
Pada kesempatan itu Sifa juga mengajak ayah bundanya untuk berfoto di spot selfie favorit pengunjung yang bernama Tugu Iwak Belido. Sebuah tugu, atau patung ikan raksasa, berupa ikan khas Sungai Musi yang mulai langka. Ikan Belido terkenal sebagai ikan yang sangat enak, sekaligus sebagai bahan baku untuk membuat kuliner khas Palembang, yaitu Pempek. Pada mulanya mereka berfoto bertiga tapi kemudian Sifa memiliki ide untuk mengambil pose foto ayah dan bundanya dengan dirinya sebagai juru foto dan juga pengarahnya. Ia mengarahkan ayahnya untuk memeluk bundanya dari belakang,sang bunda diarahkan untuk menoleh dan merekapun tersenyum manis berhadap-hadapan. Pose selanjutnya berpose berhadapan saling memegang tangan dan sang ayah mengecup kening bundanya mesra. Sifa dengan lihainya membidik ayah dan bundanya serta mengarahkan agar ayah dan bundanya berpose sesuai dengan yang ia inginkan bak seorang kameraman profesional.
Banyak para wisatawan yang melakukan kunjungan Wisata ke Benteng Kuto Besak dengan meluangkan waktu sampai malam. Saat jam operasional Benteng Kuto Besak tutup, maka keseruan wisata tidak berhenti, bahkan justru lebih ramai. Kawasan tersebut merupakan spot terbaik untuk menikmati pesona keindahan Jembatan Ampera, dan Sungai Musi di Palembang. Sekaligus sebagai latar foto yang keren. Suasana di luar Benteng Kuto Besak saat sore menuju malam semakin ramai. Pemandangan di sekitar kawasan tersebut sangat indah, berpadu dengan kerlap-kerlip lampu malam memanjakan mata pengunjung.
Matahari sudah meninggi saat Arka dan anak istrinya keluar dari gedung Benteng Kuto Besak, ia menutup aktivitas wisatanya bersama keluarga tercinta di benteng ini dengan mencoba masakan di sebuah resto terapung di Sungai Musi. Ternyata berbicara soal rasa, jangan dipertanyakan lagi betapa lezatnya menu yang tersedia di sana, karena masakan Palembang sudah sangat terkenal memiliki citarasa yang sangat tinggi. Binar bahagia terpancar dari ketiganya. Mereka sangat menikmati kebersamaan yang mungkin tak akan pernah terulang lagi nanti.
Sesudah puas menyantap makan siang yang terasa lezat di lidah mereka. Keluarga kecil ini melanjutkan destinasi wisatanya ke Masjid Cheng Ho yang berada cukup dekat pusat kota Palembang, dengan jarak sekitar 4 km dapat ditempuh dalam waktu sekitar 15 menit. Masjid Cheng Ho terletak di Jalan Pangeran Ratu Perumahan TOP Atlit, Kelurahan 15 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Kota Palembang. Mobil Arka melaju dengan kecepatan sedang menuju masjid dengan arsitektur perpaduan budaya Palembang, Tionghoa, dan Arab. Arka memacu mobilnya dengan senyum mengembang, begitu pula Tika yang duduk di sampingnya. Keduanya sesekali menimpali celotehan Sifa yang tengah asyik melihat-lihat koleksi foto yang mereka ambil di beberapa tempat di Benteng Kuto Besak tadi. Ketika melihat foto mesra ayah bundanya. Sifa yang duduk di jok belakang mobil dengan centilnya menggoda kedua orang tuanya sehingga mereka tertawa lepas, sesekali ayah dan bunda itu tersipu malu. Mungkin mereka malu karena sebentar lagi semuanya hanya tinggal kenangan.
Mereka sangat menikmati jalanan kota Palembang yang cenderung dipadati kendaraan roda dua dan roda empat, khas kota besar. Beruntung mereka tidak terjebak dalam kemacetan meskipun jalanan padat tapi lalu lalang kendaraan relatif lancar.
Waktu menunjukkan pukul setengah dua belas siang ketika Arka melihat pergelangan tangannya.Ia memarkir mobilnya ditempat yang telah disediakan untuk para wisatawan yang hendak berkunjung ke masjid yang bernama lengkap Masjid Al Islam Muhammad Cheng Ho, yang merupakan simbol multikultur di Palembang, Masjid didominasi dengan warna khas hijau dan merah. Dari kejauhan, Sifa sudah nampak sangat menyukai destinasi pilihan ayahnya ini. Ia sangat kagum dengan bangunan masjid di Palembang yang terlihat begitu mencolok. Begitu pula Tika, sangat kentara sekali dari mimik wajah dan binar matanya bahwa ia sangat takjub dengan masjid yang bangunan utamanya didominasi warna pink dengan pilar-pilar berwarna merah. Atapnya terdapat kubah berwarna hijau dengan bulan sabit dan bintang layaknya masjid-masjid di Timur Tengah. Sementara di keempat sudut bangunan terdapat atap berbentuk limas, salah satu bentuk rumah adat di Palembang, berwarna hijau.
Di gerbang atau gapura masjid yang bergaya Tiongkok, dengan pilar merah dan atap limas berwarna kuning emas, terdapat sebuah papan nama bertuliskan "Masjid Muhammad Cheng Hoo", lengkap dengan aksara Mandarin.
__ADS_1
Masjid dilengkapi dua menara serupa pagoda berwana merah, yang masing masing diberi nama "Habluminallah" dan "Hambluminannas" -"hubungan manusia dengan Allah" dan "hubungan dengan sesama manusia". Kedua menara itu punya lima tingkat, yang melambangkan shalat lima waktu dalam sehari. Tinggi menara mencapai 17 meter; simbol dari jumlah rakaat yang harus dikeriakan setiap Muslim dalam sehari semalam.
Arka mengajak istri dan anaknya untuk mengambil air wudhu di lantai dasar karena sebentar lagi waktu shalat dhuhur akan tiba.
Di lantai dasar masing-masing menara terdapat tempat wudhu. Sementara bagian luar menara dibubuhi ornamen khas Palembang berupa tanduk kambing.
Di dalam masjid, pengunjung akan mendapati warna dominan merah yang identik dengan budaya Tionghoa. Desain daun pintu utama, pancang pancang, dan ornamen pagar pembatas di bagian atas kian mempercantik tampilan interior masjid yang kental nuansa Tionghoa. Bersama dengan para pengunjung lain mereka melaksanakan shalat dhuhur secara berjamaah.
Suasana di dalam masjid terasa sejuk dan nyaman kendati ruangan tak dilengkapi pendingin udara tapi hanya kipas angin. Hal ini dimungkinkan karena keberadaan roster (lubang angin) pada bagian atas pintu. Jendela jendelanya juga lebar, dengan roster di bagian atasnya, sehingga membuat sirkulasi udara begitu bebas masuk dan keluar ke ruang salat.Masjid dilengkapi dengan Tempat
Masjid Cheng Ho berlokasi di Kompleks Perumahan Amin Mulia, Jakabaring. Karena berada di lokasi perumahan warga, suasana masjid sangat tenang dan sepi.
Setelah menunaikan kewajiban sebagai umat Muslim, dengan perasaan lega dan tenang ketiganya berjalan mengelilingi masjid. Senda gurau dan suasana riang menyelimuti kebersamaan mereka. Sesekali mereka berselfie ria mengabadikan momen yang menurut mereka sangat luar biasa.
__ADS_1
Penggunaan ornamen-ornamen khas tersebut bukan tanpa sebab. Selain karena Masjid Cheng Ho ini dibangun di tanah Palembang, masyarakat juga menyadari adanya kedekatan antara kebudayaan Palembang dan kebudayaan Tionghoa.
Pemberian nama Cheng Ho juga bukan tanpa alasan. Cheng Ho (Zheng He), yang dikenal sebagai panglima angkatan laut Tiongkok pada ke-15, diyakini memimpin ekspedisi keliling dunia, termasuk ke Palembang.
Dalam Catatan Zheng He, yang diterjemahkan W.P Groeneveldt dengan judul Nusantara dalam Catatan Tiongkok, Cheng Ho datang ke Palembang pada ekspedisi pertamanya. Dia memburu Chen Zuyi, orang Guangdong, yang menguasai Palembang sebagai perompak. Misi itu berhasil. Cheng Ho kembali ke Tiongkok untuk menyerahkan perompak itu kepada kaisar. Chen Zuyi kemudian dipenggal di pasar di ibukota.Menurut arkeolog Uka Tjandrasasmita dalam Arkeologi Islam Nusantara, tindakan Cheng Ho menumpas bajak laut itu dengan sendirinya merupakan jasa pengamanan bagi kegiatan pelayaran dan perdagangan keluar masuk kota pelabuhan dan kota Palembang. "Karenanya pemimpin dan masyarakat daerah itu sangat berterimakasih dan menghargai jasa Cheng Ho.
Kendati belum ada bukti kuat, banyak yang percaya bahwa Cheng Ho seorang muslim dan memiliki misi mengislamkan Nusantara, termasuk di Palembang. Karena perilakunya yang baik dan membawa kedamaian, Cheng Ho mempunyai banyak pengikut.
Komunitas Tionghoa-Muslim juga sudah lama menetap dan berbaur dengan masyarakat setempat di Palembang. Sebagai wujud penghormatan atas sosok Cheng Ho sekaligus mempererat persaudaraan di antara sesama muslim, dibangunlah Masjid Cheng Ho dengan arsitektur yang memadukan budaya Tiongkok, Islam, dan Palembang.
Masjid Cheng Ho di Palembang dibangun Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) yang kemudian ganti nama jadi Persatuan Iman Tauhid Indonesia. Dalam "Cosmopolitan Islam and inclusive Chineseness: Chinese-style mosques in Indonesia", dimuat di buku Religious Pluralism, State and Society in Asia suntingan Chiara Formichi, Hew Wai-Weng menyebut masjid ini digagas oleh PITI Sumatra Selatan setelah para pemimpin cabangnya mengunjungi rekan-rekan mereka di Surabaya yang sudah mendirikan Masjid Cheng Ho.
"Masjid Al-Islam Muhammad Cheng Hoo di Palembang, diluncurkan tahun 2008, merupakan masjid kedua bergaya tulis Hew Wai-Weng. Masjid Cheng Ho Palembang dibangun di atas tanah seluas 4.990 m2, hibah dari Syarial Oesman yang kala itu menjabat gubernur Sumatra Selatan.
__ADS_1
Masjid dengan bangunan utama seluas 40m2 ini memiliki dua lantai. Lantai pertama digunakan untuk jamaah laki laki, sedangkan lantai dua digunakan khusus untuk jamaah perempuan. Secara keseluruhan bangunan masjid ini mampu menampung sekitar 500 jamaah. Begitulah pemandu wisata yang ada di masjid itu berkisah yang mengutip penjelasan seorang Arkeolog..