
Arka terkejut melihat reaksi yang tak terduga ibu mertuanya. Ibu mertuanya itu memeluk erat tubuhnya setelah memberikannya dua tamparan yang lumayan membuat kepalanya berdenyut. Hati Arka semakin berdarah-darah menerima perlakuan ibu mertuanya. Saat ini, mertuanya itu mungkin teramat kecewa padanya. Bagaimana tidak, ia yang diharapkan bisa menjadi pelindung sekaligus imam yang mengambil alih tanggung jawab ayah Tika kini tanpa disangka-sangka berkehendak mengembalikan tanggung jawabnya kepangkuan dan bahu anak laki-lakinya.
"Astaghfirullah, nak Arka. Mengapa begini akhir dari rumah tangga anak ibu. Astaghfirullahal'adzim". Racau bu Murni sambil memukul dada Arka pelan.
"Maafkan Arka, bu". Ujar Arka pelan seraya memeluk erat tubuh sang ibu yang makin tersedu.
Rasa bersalah menggerogoti hati Arka kian dalam. Hatinya yang tersayat-sayat semakin terasa perih seolah dilumuri jeruk nipis dan ditaburi air garam.
"Duduklah dengan tenang, bu. Biar Tika bisa mengobati wajah ayahnya Sifa agar tidak semakin bengkak". Tika menepuk bahu ibunya perlahan. Sebaskom kecil air es dan handuk bersih berada di tangannya yang lain. Selain itu ia juga membawa selonjor tanaman lidah buaya yang baru dipetiknya. Bu Murni mengurai pelukannya dan beringsut kembali ke tempat duduknya. Arka masih mematung di tempatnya berdiri hingga suara Tika yang memintanya kembali duduk dan dengan cekatan Tika mengompres wajah Arka secara perlahan. Semuanya membisu, tidak ada yang bersuara. Hanya saja sesekali Arka nampak meringis menahan rasa sakit di wajahnya karena bogem mentah adik iparnya dan juga tamparan ibu mertuanya. Setelah wajah Arka terlihat lebih baik dan Arka tidak lagi merintih kesakitan, Tika menghentikan tindakannya mengompres Arka. Tangannya beralih pada daun lidah buaya yang tadi hanya di geletakkan di meja makan begitu saja. Dengan lincah tangan wanita berkulit putih itu mengupas daun lidah buaya sehingga tinggal dagingnya yang berwarna putih. Perlahan
daging lidah buaya itu disapukan ke wajah Arka secara merata. Hal ini dilakukan agar wajah sang suami tidak bengkak. Lidah buaya merupakan tanaman yang sangat banyak manfaatnya terutama untuk mencegah bengkak baik karena benturan atau karena insiden seperti yang dialami oleh Arka barusan.
Tika menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, kemudian membawa baskom berisi bekas air kompresan ke belakang. Semua yang berada di meja makan masih tidak ada yang bergeming, ketiganya seolah mendadak bisu terbawa alam pikirannya masing-masing.
"Sekarang semuanya sudah jelas, Tika dan ayah Sifa telah berakhir. Kami sudah sepakat kalau ayah Sifa yang akan mengajukan permohonan perceraian kami. Tika harap, baik ibu maupun Farhan tidak ada yang keberatan karena bersama atau berpisah Kamilah yang harus menanggung konsekuensinya". Tegas Tika memecah kesunyian sambil melangkah menuju tempat duduknya.
__ADS_1
Ketiga orang yang tengah membisu itu sejenak tersentak dan menatap Tika yang seolah menyikapi perceraiannya dengan tanpa beban.
"Bun, tolong beri ayah kesempa.....". Ucap Arka memelas dengan tangan yang menggenggam erat tangan istrinya namun ucapan itu terpotong oleh nada pelan tai tegas sang istri
"Maaf, yah". Potong Tika lirih nan tegas yang berhasil meluluhlantakan harapan Arka untuk memperbaiki rajutan kisah kasihnya bersama sang istri.
Bu Murni dan Farhan saling beradu pandang dengan dahi berkerut dan mata menyipit. Bu Murni menatap Farhan dengan isyarat penuh tanya tapi hanya mendapati gelengan kepala sebagai jawaban pertanda Farhan juga tidak paham dengan apa yang sebenarnya terjadi pada kedua orang yang berada di hadapan mereka.
"Maaf, bunda telpon mbok Sarmi dulu ya, yah. Agar Sifa dibawa pulang. Tolong jaga sikap kalian di depan Sifa, terutama ayah". Ujar Tika selanjutnya.
Perempuan cantik berjilbab lebar itu segera mengambi gawai dari saku gamisnya dan menelpon mbok Sarmi agar Sifa dibawa pulang karena ayahnya akan pamit pada putrinya Sifa.
Arka memejamkan matanya dan menghirup oksigen dengan rakus. Ia akan berusaha keras menjadi ayah yang baik walaupun sudah resmi bercerai dari ibunya Sifa.
Sambil menunggu Sifa, Tika menyibukan dirinya dengan membereskan meja makan dan membawa peralatan bekas makan mereka ke dapur. Ia benar-benar bisa menyembunyikan kegundahan hati serta rasa sakit yang teramat sangat karena harus merelakan sang suami untuk pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Farhan meninggalkan meja makan tanpa berkata apa-apa, begitupun dengan Bu Murni, lidahnya tidak berpamitan seperti biasanya ketika meninggalkan meja makan mengikuti langkah kaki anak laki-lakinya.
Sementara itu, Arka yang tercenung di meja makan mulai menyadari bahwa ia di sana sendirian. Bergegas ia membantu membawa sisa peralatan makan kotor yang masih tersisa di meja makan dan membawanya ke dapur dan meletakan di wastafel. Ia melihat sang istri sedang merapikan dapur yang sebenarnya sudah rapi. Ia tersenyum, lantas berinisiatif membantu mencuci piring kotor yang terkumpul di wastafel. Tika tidak mencegah ataupun menegur suaminya. Mereka melakukan pekerjaan mereka masing-masing tanpa saling berbicara walaupun sesekali mata mereka melirik satu sama lain bahkan sempat juga netra keduanya bertemu pandang.
Arka terlebih dulu menyelesaikan pekerjaannya, perkakas yang ia cuci sudah tertata rapi di rak piring di pojok dapur. Ia kemudian bersandar di sisi kitchen set sambil memandang sang istri yang tidak juga usai membersihkan dan merapikan dapur. Ada saja yang dikerjakannya dari mengelap setiap bagian dapur sampai menata ulang penempatan beberapa rak dan perabotan. Arka hanya bisa mendengus gemas tingkah laku istrinya
"Bun, tolong jangan benci ayah, ya. Apapun yang terjadi dengan hati ayah. Bunda adalah orang yang spesial untuk ayah. Nama bunda akan tetap bertahta di ruang tersendiri di hati ayah yang tidak akan terusik oleh siapapun, termasuk pengganti bunda kelak yang mungkin akan hadir menemani masa tua ayah". Pinta Arka penuh harap tanpa mengalihkan pandangannya.
Tika sontak menghentakan pekerjaannya, ia meringis mendengar ucapan sang suami yang sangat dicintainya. Hatinya hancur berkeping-keping berserakan, dadanya tiba-tiba terasa sesak, sangat sulit baginya menerima kenyataan suami yang sangat dipujanya ternyata sudah tidak memiliki gairah cinta lagi padanya. Hatinya sungguh terluka, luka yang sangat dalam tapi tak berdarah. Ingin rasanya ia meraung-raung mempertanyakan mengapa semua ini terjadi padahal ia sudah berusaha menjadi istri terbaik untuk suaminya.
Tika membalikkan badannya, menatap suaminya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, sejenak netra mereka bertemu pandang.
"Yah, bunda memilih melepaskan ayah karena bunda tidak ingin kita berpisah dengan diwarnai dengan kebencian meskipun hanya berupa percikannya saja. Bunda menghargai kejujuran ayah walaupun menyakitkan tapi itu menunjukkan bahwa ayah masih menimbang perasaan bunda dan tidak ingin bunda memendam sakit hati lebih dalam lagi. Maafkan bunda ya, yah belum jadi istri yan baik buat bunda". Jawab Tika dengan suara bergetar menahan gejolak hatinya yang sedang tidak baik-baik saja.
Arka tersenyum kecut, dengan perasaan campur aduk dengan sekali hentak ditariknya tubuh istrinya dalam pelukannya. Semakin lama aroma perpisahan dengan istrinya begitu terasa menyesakkan seolah ada yang mengganjal di saluran pernapasannya. Mendadak ada rasa tak rela berpisah dengan wanita yang sangat mencintainya itu. Namun apa hendak dikata ia tidak kuasa lagi mengembalikan hati yang telah hancur atas pengakuan hatinya untuk tetap utuh seperti semula, ibarat piring yang telah jatuh dari genggaman, itu akan hancur menjadi serpihan-serpihan kecil yang tidak mungkin bisa kembali utuh seperti semula.
__ADS_1
Tika hanya pasrah dengan apa yang dilakukan oleh sang suami karena saat ini tubuhnya masih menjadi hak lelaki pujaannya itu. Ia pun tidak bisa berbuat apa, bila memang cinta tak lagi ada untuknya. Ia sadar jika ia tidak akan baik-baik saja setelah kepergian orang yang sangat dicintainya itu, ia tidak akan pulih dari keterpurukannya dalam waktu yang singkat.
"Bunda, tidakkah bunda mau memeluk ayah?...peluk ayah juga dong". Bisik Arka tiba-tiba di telinga Tika dengan suara lirih, membuat wanita bergelar istri yang masih sah menjadi pendamping hidup Arka itu terkejut dan perlahan membalas pelukan suaminya sambil memejamkan mata seraya menghirup aroma lelaki yang sepertinya sulit untuk ia usir dari hatinya itu. Pasangan muda yang sebentar lagi berpisah itu pun saling mengeratkan dekapannya dengan sudut pikirannya masing-masing. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mendengarkan pembicaraan mereka dari balik dinding dapur dengan netra bersimbah air mata dan memegang erat dadanya yang tiba-tiba terasa sakit dan sesak. Dengan langkah tertatih sosok itu pergi meninggalkan tempatnya khawatir dua insan di dalam dapur menyadari kehadirannya dan dengan terpaksa ia pun mengurungkan niatnya untuk masuk ke dapur.