
Ting tong....Ting tong....Ting tong
Kembali terdengar bunyi bel pintu rumah berbunyi pertanda ada tamu yang sedang bertandang.
"Siapa yang bertamu sepagi ini. Tumben sekali". Tanya Bu Murni dengan dahi berkerut dan mata menyipit.
"Iya tumben sekali jam delapan sudah ada yang datang atau kalian berdua sedang janji dengan seseorang mungkin?". Tanya Farhan pada kedua kakaknya dan kompak dijawab dengan gelengan kepala.
l "Biar aku yang membukakan pintunya, kalian lanjutkan saja makannya". Lanjut Farhan sigap ketika Tika hendak beranjak dari duduknya.
Tanpa menunggu lebih lama Farhan pun membawa langkahnya menuju pintu untuk menyambut tamu yang datang agar tidak menunggu lebih
Ketika daun intu sudah terbuka lebar, berdiri di seorang pria tampan dengan tubuh tegap berisi yang sangat dikenali Farhan. Senyumnya mengembang sempurna memamerkan deretan gigi yang putih bersih dan tertata rapi. Ia menenteng plastik kresek hitam yang cukup besar.
"Wah mimpi apa semalam tuan asisten Arka Jaya berkunjung sepagi ini". Guyon Farhan seraya tertawa.
"Assalamualaikum, pak manajer. Sudah jadi manajer sampe lupa ngucap salam dan nyuruh masuk tamu yang tak undang ini". Balas Irfan dengan guyonan juga.
Farhan membalas salam Irfan sambil tertawa renyah menepuk jidatnya. Kemudian mengajaknya masuk.
"Kamu bisa aja bang Irfan". Sanggah Farhan, menepuk bahu Irfan pelan.
Keduanya melangkah beriringan dan duduk dengan nyaman di atas sofa yang terdapat di ruang tamu. Farhan mengajak masuk ke Irfan ruang makan dan menawarinya untuk ikut sarapan terlebih dahulu, akan tetapi dengan sopan Irfan menolaknya.
"Non Sifatnya mana, ya. Ini pesanannya sudah beres". Ucap Irfan menunjuk plastik kresek yang dibawanya tadi.
Farhan mengernyitkan dahinya, ia sangat penasaran isi plastik yang ditunjuk oleh Irfan.
"Emang apaan sih isinya, boleh aku lihat nggk, nih" Tanya Farhan ingin tahu.
"Harusnya sih nggak apa-apa. Kalau kamu merasa ragu, panggil saja non Sifa, itu lebih aman." Jawab Irfan memberi solusi.
__ADS_1
"Gadis imut itu masih sarapan, nggak apa-apa lah aku mau lihat apa isi plastik ini". Farhan menolak halus saran Irfan
Farhan segera mengulurkan tangannya untuk membuka plastik kresek hitam yang berada di atas sofa antara dirinya dan Irfan. Sebuah album foto mewah dengan pita tiga warna yang dibentuk rapi, merah muda, biru dan hijau merupakan warna kesukaan Arka, Tika dan Sifa. Terpampang dengan jelas foto mesra keluarga kecil kakaknya itu, senyum mengembang penuh makna saat ia membaca sebaris kata dengan tinta emas di bagian bawah foto menggunakan huruf kapital yang bertuliskan "ARKA'S HAPPY FAMILY".
Hati adik ipar Arka itu menghangat, ia merasa sangat bersyukur perasaan was-was yang menghantui dirinya dan ibunya sampai sejauh ini tidak terbukti.
" Om Irfan, Assalamualaikum". Sapa Sifa, menyalami tangan yang diulurkan Irfan.
"Wih, keponaan om semakin cantik saja, nih". Jawab Irfan sambil menoel hidung gadis kecil berkerudung marun senada dengan gamis yang dikenakannya.
"He he he .... Terima kasih, om". Jawab Sifa riang gembira.
Bola mata gadis kecil itu menyipit saat netranya terpaut dengan Album foto ukuran besar berwarna putih yang sedang dilihat oleh Farhan. Langkah kakinya membuat jarak antara dirinya dan om kesayangannya itu nyaris tidak ada lagi.
"Wah, itu album foto milik Sifa ya, om. Terima kasih om Farhan, om memang jos". Komentar Sifa seraya menoleh pada Irfan dan mengacungkan dua ibu jarinya sekaligus.
Irfan hanya tersenyum tipis dan mengacungkan jempol Kananya di depan wajahnya untuk merespon ucapan sukaria anak gadis bosnya itu.
Mata Sifa beralih kembali fokus pada album foto putih yang ada di tangan omnya, jari jemari om tampannya itu sedang sibuk membolak-balik lembaran demi lembaran yang menampilkan foto Arka, Tika dan dirinya sendiri dalam berbagai pose yang intim dan mesra.
Farhan lagi-lagi hanya bisa tersenyum miris melihat rona riang yang membingkai wajah imut nan menggemaskan bocah kecil di hadapannya. Jantungnya berdenyut nyeri mengingat apa yang sekarang sedang terjadi pada kedua orang tua sang bocah. Rasa tak tega menyeruak dari sudut hatinya yang paling dalam.
"Tadinya Sifa ingin foto-foto ini dicetak besar kemudian di pajak di setiap sudut rumah kita ini om, tapi kata ayah malaikat rahmat nggk mau masuk rumah yang ada gambar atau foto bernyawa jadi Sifa punya ide foto itu dikemas menjadi album. Keren kan ide Sifa?". Celoteh Sifa membanggakan dirinya.
Farhan merengkuh keponakannya, membelai rambutnya dan mencium puncak kepalanya dengan penuh kasih sayang.
"Ya iyalah kan keponakannya om Farhan gitu loh". Ucap pongah sang paman yang disambu tawa lebar Irfan dan tawa manja Sifa.
"Semoga keluarga kalian selalu dalam ketentraman". Doa Farhan tulus, memeluk tubuh kecil keponakannya dengan sejuta rasa cinta.
Sifa dan Irfanan mengaminkan doa Farhan, tapi dada Irfan terasa bergemuruh.
__ADS_1
Ketika mereka asyik bercengkrama, Arka dan Tika muncul dari pintu ruang keluarga dan ikut bergabung diruang tamu.
"Wah, kalian lagi ngomongin apa? kayaknya seru banget, nih?". Tanya Tika dengan senyum khasnya.
"Iya, kayaknya seru banget?". Timpal Arka ikut kepo.
Sifa segera menyambut kedua orang tuanya dan menyeret tangan mereka untuk duduk berdekatan dengan Farhan. Ayah ibunya pun dengan senang hati mengikuti kehendak putrinya itu.
"Ayah ibu sini, deh. Lihat album fotonya sudah jadi. Benar-benar sesuai dengan keinginan Sifa. Terimakasih,ya?". Ucap Sifa dengan antusias.
Ia mendekatkan wajahnya pada ayah dan ibunya hingga bibir mungilnya mendarat lembut di pipi dua orang yang sangat begitu dicintainya.
"Om Irfan hebat, baru juga semalam Sifa minta sama ayah, cap cus paginya sudah langsung jadi". Celoteh Sifa dengan wajah polosnya.
"Yang hebat itu ayah, nak. Baru juga minta sama om Irfan, sudah jadi aja". Ucap Arka membanggakan diri, disambut riuh gelak tawa.
Tika dan Arka tercenung melihat sebuah album yang diulurkan kepada mereka. Ada kilatan sendu di dalam sorot mata mereka. Ditepisnya rasa tidak nyaman yang mulai menggerogoti jiwa keduanya. Sedikit terobati dengan senyum kebahagiaan Sifa yang tidak pernah pamit dari wajahnya. Ketiganya larut dalam kekaguman keelokan album foto yang sedang mereka perhatikan.
Irfan dan Farhan asyik memperhatikan interaksi keluarga kecil itu dengan sudut pandang dan pola pikir masing-masing.
Irfan bisa melihat bahwa keluarga kecil itu begitu romantis, tidak layak rasanya bila disebut berada diambang kehancuran. Ia berharap curhatan Arka kala itu hanyalah emosi sesaat yang kini telah kembali seperti semula.
Pikiran Farhan berkelana, ia membayangkan bila ayahnya masih hidup pasti beliau akan sangat berbahagia, putri satu-satunya yang begitu ia sayangi sangat berbahagia dengan keluarga kecilnya. Suami yang tampan, sukses, baik hati, perhatian, penyayang dan yang sangat penting begitu mencintainya kini menjadi miliknya. Pun dengan gadis mungil yang begitu cantik, sopan dan cerdas juga menjadi harta yang mesti disyukuri kakaknya itu.
Mbok Sarmi dan Bu Murni mendatangi mereka dengan nampan berisi cemilan dan es buah segar. Mbok Sarmi meletakan semangkuk es buah pada masing-masing orang. Kemudian berlalu masuk ke dalam untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Ayo silahkan diminum, nak Irfan! Ini es buah buatan kami sendiri lo. Dari kebun sendiri lagi". Ucap Bu Murni ramah sambil mengangsurkan semangkuk es buah yang nampak begitu menggiurkan pada Irfan.
"Terimakasih, bu". Jawab Irfan menerima pemberian bu Murni dengan senyum merekah sempurna.
Mata bu Murni berkilat melihat sebuah album cantik di tangan Arka, Tika dan Sifa. Ia bergeser mendekat kearah ketiganya.
__ADS_1
"Wah keren sekali, ya Allah terimakasih atas kebahagiaan anak cucuku semoga hidup rumah tangga mereka langgeng hingga maut memisahkan. Semua orang mengaminkan dengan keras kecuali Arka dan Tika. Tangan Tika tiba-tiba menggenggam erat tangan Arka. Arka yang semula tertunduk sedikit terkejut dan segera mengangkat wajahnya menatap wajah istrinya yang saat itu tengah menatapnya juga. Dengan masih saling menatap terbit senyum dari kedua bibir pasangan yang masih sah menjadi suami istri tersebut.
"Aamiin". Lirih keduanya bersamaan.