PETAKA PERCERAIAN

PETAKA PERCERAIAN
Keromantisan Arka dan Tika


__ADS_3

"Hari ini kan kita sedang free semua, bagaimana kalau setelah shalat dhuhur kita memanen buah dan sayuran di kebun belakang kemudian kita bagikan ke para tetangga. Tadi aku sempat ngecek ke belakang sudah banyak buah dan sayur yang siap panen". Ucap Tika tiba-tiba.


"Iya, ibu setuju, jarang-jarang lo kita punya momen bersama seperti ini. Nak Irfan bisa tidak ikut gabung acara kita siang ini". Tanya bu Murni pada Irfan.


"Ya, bu bisa. Insyaallah hari ini saya juga free. Saya mau deh seru-seruan bareng kalian". Jawab Irfan senang.


"Baiklah, kita seru-seruan hari. Tapi jangan lupa siapkan makan siang dulu mbak biar aksi kita manjat memanjat pohon lebih bertenaga".Ucap Farhan melirik kakaknya yang tersenyum bahagia.


"Ih, ngapain harus manjat memanjat pohon sih, Han. Kan kita punya tangga dan pemetik buah. Jadi kita nggk perlu seperti Tarzan". Bantah Arka.


"Tapi, kalau langsung panjat pohonnya sepertinya seru banget tu, yah?". Celetuk Sifa sambil cekikikan.


"Oke, deal kita manen buah dan sayur bersama setelah makan siang dan shalat zhuhur". Ucap Tika menyudahi perdebatan.


Semuanya mengangguk tanda menyetujui apa yang disampaikan oleh Tika. Mereka pun kembali larut dalam gurauan dan obrolan hangat sambil menikmati aneka cemilan dan juga sop buah yang sungguh cocok dengan cuaca yang terasa terik. Perpaduan irisan aneka buah, susu, syrup dan air gula ditambah pula potongan ice cube terasa begitu segar ketika mendarat di lidah dan melintasi kerongkongan.


Suasana siang itu terasa begitu meriah, sejenak mereka melupakan semua masalah yang membelit kehidupan mereka masing-masing, celoteh Sifa menambah kesan yang tertanam pada hati mereka bahwa kebahagiaan itu bisa dihadirkan dari hal-hal kecil dan dimulai dari pikiran dan diri kita sendiri.


Allahu Akbar..... Allahu Akbar.....


Alunan merdu suara Adzan dhuhur berkumandang dari masjid yang berdiri kokoh tidak jauh dari rumah menghentikan keasyikan keluarga yang tengah larut dalam nuansa bahagia itu. Mereka membubarkan diri untuk menunaikan shalat dhuhur, para kaum laki berberhambur ke pintu dan melangkah kompak menuju masjid. Sedangkan para kaum perempuan melaksanakan dhuhur di rumah saja.

__ADS_1


Setelah selesai beribadah Tika melangkah menuju dapur untuk mempersiapkan makan siang dibantu oleh mbok Sarmi. Untuk makan siang ini, ia mengajak mbok Sarmi untuk memasak dengan menu kampung yang sangat sederhana, urap sayuran, sambal bawang, ikan gurame goreng, ayam goreng, dan tahu tempe goreng.


Tidak butuh waktu lama menu yang sudah selesai dimasak tertata rapi di meja makan. Beberapa saat kemudian semua orang sudah berkumpul dan sibuk menikmati hidangan yang tersaji di depan mata mereka. Sepertinya menu sederhana yang disajikan Tika dan mbok Sarmi sangat cocok dengan selera mereka, terlihat dari lahapnya mereka memindahkan isi piring mereka ke dalam perut.


Usai menyelesaikan makan siang, mereka bergerak mempersiapkan diri untuk melakukan kegiatan memanen sayur dan buah-buahan seperti yang sudah mereka sepakati tadi. Mbok Sarmi dan Tika membereskan meja makan dengan sigap, bu Murni dan Sifa menyiapkan keranjang buah dan segepok kantung plastik. Arka, Farhan dan Irfan bergegas ke belakang menyiapkan tangga, alat petik buah dan alat-alat lain yang mendukung aksi mereka dalam memanen buah dan sayur di kebun belakang.


Arka memilih memetik buah menggunakan tangga besi lipat yang bisa ditempatkan dan dipindahkan ke tempat mana pun yang diinginkan. Farhan memetik buah dengan cara memanjat seperti yang sudah direncanakannya, bak Tarzan ia berpindah dari satu dahan ke dahan yang lain untuk memetik buah yang sudah matang. Irfan memilih menggunakan alat pemetik buah berupa galah yang terbuat dari besi ringan yang ujungnya sudah dibuat sedemikian rupa sehingga buah yang akan dipetik tertampung di keranjang berbentuk kerucut setelah benda tajam berupa gunting berhasil memotong gagang buah yang dikendalikan melalui tombol yang tersedia di gagang galah.


Bu Murni dan Sifa sibuk menyambut buah yang telah berhasil dipetik dan memilah-milahnya, memisahkan gagang dengan buahnya dan mengemasnya dalam plastik kresek yang sudah disediakan.


Tidak butuh waktu lama, buah-buahan sudah memenuhi keranjang-keranjang yang telah dipersiapkan. Melihat hal itu Arka, Farhan dan Irfan kompak menghentikan aksi mereka memetik buah-buahan yang masih banyak bergelantungan di pohonnya. Mereka membantu Sifa dan bu Murni mengemas buah-buahan tersebut hingga siap untuk dibagikan kepada warga sekitarnya.


Tika dan mbok Sarmi keluar dari dalam rumah menghampiri mereka dengan membawa nampan yang berisi aneka cemilan dan es buah dalam toples besar.


Arka, Farhan, Irfan, bu Murni dan Sifa menghentikan aktivitasnya dan membersihkan tangan mereka di kran-kran yang tersedia dibeberapa tempat itu.


"Sifa tolong gelar tikar itu, nak". Suruh Tika pada Sifa seraya menunjuk tikar plastik bermotif bunga yang teronggok di teras belakang rumah.


Sifa mengangguk, bergegas mengambilnya dan menggelarnya. Mbok Sarmi terlihat gesit menuangkan sop buah ke dalam gelas-gelas besar, tanpa dikomando tangan-tangan mereka terulur menyerbu sop buah yang disajikan dan meneguknya, segar. Itulah yang dirasakan ketika minuman dingin itu melewati tenggorokan.


"Fan, nanti kamu pilih buah dan sayuran untukmu. Kemas di kardus ini, ya!". Ucap Tika sambil menyodorkan kardus ukuran sedang yang baru diambilnya.

__ADS_1


"Wah, terimakasih, bu. Siap laksanakan". Jawab Irfan, menerima kardus dan menghormat kocak hingga mengundang gelak tawa.


"Oke kalau begitu. Kalian istirahat saja, ya!. Aku akan memetik sayur mayur dulu". Jawab Tika.


Aku bantu ya, bun? Sifa menawarkan diri.


Setelah mendapat jawaban berupa anggukan, ia pun berlari dengan riang gembira menuju sisi kebun yang ditumbuhi aneka sayur.


"Aku juga bantu, ya?". Arka menawar diri, tangannya secara reflek meraih tangan Tika yang nampak terkejut dengan sentuhan kecil Arka tersebut. Sejurus kemudian Tika mengangguk dan tersenyum kaku.


Keduanya berjalan bergandengan tangan, mereka seperti sepasang kekasih yang sedang kasmaran, tak terlihat seperti pasangan yang sedang berada dalam ambang kehancuran. Irfan tersenyum penuh makna, ia berharap sahabatnya sudah kembali jatuh cinta pada wanita anggun berjilbab lebar yang masih bergelar istrinya itu.


"Ibu sangat bahagia melihat mereka terlihat begitu saling mencintai. Ibu sangat berharap keromantisan mereka ini menjadi pertanda akan hadirnya adik Sifa di rahim Tika". Ucap bu Murni penuh harap.


"Aamiin". Sahut Irfan dan Farhan bersamaan.


Ketiganya salin pandang dan mengulum senyum sukaria.


"Tapi saran saya, ibu jangan lupa doain juga Farhan agar cepat laku, bu. Kan nanti dapat cucu juga dari Farhan, jadi tambah ramai. Lagi pula kasihan dia, jiwa jomblonya pasti meronta-ronta melihat kemesraan kakaknya". Celetuk Irfan sambil melirik Farhan yang tersenyum kecut membuat bu Murni terkekeh.


"Oh ya, Fan. Ibu mau tanya. Arka ada perjalanan bisnis kemana, ya?. Kok dia menyiapkan koper besar seperti hendak bepergian dalam waktu yang lama". Tanya bu Murni dengan mimik muka serius.

__ADS_1


Irfan memicingkan matanya, tidak langsung menjawab, ia nampak bengong. Menurutnya ada yang aneh dari pertanyaan bu Murni itu. Di pandangnya lekat wajah perempuan yang sudah beranjak sepuh itu.


"Apa maksud ibu?. Saya benar-benar tidak mengerti?". Tanya Irfan bingung.


__ADS_2