PETAKA PERCERAIAN

PETAKA PERCERAIAN
Nasehat Irfan


__ADS_3

Arka menatap sahabat dengan antusias, pria tampan CEO perusahaan properti yang terbilang sukses diusia ini, sangat berharap temannya tersebut bisa memberinya saran yang bisa meringankan bebannya atau bahkan mungkinkah menjadi penyelesaian yang terbaik.


"Apa yang harus aku lakukan, Fan?".Tanya Arka menggebu, tidak sabar dan diliputi rasa penasaran.


Irfan menghela nafas pelan, menatap lekat sahabatnya itu dengan penuh rasa iba dan panik yang gagal ia sembunyikan.


"Satu hal saja yang bisa kau lakukan yaitu cobalah jujur, sejujur-jujurnya. Kau harus mengatakan alasanmu dengan jujur mengapa kau ingin mengakhiri jalinan kisah kasihmu dengan istri yang begitu mencintaimu. Menilik bagaimana istrimu menyikapi keinginanmu untuk bercerai, aku bisa menilai bahwa ia mengutamakan kenyamanan, ia memberi kesempatan padamu seluas-luasnya untuk kau berkata jujur, tanpa ada yang ditutupi. Ka, apapun keputusanmu pasti ada resiko yang harus kamu tanggung. Bila kau memilih jujur, rasa kecewa, terluka dan sakit hati pasti tidak terelakan. Namu setidaknya ia merasa kau masih menghargainya, berusaha yang terbaik untuk kebaikan bersama. Walaupun ia terluka setidaknya ia tahu bahwa pria yang amat dicintainya bukanlah pecundang. Kau masih memperlakukannya dengan santun dan melepaskannya serta mengembalikan pada walinya dengan hormat. Begitu pula ketika kau memilih mengorbankan perasaanmu, tetap bertahan sebagai imam yang sudah tak lagi mencintai makmumnya, memilih hidup dengan kepura-puraan seolah tidak terjadi apa-apa. Itu akan jadi bumerang dalam hidupmu, kau harus menyadari sejak dini bahwa apa yang terjadi dalam hubunganmu dan istrimu itu tidak sehat dan kalau dibiarkan berlarut akan menjadi bom waktu yang siap meledak menghantam dan menghancurkan mahligai rumah tanggamu


Ketika tak lagi ada cinta di hatimu untuk makmummu, apakah kau yakin suatu saat tidak akan tumbuh benih cinta di relung hatimu pada sosok wanita lain?. Bila itu terjadi kau bayangkan betapa terpuruknya istri yang begitu mengagungkanmu, mencurahkan cintanya lahir batin untukmu dan mengabdikan jiwa raganya untukmu. Siapkah dirimu dicap sebagai laki-laki pecundang yang bejat, tukang selingkuh dan penghianat?. Dan rasanya sulit bagi istrimu untuk menerima perlakuan dan caramu ini meskipun ia mau memaafkanmu". Nasehat Irfan penuh penekanan. Sorot matanya menyiratkan ketegasan dan ketulusan.


Arka menyimak setiap kata yang terlontar dari bibir sahabatnya itu, kepalanya sekali-kali mengangguk membenarkan apa yang disampaikan sosok bijak didepannya itu.


"Satu hal lagi yang tak boleh luput dari pertimbanganmu adalah keberadaan anakmu, Sifa. Jangan sampai karena keegoisanmu ia menjadi korbannya". Sifa masih terlalu kecil untuk memahami posisi kalian sangat ini". Lanjut Irfan mengingatkan.


Arka tersentak, wajahnya menegang, ia hampir melupakan hal terpenting dalam hidupnya itu. Dampak yang akan dialami Sifa hampir tak pernah terpikirkan olehnya

__ADS_1


"Lalu aku sebaiknya bagaimana agar bisa meminimalisir dampak yang mau tidak mau harus dialami anakku akibat putusan perpisahan kami nanti, Fan?". Kejar Arka panik.


"Kalian bisa duduk bersama, bicara dari hati ke hati untuk mendiskusikan segala hal yang bisa membuat Sifa nyaman dan sebaliknya. Kalau kau memilih jujur, kalian berdua masih bisa menjadi sahabat yang baik untuk bersama-sama merawat, menjaga dan berusaha sebaik mungkin agar Sifa tidak merasa kehilangan figur kalian sebagai orang tuanya".Jelas Irfan memberi pemahaman.


Arka mengangguk, matanya memanas, butiran bening menyembul di ujung matanya dan buru-buru dihapusnya dengan punggung tangan kirinya.


"Apapun keputusanmu, aku dukung tapi aku sangat berharap kau bisa jujur. Itu lebih terhormat bagimu dan bentuk penghormatan juga bagi istrimu yang sudah mendampingi selama 6 tahun dengan tulus dan sabar seluas samudera". Saran Irfan setengah membujuk. Ia mengulas senyum tipis seolah memberi semangat untuk sahabat karib sekaligus bosnya itu.


Arka kembali menarik nafas perlahan, menegakkan badannya dan kemudian menghembuskan nafas beratnya dengan kasar.


Senyum hangat Irfan mengembang melihat sahabatnya sudah jauh lebih baik, tidak sekusut tadi. Tangannya terulur mengambil gelas di depannya dan menyesap air putih itu sampai tandas.


"Ok, edisi curhatnya sampai disini dulu, ya. Aku mau menjemput sepupuku, Lasmi dan mengantarnya mengambil baju pesanannya di butik. Aku duluan ya". Pamit Irfan seraya berdiri, menepuk-nepuk bahu Arka sebagai bentuk dukungan kemudian melangkah pergi meninggalkan Arka yang masih terpekur seorang diri.


Arka melihat benda bulat di pergelangan tangannya. Kakinya melangkah ke kasir, membayar tagihannya dan dengan langkah lebar meluncur menuju parkiran, sesaat kemudian mobil mewahnya melaju menuju masjid yang terdengar sedang mengagungkan kebesaran sang pencipta.

__ADS_1


Arka menunaikan empat rakaatnya di shap terdepan berbaur dengan masyarakat dari berbagai kalangan. Para jamaah satu persatu sudah meninggalkan masjid, namun Arka masih sibuk berzikir. Tangannya terangkat dengan khusuk berdoa memohon kepada Allah agar diberi kekuatan untuk menghadapi seluruh permasalahannya. Bertawakal, memasrahkan diri penyelesaiannya kepada sang penguasa jagad. Air matanya luruh, jiwanya rapuh, namun ia pantang tenggelam dalam keputusasaan. Dikerjakannya ba'diah dhuhur sebelum ia meninggalkan tempat ternyaman yang penuh kedamaian itu.


Mobil yang dikendarai Arka membelah jalan raya menerobos keramaian kota menuju gedung kantor Arka Jaya Grup yang dikelolanya.


...****************...


Tika mematut dirinya di kaca. Bibirnya mengembang menyunggingkan senyum khas nya hingga membentuk ceruk di kedua pipinya, sebuah lesung Pipit. Ia berusaha untuk memperbaiki penampilannya yang mungkin dapat memperbaiki keadaan rumah tangganya. Jujur, perceraian dengan Arka adalah hal yang sangat menakutkan baginya. Ia sangat mencintai laki-laki tampan yang sudah 6 tahun menjadi imamnya itu. Mungkin akan butuh waktu seumur hidupnya untuk bisa melupakan sosok Arjuna dihatinya itu.


Deru mobil menerobos gendang telinganya, dengan antusias dan senyum yang selalu terukir di bibirnya Tika berlalu keluar kamarnya, menuruni tangga dengan begitu semangat untuk menyambut suaminya. Farhan dan bu Murni yang sedang duduk di ruang keluarga menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengulas senyum dan memutar bola mata mereka melihat tindak tanduk Tika yang tak pernah berubah meskipun sudah mengarungi bahtera rumah tangga yang cukup lama, begitu cekatan dan antusias melayani suaminya.


"Hati-hati, mbak. Seperti pengantin baru yang lama nggak bertemu saja". Ucap Farhan sewot.


Tika tidak menyahut hanya menggemukkan bahunya dan tersenyum kecil. Langkahnya dengan gesit melesat menuju pintu untuk menyambut suaminya.


Tawa Arka dan Sifa menyapa gendang telinga Tika ketika ia sudah berdiri di teras. Kedua orang yang begitu dicintainya itu tampak sedang bersenda gurau. Arka membopong tubuh gadis kecil berjilbab itu dan dengan gemas menciuminya. Tawa geli putrinya tak dihiraukannya, hingga sampai di teras sapa lembut Tika menghentikan langkah Arka, sejenak ia tertegun. Dengan sumringah Tika mendekat mengambil tas kerja suaminya dan mencium takdzim punggung tangan suaminya. Arka mencium kening istrinya seperti biasa. Mereka berjalan beriringan dengan Tika memeluk lengan Arka.

__ADS_1


__ADS_2