
Mobil melaju dalam senyap, Tika masih asyik menikmati hiruk pikuk jalanan dengan kebisuannya. Arka berusaha mencairkan suasana dengan mengajak berbicara, ia mengalihkan pembahasan seputar hal-hal yang menyenangkan bahkan mengajaknya bergurau, akan tetapi Tika kelihatannya masih enggan berdamai dengannya. wanita cantik itu tetap nyaman dalam bungkam seribu bahasa. Hal itu pada akhirnya membuat Arka menyerah. Ia tidak pernah berada pada posisi seperti ini. Selama Tika menjadi istrinya, Tika selalu ceria, canda tawa dan kemesraan. selalu mewarnai kebersamaan mereka. Ia tidak pernah ngambek, bahkan ia akan berucap renyah menyikapi hal-hal yang tidak disukainya.
Mobil berhenti di depan sebuah restoran mewah favorit Arka dan Tika. Arka terburu-buru keluar dari mobilnya setelah melepas sabuk pengamannya dan memastikan mobilnya telah terparkir dengan benar. Ia ingin bersikap romantis dengan membukakan pintu mobil untuk wanita yang coba di cintanya itu lagi. Tapi langkahnya tertahan, Tika keluar dari mobil mewahnya dengan menghempas pintu mobil sedikit keras sesaat sebelum Arka meraih gagang pintu mobil hingga tersentak, tidak menyangka jika kegusaran Tika masih berlanjut. Belum lagi terkumpul kesadarannya, Langkah Tika sudah melesat menuju pintu restoran. Arka pun mengusap wajahnya kasar, tergopoh-gopoh ia menyusul Tika dan memeluk pinggangnya mesra, Tika tidak menolak, ia terus melangkah dengan santainya. Arka sedikit tenang walau hatinya kalang kabut seperti angin ribut.
Tika mengangguk takzdim kearah para pengunjung wanita yang menatap akrab padanya. Ia mengulas senyum tipis, beramah tamah sepertinya mereka adalah pelanggan butik Tika. Arka melirik Tika dengan ekor matanya, rasa tenang menelusup relung hatinya. Ia bisa melihat ibu dari buah hatinya itu sudah seperti semula lagi, ramah, lembut dan ceria. Keduanya melangkah ke tempat duduk favorit mereka di pojok kanan dekat jendela yang masih kosong. Bak seorang pelayan, Arka menarik sebuah kursi dan mempersilahkan wanita berjilbab lebar itu duduk. Ucapan terima kasih terdengar begitu menenangkan hati pria yang perasaannya sedang tidak nyaman itu, bagai seorang yang menyodorkan segelas air saat tengah begitu kehausan, segar.
Seorang pelayan datang untuk menanyakan menu yang keduanya inginkan. Tika memesan kesukaannya dan Arka. Arka mengangguk saat Tika meminta persetujuannya.
"Maafkan ayah ya, bun? Ucap Arka pelan kala sang pelayan berlalu meninggalkan meja mereka.
Tangan laki-laki galau itu meremas tangan kanan Tika yang berada di atas meja. Tika menoleh, wanita berjilbab lebar itu menarik sudut bibirnya hingga tercipta lengkungan senyum manis yang menentramkan hati.
Wanita yang masih sah berstatus istri itu meletakkan tangan kirinya ditangan suaminya seraya mengangguk pasti.
"Maaf bunda selalu tersedia seluas samudra untuk ayah,makanya bunda nggak bisa benci ayah, tapi kalau lagi dongkol jadi khilaf deh, makanya bisa serem kayak tadi". Tika terkekeh begitu pula Arka.
__ADS_1
Arka hendak membuka mulutnya saat pelayan restoran membawakan menu pesanan mereka. Keduanya melepaskan tautan mereka dengan saling lirik merona.
"Nanti kita bicara lagi, sekarang kita eksekusi hidangan didepan kita sampai kandas supaya kuat beradu argumen". Ajak Tika sambil menarik turunkan alisnya menggoda Arka, Arka menanggapi dengan terkekeh kecil
Tika sengaja mencairkan suasana dengan berbagai cara agar Arka bisa serelax mungkin. Ia sadar badmood nya tadi sangat mempengaruhi kejiwaan suaminya yang memang sedang tidak bagus.
Dua orang yang sedang berbeda pendirian ini, menikmati sajian yang begitu menggiurkan, mereka menyantapnya menggunakan tangan yang bergerak lincah memindah nasi beserta lauk pauk serta lalapan yang disuguhkan ke mulut-mulut meraka yang tidak berhenti mengunyah menggiling makanan hingga tandas.
Tika terhenyak ketika tiba-tiba sebuah telapak tangan berisi penuh makanan menghampiri bibir Tika yang sedang mengunyah suapan terakhirnya. Matanya mengerling pemilik tangan itu dengan dahi berkerut serta wajah sedikit miring, mulutnya masih terkatup rapat.
Arka mengangguk, tangannya mengangsur lebih dekat, mengharap agar mulut istrinya itu segera menerima suapan dari tangannya.
Laksana terhipnotis, Tika membuka mulutnya menikmati suapan dari tangan lelaki yang sangat dipujanya itu. Setiap sentuhan lembut jari-jari tangan kekar sang suami ia maknai sebagai suatu hal yang sangat berarti. Mungkin ini adalah suapan terakhir yang akan menjadi kenangan tersendiri baginya.
Dalam hitungan detik makanan memenuhi mulut Tika. Ia mengunyah pelan sambil berpaling menyembunyikan rasa sedih yang kian membuncah, matanya memanas tapi ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan air asin yang hendak menyeruak dari sudut netranya.
__ADS_1
Arka tersenyum lebar setelah berhasil menyuapi Tika. Ia segera menyelesaikan makannya tanpa menyadari sang istri yang mengunyah makanan yang disukainya dengan muka mendung menahan tangis.
Tika beranjak dari duduknya, ia pamit ke toilet dengan suara serak. Arka menjawab dengan anggukan tanpa menoleh. Ia masih sibuk menghabiskan makanannya yang masih tersisa beberapa suap lagi.
Tika berjalan cepat ke toilet, tangisnya pecah ketika ia sudah berada di dalam toilet. Beruntungnya, toilet dalam keadaan sepi sehingga ia dengan leluasa meluapkan tangisnya. Ia tidak tahu apa yang sedang ditangisinya. Bila ia tidak ingin berpisah dengan Arka, Arka sudah menyatakan rela meneruskan mahligai rumah tangganya walaupun ia sudah tak cinta. Arka meminta kesempatan kedua dan akan belajar mencintainya lagi.
Ia ingin sekali mengiyakan permintaan Arka, bahkan sangat ingin rasanya memberi kesempatan kedua. Tapi, rasa takutnya membuatnya menolak dan enggan memberikan kesempatan untuk menghadirkan cinta di hati laki-laki yang masih sangat didambanya itu. Ia sangat takut Arka tertekan karena terpaksa harus melangkah dalam mahligai rumah tangga bersama dengan istri yang tak dicintai, ia was-was menjadi istri yang tak dicintai suami, terperangkap bergelimang cemburu yang menderu, ia takut dikhianati. Ia sungguh tidak pernah ingin berada diposisi berbagi suami atau bahkan diselingkuhi. Disatu sisi, ia terbelenggu rasa cintanya pada Arka, tak rela berpisah dengannya. Di sisi lain, rasa takut dikecewakan dan wasa-was hanya dianggap istri pajangan membuat air bah asin dari matanya mengucur deras.
Cukup lama Tika berjibaku dengan gejolak pikirannya yang semakin merajalela mengoyak-ngoyak prinsip dan keteguhannya. Berkali-kali ditariknya nafas dalam-dalam dan dihembuskannya secara perlahan, mengumpulkan beribu energi untuk membuat jiwanya lebih tentram dan gejolak otaknya lebih tenang. Dibasuhnya wajahnya berkali-kali untuk menghilangkan jejak air mata gambaran luka hatinya. Ia tidak mau Arka tahu kalau ia menangis karena rasa haru dan terluka muncul bersamaan kala tangan Arka terulur menyuapinya. Lalu dipoles wajah sedemikian rupa hingga bedak kesayangannya itu sempurna menutupi sembab akibat tangis yang tidak bisa ia kendalikan tadi.
Arka tersenyum menyambut kedatangan sang istri. Tika membalas senyumannya dan bersikap sewajar mungkin. Sebelum menghenyakkan bokongnya kembali, Tika meminta maaf karena terlalu lama di toilet. Arka mengangguk kecil.
"Bunda, apa bunda benar-benar tidak mau memberi ayah kesempatan kedua?". Arka bertanya dengan sedikit takut, khawatir Tika marah lagi.
Di luar dugaan Arka, Tika tersenyum yang dalam penglihatan Arka sangat manis dan menenangkan.
__ADS_1
" Bunda akan jujur pada ayah tentang suatu hal yang mungkin tak terpikirkan di benak ayah, tapi ini sangat penting". Ucap Tika tegas tanpa menjawab pertanyaan Arka yang sudah ia tanyakan entah berapa kali.
Arka menyipitkan matanya, ia sangat penasaran dengan apa yang akan diungkapkan oleh Tika padanya.