
Tika melirik sekilas Bu Murni yang mengerutkan keningnya dan menatapnya dengan mata menyipit.
'
"Oh itu, nanti coba bunda tanyakan kepada ayah, ya!" Jawab Tika asal, ia juga bingung harus bicara apa.
Sifa mengiyakan jawaban bundanya dengan mengangguk tegas. Ia kemudian naik ke pangkuan ibunya, menyesap jus buah alpukat yang masih tersisa sedikit lagi hingga tandas.
Tika mengambil gelas di tangan Sifa dan meletakan di nampan bersama dengan gelas lain yang sudah kosong, sambil berfikir mencari jawaban yang tepat. Ia yakin ibunya sebentar lagi akan melontarkan banyak pertanyaan, berusaha mencari tahu apa yang sedang terjadi. Memang sangat mudah membohongi orang lain tapi tidak akan bisa membohongi seorang ibu. Sepintar-pintarnya menyembunyikan sesuatu hal, seorang ibu pasti bisa mengendusnya.
"Sifa masuk dulu ya, katanya mau sop buah. Bantu mbok Sarmi untuk memilihkan buah yang bagus dan sudah masak di pohon di kebun belakang untuk dibuat sop buah. Nanti kita buat bersama". Pinta Bu Murni setengah membujuk.
"Iya, nek". Ucap Sifa patuh.
"Anak pintar". Sanjung bu Murni tulus.
Sifa tertawa riang mendengar pujian sang nenek, ia pun berlari kecil menerobos pintu rumah menemui mbok Sarmi.
Bu Murni beralih menatap lekat pada putrinya, sorot matanya begitu tajam meminta penjelasan atas hal yang ditanyakan cucu kecilnya.
Tika hanya diam membisu, matanya menerawang menyusuri bunga-bunga yang bergoyang-goyang ditiup angin
"Apa yang kamu sembunyikan dari ibu Sebenarnya, nak?. Tidakah engkau ingin berbagi dengan ibu?".Tanya bu Murni, memancing pembicaraan.
Tika menghela nafas berat. pertanyaan menohok ibunya membuat tenggorokannya tiba-tiba kering. Dengan susah payah ia energik salivanya.
"Maafkan aku, ibu. Bu.....". Ucapan Tika terputus oleh alunan sholawat Jibril yang merupakan nada sambung panggilan handphone milik Tika.
"Maaf, Bu. Tika angkat telpon dulu". Izin Tika dengan sopan.
Bu Murni terpaksa mengangguk pasrah. Sepertinya ia harus menahan diri dan menelan kekecewaan untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
Tika meraih benda pipih dari balik saku gamisnya dan menggeser icon berlambang telepon berwarna hijau di layar handphonenya dan meletakan benda canggih itu di telinganya. Untuk beberapa waktu, Tika bisa menghindari pertanyaan dari sang bunda. Ia sengaja berlama-lama bercakap-cakap melalui telepon untuk mengalihkan pembicaraan dengan ibunya yang menurutnya sangat tidak menguntungkannya, hingga akhirnya dengan berat hati bu Murni meninggalkannya sendiri di teras melanjutkan aktivitasnya berteleponan.
" Maafkan Tika, Bu". Gumam Tika setelah mengakhiri panggilan teleponnya.
Tika menangkup wajahnya, menghela nafas kemudian beranjak ke dalam rumah. Matanya menelisik setiap sudut rumah, tidak ada seorangpun bahkan di dapur juga tidak terdengar ada orang yang sedang beraktifitas.
Di tengah kegalauannya, terdengar riang suara tawa Sifa. Tika melangkahkan kakinya menuju pintu belakang dapurnya yang tertutup rapat, pintu ini menghubungkan langsung dapur dengan teras dan halaman belakang.yang dipenuhi berbagai tanaman sayur mayur,, rempah bumbu dan pohon buah-buahan yang sedang berbuah lebat. Begitu pintu dibuka, ia mendapati ibu dan putrinya serta mbok Sarmi sedang berkumpul dengan kesibukannya masing-masing mengelilingi keranjang berukuran sedang yang penuh dengan aneka buah-buahan yang sudah matang, ada mangga, alpukat, dan rambutan. Tangan lincah mbok Sarmi mengupas mangga yang terlihat menggiurkan. Sifa asyik mencomot potongan buah mangga, rambutan dan alpukat yang ditampung dalam sebuah wadah secara bergantian dan memindahkan ke mulut mungilnya yang sibuk mengunyah buah-buah itu tanpa henti. Sedangkan bu Murni dengan cekatan memotong-motong alpukat tanpa biji menjadi potongan berbentuk dadu.
Tika menyapa mereka semua dengan senyumnya yang khas, tangannya mengusap lembut kepala gadis kecilnya kemudian tangannya ikut membantu mengupas rambutan dan membuang bijinya. Mereka bersendagurau sambil menyiapkan buah untuk dijadikan sop buah.
"Kamu nggak jadi ke butik, Tik?". Tanya bu Murni disela-sela kesibukan mereka.
"Sebentar lagi, bu. Tika ingin bantuin mbok Sarmi buat sop buah dulu".Jawab Tika, mengulas senyum.
"Ibu kira kamu nggak jadi pergi".Ucap bu Murni tersenyum tipis.
"Mbok tolong siapkan bahan yang masih ada di kulkas ya, masih ada anggur juga sekalian dikeluarkan. Nanti anggurnya dipotong menjadi dua buang bijinya saja tidak perlu dikupas. Saya cuci dulu potongan buah-buah ini". Pinta Tika pada mbok Sarmi lembut.
"Oh iya, mbok. Terima kasih sudah mengingatkan". Ucap Tika tersenyum simpul.
"Gadis manis, bantu nenek buang sampahnya ya dan segera cuci tangan sampai bersih". Ucap Tika pada bocah kecil berkerudung abu-abu yang dijawab dengan anggukan dan acungan dua jempolnya.
Tika segera berlalu menyusul mbok Sarmi yang sudah masuk ke dapur menyiapkan bahan sop buah.
Bu Murni dibantu oleh cucu kesayangannya pun dengan cepat membersihkan sampah dari buah yang mereka kupas barusan. Bu Murni dan Tika memang sering ikut mengerjakan pekerjaan rumah tanpa sungkan walaupun mereka majikan. Hal itulah yang membuat mbok Sarmi betah dan sangat menghormati keluarga majikannya itu. Di rumah ini ia tidak merasa diperlakukan sebagai pembantu akan tetapi perlakuan mereka lebih dari saudara.
Tika mencuci buah rambutan, menampungnya pada baskom yang lebih besar dan menyatukan dengan buah-buahan yang lain.
"Ini buah anggurnya, bu. Sudah mbok cuci. Air gulanya tadi juga sudah saya didihkan. Sepertinya sekarang sudah dingin". ucap mbok Sarmi.
"Terima kasih, mbok. Tolong bantu tuangin air gula dan bahan lainnya ke baskom sini mbok. Saya yang mengaduknya!". Pinta Tika pada mbok Sarmi seraya menunjuk baskom yang sudah berisi buah.
__ADS_1
Dengan cekatan mbok Sarmi memasukan air gula, sebotol marjan, sekaleng susu putih bendera, dan sekotak susu cair rasa kelapa ke dalam baskom yang ditunjuk Tika. Ia juga tidak lupa memasukan buah anggur yang sudah dipotong-potongn dan dibuang bijinya.
Tika mengaduk sop buah dengan spatula kayu yang bergagang panjang agar bercampur rata. Mencicipi rasanya, senyum puas terbit dari bibirnya.
"Alhamdulillah, sudah enak mbok tinggal dimasukan kulkas saja supaya lebih segar. Kalau mbok mau menikmati sekarang pakai ice cube saja mbok biar segarnya terasa." Ucap Tika tanpa mengalihkan pandangan dari sip buah yang sedang diaduknya.
" Iya bu. Nanti saja, lagi belum kepingin. Ini toples sop buahnya, biar mbok saja yang memindahkan dan memasukannya ke kulkas." Ucap mbok Sarmi berinisiatif mengambil alih pekerjaan Tika.
"Terima kasih, mbok. Saya bantu, ya!". Jawab Tika sopan.
Mbok Sarmi mengangguk dan tangannya pun bergerak membantu Tika memindahkan sop buah ke dalam tiga toples persegi empat berukuran sedang.
"Wah, sudah jadi ya bun sop buahnya. Sepertinya mantap puol". Ucap Sifa yang tiba-tiba sudah ada di dapur sambil menjilat bibirnya.
"Iya dong, siapa dulu yang buat, mbok Sarmi." Kelakar mbok Sarmi tersenyum bangga.
Semua yang mendengarnya tertawa renyah. Mbok Sarmi memasukan sop buah dalam toples itu ke dalam kulkas satu persatu dan menatanya dengan rapi.
"Sifa dan nenek mau minum sop buahnya sekarang?". Tanya Tika pada putri dan ibunya yang baru muncul dari balik pintu.
"Nenek nanti saja, nanti siang saat cuacanya sedang panas akan lebih segar rasanya menikmati sip buah yang sudah disimpan di kulkas. Lagian nenek masih kenyal minum jus alpukat buatan mbok Sarmi tadi."Jawab bu Murni menolak.
"Sifa juga, bun. Makin jos kalau menikmati sop buah ketika cuacanya panas". Tolak Sifa juga.
Anak perempuan yang periang itu pun berlalu setelah pamit hendak bermain bongkar pasang di ruang keluarga.
Mbok Sarmi membantu Tika membereskan dapur dan juga peralatan yang baru saja mereka gunakan. Bu Murni mendekati Tika, mengelus pelan lengan putri satu-satunya itu dengan sorot mata dan senyum penuh makna.
"Semoga Allah senantiasa memberikan kebahagian dan menanamkan begitu banyak rasa cinta di hati orang-orang yang menyertai perjalanan hidupmu serta segera hadir adik-adik Sifa sebagai teman main Sifa dan pelipur hati ibu". Ucap bu Murni, tangannya beralih ke perut Tika.
"Aamiin". Sahut mbok Sarmi riang sambil menangkup kedua tangan ke mukanya yang sudah mulai keriput.
__ADS_1
Tika terpaku, darahnya berdesir. Dadanya terasa begitu sakit seperti dihujam ribuan anak panah yang sangat tajam. Begitu besar harapan ibunya yang ia ucapkan lewat doa. Bukan ia tidak suka akan doa tulus ibunya tapi rasanya begitu sakit saat menyadari doa ibunya sulit untuk ia wujudkan terutama doa yang terucap pada bagian akhir kalimat. Sungguh sangat menohok, tepat menghujam ulu hati hingga dadanya terasa sesak.