
Arka dan Tika berjalan bergandengan meninggalkan makam. Tidak ada yang bersuara, keduanya sibuk bergumul dengan pikirannya masing-masing. Beberapa orang terlihat memperhatikan mereka. Mungkin mereka melihat kejadian dramatis di tengah makam beberapa saat yang lalu. Atau mereka sedang mengamati muka-muka satu dengan mata bengkak khas orang yang habis menangis tercetak jelas di muka keduanya.
Keduanya tidak perduli dengan sorot mata heran dan ingin tahu yang terpancar dari tatapan orang-orang di sekeling mereka. Dengan santai dan mulut terkunci, mereka berdua berlalu tanpa memperdulikan suara-suara sumbang yang menerka-nerka apa yang telah keduanya alami. Sesekali Tika melirik sang suami dan berharap lelaki yang masih merajai hatinya itu baik-baik saja.
Arka menggenggam erat tangan wanita berjilbab lebar yang masih berstatus istri sahnya itu dengan perasaan berkecamuk. Di satu sisi, ia ingin mementingkan perasaannya dan merelakan rumah tangganya berakhir. Namun di sisi lain, ia merasa sangat tersiksa bila harus membiarkan ibu dari anak semata wayangnya terluka hatinya. Besarnya cinta tulus Tika padanya benar-benar menjadi beban tersendiri baginya. Hal inilah yang membuatnya berat untuk melanjutkan keinginannya memilih perceraian. Saat hatinya goyah dan berusaha memperbaiki lagi keadaan walau harus rela menghabiskan sisa usianya dengan wanita yang tak lagi dicintainya, istrinya itu kekeh pada pendiriannya tidak bersedia melanjutkan rajutan kisah cinta keluarga kecil mereka. Arka menggenggam tangan istrinya semakin erat berharap bisa mendinginkan otaknya mendidih dan bergejolak.
Tika pun sebenarnya juga tidak dalam kondisi baik-baik saja. Kejujuran Arka yang kini tidak mencintainya lagi merupakan pukulan telak yang menjatuhkan dan menghancurkan mentalnya yang tentu saja tidak mudah baginya untuk menata lagi mental dan kejiwaannya seperti semula. ia berusaha menyembunyikan keterpurukan mentalnya dan bersikap seolah apa yang dialaminya adalah persoalan yang perlu dipermasalahkan. Oleh karena itu, ia dengan tegas menolak keputusan Arka untuk mengurungkan niatnya menceraikannya. Yang ada dipikirannya, Hidup berumah tangga dengan orang yang sangat mencintainya saja ia merasa was-was adanya orang ketiga, apalagi melanjutkan ikatan rumah tangga dengan orang yang jelas-jelas mengakui bahwa cintanya sudah menguap. Itu sama saja harus siap dikhianati atau paling tidak berbagi cinta dan suami, Tika bergidik ngeri membayangkan tragisnya nasibnya bila ia tetap mau menerima ajakan sang suaminya untuk melanjutkan ikatan mahligai rumah tangga yang sudah tidak kokoh lagi itu.
Tanpa terasa pasangan yang kondisi mentalnya sedang kalut ini sudah tiba di parkiran tempat mereka meninggalkan mobil mereka tadi.
"Bunda ikut mobil ayah saja, nanti mobil bunda biar di ambil Farhan, asisten ayah". Ajak Arka dengan senyum penuh harap.
Tika mengangguk patuh, senyumnya terukir sangat manis di penglihatan Arka.
"Mobil bunda dimana? Ayah tidak melihatnya mobil bunda?".Tanya Arka sambil memutar kepalanya ke sana kemari mencari keberadaan mobil kesayangan istrinya.
"Itu di ujung sana, di bawah bunga Kamboja". Jawab Tika, sontak menunjuk arah dimana ia memarkir kendaraan roda empatnya tadi.
__ADS_1
"Mana kunci mobil bunda?. Biar ayah titipkan ke juru parkir di sini, agar memudahkan Farhan nanti ambil mobil bunda". Pinta Arka seraya melepaskan genggaman tangannya yang masih betah bertaut dengan telapak tangan istrinya. Kemudian menadahkan tangan meminta kunci mobil sang istri.
Tika segera merogoh tas brandednya mengambil kunci mobil yang tersimpan di sana
" Tapi, apa nanti tidak merepotkan ayah kalau harus mengantar bunda pulang lebih dahulu. Bukankah ayah mau kembali ke kantor lagi". Tanya Tika beruntun, ia menatap Arka dengan tatapan penuh keraguan.
"Ayah sudah menyelesaikan pekerjaan ayah tadi di kantor sebelum memutuskan untuk ziarah ke makam ayah. Dan sore ini ayah mau menghabiskan waktu dengan bunda saja, ber-du-a.". Arka meyakinkan Tika dengan menekankan kata berdua diakhir kalimatnya dan senyum menggoda serta mengerlingkan matanya genit.
Dahi Tika berkerut, ada hal yang janggal dari jawaban suaminya. Mulutnya sudah ingin bertanya lagi tapi Arka keburu berlalu setelah menyambar kunci mobil yang masih di pegangnya.
Dengan langkah cepat Arka menghampiri sang juru parkir yang baru saja memarkir sebuah mobil mewah. Arka menitipkan kunci mobil Tika dan tidak lupa memberi tips kepada juru parkir. Sang juru parkir menerima dengan wajah berseri-seri, ia tampak mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti instruksi yang disampaikan Arka.
Mobil Arka merangkak pelan meninggalkan area pemakaman setelah memastikan sabuk pengaman terpasang dengan benar di tubuh keduanya.
"Hm...Apa ayah tadi ke makam ayah?". Tanya Tika sembari menatap Suaminya. Arka menoleh sekilas disertai senyum tipis dan menjawab pertanyaan Tika dengan mengangguk pelan.
"Mengapa? ayah juga kangen Beliau. Dulu ayah datang pada beliau untuk meminta izin mempersunting putrinya dan berjanji memperlakukan laksana ratu serta mencintainya sepenuh jiwa". Arka balik bertanya dan seolah tahu apa yang dipikirkan Tika. Lelaki itu menjawab pertanyaannya sendiri kemudian menghela nafas pelan.
__ADS_1
"Tapi aku gagal mempertahankan rasa cinta ayah pada bunda, hingga terbesit dihari ayah untuk mengunjungi beliau mengembalikan lagi putri yang beliau sayangi seperti yang beliau wasiatkan pada ayah". Lanjut Arka dengan nafas berat, tanpa mengalihkan pandangannya dan fokus menyetir.
Tika diam terpekur, pandangannya lurus, di hirupnya oksigen sebanyak-banyaknya untuk mengisi rongga dadanya yang tiba-tiba terasa sesak.
"Setelah ayah pikir-pikir dengan matang, ayah akan tetap bertahan di sisi bunda, ayah rasa itu lebih baik. Kita akan membesarkan Sifa bersama-bersama dalam keluarga yang utuh". Tegas Arka lagi dengan mantap.
"Maaf, bunda tidak bisa ayah. Bunda menolak untuk mempertahankan biduk rumah tangga kita. Perceraian ini adalah hal yang tidak bisa kita hindar lagi". Jawab Tika tidak kalah tegas.
Arka menghela nafas lagi, ia tahu akan sulit baginya untuk membujuk Tika agar tidak melanjutkan ke jenjang perceraian lagi. Ia tahu Tika adalah orang yang teguhpada pendiriannya dan tidak mudah untuk digoyahkan.
"Bunda, ayah tahu bunda sangat mencintai ayah. Buktinya bunda sampai shock dan masuk rumah sakit. Mengapa begitu sulit bagi bunda memberi kesempatan kedua kepada ayah untuk berusaha mencintai bunda lagi". Tanya Arka heran. Ia tak habis pikir dengan sikap Tika yang tidak mau mempertahankan mahligai cinta mereka lagi.
"Tolong jangan buat bunda berada pada posisi yang tidak menyenangkan". Ucap Tika sambil menangkupkan kedua tangannya, memohon.
Keningnya Arka mengernyit. Dihentikannya mobil di bahu jalan.
"Apa maksudmu, bunda." Telisik Arka memindai wajah istrinya. Ia sungguh tidak paham dengan makna dari kata terakhir istrinya itu.
__ADS_1
Tika tidak menjawab pertanyaan Arka, ia memilih memalingkan wajah dan membuang pandangannya keluar kaca jendela.