
Arka menunduk mendengar pertanyaan kompak dari ibu mertua dan saudara iparnya itu, dadanya bergetar, rasa takut semakin gencar menyerang pori-pori pembuluh darahnya menjalar ke otak hingga keringat dingin sebesar biji jagung menyembul di dahinya. Entah mengapa nyalinya menciut melihat tatapan nyalang dari dua kerabat paling dekat istrinya itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi, nak Arka?. Apa maksudmu melepas tanggung jawab dan kewajibanmu dan menyerahkan istrimu pada kami?, sebenarnya kamu itu mau pergi kemana?, Tolong beritahu kami alasan mengapa kamu melakukan ini semua, nak!. Ada masalah apa? tolong berterus teranglah!".
Arka dan Tika saling pandang, Tika menganggukkan kepalanya seraya tersenyum memberi dukungan pada suaminya agar melanjutkan kalimatnya, menyampaikan hal penting yang harus diketahui oleh ibu dan juga adiknya. Arka menarik nafas dalam-dalam berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk memenuhi rongga diafragmanya yang mulai terasa sesak. Kemudian menghembuskannya dengan pelan.
Bu Murni dan Farhan menyipitkan mata, keduanya mencium gelagat yang tidak beres yang memacu adrenalin keduanya. Dengan raut wajah penuh kekhawatiran dan juga rasa penasaran yang teramat sangat, wanita bergelar ibu dan putranya itu menunggu Arka menjelaskan semuanya dengan segamblang mungkin. Terlihat betapa laki-laki di samping Tika itu begitu tertekan dan seperti menanggung beban berat yang memporak-porandakkan mentalnya.
"Kami....kami...kami memutuskan mengakhiri bahtera rumah tangga kami, bu. Kami akan bercerai". Jelas Arka gugup.
"Apa?".
"Apa?"
Respon yang sama kompak keluar dari mulut bu Murni dan Farhan, wajah kedua ibu anak itu mendadak pias dengan mata melotot nyaris keluar saking tersentaknya dengan ucapan Arka yang terdengar seperti petir di siang bolong, tanpa ada angin atau pun hujan tiba-tiba menggelegar. Hal itu tentu saja sangat mengejutkan siapapun yang mendengarnya. Kata ajaib yang bisa menjadi sebab yang tadinya hubungan suami istri menjadi dua orang yang tidak lagi memiliki hubungan apa-apa bahkan hal-hal yang tadinya halal secara otomatis akan menjadi haram.
Bu Murni memandang putri dan menantunya bergantian , rasa tidak percaya masih mendominasi otak tuanya, bagaimana bisa anak dan menantu yang begitu ia banggakan tiba-tiba memutuskan bercerai, bibir wanita paruh baya itu bergetar tanpa bisa berucap apapun tapi air mata yang tanpa aba-aba menerobos sudut matanya membanjiri pipi rentanya yang sudah mulai keriput menandakan bahwa hati wanita itu begitu terluka.
Tidak beda jauh dengan sang ibu, adik laki-laki Tika, Farhan. Juga merasa hatinya hancur berkeping-keping, ia yang sangat tahu betapa saudara perempuannya itu amat sangat mencintai suaminya tentu saja meradang. Kakak perempuannya itu selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk suaminya, tidak pernah melihat kekurangan suaminya bahkan dengan penuh kebanggaan selalu menutupi kekurangannya sehingga sang suami tampak nyaris sempurna. Pengabdian seorang istri yang patut diacungi jempol pantas disematkan untuk sang kakak. Adik ipar Arka itu menatap tajam suami kakaknya dengan binar mata penuh amarah, terluka dam kecewa teramat sangat, giginya gemretuk dan tangannya mengepal dengan kuat hingga kepalan tangan itu terlihat bergetar. Ia bangkit dari tempat duduknya tanpa melepas tatapan marahnya pada sang kakak ipar. Menyadari hal itu, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Tika segera menghambur mendekati Farhan dan mengusap lengan tangan adiknya itu agar lebih tenang.
__ADS_1
"Farhan, tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan kekerasan. Ketika kita sedang berkendaraan dan sang sopir mempunyai tujuan yang berbeda dengan penumpangnya bukankah turun dari kendaraan itu jauh lebih baik daripada saling memaksakan diri untuk mengikuti salah satunya dengan hati terpaksa. Masih beruntung sang sopir bersedia menurunkan penumpangnya di tempat yang aman dan melepas tanggung jawabnya sebagai seorang sopir dengan ma'ruf. Begitu juga kami, perpisahan ini mungkin jalan yang terbaik agar kemungkinan saling menyakiti bisa diperkecil. Tolong kamu dan juga ibu bisa menerima keputusan kami ini dengan lapang dada seperti halnya aku yang berusaha untuk sabar dan ikhlas". Jelas Tika berusaha memberi pengertian.
Dengan menahan marah, Farhan kembali duduk seraya menghirup oksigen rakus dan menghembuskannya dengan kasar. Sungguh ia tidak terima dengan semua ini. Ia sangat yakin sumber perceraian keluarga saudara perempuannya itu pasti bersumber dari sang kakak ipar karena ia sangat tahu betapa besar cinta perempuan cantik yang dipanggilnya kakak itu, rasanya tidak mungkin kalau ia meminta khuluk pada suaminya.
Sementara bu Murni terlihat semakin berkaca-kaca tanpa suara. Ia masih sangat syok dengan nasib bahtera rumah tangga putrinya itu. Hati ibu mana yang akan baik-baik saja saat mengetahui bahwa sebentar lagi putri yang begitu disayanginya akan menyandang status janda.
Di sisi lain, Hati Arka tersayat mendengar ucapan istrinya yang lembut namun menohok, pilihan kiasan cerita yang digunakan untuk menggambarkan keluarga kecil mereka begitu menghujam batinnya. Ada seonggok sesal di hatinya, seharusnya ia memberi kesempatan hatinya untuk mencintai ibu dari anaknya itu sekali lagi sebelum mengatakan dengan jujur bahwa cintanya sudah terkikis habis. Ia kini menyadari akan sulit bagi istrinya itu untuk membangun kepercayaan pada dirinya yang sudah dengan blak-blakan mengatakan tidak cinta lagi, wajar wanita yang kini masih sah menjadi istrinya itu tidak mau memberikan kesempatan kedua padanya. Tentu saja bayang-bayang dikhianati menjadi faktor dominan yang menghantui jiwa dan hatinya, sebab potensi tersebut menjadi tinggi persentasenya dengan diperjelasnya rasa cinta yang sudah terkikis habis.
"Mengapa kamu lakukan ini, nak Arka. Apa salah putri ibu?. Tidakkah semua bisa diperbaiki?". Tanya bu Murni dengan suara sengau.
"Maafkan Arka, Bu". Jawab Arka singkat. Bulir bening menggenang di ujung matanya.
Tika mendekati sang ibu, berjongkok dengan tangan menggenggam tangan wanita renta Yanga sangat dicintainya itu. Hatinya sangat miris dan berdarah-darah di usianya yang tidak lagi muda, ia terpaksa harus menoreh luka yang sangat dalam di hati sang bunda.
"Bu, kasih sayang ayah dan bunda Sifa tidak akan berkurang sedikitpun mesti kami harus berpisah. Kami tetap akan menjadi partner terbaik untuk membesarkan Sifa. Kami tetap ingin berpisah karena kami tidak ingin saling menyakiti semakin dalam. Kami hanya ingin Sifa tahu dan mengenang hal baik pada diri kami, tidak saling menanam benci dan dendam. Maafkan kami, bu". Jelas Tika dengan air mata bercucuran.
Tika menaikan alisnya disertai anggukan dengan tatapan memohon pada ibunya, sang ibu yang memahami maksud putrinya pun perlahan menganggukan kepala dengan air mata yang mengalir semakin deras. Melihat ibunya mengangguk, Tika dengan sigap menghambur ke pelukan sang ibu dan isak tangis keduanya pun membahana di ruang makan itu.
Ada rasa lega dan juga sesak menelusup rongga dada Arka, ia pun ikut sesenggukan seperti anak kecil yang akan ditinggal ibunya pergi ke pasar. Hatinya teriris-iris menyaksikan dua wanita beda generasi yang sangat ia sayangi itu tengah berpelukan dengan luka hati mereka masing-masing.
__ADS_1
Farhan pun tidak bisa menahan tangisnya, dunia serasa runtuh saat ini, menghimpit tubuhnya sehingga terasa nyaris tak bertenaga, ia masih belum percaya rumah tangga yang dibangun dengan kasih sayang dan penuh cinta kini berakhir duka, ia sama sekali tidak menyangka akan terjadi hal yang menyakitkan pagi ini, bahkan sampai hari terakhir tadi ia masih sempat menyaksikan kakaknya terlihat romantis. Ditatapnya kakak iparnya dengan pandangan menghunus, tangannya mengepal, secepat kilat ia melangkah mendekati Arka yang masih tergugu dengan wajah menunduk. Tanpa berucap sepatah katapun, Farhan menarik ujung kerah baju Arka dan menonjok wajahnya hingga Arka pun terpental ke lantai dengan hidung mengeluarkan darah.
Arka yang tidak siap pun terkejut dengan apa yang dilakukan adik iparnya itu. Namun ia memilih diam sambil mengusap hidungnya yang mengeluarkan darah membasahi baju kemeja putihnya.
Bu Murni dan Tika yang masih terbawa suasana larut dengan tangisnya reflek mengurai pelukan mereka dan berhamburan menolong Arka dan menenangkan Farhan yang masih tersengal menahan emosinya.
"Apa yang kamu lakukan, Farhan?". Teriak bu Murni sambil membantu Arka berdiri.
"Sudah MBK bilang kekerasan tidak menyelesaikan masalah, Farhan. Kamu membuat mbak menjadi seorang istri yang tidak bisa menjaga kehormatan dan memuliakan suami mbak bahkan di detik-detik terakhir sekalipun. Coba apa yang bisa kamu katakan kalau Sifa melihat ayahnya babak belur seperti ini, hah. Berbohong?, itu yang kamu inginkan?. Mbak benar-benar kecewa sama kamu, Han". Omel Tika sambil mencengkeram lengan adik laki-laki satu-satunya itu.
Farhan hanya diam, tidak menyahut sepatah kata pun tapi sorot matanya masih terlihat belum puas dengan buah karyanya di wajah sang kakak ipar.
"Mengapa kamu harus menceraikan anakku, Arka? mengapa? hah mengapa?. Tanya bu Murni sambil mengguncang kedua bahu Arka yang hanya bisa menunduk.
"Tegakkan kepalamu, Arka!". Teriak bu Murni.
Plak.... Plak
Dua tamparan melayang ke pipi sang menantu yang sangat disayanginya itu. Rasa kecewa mendalam yang sungguh tak terperi.
__ADS_1
Wanita tua itupun menghambur memeluk menantunya dengan tangis yang semakin memilukan.