
Tika mengantarkan Arka hingga sampai ke mobilnya. Sedangkan Bu Murni hanya mampu melepaskan kepergian menantunya dengan derai air mata yang semakin tidak terbendung lagi. Hatinya begitu sakit menerima kenyataan ini, masih tertanam dalam otaknya rasa tidak percaya bila ini perpisahan benar-benar terjadi pada putrinya.
"Yah, bunda memilih melepaskan ayah karena bunda tidak ingin kita berpisah dengan diwarnai dengan kebencian meskipun hanya berupa percikannya saja. Bunda menghargai kejujuran ayah walaupun menyakitkan tapi itu menunjukkan bahwa ayah masih menimbang perasaan bunda dan tidak ingin bunda memendam sakit hati lebih dalam lagi. Maafkan bunda ya, yah belum jadi istri yan baik buat bunda". Ucapan Tika yang ia dengar saat ia hendak ke dapur pagi tadi terngiang-ngiang di telinganya. Kejujuran yang menyakitkan seperti apa yang telah diungkapkan sang menantu sehingga istrinya begitu kecewa dan berujung perceraian. Hati wanita paruh baya itu terus bertanya-tanya tanpa bisa menemukan jawaban atas pertanyaan yang bermunculan di otak tuanya itu. Ia hanya bisa menghela nafas pelan, beristighfar dan memejamkan mata rapat-rapat berharap apa yang sudah diputuskan anak dan menantunya itu adalah jalan yang terbaik dan tidak mereka sesali dikemudian hari.
Arka berjongkok mensejajari putrinya, ia berusaha keras untuk tidak menangis lagi di depan putrinya. Ia tersenyum pada Putrinya dan membelai lembut kepala gadis kecil berhijab itu.
"Putri ayah adalah anak yang hebat, harus rajin belajar. Jadilah seorang perempuan yang berilmu dan berakhlak. Jangan merepotkan bunda, nenek dan om Farhan. Ayah sangat sayang pada Sifa tapi ayah mohon maaf. Ayah harus pergi. Apapun yang terjadi nanti Sifa harus ingat bahwa ayah sangat mencintai Sifa". Terang Arka dengan beberapa kali menghela nafasnya.
Putri kecilnya itu hanya menjawab anggukan dan juga senyum riangnya. Dengan manja ia merangsek memeluk ayahnya. Sang ayah pun membalas pelukan putrinya dengan sangat erat, hingga beberapa saat kemudian ia bangkit dengan Sifa dalam gendongannya.
Tika mematung melihat adegan dramatis di hadapannya dengan mata memanas, ia berusaha melekuk senyum ketika suami dan anaknya itu menoleh ke arahnya. Dan tanpa ia duga tangan kekar suaminya pun menarik tubuhnya dalam rengkuhannya. Walaupun terkejut, untuk kesekian kalinya Tika hanya mampu untuk patuh saja pada kemauan Arka untuk berpelukan bertiga. Mereka berpelukan tanpa cucuran air mata, ketiganya saling melempar senyum bahagia seolah tidak terjadi apa-apa. Dalam momen tersebut tanpa sepengetahuan Tika, Arka mengecup pipi dan kening istrinya kemudian beralih pada dahi dan pipi putri semata wayangnya. Hal ini membuat Tika tersentak dan reflek melepaskan diri dari rengkuhan suaminya.
__ADS_1
"Maaf, bun". Ujar Arka ketika ia menyadari akan tindakannya.
"Tidak apa-apa, yah. Masih ada hak ayah di sana. Bunda yang minta maaf karena bereaksi berlebihan seperti tadi. Bunda kaget, yah". Sahut Tika tertunduk malu.
"Ya sudah, ayah segera berangkat, ya. Ayo, Sifa turun dulu, dong". Pinta Tika.
Sifa mengangguk patuh. Arka pun menurunkan Sifa dari dukungannya. Laki-laki itu membelai kepala putrinya dan mengecup Keningnya sekali lagi.
Arka mencium kening putrinya sekali lagi dan menoleh ke arah istrinya.
"Ayah pergi, bun. Jaga diri baik-baik dan titip anak kita, ya. Untuk kesekian kalinya maafkan ayah ya?". Ucap Arka pada istrinya. Ditepuknya pundak wanita yang pernah menjadi ratu di hatinya itu dengan senyum getir dan perasaan yang tidak menentu. Tika hanya mematung bahkan untuk mengangguk saja lehernya terasa kaku. Arka berbalik menuju mobilnya tanpa menunggu jawaban Tika. Ia merasa berat meninggalkan wanita yang sudah mengabdikan dirinya selama enam tahun itu. Tapi apa yang hendak dikata, Tika bahkan tidak mau memberinya ruang untuk memperbaiki segalanya. Kini ia bagaikan berada di antara tebing yang licin dan jurang yang dalam. Semua memiliki faktor resiko yang sama besarnya.
__ADS_1
"Yah!". Sebuah panggilan dari ibu anaknya sontak menghentikan langkah kaki Arka. Tangannya yang sudah terulur hendak meraih gagang pintu mobil pun terhenti. Arka menoleh dan betapa kagetnya ia, ketika wanita yang beberapa saat terakhir ini enggan membalas pelukannya itu, sudah memeluk erat dirinya dengan berlinang air mata.
"Ayah jaga diri baik-baik, ya. Karena hati ayah sudah tak mau lagi. Bunda relakan ayah pergi. Bila kelak ayah sudah menemukan pengganti bunda jangan lupa untuk memperkenalkan pada kami karena bagaimanapun, wanita pilihan ayah tersebut juga akan menjadi ibu Sifa. Jangan khawatir bunda tidak akan ikut campur dalam perkara tersebut. Maafkan, bunda yang selama ini terlalu mencintai ayah". Ucap Arka di sela-sela Isak tangisnya. Tika mengurau pelukannya, mengecup pipi suaminya membuat sang pemilik pipi itu terkesiap. Tika menyodorkan tangannya namun Arka masih saja diam mematung karena ia masih terkejut dengan apa yang dilakukan istrinya terlebih ucapannnya hingga Tika pun mengambil tangan kanan suaminya danmencium punggung tangannya dengan takdzim kemudian mendekati putrinya yang masih berdiri memperhatikan kedua orang tuanya saling merelakan dengan wajah sendo
Setelah bisa mengendalikan keadaan, Arka melambaikan tangan kepada istri dan anaknya kemudian masuk dan duduk di kursi kemudi.. Dibukanya kaca jendela mobilnya untuk melihat istrinya sebelum ia berlalu pergi. Ditatapnya lekat dua wajah wanita beda generasi yang yang sangat mencintainya itu. Ada rasa bersalah bercampur dengan rasa lega memenuhi sudut hatinya. Rasa bersalah karena ia lah penyebab hancurnya bahtera rumah tangga yang sudah dibinanya bertahun-tahun itu. Dan di sudut lain rasa lega karena setidaknya ia sudah berusaha jujur tentang rasa yang ia miliki hingga tidak membuat Tika merasa dibohongi. Ketika ia meminta untuk diberi kesempatan kedua sebenarnya ia sendiri pun ragu, mampukah ia menyemai kembali rasa cinta untuk ibu dari putri semata wayangnya itu. Seandainya saja Tika masih memberinya kesempatan kedua untuknya, sebagai lelaki ia pun telah bertekad untuk menjaga keutuhan jalinan kisah kasih diantara mereka meskipun harus mengorbankan hatinya, tapi nyatanya wanita yang mengaku masih sangat mencintainya itu tidak mau menjalin mahligai rumah tangga dengan hanya memiliki raganya tidak dengan hatinya karena menurutnya wanita adalah makhluk paling cemburu ia takut rasa cemburunya bisa membuatnya tidak bisa menjaga 'kewarasannya' sebagai seorang istri yang sangat mencintai suaminya. Memang tidak berlebihan sih pola pikir wanita yang sebentar lagi ia kandaskan itu. Faktanya ia sering melihat wanita bergelar seorang istri sekaligus ibu yang berbuat hal di luar nalar sebagai seorang yang berhati lemah lembut seperti yang beredar di media sosial beberapa tahun terakhir. Ada seorang istri yang tega memotong 'burung' suaminya karena sang suami meminta izin untuk menikah lagi. Ada juga yang tega membakar hidup-hidup suaminya yang sedang tertidur bahkan ada yang dengan entengnya meracuni anak serta dirinya sendiri karena merasa sang suaminya tidak lagi setia sedang dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.
Arka mendesah dan menghela nafasnya kasar. Menganggukkan kepalanya dan melambaikan tangannya dengan senyum yang dipaksakan. Kemudian menghidupkan mobil dan membunyikan klakson mobilnya dua kali. Setelah itu, mobil lelaki yang memilih kehidupan sebagai seorang duda itu bergerak meninggalkan rumah yang telah menjadi saksi kisah keluarga kecilnya enam tahun terakhirnya itu. Membunyikan klakson untuk kesekian kalinya sebagai bentuk pamitan pada sosok pak Sarma yang sudah sangat setia menjadi penjaga rumahnya. Laki-laki setengah baya itu menganggukkan kepala ketika majikannya itu membuka melongok dari jendela mobilnya untuk menyapa. Mobil pun melaju ke jalan raya dengan kecepatan sedang. Dada Arka terasa semakin sesak, matanya kembali memanas hingga bulir-bulir bening bergulir tanpa malu.
Tika dan putrinya menatap nanar mobil laki-laki yang begitu berarti bagi hidup mereka hingga hilang dari pandangan mata. Sifa menghapus sisa air matanya kemudian menggenggam erat tangan sang bunda, Tika menoleh pada putrinya, melekuk senyum manis dan menghapus air mata yang masih saja enggan untuk berhenti meluncur.
"Ayo masuk, bun". Ajak Sifa pada wanita yang melahirkannya itu.
__ADS_1
Tika mengangguk dan menggandeng putrinya untuk masuk ke dalam rumah.