PETAKA PERCERAIAN

PETAKA PERCERAIAN
Akhir Cinta Arka


__ADS_3

Jleder.... Jleder..... Jleder


Tanpa bisa dibendung lagi hujan air mata mengalir deras dari kelopak mata Tika, mulutnya terkunci, tubuhnya membeku, jantungnya seolah berhenti berdegup, kepalanya berdenyut dan rasa nyeri di dada terasa begitu menyakitkan. Tangan yang masih digenggam erat Arka bergetar hebat, keringat dingin bercucuran di sekujur tubuh Tika yang mendadak sedingin salju dan memucat.


Arka yang masih belum menyadari keadaan Tika, berulang kali meminta maaf atas ketidakberdayaannya melanjutkan kisah cintanya bersama Tika. Arka terus meracau mengiba ampunan dari Tika atas cinta yang sudah tidak lagi bersarang di hatinya. Arka tersentak, ia baru menyadari bahwa istrinya tidak baik-baik saja ketika tubuh Tika bergerak cepat kebelakang dan terdengar suara berdebuk.


Bugh...


Tubuh Tika membentur lantai, Tika tidak sadarkan diri, beruntung tangannya masih dipegang erat Arka sehingga benturan tidak terlalu keras.


"Bunda...bunda...bunda...maafkan ayah bunda". Arka berteriak panik sambil menepuk-nepuk wajah dan bahu istrinya tapi Tika tetap tak bergeming.


Arka dengan khawatir yang sangat kentara keluar kamarnya, dengan tergesa menuruni tangga dan menggedor pintu kamar farhan sembari memanggil nama adik iparnya itu dengan gugup juga tidak sabaran.


Arka membuka pintu dengan terburu-buru wajahnya tegang dengan tindakan Arka yang tidak biasa.


"Farhan, tolong siapkan mobil. Mbak Tika pingsan". Tutur Arka ketika Farhan muncul dari balik pintu. Ia berbalik ke kamarnya dengan langkah cepat, tanpa menunggu jawaban Farhan. Farhan melongo, sesaat kemudian baru ia menyadari situasi.


"Ada apa dengan MBK Tika, mas?".Tanya Farhan setengah berteriak dan .


"Siapkan saja mobilnya, Han. Nanti ku ceritakan".Jawab Arka juga dengan berteriak tanpa menghentikan langkahnya menaiki tangga menuju kamarnya.


"Ada apa, Han mengapa mas mu kelihatan begitu belingsatan". Tanya bu Murni yang sudah berada di samping Farhan tanpa ia sadari.


"Entahlah, bu. Mas Arka hanya bilang untuk menyiapkan mobil".Jawab Farhan tergesa sambil menyambar kunci mobilnyadan mengenakan jaket kesayangannya. Kemudian berlari menuju garasi.

__ADS_1


Bu Murni hendak berlari menaiki tangga ke kamar Arka, nun diurungkan sebab ia melihat Arka sedang membopong tubuh Tika yang masih berbalut mukena dengan sangat panik.


"Ibu tolong bawain baju ganti Tika ini". Pinta Arka sambil mengangsurkan tote bag yang ada di tangan kanannya. Kemudian dengan setengah berlari melesat menuju pintu.


Setelah menerima tote bag dari Arka, Bu Murni yang tak kalah panik menemui mbok Sarmi untuk memberi tahu bahwa Tika masuk rumah sakit dan berpesan agar menjaga Sifa dengan baik. Sesudah itu segera ngacir menyusul Arka.


Mobil melesat dengan kecepatan tinggi. Kondisi pagi buta, jalanan masih lengang mempermudah pergerakan mobil mereka sehingga meluncur tanpa hambatan.


Mobil memasuki parkiran rumah sakit yang nampak sepi, memudahkan Farhan memarkir mobilnya dengan cepat. Setelah mobil terpakir dengan baik, Arka segera turun membopong tubuh istrinya yang sejak tadi tidak lepas dari pelukannya. Langkahnya dengan gesit menerobos pintu masuk rumah sakit sambil berteriak dengan nafas yang memburu meminta agar istrinya segera mendapat pertolongan. Farhan dan Bu Murni pun tidak kalah tergopoh menguntit di belakangnya. Para perawat yang bertugas segera membantu Arka meletakkan tubuh Tika ke atas brangkar dan membawanya ke ruang IGD untuk segera mendapatkan penanganan.


Rasa khawatir, panik, resah gelisah dan takut menyelimuti hati Arka. Terbit penyesalan menggerogoti jiwanya, mengapa ia tak korbankan saja perasaannya, menyembunyikan kebenaran tentang hatinya. Tidak sanggup rasanya melihat ibu dari anak gadisnya itu terjerembab dalam keterpurukan karena terlalu mencintainya. Tapi semuanya sudah terlanjur tak bisa ia kubur lagi, Tika sudah tahu bahwa ia bukanlah seorang istri yang dicintai suaminya lagi, cinta suaminya sudah lenyap tak tersisa. Arka duduk di kursi yang berada diruang tunggu dengan gelisah, air matanya masih menganak sungai, ia merasa menjadi lelaki yang paling bodoh dan tak berguna. Sesekali dipukul ya dengan pelan dahinya dengan tangan yang mengepal dan mata tertutup. Menikmati rasa sakit yang meremas jantung dan hatinya.


Bu Murni dan Farhan yang juga tidak bisa tenang saling berpandangan melihat sikap Arka yang tidak biasa. Farhan hendak mendekati Arka tapi Bu Murni menepuk pundaknya sembari menggeleng dengan berurai air mata. Sorot kesedihan yang mendalam tersirat dari manik mata wanita itu. Farhan mengangguk paham dengan maksud ibunya.


"Mas, ....". Sapa Farhan, ditepuknya perlahan punggung kekar kakak iparnya yang masih larut dengan kesedihan itu dan duduk di sampingnya. Arka merengkuh tubuh adik iparnya dengan erat. Air matanya berhamburan membasahi jaket kesayangan Farhan. Farhan membalas pelukan suami kakak sulungnya dan sesekali mengusap punggung Arka berharap dapat menenangkan hati yang sedang dilanda gundah gulana memikirkan istrinya.


...****************...


Tika sedang disuapi bubur yang disediakan rumah sakit, ketika Arka masuk ke ruang rawat istrinya itu. Tika sudah kelihatan lebih baik. Wajahnya tidak lagi pucat. Senyumnya terukir indah menyambut kedatangan Arka seolah kejadian yang berujung kepanikan tadi pagi tidak pernah terjadi.


"Ayah sudah makan". Tanya Tika sumringah setelah menjawab salam suaminya. Arka mengangguk.


Bu Murni menghentikan suapannya dan menoleh. Senyumnya mengembang, tangannya terulur menyalami Arka yang kemudian mencium punggung tangannya takzim.


Arka memeluk dan mencium kening istrinya dengan senyum bahagia. Ia sangat senang istrinya baik-baik saja. Ia akan melakukan apapun agar wanita dihadapannya itu tetap berbahagia walupun harus mengorbankan perasaannya, terperangkap dalam rumah tangga dengan wanita yang tak lagi dicintainya. Meski cintanya sudah luntur, sakit rasanya melihat ibu dari anaknya menderita seperti tadi pagi.

__ADS_1


"Tika nanyain kamu terus dari tadi". Terang bu Murni membuat Tika tersipu malu.


"Aku sempatkan ke kantor dulu tadi, bu. Ada yang harus ditandatangani".Jawab Arka. Ia kemudian meminta mangkuk yang masih berisi sedikit bubur dan menggantikan diri menyuapi istrinya.


Bu Murni pamit untuk shalat zhuhur dan makan siang di kantin.


"Ayah sudah shalat zhuhur". Tanya Tika setelah menelan suapan terakhirnya.


"Sudah, ayah tadi sudah mampir ke masjid dulu sebelum kesini, bunda sudah shalat?".Tanya Arka balik. Tika mengangguk sambil tersenyum simpul.


Arka meletakkan mangkok yang sudah tandas di atas meja dan duduk di sisi ranjang depan istrinya. Tangannya meraih kedua tangan istrinya dan menciumnya cukup lama.


"Maafkan ayah, bunda. Anggap saja yang ayah katakan tadi pagi tidak pernah terucap. Ayah akan tetap mendampingi bunda s bagai suami yang sangat bunda cintai". Ucap Arka lirih dengan senyum tipis. Ada kesenduan di manik matanya.


Tika tertawa lebar, ia menggeleng dengan tegas.


"Apa yang ayah pikirkan, bukankah bunda sudah bilang pada ayah kalau bunda pastivakan memaafkan ayah. Banyak nda akan berusaha membantu ayah untuk keluar dari keterpurukan ayah, kejujuran ayah menunjukkan bahwa ayah sangat perduli dan menghormati bunda. Hari ini bunda merelakan dan mengikhlaskan cinta ayah berada pada fase akhir. Kisah cinta Arka pada Tika sudah selesai". Jelas Tika dengan senyum tersemat di bibir. Ia menyembunyikan luka hatinya sedemikian apik, tidak ingin Arka melihat betapa tercabik ya hati dan jiwanya.


Arka tidak sanggup berkata-kata, ia tidak bisa menyembunyikan rasa harunya, direngkuhnya tubuh Tika dengan perasaan campur aduk. Dinikmatinya aroma tubuh wanita yang sangat mencintai nya itu. Ia sungguh tidak menyangka wanita yang pernah bertahta di hatinya itu legowo dengan punahnya cinta di hatinya untuknya.


"Terimakasih, bunda. Ayah akan mengembalikan bunda dengan hormat pada wali bunda sebagai bentuk penghargaan dan rasa kasih ayah pada pengabdian bunda selama ini". Ucap Arka dengan masih mendekap Tika.


"Tapi bunda meminta ayah berkenan mengabulkan 3 permintaan bunda". Tegas Tika sambil keluar dari pelukan hangat Arka.


Arka menatap lekat Tika dengan kening berkerut, ia menebak-nebak apa yang diinginkan wanita di depannya itu.

__ADS_1


"Apa itu...? Tanya Arka sambil memegang kedua bahu Tika dengan erat dan tatapan penasaran.


"Aku...."Tika tidak meneruskan ucapannya.


__ADS_2