PETAKA PERCERAIAN

PETAKA PERCERAIAN
Pemberian Sifa untuk Ayahnya


__ADS_3

Arka dan Tika meninggalkan dapur setelah melalui drama yang rumit. Di ruang tamu mereka hanya mendapati Bu Murni yang masih terisak dengan wajah sembab. Farhan tidak kelihatan batang hidungnya, ia benar-benar merasa shock berat dengan kehidupan rumah tangga kakak perempuannya yang tidak sesuai dengan ekspektasinya, terlihat harmonis, romantis dan bahagia akan tetapi dibalik semua itu banyak hal menyakitkan yang tidak ia duga, bahkan ia sempat menyelipkan doa agar diberi kehidupan rumah tangga seperti kakaknya saat melihat kebersamaan mereka. Tapi ternyata semuanya hanya fatamorgana.


Langkah kaki sepasang manusia yang masih sah sebagai suami istri itu mendekati sang ibu, Arka berpamitan dengan mata berkaca-kaca. Ia sudah berusaha jujur kepada istrinya dan istrinya pun menerima dengan lapang dada kenyataan bahwa suaminya sudah tak lagi cinta, meski kemudian ia sesali namun istrinya tetap kekeh pada pendiriannya tidak sanggup untuk melanjutkan lagi rumah tangga dengan hanya memiliki raganya namun tidak dengan hatinya. Bu Marni memeluk menantunya dengan uraian air mata, sungguh sakit sekali hatinya melepaskan menantu yang sangat ia andalkan selama ini. Ia sangat menyayangi Arka seperti anak kandungnya sendiri terlebih ketika tahu bahwa ia tidak lagi memiliki orang tua lagi.


"Assalamualaikum"


"Assalamualaikum"


Terdengar salam beruntun dari suara yang sangat mereka kenal, mbok Sarmi dan Sifa. Mereka kembali setelah mendapat telepon dari Tika yang menyuruh mereka pulang. Semuanya kompak menjawab bersamaan dengan terurainya pelukan Arka pada sang mertua.


Gadis manis yang sudah dilatih berjilbab lebar sejak kecil itu berlari kecil dengan senyum andalannya menghampiri kedua orang tuanya yang sedang bersama neneknya.


Arka segera menyongsong anak perempuannya dan merengkuhnya begitu erat, air matanya kembali mengalir dari sudut matanya. Rasa sakit di ulu hatinya kian terasa, sungguh baru ia sadari bahwa perpisahan sesakit ini. Dan satu hal lagi yang kini menyengat sanubarin yakni tidak lagi bisa menemani anak perempuannya belajar membaca dan menulis serta menghapal Al-Qur'an juz 30 yang biasa mereka lakukan sebelum waktu shalat isya. Ia baru menginsafi ia lah yang sebenarnya egois hanya memikirkan hatinya saja tanpa memikirkan anaknya yang harus rela kehilangan kasih sayangnya secara sempurna.


"Kalau ayah tidak di rumah ini lagi, anak gadis ayah harus lebih patuh sama bunda, nenek dan om Farhan, ya!". Titah Arka pada putrinya.


Sifa mengangguk pelan namun netranya menatap ayahnya dengan sorot mata tajam dan sulit diartikan. Senyum yang menghias bibirnya seketika menghilang.


Arka semakin merasa terpojok melihat sorot mata anaknya yang tidak seperti biasanya. Ia berusaha mencairkan suasana dengan mencium kening dan mengusap kepala Sifa yang tertutup hijab dengan lembut.


"Memangnya ayah akan pergi berapa lama?. Mengapa seolah ayah akan pergi selamanya?. Apa ayah pergi untuk tidak kembali?". Pertanyaan beruntun meluncur dari mulut gadis kecil yang cerdas itu membuat semua yang mendengarnya sangat terkejut, terlebih yang ditanya, sang ayah.

__ADS_1


Arka tersenyum kecut dan menghela nafas pelan, ia berusaha mencari jawaban yang mungkin bisa diterima anak jenius dalam rengkuhannya itu sehingga tidak menimbulkan pertanyaan baru yang tentunya akan sulit baginya untuk menjawabnya.


"Ayah akan selalu ada buat Sifa , bunda, nenek dan om Farhan walaupun nanti ayah tidak ada di rumah ini. Tapi, ayah juga butuh bantuan Sifa. Tolong bantu om Farhan jaga bunda dan nenek, ya?". Jelas Arka berusaha berucap bijak.


Melihat Arka kewalahan menghadapi pertanyaan kritis putrinya, Tika kemudian mendekati keduanya.


"Sifa anak hebat, yah. Pasti gadis kecil kita ini bisa kok jaga amanah". Puji Tika pada putrinya.


"Kita doakan bersama, ya. Semoga perjalan hidup ayah barokah, begitu juga kehidupan kita dilimpahi banyak kebarokahan". Lanjut Tika seraya membelai kepala putrinya.


Arka, Bu Murni kompak mengaminkan doa Tika. Ada rasa haru di hati Arka melihat sebegitu tegarnya Tika menerima kenyataan bahwa hatinya tidak lagi sama dengan 6 tahun yang lalu saat ia melamar Tika pada ayahnya.


"Baiklah, sekarang sudah siang, waktunya ayah pergi. Jaga diri baik-baik, ya. Jangan lupa kabari ayah kalau ada apa-apa. Ayah mau ambil koper ayah dulu". Pamit Arka pada putrinya.


Arka menoleh pada wanita yang masih sah menjadi istrinya itu dan mengucapkan terima kasih dibalas anggukan dihiasi seulas senyum.


"Ayah tunggu sebentar, ya. Sifa mau kasih sesuatu pada ayah. Sifa ambil dulu, dari kamar Sifa". Ujar Sifa.


Tanpa menunggu jawaban ayahnya, Sifa meninggalkan kedua orang tuanya dan menghilang di balik pintu kamarnya yang tertutup rapat kembali.


Arka menatap Tika, namun wanita cantik berhijab lebar itu hanya mengangkat bahunya pertanda bahwa ia sendiri juga tidak paham dengan apa yang akan diberikan pada sang ayah. Begitu pun ketika pandangan sepasang suami istri ini beralih pada sang ibu. Sang ibu juga hanya membalas dengan gelengan kepala yang berarti beliau pun tidak tahu menahu akan hal tersebut.

__ADS_1


"Yah, sebelum pergi jangan lupa untuk menalak bunda seperti yang ayah katakan semalam walau tidak sesuai rencana karena Farhan sudah tidak ada di sini. Talaklah bunda di hadapan ibu saja. Silahkan, yah!, mumpung Sifa masih di kamarnya!". Pinta Tika membuat Arka mematung.


Bu Murni mengusap tengkuknya yang tiba-tiba meremang karena akan menjadi saksi perpisahan putrinya. Dadanya seketika berdebar-debar tidak karuan. Muncul rasa takut yang menelusup hingga membuat persediannya lunglai.


"Maaf, bun. Ayah belum bisa menalak bunda sekarang. Ayah akan menalak bunda ketika hakim sudah resmi mengetuk palu dan mengabulkan permohonan perceraian kita". Jawab Arka lirih.


"Mengapa, yah. Mengapa harus menunggu proses pengadilan dulu untuk menalakku. Bukankah lebih cepat lebih baik, yah?". Tanya Tika penasaran.


"Rasaku mungkin memang sudah hilang. Tapi melepas bunda ternyata bukan perkara yanf gampang. Ada banyak hati yang perlu dipersiapkan termasuk hati ayah sendiri".


Bu Murni bernafas lega, setidaknya putrinya belum menjadi janda dalam waktu dekat ini. Status yang sama sekali tidak pernah ia ingin dengar tersemat pada putrinya. Status yang akan membuat orang berpandangan buruk padanya apalagi status janda yang disandangnya karena dicerai oleh suaminya. Tentu saja orang-orang akan banyak yang beranggapan bahwa putrinya adalah seorang istri yang tidak becus menjaga suaminya sehingga suaminya meninggalkannya begitu saja.


Tika mendesah, ada sedikit rasa kecewa menelusup ke rongga hatinya yang tersakiti. Namun tidak ia pungkiri ia merasa bahagia di sisi hati yang lain. Bahagia karena sang suami masih mau mempertahankan status mereka dan menangguhkannya hingga keputusan pengadilan benar-benar mengabulkan permohonan perceraian yang nanti akan ia ajukan tanpa embel-embel terpaksa bertahan.


"Baiklah, semoga ayah bahagia dan menemuka wanita terbaik yang diinginkan hati ayah. Terima kasih karena ayah telah jujur bahwa hati ayah tidak lagi cinta. Pergilah! bunda merelakan ayah". Ucap Tika dengan senyum yang dibuat semanis mungkin akan tetapi sangat sarat kesan terpaksa di dalamnya.


"Aamiin begitu juga dengan bunda, maafkan ayah, ya?". Sahut Arka.


Arka masih ingin mengucapkan sesuatu pada istrinya tapi putrinya terlihat sudah berjalan ke arahnya. Senyumnya mengembang menyambut kedatangan putrinya yang dengan segera menyodorkan sebuah benda yang sanggup membuat dadanya bergejolak dan matanya memanas.


"Ini untuk ayah, Sifa harap ayah tidak lupa kalau bunda dan Sifa sangat mencintai ayah". Ucap Sifa dengan nada lembut tapi seolah palu Gada yang mampu meluluhlantakan keangkuhannya sebagai seorang ayah.

__ADS_1


Dengan memejamkan matanya diraihnya putri semata wayangnya itu dalam rengkuhannya. gadis kecil yang merupakan darah dagingnya itu membalas pelukan ayahnya dengan sangat erat.


Bu Murni dan Tika saling beradu pandang, mereka penasaran dengan benda yang sekarang berada di tangan Arka dan membuat raut wajah ayah Sifa itu diliputi rasa bersalah.


__ADS_2