois bunda. Bunda berhak bahagia,....bunda harus bahagia dan bahagia bunda bukan bersama ayah. Ayah harus rela melepaskan bunda. Bunda layak mendapat imam yang lebih baik dari ayah".Tegas Arka. Air matanya terus mengucur deras.
Tika terperangah dengan jawaban Arka. Tangannya masih terus membelai rambut suaminya itu dan sesekali menyeka air mata suaminya. Ada bola-bola kristal bening menggantung disudut matanya.
Tika menangkup wajah suaminya, dipandangnya manik mata yang berkaca-kaca itu. Suami yang selalu nampak tangguh itu kini terlihat tak berdaya dan rapuh dipelupuk matanya.
"Ayah, katakan sejujurnya, apakah selama cinta bunda membebanimu, ayah?. Ayah merasa terbelenggu dengan cinta bunda ini?. Tanya Tika lirih menahan tangis.
Arka bungkam, tangisnya terdengar makin memilukan, air matanya membuat baju gamis Tika bertambah basah. Dipeluknya pinggang istrinya itu lebih erat dan wajahnya ditelusupkan diperut istrinya. Tika mengecup puncak kepala Arka penuh cinta membuat hati Arka menjadi semakin teriris-iris.
Arka meregangkan pelukannya. Tika mengangkat kepalanya dari atas kepala Arka. Arka bangkit dari pangkuan istrinya, matanya menatap sendu ke wajah istrinya yang sembab dan penuh air mata. Dihapusnya air matanya, kemudian peluknya erat ibu dari anaknya tersebut. Mereka berpelukan cukup lama, hingga keduanya lebih tenang. Suasana sejenak syahdu, hanya suara binatang malam yang seolah berusaha menjadi irama penenang bagi kegaduhan hati mereka berdua. Arka mengurai pelukannya dan menatap wajah cantik Tika sambil menyisihkan anak rambut ke belakang telinga agar tidak menutupi mukanya.
"Bunda, sekarang sudah larut malam. Kita tidur dulu ya, kita istirahatkan badan kita. Sekarang hati dan pikiran kita sedang letih, besok kalau suasana hati kita sudah nyaman kita bicara lagi. Ayah akan menceritakan semuanya, semua hal yang membuat ayah resah, semua hal yang membuat ayah merasa bersalah pada bunda, semua hal yang sudah tak sama lagi. Ayah akan berusaha terbuka padamu, bunda. Aku berharap bunda tidak akan berpikir yang tidak-tidak. Saat ini tidak ada nama wanita lain yang bertahta sebagai ratu di dalam hati ayah. Mungkin memang bahagiamu tidak bersama ayah, bun".Jelas Arka tersenyum sambil membelai pipi dan rambut Tika.
__ADS_1
Tika mengangguk, digenggamnya tangan Arka serta diciumnya berulang ulang. Arka mencium pucuk rambut istrinya itu sambil memejamkan mata. Tika tersenyum, di belainya pipi suaminya dengan punggung tangannya.
" Ya, ayah. Bunda akan mendengarkan keluh kesah ayah nanti ketika ayah sudah siap mengungkapkan gemuruh yang menggelayuti jiwa ayah. Bunda akan menjadi pendengar yang baik dan kita pecahkan masalah ini dengan win-win solution. Ayo kita tidur. Aku benar benar sudah mengantuk." Jawab Tika bijak.
Merekapun beranjak menuju ranjang, masuk kedalam selimut dan tidur dengan berpelukan. Tika perlahan membuka matanya. Ditatapnya wajah suaminya, hatinya terenyuh. Benarkah selama ini imamnya tersebut telah goyah?. Apa yang salah dengan hubungan mereka. Tika mengurai pelukan suaminya. Beringsut mundur dan menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang. Ia duduk memeluk lutut sambil terus berpikir dan menelisik perjalanan rumah tangganya yang menurutnya adem-adem saja. Tidak ada yang janggal, mereka selalu mesra dan sering bersenda gurau. Melalui hari-hari penuh cinta dan keceriaan. Tika mengangkat kepalanya, kedua tangannya menyugar kanan kiri rambut kepalanya dan mencengkeramnya kuat hingga kepalanya mendongak, matanya terpejam dan mulutnya berdesis. Dihempaskannya tangannya dengan kasar. Badannya merosot kebawah hingga tubuhnya telentang dengan tangan kanan bertengger di atas kepalanya sedang satu tangannya menangkup di atas perutnya. Matanya masih terpejam, entah sampai berapa otaknya berkelana, berusaha mencerna rangkaian kata yang dilontarkan suaminya tadi hingga akhirnya terdengar dengkur halus pertanda dia sudah bertafakur ke alam mimpi.
...****************...
Arka bangun ketika mendengar suara azan subuh, tidak didapatinya sang istri disampingnya. Terdengar suara gemericik air dikamar mandi, tahulah dia bahwa Tika sedang dikamar mandi, rutinitas yang selalu dilakukan oleh istrinya sebelum menunaikan ibadah sholat subuh. Tika selalu mandi sebelum subuh, suatu hal yang enggan orang lain lakukan dengan alasan dingin tapi hal itu tidak berlaku untuk Tika.
Tika keluar dari kamar mandi berbalut kimono mandi, nampak segar. Senyumnya mengembang kala melihat suaminya sudah duduk di atas ranjang, menatapnya dengan seulas senyum juga.
"Ayah, mandi gih, seger lo, biar nggak kusut dan kucel." Rayu Tika seraya mengerling manis dan mengangsurkan handuk kepada suaminya.
__ADS_1
Arka tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya. Ia segera melangkah ke kamar mandi. Sesaat kemudian, ia sudah keluar lagi berbalut handuk dan nampak lebih segar. Tika duduk disisi ranjang, berbalut mukena menunggu Arka untuk menunaikan sholat subuh berjamaah. Arka memakai baju yang sudah disiapkan istrinya di atas ranjang, baju Koko putih dan sarung coklat. Selanjutnya Keduanya khusus menunaikan sholat subuh berjamaah.
Selesai sholat Tika mencium ta'dim punggung tangan suaminya yang dibalas kecupan mesra di pucuk kepalanya. Suatu pemandangan yang sangat berbeda dengan realita, yang membuat sejuta tanya di hati seorang Tika, benarkah keluarganya tidak baik-baik saja. Namun Tika tidak ingin mengorek lebih lanjut apalagi memaksa Arka untuk segera berterus terang terkait kegundahan yang semalam membuatnya nampak sangat terpuruk. Tika ingin Arka mengungkapkan segalanya dengan penuh kesiapan dan kenyamanannya, dia berharap kalaupun bahtera rumah tangganya harus kandas maka harus dengan cara yang baik sebagaimana mereka dulu memulainya.