PETAKA PERCERAIAN

PETAKA PERCERAIAN
Arka's Happy Family


__ADS_3

Sesudah makan malam seperti biasa Arka dan Tika menemani Sifa mengaji Iqra dan menghapal beberapa surat-surat pendek dan hapalan doa-doa.


Terdengar suara merdu Bu Murni bertadarus di dalam kamarnya. Lantunan ayat-ayat suci yang berhamburan dari bibir wanita sepuh itu begitu memanjakan telinga, menyentuh kalbu dan menenteramkan jiwa-jiwa yang hampa.


Sedangkan Farhan langsung masuk ke dalam kamarnya untuk mempersiapkan proyek iklan produk yang sedang digarapnya. Malam itu setelah bada isya, ia akan mengikuti zoom meeting dengan pemilik produk yang proyek iklannya di bawah tanggung jawabnya.


Sifa sudah menutup iqranya, ia sekarang sudah mampu membaca Iqra sampai pertengahan jus empat, terbilang cepat untuk anak seusianya. Hal itu karena setiap ba'da subuh, Bu Murni juga membantu Sifa untuk mengulang bacaannya. Sifa juga sudah menghapal beberapa surat pendek dari Al-Qur'an juz 30. Doa-doa pendek sehari- hari pun dikuasainya dengan baik.


Setelah selesai mengaji, Sifa meminta pada ayah dan ibunya untuk tidak tidak beranjak dulu. Ia berlari ke dalam kamarnya dan ketika kembali tangannya membawa sebuah iPad hadiah dari Arka dulu. Arka dan Tika mengerutkan dahinya, keduanya terlihat saling pandang tidak mengerti.


"Ayah, bunda. Bolehkah Sifa memilih beberapa foto kita ini untuk di cetak dengan ukuran besar dan di pajang di dinding-dinding rumah kita". Pinta Sifa membuat kedua orangtuanya melongo.


"Coba ayah dan bunda lihat, foto-foto ini bagus banget lo. Sifa suka dengan cara tersenyum dan tertawa ayah dan bunda yang terlihat sangat menentramkan hati. Sifa ingin ayah dan bunda selalu tersenyum seperti ini. Sifa ingin suatu saat ketika ayah atau ibu bertengkar. Maka akan segera baikan saat melihat senyum di foto ini sehingga tidak saling menyakiti". Tegas Sifa lagi.


Bocah cilik itu tidak memperdulikan reaksi ayah bundanya yang memandangnya dengan mata sendu dan rasa bersalah. Mata keduanya memerah menahan tangis. Tidak mampu membuka mulut seolah terkunci ribuan gembok.


"Dan Sifa ingin ayah dan bunda menyadari kalau Sifa sudah besar tapi masih saja sendiri, Sifa butuh teman. Ayah dan bunda mau adik yang banyak". Lanjut Sifa bersemangat dengan senyum yang tidak hentinya tersemat.


Sontak pasangan yang masih halal baik secara agama maupun negara itu terbelalak. Keduanya tidak menyangka gadis kecilnya itu memiliki suatu harapan besar yang sulit mereka kabulkan.


"Gimana ayah bunda?." Sifa menoleh pada ayah bundanya.

__ADS_1


Arka dan Tika kompak tergagap, keduanya bingung mau menjawab apa pada bocah ingusan itu.


"Nanti ayah pikirkan. Tapi Sifa tahu tidak mengapa di rumah kita ini Sifa tidak pernah menemui adanya foto-foto keluarga kita termasuk almarhum kakek dan eyangmu?". Tanya Arka pelan sambil tersenyum paksa.


Sifa mengedarkan pandangannya ke setiap sudut dan sepanjang dinding rumah mereka, ia baru menyadari kalau tidak ada satupun foto terpajang di sana termaksud foto dirinya.


"Tidak ada ayah". Jawab Sifa menggeleng pelan.


"Hanya ada kaligrafi gambar masjid dan Ka'bah saja". Lanjut Sifa.


"Iya, nak. Ayah sama bunda ingin agar malaikat rahmat suka bertandang ke rumah kita. Ayah pernah mendengar dari ceramah seorang ustadz bahwa malaikat rahmat tidak akan pernah masuk ke rumah orang yang di dalamnya ada gambar dan patung-patung makhluk yang bernyawa". Terang Arka memberi pengertian pada sang anak. Tangannya mengelus lembut kepala putri kecilnya itu.


Sifa yang sebelumnya menyimak penjelasan ayahnya dengan khusuk berpaling pada sang bunda meminta kepastian. Sang bunda yang mengerti keraguan putri semata wayangnya pun mengangguk dengan senyum tersungging.


"Kalau itu boleh, tidak apa-apa. Nanti ayah suruh om Irfan mencetak dan menatanya di sebuah album yang bagus." Arka mengabulkan permintaan Sifa, Tika juga tampak menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Albumnya bagian depannya bertuliskan Arka's Happy Family ya, ayah bunda!".


Arka dan Sifa mengangguk kaku senyum tertekan tercetak di bibir keduanya. Sedangkan Sifa sangat gembira, ia tidak menyadari setiap permintaan yang diutarakannya ibarat sayatan pisau belati yang mencabik-cabik hati dan jiwa ayah bundanya.


Hati sepasang insan yang sudah sepakat bercerai itu kian meradang. Rasa tak tega seringkali hadir menumbuhkan bibit-bibit keraguan yang justeru membuat batin keduanya bertambah lara dan tersiksa.

__ADS_1


Allahu Akbar Allahu Akbar


..............................................


Terdengar gema suara adzan menggaung dari masjid yang tidak jauh dari rumah mereka meluruhkan serta meredam gemuruh risau pada diri dua insan yang sedang diuji dengan kegelisahan dan rusuh hati itu.


Arka pun pamit pada anak istrinya untuk menunaikan shalat berjamaah. Ia beranjak hendak melangkah menuju pintu ketika Farhan menyembulkan tubuhnya dari balik pintu kamarnya dengan sajadah bertengger rapi di pundaknya. Adik ipar Arka itu mengikuti gerak kaki sang kakak ipar menuju masjid sambil berbincang-bincang banyak hal.


...****************...


Tengah malam Arka terbangun dari tidurnya. Tika terlihat pulas dalam rengkuhannya. Dipandangi wajah cantik wanita yang masih menjadi istrinya itu dengan mata berkaca-kaca. Kata-kata yang terlontar dari bibir anaknya tadi begitu mengguncang sanubarinya. Harapan polos anaknya yang tak mungkin dapat ia wujudkan membuat hatinya berkeping.


"Senyum kita bertiga memang bukan rekayasa, senyum itu tulus setulus jiwa-jiwa kita yang selalu ingin menikmati rasa bahagia. Maafkan ayah yang sudah terlalu serakah hingga mengorbankan senyum yang seharusnya selalu tersungging di bibir bunda dan Sifa. Ayah yang salah, sudah merenggut semuanya. Hanya tinggal menunggu waktu saja senyum itu tidak lagi sama. Senyum itu akan kehilangan karismanya seiring jalan berbeda yang harus ditempuh. Apa yang harus ayah jawab bila kelak Sifa bertanya mengapa senyum ayah tidak lagi untuk bunda. Senyum yang selalu membuat ayah menjadi seorang idola berkelana menembus batas asa?". Monolog Arka mengingat foto-foto kebersamaan mereka dengan pose mesra dan senyum ceria khas keluarga bahagia.


Arka membelai lembut mahkota Tika. Ingatannya kembali ke masa-masa awal pernikahan, rasa cintanya menguasai hati dan pikirannya. Rasa cintanya membuat hari-harinya diliputi keceriaan dan kegembiraan. Seharusnya ketika rasa itu menguar, ia semestinya berusaha terlebih dahulu menumbuhkan rasa cintanya lagi pada sang istri bukannya malah merasa bahwa berumah tangga dengan wanita yang tak dicintainya lagi itu menyakitkan dan sia-sia. Bagaimana bisa ia yang dahulu selalu lebih mengutamakan pujaan hatinya, kini menjadi kehilangan jati diri ketika rasa cinta telah berubah hambar. Seharusnya ia berjuang lebih keras lagi untuk meramu rempah-rempah pilihan agar cinta yang sudah berubah tawar menjadi terasa lebih nyaman kamar dan nagih. Seharusnya.... seharusnya....seharusnya. Kata-kata itu seolah beranak pinak tak terkendali menghakimi Arka.


"Maafkan ayah, bunda. Maafkan ayah". Gumam Arka, tergugu tanpa suara.


Arka mengecup kening Tika dan mengeratkan rengkuhannya. Meski getar-getar cinta tak lagi menelusup urat nadinya, tak lagi ada jantung yang berdetak seiring debaran asmara tapi rasa sayangnya masih terpatri kuat di lubuk hati yang paling dalam.


"Ayah berharap bahwa bunda tidak keberatan memenuhi permintaan terakhir ayah, sebelum lusa ayah benar-benar menjadi seorang mantan suami".Bisik Arka sedih ditelinga Tika.

__ADS_1


"Ayah mau minta apa?" Sahut Tika dengan masih memejamkan matanya.


Arka gelagapan, dahinya berkerut dan mata menyipit saat menyadari Tika masih nyaman dengan tidurnya, dengkuran halus terdengar mengalun lembut dari bibir wanita cantik itu.


__ADS_2