PETAKA PERCERAIAN

PETAKA PERCERAIAN
Restu Walau Terpaksa


__ADS_3

Rasanya pagiku kali ini akan begitu sulit kulewati dengan hati yang tenang. Kegelisahanku semalam belum lagi enyah, kini otakku kembali terkontaminasi oleh mimpi yang menghiasi tidurku sepanjang mata ini terlelap. Walaupun cuma hanya sekedar mimpi, hal itu sangat mempengaruhi kondisi kejiwaanku.


Masih dengan suasana hati yang kian memburuk, aku melangkahkan kaki ini untuk mengguyur tubuh ini dengan air yang kupercaya bisa membuat tubuh lebih bugar dan sehat dan untuk selanjutnya menunaikan ibadah dua rakaat, bermunajat kepada Allah SWT serta memohon agar diberi ketenangan hidup dan dijauhkan dari segala hal yang buruk baik atasku atau atas keluargaku terlebih keluarga putriku, aku berdoa agar mimpiku itu hanya sekedar bunga tidur saja dan tidak akan menjadi kenyataan. Aku berdoa begitu panjang hingga suara ketukan di pintu kamarku membuyarkan konsentrasiku, mbok Sarmi memanggilku untuk sarapan. Kuselesaikan doaku kemudian menjawab panggilan mbok Sarmi.


"Iya, mbok. Saya segera ke sana". Jawabku sedikit keras.


Mukena kutanggalkan dan kusimpan di atas nakas seperti biasanya dengan kondisi terlipat rapi. Sejenak aku hempasan bokongku ranjang empukku. Aku atur nafas sedemikian rupa agar kegalauanku tidak disadari oleh anak, menantu serta cucu kecilku. Dengan suasana hati yang belum juga membaik aku melangkahkan kakiku menuju meja makan.


Suasana di meja makan sedikit berbeda dari biasanya kami menikmati sarapan kami dengan begitu dingin, tidak ada gurauan seperti biasanya, semuanya asyik dengan hidangan di piring masing-masing. Hanya keromantisan putriku dan suaminya yang sesekali masih terlihat dengan jelas.


"Tolong jangan tinggalkan meja makan ini dulu, Han!. Ada hal penting yang ingin kami sampaikan padamu dan juga ibu". Titah Tika pada sang adik


Farhan yang hendak beranjak meninggalkan meja makan, mengurungkan niatnya. Dengan terpaksa ia pun menghempaskan kembali bokongnya di tempat duduknya semula. Merelakan waktunya untuk mendengar apa yang ingin diungkapkan kakak perempuannya.


Aku menyelesaikan sarapanku dengan hati yang was-was dan jauh dari rasa tenang. Otak dan pikiranku masih sangat dipengaruhi oleh mimpiku semalam. Terselip doa semoga mimpiku itu tidak menjadi kenyataan.


Tidak butuh waktu kami, kami semua menyelesaikan sarapan dan siap mendengarkan apa yang hendak disampaikan oleh putri dan menantuku itu padaku dan adiknya, Farhan.


Setelah semua menyelesaikan sarapannya, kulihat putku menggenggam tangan kiri suaminya dan menganggukkan kepala untuk memberi isyarat kepada suaminya agar memulai pembicaraan.


"Sebelumnya, Arka mohon maaf pada ibu atas segala kekhilafan Arka selama Arka menjadi menantu di rumah ini. Begitu pun padamu, Han. Kakak minta maaf atas segala salah khilaf kakak selama menjadi kakak iparmu". Ucap Arka lirih tapi sangat jelas terdengar bu Murni, Farhan dan Tika.


Ucapan maaf yang terucap dari bibir menantuku itu semakin membuat suasana hatiku kian memburuk. Kata "selama menjadi menantu" sungguh terdengar tidak mengenakkan digunakan sebagai kalimat pembuka ditelingaku, apalagi kata tersebut digandengkan dengan kata maaf.


Tika terlihat menundukkan kepalanya dan genggaman tangannya semakin erat di


di jari sang suami. Sementara itu, aku dan putraku ,Farhan saling pandang dan ia pun menggedikkan bahu seraya menggeleng pelan tanda ia juga tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh ucapan laki-laki gagah yang berstatus kepala keluarga di rumah ini.


"Hari ini saya pamit meninggalkan rumah ini dan mengembalikan Tika dengan segala hak dan kewajiban saya sebagai suami kepada ibu dan juga Farhan sebagai wali sah ibunya Sifa." Lanjut Arka lagi dengan suara bergetar dan semakin parau.


"Maksud kamu?".

__ADS_1


"Maksud kakak?"


Aku dan Farhan serentak bertanya, anak laki-lakiku itu tidak kalah terkejutnya seperti aku bahkan sangat terlihat sekali sorot mata kemarahan pada binar matanya.


Kupandangi lekat wajah menantuku dengan bertumpuk rasa sakit yang menghujam dadaku ini, sebagai seorang ibu ada rasa tidak terima dalam diriku anakku diperlakukan bak barang yang kupinjamkan, dengan seenaknya saja ia bilang mau mengembalikan putriku dan melempar tanggung jawabnya sebagai suami yang sudah disandangnya sejak ikrar ijab qobul di depan mendiang ayah Tika. Dadaku benar-benar terasa sesak, mengapa mimpi semalam benar-benar menjadi kenyataan. Aku merasa tubuhku lunglai tidak bertulang. Sementara lelaki pecundang di depan mataku itu menunduk mendengar pertanyaan kompak dariku dan juga saudara iparnya terlihat sekali jika ia ketakutan sampai-sampai keringat dingin sebesar biji jagung menyembul di dahinya. Entah mengapa mendadak nyalinya menciut.


Aku masih berusaha bernegosiasi dengan hati dan pikiranku serta berharap keadaan membaik dan rumah tangga anakku bisa terselamatkan.


"Apa yang sebenarnya terjadi, nak Arka?. Apa maksudmu melepas tanggung jawab dan kewajibanmu dan menyerahkan istrimu pada kami?, sebenarnya kamu itu mau pergi kemana?, Tolong beritahu kami alasan mengapa kamu melakukan ini semua, nak!. Ada masalah apa? tolong berterus teranglah!". Tanyaku dengan nada lembut.


Lagi lagi aku melihat sepasang suami istri saling pandang, Tika menganggukkan kepalanya seraya tersenyum memberi dukungan pada suaminya agar melanjutkan kalimatnya, menyampaikan hal penting yang harus diketahui oleh ku dan juga adiknya. Menurutku sikap Tika begitu aneh. Bagaimana ia bisa setenang ini bila rumah tangga berada dalam kondisi tidak baik-baik saja.


Aku kembali menatap lekat Arka yang sedang berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk memenuhi rongga pernafasannya, kemudian menghembuskannya dengan pelan.


Dalam keadaan seperti ini, aku mencium gelagat yang tidak beres akan terjadi pada rumah tangga putriku. Dengan penuh kekhawatiran dan juga rasa penasaran yang teramat sangat, aku dan Farhan menunggu Arka menjelaskan semuanya dengan segamblang mungkin. Terlihat betapa laki-laki di samping Tika itu begitu tertekan dan seperti menanggung beban berat yang memporak-porandakkan mentalnya.


"Kami....kami...kami memutuskan mengakhiri bahtera rumah tangga kami, bu. Kami akan bercerai". Jelas Arka gugup.


Dunia ini seakan runtuh mendengar kata 'cerai' yang meluncur dari bibir suami putriku itu.


Ucapan menantuku bagaikan petir di siang bolong, tanpa ada angin atau pun hujan tiba-tiba menggelegar, mengejutkan semua orang yang mendengarnya bahkan mampu membuatku sangat shock.


Aku memandang putri dan menantuku bergantian, rasa tidak percaya pada pendengarannya, bagaimana bisa anak dan menantu yang begitu ia banggakan tiba-tiba memutuskan bercerai, bibirku terasa kelu, bergetar tanpa bisa berucap sepatah kata pun, air mata tidak lagi sanggup ku tahan yang pada akhirnya tanpa aba-aba menerobos sudut mata ini hingga membanjiri pipi rentaku yang sudah keriput menandakan bahwa hati ini benar-benar terluka meski tak berdarah.


putraku menatap tajam suami kakaknya dengan binar mata penuh amarah, terluka dam kecewa teramat sangat, giginya gemretuk dan tangannya mengepal dengan kuat hingga kepalan tangan itu terlihat bergetar. Ia bangkit dari tempat duduknya tanpa melepas tatapan marahnya pada sang kakak ipar. Sebelum kepalan tangannya mendarat di tubuh menantuku, Tika sudah terlebih dulu berusaha menenangkan Farhan dan mengusap lengan tangan adiknya itu agar tidak melakukan tindak kekerasan. Sebijak mungkin ia menasehati adiknya agar tidak gegabah apalagi melakukan tindak kekerasan untuk menjaga kehormatan suaminya. Aku bersedih mendengar nasehat putriku pada adiknya. Betapa ia terlalu menghormati suaminya hingga ia masih bersikap baik pada laki-laki yang ingin menjandakannya itu. Padahal aku sebagai ibunya ingin sekali menghajarnya hingga ia menyadari bahwa putriku yang diperistrinya itu tidak layak diperlakukan seperti ini.


dan mengusap lengan tangan adiknya itu agar lebih tenang.


Dengan menahan marah, Farhan kembali duduk menghela nafas dengan kasar. Putraku itu terlihat benar-benar kecewa dan tidak terima dengan semua ini.


"Mengapa kamu lakukan ini, nak Arka. Apa salah putri ibu?. Tidakkah semua bisa diperbaiki?". Tanyaku dengan suara sengau.

__ADS_1


Mataku berkaca-kaca, menangis tanpa suara menahan sesak di dada karena aku masih benar-benar shock menerima kenyataan bila rumah tangga putriku sedang berada diujung tanduk.


"Maafkan Arka, Bu". Jawab Arka singkat. Bulir bening menggenang di ujung matanya.


"Tidakah kalian pikirkan bagaimana anak kalian. Sifa sangat membutuhkan kasih sayang dari kalian berdua. Bisakah kalian tidak egois dengan memikirkan hati kalian masing-masing. Ingat diantara kalian ada Sifa, jangan Sampai putri cantik kalian itu menjadi korban karena kalian lebih memilih perceraian". Nasehatku terdengar seperti rengekan.


Aku merasakan jari tanganku digenggam erat, ku buka mataku dan kulihat putriku berjongkok dengan tangan menggenggam tanganku. Hatiku sangat miris dan sakit sesakit sakitnya, bagaimana tidak, ia yang menurutku seorang istri yang nyaris sempurna kini terancam dijandakan suaminya, sungguh nasib yang teramat tragis.


"Bu, kasih sayang ayah dan bunda Sifa tidak akan berkurang sedikitpun mesti kami harus berpisah. Kami tetap akan menjadi partner terbaik untuk membesarkan Sifa. Kami tetap ingin berpisah karena kami tidak ingin saling menyakiti semakin dalam. Kami hanya ingin Sifa tahu dan mengenang hal baik pada diri kami, tidak saling menanam benci dan dendam. Maafkan kami, bu". Jelas putriku itu dengan air mata bercucuran.


Tidak tahan dengan tatapan memohon yang menguat dari sorot matanya pada sebagai seorang ibu aku hanya bisa merestui apa yang diinginkan putriku walaupun dengan rasa terpaksa karena aku sangat menyayanginya melebihi sayangku terhadap diriku sendiri. Anak perempuanku itu pun menghambur ke pelukanku seolah merasa lega karena aku merestui perceraiannya. Kami seketika hanyut dalam suasana berkabung yang sangat menyayat hati dan kalbu.


Bugh....


Kami berdua tersentak saat menyadari bahwa Farhan telah melayangkan tinjunya pada Arka hingga menantuku itu terjengkang. Dengan cepat aku menolong Arka berdiri dan Tika mencekal lengan adiknya dengan tatapan kecewa.


"Sudah mbak bilang menyelesaikan masalah, Farhan. Kamu membuat mbak menjadi seorang istri yang tidak bisa menjaga kehormatan dan memuliakan suami mbak bahkan di detik-detik terakhir sekalipun. Coba apa yang bisa kamu katakan kalau Sifa melihat ayahnya babak belur seperti ini, hah. Berbohong?, itu yang kamu inginkan?. Mbak benar-benar kecewa sama kamu, Han". Omel Tika dengan sorot mata tajam membuat tertunduk diam.


Aku kembali menelisik wajah menantuku yang sudah babak belur. Pukulan kepalan tangan putraku ternyata cukup deras hingga hidung dan bibirnya mengeluarkan darah.


"Mengapa kamu harus menceraikan anakku, Arka? mengapa? hah mengapa?. Tanyaku sambil mengguncang kedua bahu menantuku yang hanya bisa menunduk itu.


"Tegakkan kepalamu, Arka!". Teriakku garang.


Plak.... Plak


Aku tidak bisa menahan telapak tanganku lagi dua tamparan melayang ke pipi menantu yang sangat aku sayangi itu. Rasa kecewa mendalam yang sungguh tak terperi membuatku gelap mata hingga menghadiahinya dua tamparan yang kini aku rasa sesali. Kupandang telapak tangan yang telah menampar menantuku itu, rasa sesal semakin merasuki jiwaku apalagi kini darah semakin mengucur deras dari hidung dan sudut bibirnya.


Rasa sesal yang semakin menggunung membuatkua menghambur memeluk menantunya dengan tangis yang semakin memilukan.


POV. Murni end

__ADS_1


MOHON MAAF SUDAH LAMA TIDAK UP KARENA KESIBUKAN MENGAJAR DAN UJIAN AKHIR SEMESTER YA


__ADS_2