PETAKA PERCERAIAN

PETAKA PERCERAIAN
Sarapan Bersama


__ADS_3

"Assalamualaikum, Sifa. Ayo kita sarapan dulu sayang. Ayah bunda dan om Farhan sudah menunggu kita". Panggil bu Murni sambil mengetuk kamar Sifa.


"Wa'alikum salam, sebentar ya, nek". Jawab Sifa, tangan mungilnya membuka pintu perlahan.


"Sifa sedang apa?.Kok tumben mengurung diri di kamar?".Tanya Bu Murni sembari memicingkan mata.


"Bukan mengurung diri, nenek. Sifa sedang melihat-lihat foto liburan ke Palembang waktu itu lo, nek. Kan, fotonya sudah Sifa minta untuk dipindahkan ke iPad Sifa".Jelas Sifa.


"Ayo masuk, nek. Nenek pasti senang, foto dan pemandangannya bagus-bagus". ajak Sifa sedikit memaksa.


Tangan gadis kecil itu meraih jemari bu Murni dan menyeretnya masuk ke kamarnya. Melihat betapa antusiasnya sang cucu untuk memperlihatkan foto liburan mereka bertiga yang mereka ambil saat liburan di beberapa objek wisata yang cukup terkenal di Palembang itu. Mau tidak mau, Bu Murni mengikuti langkah kecil cucu tunggalnya itu. Sebenarnya ia enggan berlama-lama di kamar sang cucu karena perutnya sudah sangat lapar. Akan tetapi melihat binar kebahagian di mata cucunya ia menjadi tidak tega menolak keinginan bocah cilik itu. Ia tidak ingin bocah itu kecewa.


Sifa mengambil iPad kesayangannya yang ia letakan di meja belajarnya. Ia menyodorkan iparnya yang sudah terbuka kepada neneknya yang sudah duduk manis di sisi ranjang.


Mata Bu Murni membulat ketika menerima iPad dari tangan Sifa dan melihat betapa manis juga mesranya foto anak dan menantunya yang terpajang di iPad itu.


Sifa membantu neneknya menggeser layar untuk mengganti slidenya. Mulutnya tidak berhenti mengoceh untuk menjelaskan tempat serta momen-momen penting yang diabadikan di foto yang sedang mereka lihat. Sesekali sang nenek mengomentari penjelasan Sifa dan foto yang diperlihatkan.


Sejenak wanita yang sudah menjadi seorang nenek itu lupa dengan tujuannya datang ke kamar sang cucu dan rasa laparnya. Mata tuanya tidak bisa menyembunyikan rona bahagia yang menyembur berpadu padan dengan lengkung bibir yang membentuk seulas senyum yang terus melekat enggan tanggal walau sesaat.

__ADS_1


"Ibu, Sifa. Ayo kita sarapan mengapa kalian lama sekali, sih". Sorak Tika dari ruang makan.


Sontak Bu Murni dan Sifa pun tersentak, keduanya saling pandang kemudian serentak tertawa lebar.


"Ini gara-gara kamu, Fa. Nenek jadi lupa kalau mau ngajak kamu sarapan". Tegur bu Murni seraya tertawa renyah dan tangannya membelai kepala sang cucu.


"Maaf, nek". Jawab Sifa, tertawa nyengir.


"Ya sudah. Ayo kita ke meja makan. Nanti ibumu memanggil lagi". Jawab bu Murni.


Dua wanita beda generasi itu segera meninggalkan kamar setelah menyimpan iPad kesayangan Sifa. Di meja makan sudah tertata rapi menu sarapan yang beraneka ragam. Sifa dan Bu Murni pun segera menempati tempat duduk yang masih kosong. Mereka menikmati sarapan dengan sangat bahagia.


Farhan pun terlihat amat sangat bersemangat menyantap makanan di piringnya. Menu pilihannya adalah gulai ikan gurame tanpa kuah, pepes jeroan ayam dengan potongan tahu dan tempe, sambal teri Medan dan oseng kangkung campur teri. Ia sengaja hanya menambahkan secentong nasi untuk menu sarapannya, selebihnya ia banyak melahap lauk sayur perkedel kentang dan tempe goreng.


Sifa tidak mau kalah dengan ayah serta omnya. Ia mencicipi hampir semua menu yang tersedia di atas meja makan, meskipun masih kecil Sifa tergolong anak yang sangat menyukai citarasa pedas jadi tidak aneh kalau sarapan pagi ini benar-benar menggugah seleranya. Tika hanya menggeleng dan tersenyum simpul melihat hal itu.


Tika melirik piring milik bu Murni, di piring ibunya terdampar sepotong gulai ikan gurame, oseng sayur kangkung campur teri, dan sambal teri Medan. Untuk kuah gulai sengaja ditempatkan terpisah di mangkuk kecil. Tangannya dengan lihai mengayunkan sendok dengan lincah untuk memindahkan makanan yang tertata di piringnya ke mulutnya yang seolah selalu siap mengunyah tanpa bisa direm.


Tika menatap ke piringnya, ia sengaja mengambil gulai ikan gurame tidak dengan kuahnya, ia juga lebih tertarik pada sayur kangkung campur teri dan sambal hijau. Rasa menu masakannya pagi ini memang sangat enak, tetapi entah mengapa kerongkongannya seolah sulit sekali menelan makanan yang terlihat sangat menggugah selera itu. Sebisa mungkin ia berusaha menikmati hidangan yang telah ia masak bersama orang yang sampai saat ini masih sungguh dipujanya itu, walau dengan susah payah bahkan ikan gurame yang teramat nikmat di lidah orang lain itu, masih tergolek utuh di piringnya. Saat itulah sang mengangsurkan tangan yang penuh makanan di depan mulutnya. Tika tidak segera membuka mulutnya, ditatapnya Arka dengan sorot mata terluka namun senyum dan anggukan sang penebar pesona itu pun mampu memancing terbitnya senyum wanita dengan sejuta luka itu yang kemudian dengan sukacita membuka mulutnya.

__ADS_1


Farhan yang memergoki momen romantis itu pun terseyum kecil. Tertanam di kalbunya suatu saat ketika ia sudah menemukan jodohnya, akan ia perlakukan istrinya dengan lebih romantis dari yang dipertunjukkan kakaknya itu. Ia menggelengkan kepala juga tersenyum geli membayangkan hal tersebut benar-benar ia alami.


Kebersamaan yang begitu menyenangkan nan nampak sempurna dirasakan dan dilihat oleh bu Murni. Rasa syukur tak henti-hentinya bergaung di dalam hatinya menyaksikan kebahagian anak cucunya diusia senja seperti ini. Tika tersenyum melihat wajah teduh sang ibu, Rona sumringah terpancar jelas di wajah wanita berwajah teduh itu. Relung hatinya terasa tersayat sembilu, rasa sedih dan duka lara menyergap dari berbagai sudut hati dan jiwanya. Ia tidak tahu apakah wajah berseri-seri seperti yang ia lihat hari ini, masih bisa ia amati di hari esok saat Arka menjatuhkan talaknya.


"Terima kasih mas, mbak. Masakan kalian hari ini benar-benar jos, bolehlah Farhan ikut belajar masak supaya Farhan juga disayang istri". Komentar Farhan yang sudah menyelesaikan makannya.


"Boleh-boleh, nanti sekalian dikasih tips agar disayang istri, tapi sebaiknya segera akhiri masa jomblomu jadi tipsnya bisa langsung dipraktekan, iya kan, bun?." Jawab Arka tanpa dosa seraya menoleh Tika.


Tika mengangguk dengan senyum kecut membelit bibirnya. Kata-kata Arka seolah hanya biakan belaka sebab rasa sayangnya pada sang dambaan hatinya itu tidak lagi berarti apa-apa ketika ia tahu sudah tidak ada lagi cinta di hati laki-laki itu untuknya.


"Iya, Sifa juga suka masakan ayah dan bunda. Sayangi bunda terus ya, ayah. Jangan sakitin bunda". Pinta Sifa polos membuat Arka dan Tika yang sedang mengunyah suapan terakhirnya pun kompak tersedak.


Uhuk....uhuk.....uhuk....uhuk......


Arka dan Tika lekas mengulurkan tangan mereka meraih air putih yang sudah tersedia di hadapan mereka dan serentak meminumnya untuk meredakan tenggorokan mereka yang terasa sangat panas


"Kalian ini kenapa sih, tersedak kok bisa seia-sekata gitu". Omel bu Murni sambil menggelengkan kepala tidak habis pikir.


Arka dan Tika tidak menjawab, keduanya hanya beradu pandang dan tersenyum getir.

__ADS_1


Ting tong....Ting tong.... Ting tong


__ADS_2