
Tika menghela nafas pelan, dadanya sesak seperti dihimpit batu batu besar saja. Ia begitu jengah dengan sikap plin plan laki-laki yang masih bergelar suaminya itu.
Sementara Arka, menatapnya penuh tanda tanya yang berkecamuk di tempurung kepalanya.
"Bunda sangat ingin memberikan kesempatan kedua pada ayah. Tapi banyak sekali pertimbangan yang bergelut di otak bunda. Bunda memutuskan menyetujui permintaan ayah untuk mengakhiri perjalanan bahtera cinta kita. Dan bunda tidak mau kembali merajut mahligai rumah tangga dengan ayah yang jelas-jelas mengakui bahwa ayah sudah tidak mencintai bunda lagi, bukan karena bunda sudah tidak punya rasa atau bunda tidak menginginkan ayah lagi. Salah besar kalau ayah berpikir begitu. Bunda menyetujui kita berpisah karena bunda sangat mencintai ayah. Dan bunda menolak mempertahankan keutuhan keluarga kecil kita juga karena bunda sangat mencintai ayah....".Tika menghentikan ucapannya karena Arka menyelanya.
"Kalau cin....".Arka menyela ucapan Tika tapi terpotong oleh sergahan Tika.
"Tolong jangan sela ucapan bunda, ayah. Biarkan bunda menuntaskan ucapan bunda sesudah itu terserah ayah mau ngomong apa". Sergah Tika meninggi. Ia sangat kesal pada laki-laki di depannya itu.
Arka terdiam cukup lama kemudian mengangguk lemah dan tidak bersemangat. Firasat buruk menghampiri sudut hatinya. Sepertinya keutuhan keluarga kecilnya memang sudah tidak dapat dipertahankan lagi.
__ADS_1
Tika kembali menghela nafas setelah mendapat persetujuan Arka.
"Rasa cinta bunda pada ayah membuat bunda nggak bisa mengekang ayah. Ayah berhak bahagia bersama dengan wanita yang ayah cintai. Begitu juga bunda, bunda berhak dicintai bukan hanya mencintai tapi sudah tidak dicintai, itu namanya bertepuk sebelah tangan. kita akan terperangkap dengan luka masing-masing kalau kita memaksakan diri untuk merajut benang asmara antara kita lagi. Meskipun benang cinta bunda itu kokoh dan makin kuat tapi benang cinta ayah sudah rapuh, tidak kuat, rentan putus kapan saja.Kalau tetap dipaksa dirajut akan berakibat fatal kedepannya, cepat atau lambat, tinggal menunggu bom waktu saja meledak. Tidak akan mampu bertahan menghadapi gelombang cobaan rumah tangga yang mungkin akan menguji kekokohan rajutan cinta kita. Rasa cinta bunda juga akan menyebabkan bunda tidak bisa menjalani rumah tangga kita dengan sebagaimana mestinya. Seiring waktu bisa saja kepercayaan bunda pada ayah akan goyah, rasa was-was akan selalu menghantui bunda, bisakah ayah menjaga hati ayah untuk bunda ketika kita berjauhan sementara di hati ayah tidak cinta lagi untuk bunda?. Seorang laki-laki yang sangat mencintai istrinya saja bisa berpaling apalagi cinta ayah yang sudah luntur. Butuh bukti dan fakta serta waktu yang lama untuk membuktikan bahwa ayah sudah jatuh cinta lagi pada bunda. Pada saat itu apakah ayah yakin bahwa ayah tidak akan jatuh cinta pada orang lain?. Mungkin ayah tidak akan berselingkuh, menduakan bunda dengan cara berzina atau memiliki simpanan. Tapi bunda tidak bisa menerima bila kelak ayah datang pada bunda dengan membawa seorang wanita yang sudah ayah halalkan walaupun atas nama cinta sekalipun dan dengan alasan bahwa ayah tidak berselingkuh, menikahinya sesuai aturan agama. Berdalih seorang suami tidak harus meminta izin untuk menikah lagi. Berbuat seolah-olah sudah melakukan yang terbaik dengan mengabaikan adab. Menyakiti hati istri dengan cara yang tidak beradab. Bunda tidak mau berada dalam posisi yang demikian , ayah. Bunda sangat berterimakasih ayah mau bersikap jujur, walau ada rasa nyeri di hati bunda, tapi paling tidak ayah meninggalkan bunda dengan penuh rasa hormat. Dengan menjunjung tinggi adab dan menjalankan amanah yang di sampaikan ayah, mengembalikan bunda padanya bila tidak cinta lagi. Sekarang ayahnya bunda sudah tidak ada di bumi ini. Maka ayah bisa mengembalikan bunda sebagai bentuk menjalankan apa yang beliau amanah kan, Kembalikan bunda pada Farhan. Ia waliku sekarang".Terang Tika dengan mata berkaca-kaca.
Pada hakikatnya, berat ia berucap tapi ia sudah jengah dengan bujukan Arka yang seolah menjamin bahwa keadaan rumah tangga mereka akan baik-baik saja setelah ia mengungkapkan kejujurannya. Oleh karena itu, Tika berusaha membuka lebar matahari Arka bahwa kemungkinan terburuk bisa saja terjadi bahkan menghantui perjalanan rumah tangga mereka kedepannya bila ia tetap keras kepala untuk melanjutkannya.
Arka terdiam cukup lama, ia masih menanti Tika menyelesaikan ucapannya. Ia mencerna setiap kata yang berhamburan dari bibir wanita yang ia nikahi beberapa tahun yang lalu itu.
"Maafkan ayah, bun". Ucap Arka sambil memegang erat tangan istrinya dan pandangan lekat.
Hanya kata itu yang terpikir untuk Arka ucapkan. Otaknya mendadak beku, ternyata sesakit itu yang dirasakan wanita yang pernah dicintainya itu. Seperti rasa sakit yang bersarang dihatinya ketika memutuskan jujur, seperti rasa sakit yang menghimpit dadanya saat ia memutuskan untuk memperbaiki mahligai rumah tangganya, mengenyampingkan perasaannya yang sudah hilang rasa. Seperti rasa sakit yang meremas seluruh persendian tubuhnya saat melihat wanita yang sangat mencintainya terpuruk sedimikian rupa.
__ADS_1
Keduanya semakin berkelana dengan sudut pikir masing-masing. Tidak ada yang bersuara, air mata Tika masih mengalir di pipi mulusnya tidak berhenti sedari tadi. Mata Arka memerah menahan luka, air mata merintik dari sudut matanya meski terlihat samar. Posisi duduk mereka yang berada di sudut membuat mereka tidak terekspos sempurna di depan pengunjung lain. Hanya ada beberapa pengunjung dan pelayan yang matanya sejenak memperhatikan keduanya namun kemudian sibuk dengan aktivitas mereka masing masing.
" Bunda benar, Ayah dan bunda akan terjebak pada luka yang kita buat sendiri kalau kita tetap memaksakan diri membingkai rumah tangga kita yang pada dasarnya kini telah rapuh, jauh dari kata kokoh. Wajar bunda meragukan kemungkinan cinta ayah bersemi lagi karena sebenarnya ayah juga tidak yakin cinta ini bisa tumbuh lagi atau tidak. Analisis bunda sangat tepat, bisa jadi cinta ayah akan tumbuh di tempat lain dan itu tentu sangat menyakitkan bagi kita berdua. Di satu sisi, ayah berat meninggalkan bunda dan di sisi lain, ayah punya cinta di hati lain harus ayah perjuangkan." Tutur Arka mengungkapkan sudut pandangnya.
Tika menarik sudut bibirnya, lengkungan yang tercipta memberikan sedikit rasa nyaman di hati Arka. Tubuh Tika beriak sambil mengecup singkat jemari yang menggenggam tangannya begitu erat seolah enggan melepaskan, sehingga kini keduanya duduk berhadapan, Tika melepaskan tautan tangan mereka dan menjulurkan tangannya untuk menghapus pipi basah laki-laki yang masih bergelar suaminya itu dengan telapak tangannya. Senyumnya yang masih setia menghias bibirnya seolah memantik rasa percaya diri pada diri Arka untuk bangkit kembali. Menelusuri kehidupan baru masing-masing untuk menggapai kebahagiaan yang mereka inginkan.
"Relakan aku memilih melepaskanmu, sayang". Ucap Tika dengan senyum yang lebih indah di mata Arka.
"Semoga ini yang terbaik untuk kita, sayang". Jawab Arka seraya mengangguk dan tersenyum penuh rasa duka.
PROMOSI NOVEL KEDUA KARANGAN AUTHOR YA, BERJUDUL SATU BAGI DUA.
__ADS_1