PETAKA PERCERAIAN

PETAKA PERCERAIAN
Kejujuran Arka


__ADS_3

Sudah seminggu berlalu sejak Arka mengungkapkan keinginannya untuk bercerai dengan Tika. Hubungan keduanya masih terbilang cukup baik, Arka selalu pulang seperti biasa. Bila ia pulang terlambat, ia selalu mengabari Tika via telpon atau pun pesan singkat. Tika juga selalu menyambut kedatangan Arka dengan wajah ceria dan suka ria. Tak ia perlihatkan kegundahan hati dan kesusahan hatinya karena ia akan diceraikan oleh Arka. Tika sebenarnya bukan tidak terluka, ia hanya sedang memanfaatkan keadaan, menikmati hari-hari terakhirnya sebagai nyonya Arka, melayani seperti biasa seolah kata yang pernah diutarakan Arka tidak pernah diucapkan. Arka belum memberi tahu dengan jelas alasannya kenapa ia ingin mengakhiri kisah kasih yang sudah dirajut sekian lama dengannya. Tika pun tidak pernah berusaha mencecar Arka untuk berbicara tentang nasib biduk rumah tangganya. Ia sengaja memberi kesempatan untuk Arka berbicara atas inisiatifnya sendiri. Terlepas dari ketidaktahuannya atas masalah yang dihadapi Arka sehingga Arka kekeh hendak menenggelamkan bahtera rumah tangga mereka dengan perceraian. Sesungguhnya sangat banyak kalimat Arka yang diucapkan malam itu yang menurut sangat tidak masuk akal kalau penyelesaiannya adalah perceraian tapi melihat betapa terpuruknya Arka. Tika memilih bersabar dan tidak menekan serta memaksa Arka untuk menjelaskan lebih lanjut seketika itu juga. Ucapan Arka ' aku ingin bercerai, kau berhak bahagia, kau akan terluka bila mahligai rumah tangga ini pertahankan'. Ada kesan ganjil yang tak dapat ia terka dari semua ucapan yang berhamburan dari bibir laki-laki yang bertahta dihatinya itu. Bahkan sampai memohon ampun segala seolah sudah melakukan kesalahan yang fatal dan tak terampuni. Kebungkaman Arka justru membuatnya makin kelimpungan tidak karuan, namun apa daya tidak ada yang bisa ia lakukan selain Arka berterus terang hingga mereka berdua bisa saling mengkomunikasikan langkah penyelesaian bijak yang tak akan disesali dikemudian hari.


Tadi setelah makan malam, Arka menyempatkan diri untuk bercengkrama dengan anak dan isterinya seperti biasa. Sepasang suami istri ini bersama-sama mendampingi anaknya belajar mengaji. Farhan yang juga berada di ruang keluarga memperhatikan dengan seksama. Tidak ia jumpai kejanggalan sedikit pun, keluarga kecil ini terlihat harmonis dan hangat. Ia melihat kedua kakaknya ini begitu saling mencintai dan menyayangi. Seperti kekhawatiran ibunya terlalu berlebihan. Rasa syukur meluap membentuk butiran doa agar jalinan rumah tangga kakaknya langgeng sampai maut memisahkan. Tapi tidak dipungkirinya rasa was-was masih bertumpuk di relung hatinya yang paling dalam dan enggan untuk berlalu.


Suara merdu bu Murni melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an menggiring suasana hatinya yang bergemuruh terasa lebih tenang.


Arka pamit meninggalkan keluarga kecilnya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Ia menepuk pelan bahu Farhan ketika melewatinya. Langkah kakinya berderap menuju ruang kerjanya.


Manik mata Tika menatap punggung suaminya hingga hilang di balik pintu ruang kerja. Dipejamkan netranya sekejap, dengan lembut dipijatnya pelipisnya pelan. Dan selanjutnya kembali menormalkan dirinya larut dengan kebersamaannya dengan gadis kecilnya. Keduanya melangkah ke kamar Sifa, nampak Sifa sudah mengantuk.


Sikap yang ditunjukkan oleh Tika tanpa disadari terekam dengan jelas di pelupuk mata adiknya yang sedari tadi selalu memperhatikannya. Ada rasa khawatir menyeruak dari sudut hatinya yang terdalam.


...****************...

__ADS_1


Tika sudah tertidur kala Raka masuk ke kamar mereka. Raka tersenyum kecil dan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah berganti pakaian, langkah terayun menaiki pembaringan, Ia sudah shalat isya di masjid tadi. Saat masuk ke dalam selimut yang digunakan istrinya, hatinya terasa tercubit, air mata menetes tanpa rasa malu melihat pemandangan di depan matanya. Istrinya tertidur berbalut lingerie merah cabe kesukaannya. Ia baru menyadari betapa ia telah abai pada istrinya sampai tak menunaikan kewajiban memberi nafkah batin dalam waktu yang cukup lama. Terlepas bagaimanapun suasana hatinya istrinya masih tetap wajib dinafkahi baik lahir maupun batin. Diusapnya butiran bening yang sempat menyembul dari sudut matanya. Dikecupnya kening istrinya, dicumbunya dengan penuh kasih sayang. Tika yang menyadari kehadiran suaminya pun membalas cumbuan suaminya dengan senyum mengembang dan mata berbinar. Kemesraan mereka menjadi memanas. Keduanya larut dalam dahaga hasrat yang membuat mereka sejenak melupakan hal yang kemelut yang mereka rasakan dihari masing-masing.


...****************...


Suara alarm membangunkan tidur nyenyak Tika yang masih menikmati hangatnya tidur dipelukan sang pujaan hatinya. Kebiasaannyaenunaikan shalat malam membuatnya harus merelakan untuk meloloskan diri dari damainya rengkuhan suaminya. Dengan pelan Tika beringsut dari ranjang, meraih handuk dan berlalu ke kamar mandi. Arka menggeliat dan menguap lebar. Matanya dikerjap-kerjapkan menatap jam yang menempel manis di dinding. Masih jam tiga, ia pun beringsut menutupi tubuhnya dengan handuk yang baru saja diraihnya.


Tika keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan wajah lebih segar. Senyumnya menyembul ketika netranya menangkap sosok suaminya yang duduk di tepi ranjang berbalut handuk dan sedang menatapnya.


"Segeralah mandi, mas. Kita tahajud bareng, ya?." Pinta Tika lembut. Kakinya tergerak menghampiri lemari.


"Sayang ada yang ingin ku bicarakan denganmu." Ucap Arka saat mereka sudah menyelesaikan shalat malam dengan penuh penghayatan. Tika yang sedang mencium tangan suaminya seketika mendongakkan kepala, mengurai senyum dan mengangguk.


Arka menghela nafas berat, seolah apa yang akan diutarakan akan menimbulkan goncangan hebat di dalam dadanya. Ada raut gelisah dan takut terpancar dari wajahnya yang tampan. Digenggamnya erat wanita cantik yang telah mendampinginya cukup lama itu.

__ADS_1


"Bunda, Ayah sangat menyayangi bunda dan Sifa. Rasa sayang ayah inilah yang membuat ayah harus rela menempuh jalan perpisahan antara kita. Bila rumah tangga ini dipertahankan, ayah takut tidak bisa mengendalikan diri lagi dan terpaksa menyakiti kalian di sisi lain ayah juga tidak sanggup jika kalian membenci atas hal yang ayah sembunyikan. Ayah mohon bunda bisa legowo mengabulkan permohonan ayah untuk mengakhiri perjalanan bahtera rumah tangga kita.".Ujar Arka dengan suara bergetar. Ia menatap wajah ayu istrinya yang terlihat sabar menunggu uraiannya lebih lanjut.


Tika nampak mengernyitkan dahinya, ia masih menahan diri untuk berucap. Ia mendengar uraian suaminya sedetail mungkinkah n.


"Aku akui bunda berakhirnya jalinan perkawinan kita mutlak 100 persen murni kesalahan ada pada ayah, bunda adalah wanita yang baik tanpa cela. Ayah ingin mengorbankan perasaan ayah untuk berlanjutnya pernikahan ini.


Tapi ayah tidak sanggup menanggung dampak dan resikonya bila suatu saat apa yang ayah sembunyikan terkuak." Urai Arka dengan cucuran air mata dan wajah menunduk. Ia tak kuasa lagi memandang wajah Tika yang semakin bingung.


Tika menghapus air mata suaminya dengan tangan yang tak digenggam Arka. Hatinya amat pedih, matanya memerah menahan tangis. Hatinya tersayat walaupun ia belum memahami maksud Arka dengan hal yang ia sembunyikan.


"Katakanlah ayah. Apa yang ayah sembunyikan insyaallah aku ridho dan bila itu sangat menyakitkan bagiku, aku pastikan akan memaafkan ayah seberapapun besarnya kesalahan ayah". Desak Tika berusaha tegar.


"Maafkan ayah, bunda. Maafkan ayah. Ayah memang sangat menyayangi banyak bunda, tapi cinta ayah sebagai seorang suami sudah lama terkikis. Ayah....ayah... tidak lagi mencintai bunda". Ulas Arka dengan tubuh bergetar dan tergugu pilu. Tapi buahnya tersungkur di pangkuan istrinya yang sedang shock.

__ADS_1


Jleder.....Jleder....Jleder......


__ADS_2