PETAKA PERCERAIAN

PETAKA PERCERAIAN
Mimpi Bu Murni


__ADS_3

POV. Bu Murni


Malam semakin larut tapi hatiku masih terasa tidak tenang, apapun yang ku lakukan benar-benar membuatku tidak nyaman. Dadaku tidak berhenti berdebar sehingga mataku pun sulit untuk terpejam. Sudah tiga hari ini aku sering dilanda resah dan gelisah terutama ketika aku sedang sendirian. Malam ini perasaan was-was yang menghantuiku kian membuatku gundah gulana seolah akan ada hal yang tidak menyenangkan bakal terjadi. Aku sekilas melirik jam yang berada di dinding kamarku, sudah hampir jam 2 malam tapi mataku masih saja enggan terpejam. Akhirnya aku beringsut dari ranjangku untuk mengambil air wudhu. Bermunajat kepada Allah, berharap Allah membantuku agar hati dan jiwaku terlepas dari kerisauan yang menggerogoti pikiranku.


Aku kembali membaringkan tubuhnya setelah menyimpan mukena kesayanganku di atas nakas dengan tidak lupa berdoa terlebih dahulu hingga akhirnya terbuai ke alam mimpi.


Aku membuka mataku kala aku mendengar suara riak air laut. Aku tidak tahu bagaimana bisa aku bisa duduk di bangku yang banyak terdapat di bibir pantai ini. Aku tersenyum menikmati indahnya pemandangan laut, apalagi di waktu senja seperti ini. Namun terbesit rasa heran mengapa aku hanya seorang diri di sini. Tidak seperti biasanya pantai sangat sepi di sore hari seperti ini.


Saat sedang asyik bergelut dengan suasana pantai yang aneh, aku dikejutkan dengan kehadiran sebuah kapal pesiar yang mewah dan indah. Aku sejenak terpukau melihat betapa menakjubkan kapal pesiar mewah nan indah yang sedang merapat ketepian. Bibirku seketika menggumamkan kalimat thayibah mengagungkan kuasa Allah Sang Maha Kuasa atas segala-galanya. Sebuah tangga tiba-tiba menjulur dari sisi kanan kapal dan tiga orang yang amat sangat kukenal turun dari kapal itu, Menantuku, Arka, putriku, Tika dan seorang gadis kecil berjilbab lebar yang sangat menggemaskan, cucu kesayanganku, Sifa. Mereka berjalan beriringan sambil bercengkrama dan bersendagurau. Tawa ceria mereka saling bersahutan dengan raut bahagia terpancar jelas dari wajah ketiganya. Sifa nampak berlari-lari kecil di tanah berpasir itu, di belakangnya sang ibu mengejar dengan nafas terengah-engah. Kerudung keduanya berkibar ditiup angin menambah kesan bahagian yang tercipta dari kebersamaan keluarga kecil itu. Sesaat kemudian Tika berhasil meraih tubuh Sifa dan menariknya dalam pelukannya dengan tawa berderai. Sang ayah yang sedari tadi juga ikut mengejar keduanya dengan berlari kecil pun menghambur untuk memeluk dua orang yang sangat ia kasihi itu. Tawa mereka terdengar semakin meriah, hingga akhirnya pelukan mesra itu terurai. Sifa meraih tangan kedua orang tuanya mengaitkannya satu sama lain dan ia pun memegang kedua tangan mereka yang lain hingga tautan tangan itu membentuk lingkaran. ketiganya berjingkrak-jingkrak sambil menyenandungkan sholawat yang menentramkan kalbu.


Lelah yang mungkin mereka rasakan membuat mereka merebahkan diri di atas pasir, bersantai sambil menerawang langit senja yang terlihat begitu indah.


Aku masih asyik memandangi kebersamaan anak cucuku itu. Sepertinya mereka terbuai dalam mimpi saking capeknya. Senyumku mengembang, ternyata sesederhana itu menikmati kebahagiaan, bibirku berulangkali mengucapkan kalimat thayibah sebagai wujud rasa syukurku kepada sang Penguasa Jagad atas limpahan kebahagian yang melingkupi keluarga kecil putriku. Doa terbaik untuk mereka kupanjatkan dengan setulus hati semoga samawa mawadah warahmah hingga maut memisahkan. Tapi tiba-tiba mataku melihat Arka, menantuku bangkit dari tidurnya dan duduk dengan sorot mata lurus menatap riak air laut yang tercipta dari gelombang kecil yang seolah sedang bercengkrama memainkan air laut. Matanya sendu seperti memendam keterpurukan jiwanya. Beberapa saat kemudian ia menoleh pada Tika, istrinya. Tangannya terulur menepuk paha wanita cantik berjilbab lebar di sampingnya. Tidak butuh waktu lama, Tika pun ikut duduk di samping suaminya dengan bersandar mesra di bahunya.


"Bun, tempat ini begitu damai. Apakah bunda senang berada di sini?". Tanya Arka, menantuku.


200 meter bukanlah jarak yang dekat antara aku dan tempat mereka melepas lelah, cukup jauh memanga tapi anehnya aku bisa melihat apapun yang mereka lakukan dengan sangat jelas bahkan perbincangan yang sedang mereka lakukan juga bisa aku dengar dengan baik dari tempatku duduk saat ini.


"Tentu saja aku senang, apalagi bersama ayah dan juga Sifa. Nikmat mana lagi yang bisa aku suarakan, yah". Jawab putriku dengan sumringah.

__ADS_1


"Tapi ayah tidak bisa menemani bunda dan Sifa lagi di sini. Ayah harus pergi mengarungi lautan untuk menaklukan ombak bergulung-gulung itu. Aku ingin bebas dari perhatian dan rasa cintamu padaku. Rasaku kini sudah berbeda, kini yang kurasakan semua seperti beban berat yang sangat payah untuk aku pikul. Maafkan ayah, bun. Bunda berhak bahagia begitu juga dengan ayah". Ucap menantuku itu dengan lugas dan jelas bahwa ia ingin mengarungi lautan sendiri tanpa istri dan anaknya.


Aku kian heran dengan tutur katanya yang menurutku tanpa menimbang rasa itu. Tanganku mengepal, rahangku mengeras hingga gigiku berderit karena menahan marah. Aku benar-benar geram sekali pada menantu lelakiku itu. Bagaimana bisa ia mengutarakan maksudnya hendak meninggalkan putri dan cucuku di pantai yang sepi ini, rasanya aku tidak akan percaya jika saja telingaku tidak mendengar sendiri dan mata kepalaku menjadi saksi ucapannya barusan. Aku ingin sekali menghampiri mereka tapi bokong dan kakiku seolah terpatri dengan begitu kuat sehingga tidak dapat digerakkan sama sekali.


"Ayah menyayangi bunda dan juga putri kita, tapi ayah sudah enggan menikmati kebersamaan kita berlayar dengan bahtera yang sudah kita bangun ini". Ujar menantuku lebih lanjut membuat aku semakin terbakar emosi.


Bu Murni semakin gusar, apalagi saat melihat Tika masih terlihat santai menanggapi ucapan suaminya, tidak ada usaha sedikitpun untuk menahan agar suaminya tetap bersamanya, mengajaknya menaklukan ganasnya lautan, berbagi keluh kesah dan bergandeng tangan menghadapi segala masalah lalu mereguk kebahagiaan bersama-sama dengan canda dan tawa.


"Jangan khawatir, aku pastikan semua kebutuhan bunda dan putri kita Sifa tercukupi". Ucap menantuku lagi.


"Villa itu untuk bunda dan Sifa, setiap bulan akan ada yang datang pada bunda membawa segala sesuatu yang bunda dan Sifa untuk bertahan hidup".Tambah menantuku lagi dengan senyum tipis tersemat di bibirnya. Jari telunjuknya terjulur mengarah ke belakang punggung mereka.


Aku melihat putri dan menantuku beradu pandang untuk beberapa saat hingga akhirnya putriku yang cantik itu membuang pandangannya ke arah laut lepas dengan ******* nafas yang halus.


"Pergilah bila itu yang membuatmu bahagia. Bunda dan Sifa akan baik-baik saja. Ayah boleh tidak mengingatku tapi satu hal yang bunda pinta, ingatlah selalu bahwa Sifa adalah putrimu. Jangan pernah menjadikannya sebagai seorang yatim yang tidak bisa menjangkau ayahnya apalagi mendapatkan kasih sayangnya. Meski nanti pelayaranmu berlabuh di hati yang menurutmu lebih baik dan menggairahkan". Ujar putriku seraya menatap sendu pada buah hatinya yang terbuai dalam alam mimpinya.


Tiba-tiba menantuku yang menurutku tidak tahu diri itu memeluk putriku dengan mata berkaca-kaca. Aku mengerutkan keningku, tidak paham akan apa yang aku lihat dan aku dengar.


Kulihat putriku yang sudah dikaruniai seorang anak itu membalas pelukan suaminya dengan mata merah menahan tangis, aku sangat tahu hatinya sungguh terluka. Ingin sekali aku berlari ke arah mereka dan menampar habis-habisan laki-laki yang sudah memantik luka di hati putriku itu tapi entah mengapa kakiku begitu enggan diajak kompromi sehingga aku hanya bisa pasrah dalam kegeraman.

__ADS_1


Kini ku lihat Tika berusaha mengurai pelukan suaminya. Dipandanginya lelaki yang selama ini ia rindukan ketika jauh dan selalu dibangga-banggakannya. Sesaat kemudian ia persembahkan senyum manisnya pada suaminya yang telah menoreh luka dihatinya itu. Dibelainya rahang tegas sang suami, lalu digenggamnya kedua tangan suaminya itu dan dikecupnya berulangkali hingga membuatku heran dengan apa yang dilakukan oleh putriku itu. Sungguh di luar ekspektasiku. Seharusnya ia mengamuk dan melampiaskan kekecewaannya begitu rupa pada laki-laki di depannya itu atas rasa sakit yang ditanggungnya itu.


"Pergilah, yah. Raih kebahagiaan ayah. Mungkin kebajagian ayah memang bukan dengan bunda. Bunda relakan ayah. Jangan khawatir Sifa akan mengenang ayah sebagai seorang ayah yang bertanggung jawab dan patut dibanggakan".


Melihat itu, menantuku tersentak. Ia seolah baru sadar bahwa ia telah melakukan suatu tindakan yang salah. Di belainya kepala putriku yang dibalut jilbab lebar itu dengan tangan bergetar. Tanpa kuduga kembali ia menarik tubuh putriku dalam rengkuhannya. Tangisnya pecah, tergugu dengan kata maaf berulang terucap dari bibir menantuku itu.


Putriku hanya diam tanpa menjawab apapun, ia sepertinya benar-benar merelakan sang suami meninggalkannya meskipun ia begitu mencintainya, aku sungguh tidak paham cara berpikirnya yang menurutku di luar logika.


"Ayah sepertiga tidak bisa pergi meninggalkan bunda dan Sifa. Ayah akan tetap bersama bunda dan Sifa. Ayah akan berusaha untuk menata kembali hati yang telah porak-poranda ini". Sahut menantuku.


Kata-kata menantuku semakin membuatku kesal. Begitu mudahnya ia menarik keputusannya dan mengurungkan niatnya padahal ia sudah mempersiapkan semuanya dengan sangat matang.


Putriku menghela nafas panjang. Aku penasaran dengan apa yang akan diucapkannya sebagai jawaban. Kutajamkan pendengaran dan penglihatanku agar tak melewatkan setiap kata yang keluar dari mulut mereka. Kulihat putri mengurai rengkuhan suaminya. Ditatapnya lekat laki-laki buang sudah membersamainya selama bertahun-tahun itu dengan sorot mata terluka, kemudian ia menggelengkan kepala.


"Tidak, yah. Ayah harus pergi. Jangan berusaha berkorban untuk hal yang akan membuat ayah terluka. Bunda juga tidak mau melukai hati bunda sendiri dengan memiliki raga ayah tapi tidak dengan hati ayah. Tidak perlu mengasihani bunda karena sungguh tidak akan nyaman memaksakan diri memakan makanan yang tidak kita sukai walaupun itu teramat ingin kita lakukan". Sahut putriku sangat menohok.


Sang suami yang tidak menyangka istrinya akan menolak menangis tersedu-sedu seperti anak kecil tapi yang ku herankan, cucuku seolah tidak terganggu sedikitpun. Ia tetap terlena dalam dunia mimpinya. Sedangkan aku sangat terkejut dengan jawaban putriku. Lagi-lagi aku tak menyangka jika putriku menolak suaminya.


Suara pengeras suara yang memperdengarkan bacaan Al-Qur'an menyentakku dari alam mimpi. Ku tengadahkan tangan membaca doa bangun tidur dan ketika mengingat mimpi yang baru saja menghampiriku aku memijit pelipisku untuk mengurangi rasa sakit di kepalaku yang tiba-tiba berdenyut nyeri, terselip doa semoga keluarga putriku baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2