
Rengkuhan ayah Sifa semakin lama terasa semakin erat, dikecupnya berulangkali pucuk kepalaku yang masih terbungkus jilbab.
Hujan semakin deras, menyamarkan Isak tangis kami yang belum reda juga. Kebersamaan kami dulu yang begitu membahagiakan tak disangka harus berakhir dengan takdir yang memiluka "perceraian". Hal yang tak pernah terbayang sekilaspun bakal aku alami.
Cukup lama aku dan ayah Sifa saling berpelukan, Isak tangis kamipun tak terdengar lagi, begitupun juga hujan sudah reda hingga tidak terasa waktu sudah larut malam. Aku mengurai pelukan ayah Sifa pada tubuhku walau sebenarnya aku sangat nyaman dengan posisi ini.
Mata kami saling bertatapan dan saling melempar senyum namun kemudian aku membuang pandangan sambil mengulum senyum mirip anak muda yang sedang berpacaran. Ku lirik dengan ekor mataku, ayah Sifa tertawa lebar tanpa siaran ikut memandang langit yang gelap gulita. Tangannya masih bertengger di pinggangku dengan sesekali mengusap pundakku.
"Bun....". Ucap ayah Sifa memecah kesunyian.
Aku menolehnya. Ia masih memandang lurus ke depan. Ku tunggu lanjutan kalimatnya cukup lama, senyap....bibirnya masih terkatup tak bergerak sedikitpun. Aku menghela nafas dan kembali menatap pekatnya malam.
"Bun, tidak bisakah bunda memberi satu kesempatan lagi untuk ayah. Ayah akan berusaha mencintai bunda lagi. Ayah minta bunda memberi kesempatan kedua buat ayah". Rengek ayah Sifa menggenggam erat tanganku.
Aku mematung dengan pandangan lurus menembus pekatnya malam. Sekilas ucapan ayah Sifa adalah tawaran yang berisi solusi tapi bagiku itu terdengar sebagai sebuah ledekan dan kepalsuan yang bila ku terima berarti aku harus siap terluka lebih dalam lagi.
"Apakah ayah bisa menjamin kalau ayah bisa mencintai bunda lagi?. Apa ayah bisa menjamin ayah akan bahagia bila tetap bertahan di sisi bunda?. Apa ayah bisa jamin tidak akan tergoda bila nanti ayah bertemu dengan wanita yang bisa menggetarlan hati ayah dan menumbuhkan bibit-bibit cinta?. Apa ayah siap dengan rasa was-was dan rasa curiga bunda yang berlebihan dari bunda karena bunda sangat menyadari menjaga hati suami yang tak lagi punya cinta bukanlah perkara sepele?. Apa ayah bisa jamin ayah tidak akan mendua?. Kalau ayah bisa tolong beri bunda jaminan yang bisa meyakinkan bunda kalau kesempatan kedua yang bunda berikan menguntungkan keluarga kecil kita?". Tanya beruntunku tanpa melihat bagaimana ekspresi wajah laki-laki yang masih berstatus suamiku itu.
Hening, detik demi detik berlalu hingga berganti menit tidak ada sahutan, hanya suara binatang malam yang tiada bosan-bosannya sahut menyahut di malam yang gelap gulita ini.
__ADS_1
"Ayah akan berusaha, bun. Ayah yakin dengan dukungan bunda, cinta ayah akan kembali bersemi dan tumbuh subur untuk bunda." Jawab ayah Sifa berusaha meyakinkan.
Aku tersenyum hambar tanpa menoleh laki-laki di sisiku itu. Ia terlampau yakin ia mampu menghadirkan cinta di hatinya untukku.
"Ayah saja tidak tida yakin dengan keberhasilan usaha ayah bagaimana bunda bisa meyakininya". Ucapku dengan nada ragu sambil menoleh sekilas.
"Bagaimana bisa bunda mengatakan ayah tidak yakin dengan usaha yang akan ayah lakukan. Ayah yakin, bun. Apalagi dengan adanya dukungan bunda". Terang ayah Sifa seolah tidak terima.
"Kalau ayah yakin, ayah tidak butuh waktu lama sampai bermenit-menit untuk menyatakan keyakinan ayah. Itu sudah cukup menjadi fakta yang jelas bahwa ayah masih ragu dan hati ayah belum mantap terhadap apa yang ingin ayah lakukan". Jawabku menohok.
Mulut laki-laki itu langsung bungkam, entah apa yang ada dalam pikirannya, ku lirik dari ekor mata nampak ia tertunduk malu dan menghela nafas berat.
Ayah Sifa semakin mengeratkan pelukan dan genggaman tangannya, hatiku menghangat dan perih secara bersamaan. Sungguh bukan aku tidak cinta lagi, cintaku masih tetap sama bahkan semakin berkobar-kobar merambah ke setiap sudut hati dan jiwaku tanpa menyisakan ruang kosong sedikitpun. Tapi rasa takut membuatnya terkekang dari rasa cintaku yang terlalu besar dan rasa was-was bila ia bermain di belakangku membuat aku semakin terjerembab dalam bayang-bayang ketakutan akan sebuah pengkhianatan.
"Maafkan ayah, bun". Kata ajaib pereda segala ketegangan yang tercipta itu sekali lagi ku dengar.
Direngkuhnya tubuhku lagi dan diciuminya berulang kali pucuk kepalaku. Hingga ku dongakan kepalaku, tanganku terulur membingkai wajahnya, mengusap lembut pipinya yang sudah basah oleh air mata, mata yang terlihat begitu terluka. Apakah ia terluka melepasku menjadi seorang janda?. Aku mencoba mengurai senyum walau tidak mudah, netra kami saling mengunci dan untuk kesekian kalinya ia ******* bibirku yang pernah menjadi candunya. Kami terengah-engah dan tanpa aba-aba dibopongnya tubuhku.
"Sudah malam, kita tidur,ya". Bidiknya pelan.
__ADS_1
Tubuhku bagaikan kapas yang ringan berada dalam gendongannya, menapak langkah menuju peraduan kami, kasur empuk yang menjadi saksi kehangatan dalam malam-malam yang terasa dingin.
"Bun, bunda masih menggunakan kontrasepsi, kan?". Tanya ayah Sifa sedikit aneh menurutku saat ia membaringkanku perlahan di atas ranjang kami.
"Ya, seharusnya awal bulan depan bunda suntik lagi". Sahutku mengerutkan dahi bingung.
"Bolehkah, ayah meminta hak ayah untuk terakhir kalinya malam ini". Ucapnya dengan nada serak.
Permintaan ayah Sifa membuatku bungkam dengan mulut melongo saking terkejutnya. Sebagai seorang wanita yang masih berstatus istri tentu aku tidak bisa menolak permintaannya. Walau bagaimanapun aku tidak mau Allah murka karena tidak patuh pada suami. Aku ingin berpisah baik-baik dan meninggalkan kenangan baik juga atas kebersamaan kami. Biarlah ku penuhi kewajibanku ini untuk terakhir kalinya, sebagai baktimu pada suami dan rasa cintaku yang menancapkan akarnya terlampau dalam untuknya.
Aku menganggu dengan senyum tipis yang ku sematkan. Ia pun nampak begitu bahagia, sejenak menatapku dengan sorot mata berkilat penuh gairah, kemudian mencumbui ku dengan ucapan terimakasih berkali-kali.
"Pintu balkon belum ditutup, yah". Ucapku memberitahunya.
"Nanti saja ayah tutup". Jawab ayah Sifa dengan nada suara semakin serak terbakar gairah.
Malam ini terasa begitu indah aku menikmati setiap inchi sentuhannya, sangat nikmat karena ia masih halal untukku. Doa tidak lupa ia sematkan, dan malam itu menjadi malam yang penuh ******* seiring hujan yang kembali turun mewarnai pergulatan dua manusia hingga peluh berleleran dibalik selimut yang terus bergerak sesuai irama syahwat yang sedang kami dendangkan.
POV. Tika end
__ADS_1
JANGAN LUPA YA MAMPIR KE NOVEL KEDUA AUTHOR BERJUDUL SATU BAGI DUA...POKOKNYA SERU DEH....