
Deg....
Deg...
Deg...
Hati Tika berdenyut nyeri mendengan keluh kesah putrinya. Ia larut dengan kesedihannya sehingga melupakan jika sang buah hati mungkin lebih terluka dan butuh perhatian khusus.
"Apa mungkin semuanya bersedih karena ayah pergi dan tidak akan kembali ke rumah ini lagi ya, bun?. Apa ayah kecewa pada Sifa,ya?. Tolong telepon ayah bun. Bilang pada ayah kalau Sifa akan jadi anak ayah yang nurut, mandiri dan tidak banyak permintaan. Bilang pada ayah kalau Sifa sangat sayang pada ayah". Lanjut Sifa dengan tangis sesenggukan.
Hati Tika kian mencelos, sebagai seorang ibu, ia sangat paham betapa takutnya putrinya. Putri kecilnya itu berpikir bahwa ayahnya pergi karena kemungkinan disebabkan prilakunya.
"Sifa, terkadang apa yang kita inginkankan dalam hidup ini tidak semuanya bisa kita miliki. Kita harus belajar mengikhlaskan apa yang kita miliki walaupun itu sangat berat. Nenek, om Farhan dan bunda sangat sangat mencintai ayah. Kami sedih karena harus merelakan ayah kerja ke luar kota sampai batas waktu yang belum diketahui. Jadi maafkan kami ya. Kalau kamu sampai lupa memperhatikan kamu, tapi yakinlah kami sangat mencintai dan menyayangi. Tidak ada maksud kami untuk tidak memperdulikan kamu, nak". Jawab Tika sambil membelai kepala putrinya dengan lembut.
Wanita yang juga masih berusaha menerima kenyataan takdir cintanya itu pun sebisa mungkin menahan arus air matanya yang memaksa untuk menerobos kelopak matanya yang sudah sembab. Ia tidak ingin membuat putrinya semakin bersedih karena melihat keterpurukannya. Ia merasa sangat bingung bagaimana ia akan menjelaskan pada putrinya tentang keadaan rumah tangganya itu. Tentang hubungannya dengan sang ayah yang tidak lagi sama, sekelebat rasa sesal memenuhi rongga hatinya, mengapa ia tidak sedikit pun mau berkorban untuk memendam duka laranya karena menyadari bahwa suaminya tidak mencintainya lagi. Seharusnya ia mengabaikan rasa sakit yang menggerogoti hatinya tanpa ampun itu dan mau menerima tawaran suaminya agar bisa memulai merajut hubungan mereka dari awal lagi, setidaknya demi sang buah hati. Tapi rasa takut dan bayang-bayang dikhianati lebih mendominasi hati, akal dan pikirannya sehingga ia pun memantapkan diri untuk tetap mengakhiri kehidupan rumah tangganya karena cintanya yang hanya bertepuk sebelah tangan. Hal ini ia lakukan bukan tanpa alasan. Mendengar pengakuan sang suami bahwa ia sudah tidak cinta lagi, dan mengungkapkan kalau rasa cinta yang ia punya telah terkikis habis saja, rasanya hatinya begitu sakit apalagi kalau sampai terjadi cinta suaminya itu telah beralih ke wanita lain padahal ia masih berstatus istri sahnya, tentu tak terbayang betapa terlukanya hatinya begitu juga hati putrinya yang sangat mencintai ayahnya itu. Tika tidak ingin laki-laki yang amat sangat ia cintai itu dibenci oleh putrinya karena ia sendiri tidak sanggup membenci ayah dari putrinya itu meski hatinya terluka.
"Sifa, gadis kecil mama harus bisa terbiasa jauh dari ayah. Tidak selamanya ayah akan bersama kita, nak. Ada kalanya ayah harus tinggal jauh dari Sifa agar hidup kita bisa selalu nyaman, sayang. Bunda tahu Sifa anak hebat kok. Pasti Sifa ngerti maksud bunda, kan?".Tika mulai menjelaskan kondisi keluarga mereka sedikit demi sedikit, berharap apa yang terjadi diantara ia dan suaminya tidak berimbas buruk pada sang buah hati.
Sifa bangkit dari pangkuan bundanya. Ia tatap wajah ibunya dengan sorot mata sendu namun terasa menusuk relung hati sang bunda.
__ADS_1
"Bun, ayah dan bunda tidak sedang marahan dengan ayah, kan?". Tanya gadis kecil bergamis biru itu dengan tatapan menelisik.
Sejenak Tika terpaku dengan pertanyaan putrinya itu. Ia merasa jika sorot mata putri semata wayangnya itu menyimpan sejuta kekhawatiran yang begitu mendalam.
"Tidak, ayah dan bunda tidak sedang marahan kok. Memang ada apa, nak. Kok Sifa bertanya seperti itu?". Tanya Tika dengan menyipitkan matanya dan mengernyitkan dahinya.
"Tadi saat mbok Sarmi mengajak Sifa bermain ke rumah Salsa, Intan juga berada di sana. Ia bercerita kalau ayah dan ibunya telah bercerai". Jawab Sifa dengan mata berkaca-kaca.
Hati Tika seketika seperti di silet-silet membentuk guratan-guratan luka memanjang yang ditaburi garam dan kemudian di kucuri perasaan jeruk nipis mendengar kata cerai dari putrinya.
"Bunda tahu apa jawaban Intan ketika Sifa tanya apa itu bercerai. Intan bilang bercerai artinya berpisah. Ayah intan bukan lagi suami ibunya Intan. Mereka harus pisah rumah, nggak bole satu kamar lagi, nggak boleh bersama-sama lagi. Harus hidup sendiri-sendiri, makanya Intan tinggal di rumah Salsa karena ayahnya harus pergi ke luar kota dan ibunya juga harus pergi bekerja sehingga tidak bisa selalu menemani Intan". Lanjut Sifa dengan sesenggukan.
"Sifa juga bertanya mengapa ayah dan ibu Intan harus bercerai. Intan bilang, ayah sering pergi kerja ke luar kota hingga ibunya Intan marah-marah dan akhirnya ayahnya pergi dan tidak kembali.lagi". Sifa melanjutkan ucapannya lagi.
Tika semakin tergugu. Hatinya semakin luluh lantak dan berkeping-keping, direngkuhnya sang buah hati dengan penuh rasa cinta dan perasaan yang sangat hancur.
"Maafkan ayah dan bunda Sifa. Maafkan kami"". Gumam Tika lirih.
"Ayah bunda tidak sedang marahan tapi mungkin ayah dan bunda akan bercerai tapi Sifa tidak usah khawatir ayah dan bunda akan selalu ada buat Sifa walaupun ayah bunda tidak tinggal bersama lagi. Kita akan baik-baik saja sayang". Ucap Tika sambil mengelus pucuk kepala putrinya dan menciumnya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
Keduanya berpelukan dengan begitu erat sembari menyalurkan kekuatan satu sama lain agar lebih tegar menghadapi kenyataan.
"Sekarang kita shalat dan tidur, ya?". Ajak Tika berusaha mengalihkan pembicaraan saat keduanya terlihat lebih tenang.
Sifa mengangguk dan meregangkan pelukannya. Ia kembali menatap lekat wajah cantik wanita yang amat dikasihinya itu hingga kedua bola mata indah mereka berdua beradu pandang.
"Ada apa, nak?".Tanya Tika berusaha memahami kegundahan anak gadisnya itu.
"Bun, bolehkah Sifa tidur dengan bunda?. Sifa ingin tidur dipeluk bunda". Tanya Sifa setelah terdiam cukup lama.
Tika tersenyum gemas pada gadis kecilnya itu sambil mengangguk senang.
"Tentu sayang. Bunda sangat senang kalau Sifa mau menemani bunda untuk malam ini". Jawab Tika sambil mengelus pipi dan hidung sang anak gadis.
"Terima kasih, Bun". Jawab Sifa berusaha untuk tersenyum.
Sebelum tidur keduanya pun menunaikan shalat Isya berjamaah, beruntung Tika memiliki mukena lebih dari satu di kamarnya.
Sesudah menyimpan mukena di atas nakas, Tika mengajak putrinya untuk makan malam tapi Sifa menolaknya, ia beralasan kalau ia tidak lapar. Tika pun tidak memaksa dan lebih memilih turun sendiri untuk menikmati makan malamnya yang sempat tertunda karena curhatan putrinya tadi.
__ADS_1