
Arka mendadak merasa lidahnya kelu, pertanyaan Sifa begitu sulit untuk dijawab, ia sama sekali tidak punya stok untuk jawaban pertanyaan wanita yang masih sah menjadi istrinya itu.
"Ayah akan selalu berusaha membentengi hati ayah untuk bunda, percayalah pada ayah, bun".Jawab Arka berusaha membuat lih kata-kata yang menurutnya paling tepat.
Tika tersenyum miris, dadanya berdenyut untuk kesekian kalinya. Kata "berusaha" yang selalu suaminya selipkan untuk meyakinkannya justeru terasa begitu menyakitkan ketika tertangkap gendang telinganya dan diterima oleh simpul saraf otaknya. Kata itu menancap jelas di hatinya bila cinta suaminya benar-benar sudah tidak berbekas lagi sehingga suaminya itu harus berusaha berjuang keras untuk menghadirkan cintanya padaku lagi.
"Yah, bunda sangat yakin bisa menunggu ayah untuk menumbuhkan cinta ayah kembali pada bunda. Tapi bunda tidak yakin ayah sabar dengan sikap umi yang mungkin sedikit berubah dari sebelumnya karena tingkat kepercayaan bunda pada kesetiaan ayah tentu menurun drastis, butuh bukti yang kuat dan waktu yang tidak sebentar untuk membuat bunda yakin bahwa posisi bunda di hati ayah tidak akan tergantikan". Sahut Tika tegas menatap dengan sorot mata tajam menancap ke manik mata sang suami.
"Sudahlah, yah. Nikmati kebebasan ayah dari kekangan dan belenggu cinta bunda. Percayalah saat ini bunda baik-baik saja, setidaknya bunda berpisah dengan ayah dengan cara baik-baik, bukan karena pengkhianatan atau perselingkuhan, sehingga tidak ada alasan bunda untuk membenci ayah, kalau terluka itu sudah pasti tapi bunda janji luka itu akan dapat Bunda sembuhkan dengan cepat". Tutur Tika di sela senyum yang dibuat semanis mungkin.
Tika beranjak dari posisinya menyimpan alat shalat dan menyimpannya di atas nakas. Menatap suaminya dengan penuh cinta yang masih terpekur dengan kepala tertunduk lunglai.
Tika sudah turun ke bawah sesaat setelah mendaratkan ciuman di pipi suaminya dan menepuk bahu laki-laki yang teramat dicintainya itu dua kali , meninggalkannya seorang diri di dalam kamar, menikmati suasana kamar yang sebentar lagi pasti akan sangat ia rindukan.
Di satu sisi Arka merasa senang, ia bisa terlepas dari wanita yang sudah tidak dicintainya lagi di bulan terakhir ini, akan tetapi di sisi berbeda ia pun merasa ada ruang lain di sudut hatinya yang terasa hampa. Ia menatap koper besar berisi barang-barangnya yang sudah ia bereskan beberapa hari sebelumnya, dadanya terasa ngilu seolah diremas ribuan tangan kokoh tak kasat mata. Sungguh teramat sakit rasanya. Matanya terasa kian memanas tanpa bisa dicegah lagi tangis laki-laki berperawakan tegap dan gagah itu pun pecah hingga tergugu. Disembunyikan kepalanya diantara kedua kakinya, berharap bisa membuat suasana hatinya membaik. Ia sungguh tidak menyangka ternyata perpisahan begitu amat menyakitkan padahal ia sudah tidak mencintai istrinya lagi, lalu bagaimana dengan Tika yang teramat sangat memujanya, dipastikan hatinya lebih tercabik-cabik.
...****************...
Dibantu mbok Sarmi, Tika menyiapkan sarapan dengan penuh semangat, entah mengapa ia begitu antusias untuk membuatkan sarapan pagi ini terkesan istimewa bagi suami yang sebentar lagi meninggalkannya itu. Mbok Sarmi tersenyum kecil dan sesekali menggelengkan kepala melihat antusias nyonya mudanya itu. Tidak butuh waktu lama sarapan pun sudah tersedia lengkap dengan lauk pauknya. Keluarga kecil ini memang selalu membiasakan untuk sarapan menu berat, yakni nasi dan berbagai hidangan pendampingnya.
Mbok Sarmi dan Tika menata menu sarapan yang sudah keduanya masak di atas meja makan. Aneka menu makanan Terlihat menggiurkan, oseng kangkung campur teri, sambal jeroan, empal daging sapi, opor ayam, tahu tempe goreng, perkedel kentang dan ikan wader goreng.
__ADS_1
"Mbok tolong nanti sesudah sarapan, ajak Sifa jalan-jalan, ya. Ke rumah Salsa mungkin akan membuatnya senang, Sifa sangat betah bila bermain dengan Salsa. Ada yang harus kami bicarakan tapi tidak baik untuk di dengar anak kecil". Titahku pada asisten rumah tangga yang sudah ku anggap seperti ibuku sendiri itu.
Salsa adalah salah satu teman Sifa yang bila bermain bersama akan terlihat sangat kompak, keduanya tidak pernah berselisih atau saling baku hantam seperti umumnya anak lain seusia mereka.
"Baik, bu. Nanti non Sifa saya ajak ke sana, ia pasti suka". Jawabnya seraya menganggukkan kepala.
"Terima kasih, mbok". Ucap Tika sambil mengulas senyum.
"Oh ya, mbok. Tolong panggilkan ibu dan Farhan untuk sarapan. Tika mau naik ke atas dulu untuk manggil mas Arka. Dan satu lagi jangan lupa bantu Sifa berkemas juga, mbok". Lanjut Tika dengan senyum mengembang.
Baik, bu." Jawab mbok Sarmi lalu bergegas melaksanakan titah majikannya itu.
"Ayah sudah siap?". Tanya Tika berusaha mencairkan suasana yang terkesan kaku beberapa saat tadi.
"Ayo kita sarapan dulu, yah". Ajak Tika kemudian.
Arka hanya menjawab pertanyaan dan ajakan istrinya dengan mengangguk dan dengan senyum yang dipaksakan. Kakinya bergerak menuruni tangga sambil menyeret koper besar di tangannya. Tika bergegas menyambut suaminya dan membantunya menurunkan koper yang terasa sangat berat itu. Setelah meletakkan koper di ujung tangga, Arka dan Tika melangkah menuju meja makan yang ternyata semua orang sudah menunggu keduanya. Keduanya menyapa untuk beberapa saat sambil saling melempar senyum.
Semua sarapan dengan sangat khidmat tidak ada seorang pun yang bersuara, hanya denting sendok yang beradu dengan piring memecah kesunyian pagi itu. Seolah menyadari bahwa sarapan pagi ini tidak akan sama dengan sarapan sebelumnya. Sesekali Arka dan Tika saling curi pandang, Tika tersenyum kecut mengenang akhir cinta dan rumah tangganya itu. Sementara Arka merasa kalau suasana hatinya campur aduk antara rasa sedih dan bahagia. Sedih karena ia harus melihat istrinya patah hati. Bahagia karena ia tidak mencurangi istrinya dengan pura-pura masih cinta.
"Ayah, bunda. Tadi mbok Sarmi bilang sama Sifa, kalau Sifa mau diajak jalan-jalan pagi dan nanti mampir ke rumah Salsa, bolehkan?". Tanya gadis kecil berjilbab lebar itu dengan sopan.
__ADS_1
"Iya, nak. Tadi bunda udah bilang sama mbok Sarmi. Sifa boleh jalan-jalan, yang nurut sama mbok Sarmi ya, nak". Jawab Tika.
"Kalau sudah sarapannya, ayo non kita segera berangkat". Ajak mbok Sarmi yang baru keluar dari dapur.
Mbok Sarmi dan Sifa berpamitan kemudian beriringan meninggalkan ruang makan.
Farhan hendak pamit meninggalkan meja makan tapi Tika dengan cepat mencegahnya dengan alasan ada yang harus disampaikan pada ia dan ibunya, sehingga Farhan pun menghempaskan kembali bobot tubuhnya di tempat duduknya semula. Merelakan waktunya guna menunggu semua menyelesaikan sarapannya.
Setelah semua menyelesaikan sarapannya, Tika menggenggam tangan kiri suaminya dan menganggukkan kepala untuk memberi isyarat kepada suaminya agar memulai pembicaraan.
"Sebelumnya, Arka mohon maaf pada ibu atas segala kekhilafan Arka selama Arka menjadi menantu di rumah ini. Begitu pun padamu, Han. Kakak minta maaf atas segala salah khilaf kakak selama menjadi kakak iparmu". Ucap Arka lirih tapi sangat jelas terdengar bu Murni, Farhan dan Tika.
Tika menundukkan kepalanya dan genggaman tangannya semakin erat di jari jemari sang suami. Sementara itu, Farhan dan Bu Murni saling pandang dan menggedikkan bahu Sera menggeleng pelan tanda keduanya tidak paham maksud dari ucapan laki-laki gagah yang berstatus kepala keluarga di rumah ini.
"Hari ini saya pamit meninggalkan rumah ini dan mengembalikan Tika dengan segala hak dan kewajiban saya sebagai suami kepada ibu dan juga Farhan sebagai wali sah ibunya Sifa." Lanjut Arka dengan suara bergetar dan semakin parau.
"Maksud kamu?".
"Maksud kakak?"
bu Murni dan Farhan bertanya secara bersamaan dengan raut muka tidak mengerti dan bingung.
__ADS_1