
Pagi ini setelah shalat subuh berjamaah di masjid Arka tidak menjumpai istrinya di kamar mereka. Ia pun menuruni tangga rumah mereka mencari keberadaan istri yang katanya sudah tidak dicintainya lagi itu di seluruh penjuru rumah. Langkahnya terhenti ketika netranya menangkap sosok yang dicarinya sedang sibuk memasak di dapur membelakanginya. Dilihat dari bahan-bahan yang dipersiapkan, Arka tahu kalau ia akan memasak menu-menu kesukaannya dan juga Sifa. Arka mendekati dapur, ia memberi isyarat dengan menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya pada mbok Sarmi untuk memintanya diam saat asisten rah tangganya itu hendak menyapanya. Arka juga memberi isyarat tanpa suara pada mbok Sarmi untuk meninggalkan dapur secara diam-diam. Paham akan maksud majikannya, mbok Sarmi berjalan tanpa suara meninggalkan majikannya di dapur hanya berdua saja.
Arka mendekati Tika dengan berjingkat dan mengendap-endap agar Tika tidak menyadari kehadirannya. Arka memeluk Tika dari belakang, mendaratkan sebuah ciuman dan meletakan kepalanya di ceruk leher ibu dari anaknya itu. Tika yang sedang mencuci sayuran di wastafel berjingkat dan reflek berucap istighfar berkali-kali sambil memegang dadanya yang berdegup kencang. Arka tertawa lebar dan memeluk Tika lebih erat, sekali lagi ia mencuri ciuman di pipi wanita yang sedang menata deru nafasnya itu. Tika mengerucutkan bibirnya, ia berusaha melepaskan diri dari kungkungan laki-laki yang katanya tidak lagi mencintainya itu. Bukannya terbebas, Arka justeru mempererat pelukannya dan terus menggodanya. Tidak dihiraukannya tangan lembut Tika yang berupaya memukul-mukul tubuh sang suami yang dengan gesit melenggak-lenggokan tubuhnya untuk menghindari serangan istrinya.
"Apaan sih,ayah. Tolong lepaskan, nanti ada yang lihat, kan malu. Apalagi kalau sampai terpergok Sifa". Ucap Tika mengingatkan.
Ucapan Tika seolah tidak didengar oleh Arka, tangannya bergerak dengan cepat mematikan keran wastafel yang masih mengalir deras, lalu memutar tubuh wanita yang tidak dapat berkutik selain mengikuti kemauan lelaki yang masih terikat perkawinan sah dengannya itu. Tika hendak membuka mulutnya dan komplain atas perlakuan Arka namun mulutnya sudah dibungkam bibir lelaki yang sedari tadi tidak mau melepas dirinya itu. Sesaat Tika terlena atas tindakan mesra suaminya, ia membalas setiap perlakuan yang ia terima dengan hangat. Keduanya terbuai sehingga lupa pada tempat dan situasi yang semestinya hal seperti itu tidak terjadi. Tapi kemudian Tika mendorong Arka dengan kuat ia menyadari satu hal, bahwa apapun yang dilakukan Arka saat ini adalah bentuk ucapan perpisahan karena lusa Arka resmi akan mengembalikannya pada ibu dan juga adik laki-lakinya yang berstatus walinya saat ini.
"Yah, tolong jangan lakukan hal seperti ini lagi pada bunda kalau hati ayah nggak lagi sama". Ucap Tika dengan mata berkaca-kaca.
Arka tertegun, ia sama sekali tidak bermaksud mempermainkan hati ibu dari anak gadisnyanya itu. Ia hanya ingin meninggalkan kesan bahwa kasih sayangnya tetap ada meskipun cintanya sudah luruh dari hatinya.
"Maafkan ayah, bun. Ayah hanya ingin kita berpisah dengan cara baik-baik saja. Dua hari ini kita lupakan kalau setelah ini kita bukan siapa-siapa lagi. Kita nikmati kebersamaan akhir pekan ini dengan lebih bermakna". Terang Arka panjang lebar sambil membantu menyeka air mata Tika yang terus bercucuran.
Tika menganggukkan kepalanya berusaha memahami keinginan terakhir ayah dari putrinya itu. Dengan susah payah ia hentikan laju air asin yang seolah enggan berakhir begitu saja. Arka tersenyum lega, dikecupnya mesra kening Tika. Arka pun kembali mengulurkan tangannya menghapus jejak air mata yang menganak sungai di pipi Tika. Tika tersenyum kecut, perlakuan Arka membuat dadanya berdenyut begitu menyakitkan. Tangannya bergerak menangkap tangan suaminya yang masih giat menyapu bekas deraian air matanya dan menciumnya takzim.
"Baiklah, Sekaran ayah tunggu makanan siap di meja makan, ya. Bunda mau memanggil mbok Sarmi untuk membantu bunda memasak agar cepat selesai". Tika melepas tangan Arka dan hendak berlalu. Akan tetapi Arka dengan tangkas mencegahnya.
"Tidak usah panggil mbok Sarmi. Pagi ini ayah ingin membantu bunda untuk menyiapkan sarapan yang spesial. Boleh". Rayu Arka sembari mengerling lucu untuk menarik perhatian Tika.
"Oke, sekarang ayah bantu blender bumbu-bumbu yang sudah bunda siapkan,ya! Itu blendernya ada di rak susun paling atas". Tunjuk Tika berusaha sebahagia mungkin.
__ADS_1
"Asiap". Sahut Arka dengan mengacungkan kedua jempolnya dan senyum yang melekat sempurna di bibirnya.
Tika menatap suaminya yang bergerak lincah melaksanakan tugas yang ia bebankan sesuai arahannya. Tersungging senyum dan doa tulus ia langitkan untuk laki-laki yang sedang asyik melakoni ritual yang biasa dilakukan oleh ibu rumah tangga itu. Ia mendoakannya agar kebahagiaan selalu dilimpahkan untuknya baik di dunia maupun diakhirat kelak. Tidak mau kepergok sedang memperhatikan, Tika menyiapkan semua bahan yang dibutuhkan. Menu yang ia persiapkan pagi ini adalah gulai ikan gurame, pepes jeroan ayam dengan potongan tahu dan tempe, oseng Kakung campur teri, sambal teri Medan, sambal hijau, dan dua lauk sederhana perkedel kentang dan tempe goreng.
Suami istri ini begitu menikmati momen kebersamaan mereka pagi itu, keduanya bekerjasama bahu membahu menyelesaikan masakan mereka dengan cekatan. Sesekali mereka saling usil dan juga menggoda sehingga tidak jarang keduanya tertawa cekikikan.
...****************...
Bu Murni menghempaskan bokongnya di sofa ruang keluarga, ia tersenyum bahagia bahkan sangat bahagia. Kalimat thayibah berupa hamdalah bertaburan tak terhitung dari bibirnya yang mengukir senyum tanpa jeda. Rasa bahagia tak terhingga saat ia memergoki anak dan menantunya bermesraan di dapur sehingga ia memilih untuk mengurungkan niatnya untuk masuk ke dapur. Ia memilih bersantai di ruang keluarga, memberi kesempatan kedua pasangan suami isteri itu untuk membangun chemistry of their quality time dengan harapan agar ikatan rumah tangga putrinya itu selalu rukun dan adem ayem.
Saat asyik dengan bercengkrama dengan pemikirannya, bu Murni melihat Farhan hendak menuju ke dapur.
Walaupun tidak mengerti, Farhan tetap patuh mengikuti langkah ibunya yang menyeretnya menuju sofa dan menghempaskan bokongnya di atas sofa.
"Bu, ada apa?". Tanya Farhan dengan jiwa kepo yang meronta-ronta.
"Di dapur sedang ada mbak dan masmu yang lagi bermesraan". Ujar bu Murni dengan wajah berbinar dan senyum yang melekat sedari tadi.
sejenak Farhan melongo. Hatinya yang selama ini was-was dan khawatir tentang keadaan rumah tangga kakaknya menjadi lebih tenang.
"Seperti tidak ada tempat yang lebih privasi lagi". Farhan berlagak protes , ia mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Bu Murni yang gemas dengan respon Farhan meremas bibir runcing Farhan saking geregetannya.
"Awas! jangan ganggu mereka, ya". Ancam Bu Murni memelototi Farhan.
Farhan terkekeh melihat ibunya begitu peduli pada kakaknya.
"Iya, bu. Iya".Ucap Farhan meyakinkan ibunya.
"Ibunya sangat bahagia, kekhawatiran kita selama ini ternyata tidak terbukti. Kedua kakakmu kelihatan begitu harmonis dan bahagia.
"Iya, bu. Farhan juga senang sekali. Semoga keluarga mereka selalu bahagia ya, bu!".Timpal Farhan dan diamini oleh bu Murni.
Keduanya semakin larut dalam percakapan yang topik utamanya adalah Tika dan Arka. Percakapan mereka berakhir ketika suara lembut Tika yang muncul dari balik pintu yang menghubungkan ruang makan dan ruang keluarga memanggil mereka berdua untuk sarapan.
Farhan mengikuti langkah kakak perempuannya menuju meja makan sedangkan Bu Murni memanggil Sifa yang masih di kamarnya, entah apa yang sedang dilakukannya di sana.
Saat Farhan tiba di meja makan ia melihat kakak iparnya yang masih menggunakan celemek sedang sibuk menata berbagai macam menu yang di atas meja dibantu sang istri tercinta, begitu pikirnya.
"Waw, jiwa jombloku meronta ingin segera menghalalkan anak gadis orang melihat pengantin lama laksana pengantin baru, lengket seperti perangko ha ha ha". Farhan tertawa lebar menggoda kedua kakaknya.
Tika dan Arka tersenyum hambar. Ada kegetiran yang tersembunyi dibalik senyum yang mereka sematkan.
__ADS_1