
Pertanyaan bu Murni masih terngiang-ngiang di telinga Irfan. Ia sama sekali tidak bisa memahami pertanyaan bu Murni kalau Arka mempersiapkan sebuah koper besar untuk suatu perjalanan. Proyek mereka yang di luar kota semuanya sudah beres tinggal peresmian saja, itu pun tidak dilaksanakan dalam waktu dekat. Kepala Irfan terasa berdenyut, apa perpisahan diantara kedua sahabatnya itu benar-benar akan terjadi, ia sungguh tidak habis pikir. Tetapi bila ditinjau dari kemesraan yang ia lihat sepanjang ia berkunjung ke rumah bosnya itu tadi tidak ada gelagat bahwa hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja. Itu artinya hubungan mereka memang tidak bermasalah. Arka dan Tika terlihat sangat menikmati kebersamaan mereka bahkan beberapa kali ia mendapati keduanya bersikap mesra. Apalagi saat memetik sayuran dan membagikannya pada tetangga sekitar rumah mereka, ayah ibu dan anak mereka yang ayu nampak begitu kompak. Itu juga tergambar dengan jelas pada foto-foto liburan mereka di beberapa tempat wisata di kota Palembang yang menyiratkan betapa harmonis dan bahagianya keluarga bosnya itu.
Irfan menghembuskan nafasnya kasar. Memijit pelipisnya dan memukul kemudi roda kemudi dengan sedikit keras. Mobil yang dikendarainya sudah memasuki pemukiman elit tempat tinggalnya. Mobil itu berjalan lambat seiring dengan gejolak pikiran pengemudinya yang sepertinya sudah bisa dikendalikan dan mulai mengendur.
"Huh ..Semoga hubungan mereka baik-baik saja. Sayang kalau keluarga seharmonis itu harus kandas kisah rumah tangganya". Batin Irfan.
Mobil pemuda tampan itu berhenti di halaman sebuah rumah mewah minimalis berlantai dua. Rumah yang dibeli dari hasil keringatnya sendiri yang ia harapkan bisa menjadi istana bagi keluarga kecil yang kelak dibinanya.
...***************...
POV. Tika
Malam ini, Hal rutin yang selalu aku dan ayah Sifa lakukan adalah menemaninya belajar dan mengaji. Kami berusaha mempersiapkan diri putri kami untuk memasuki dunia pendidikan pada tahun ajaran yang akan datang. Selepas menemani Sifa belajar seperti biasa, ayah Sifa pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat isya berjamaah bersama Farhan, adik laki-lakiku. setelah keduanya pergi, aku bergegas membantu anakku membereskan buku dan pensilnya dan menidurkan putriku itu dengan membacakan sebuah dongeng. Belum selesai aku mendongeng gadis mungil penurut yang menggemas itu sudah lelap terbuai dalam mimpi indahnya. Aku memilih masuk kamarku di lantai atas. Ayah Sifa belum kelihatan batang hidungnya, mungkin ia belum pulang dari masjid, Saat aku melewati ruang keluarga, aku tidak melihat ayah Sifa atau ibuku. Mungkin suamiku itu belum pulang dari masjid atau mungkin sudah di kamar. Untuk ibu, beliau bilang mau tidur lebih awal supaya tidak terlambat bangun sahur, beliau memang rajin puasa sunah Senin kamis. Aku hanya melihat Farhan sedang asyik tersenyum-senyum sendiri sambil tangannya sibuk membolak-balik lembaran-lembaran yang ternyata adalah Album foto yang pembuatannya diprakarsai oleh putri tunggalku, Sifa. Anakku itu benar-benar membuatku gemas, saat aku berupaya sekuat tenaga melepaskan ayahnya yang sudah memporak-porandakan jiwa ragaku dengan memupuk rasa ikhlas yang ku kumpulkan sedikit demi sedikit tapi ia malah dengan entengnya menorehkan kenangan manis yang tersusun rapi di album foto yang saat ini sedang dilihat-lihat oleh pamannya itu. Dan tentu saja satu hal lagi, aku harus mempersiapkan mentalku bila suatu saat nanti album itu menjadi pengorek lukaku yang paling ampuh. Aku tidak bisa berbuat banyak hanya mengedikan bahu dan menggelengkan kepala. Aku hendak melangkah me
__ADS_1
Aku berdiri di balkon kamarku menikmati suasana malam yang menurutku begitu syahdu. Malam ini adalah malam terakhirku menyandang status sebagai seorang istri karena bila sesuai rencana besok pagi Arka akan menyerahkan tanggungjawab atas diriku pada ibuku dan Farhan sebagai waliku. Rasanya aku ingin tertawa terbahak, ternyata rasa cintaku dan pengabdianku sebagai seorang istri masih belum menjamin cinta suamiku bisa semakin kuat padaku. Mengingat ucapannya saat mengatakan bahwa cintanya sudah terkikis dari hatinya, hatiku benar-benar tercabik-cabik sebab sosoknya telah merajai hatiku bahkan seluruh persendianku. Aku begitu syok hingga sesaat aku terkapar dan akhirnya masuk rumah sakit. Hatiku sungguh terluka, aku berusaha mengiklaskan pelayaran bahtera rumah tanggaku kandas karena nakhodanya sudah tidak lagi sejalan, kami beda rasa dan pemikiran. Rasa cintaku pada sang nakhoda membuatku sangat menikmati pelayaran ini, kucurahkan seluruh kemampuanku agar pelayaran ini terasa nyaman. Ku bantu nakhodaku agar selalu mampu menghadapi gulungan ombak yang siap menghadang dengan kasih sayang dan kesetiaan. Tak kuhiraukan letih yang terkadang datang menikam menuntut sebuah pengorbanan, ku pastikan bahteraku bersih tanpa noktah noda yang bergelimang. Senyumku mengembang, pikirku inilah pelayaran impian. Nakhodaku pawai dan memastikan bila bahtera ini akan selamat sampai tujuan. Tapi kenyataan melibas semua impian dan harapan rasanya padaku telah hilang, entah sejak kapan, yang ku tahu nakhodaku tak sanggup lagi mengantarku, ia akan pergi meninggalku di tengah lautan dan meninggalkan berjuta-juta kenangan.
Aku mendesah pelan, tanganku yang bertumpu di pagar pembatas balkon mencengkeramnya erat. Sebenarnya sudah beberapa kali ayah Sifa memintaku untuk tetap melanjutkan kisah kehidupan rumah tangga kami tapi aku menolaknya. Bukan aku tidak lagi cinta atau bersikap menjadijadi ibu yang egois, bukan. Tapi aku rasanya tidak akan sanggup lagi bila harus mengecap kekecewaan dan luka hati yang lebih dalam. Untuk Sifa, aku yakin perpisahanku dengan cara baik-baik akan lebih bagus untuk perkembangannya daripada kelak harus dihadapkan pada perpisahan akibat ayahnya telah bertemu dengan orang yang bisa menggetarkan hatinya, membenci ayahnya karena menganggapnya telah menyakiti hatiku. Toh, ayah Sifa sudah menyiapkan materi yang cukup untuk menjamin masa depan putri kami itu. Untuk masalah kasih sayang, aku juga tidak perlu khawatir dan ragu, ia sangat menyayangi putrinya itu, melebihi rasa sayangku pada gadis kecil itu. Tentu ia akan punya cara tersendiri untuk menyalurkan rasa cintanya pada anak semata wayang kami itu.
Malam semakin larut tapi aku masih betah menikmati indahnya malam ditemani bintang-bintang yang seolah dengan sukacita rela menemaniku yang sedang dilanda gundah gulana. Mereka seolah menghiburku dan berucap bahwa kehilangan seseorang yang amat dicintai tidak akan menyebabkan duniaku berakhir. Allah akan mengirimkan lagi banyak cinta untukku.
Aku masih asyik berkelana dengan suara hati dan beban pikiran yang menguasai otakku saat aku dikejutkan oleh sebuah tangan kekar menelusup lewat sisi tubuhku, memelukku erat dan meletakkan kepalanya di sela-sela ceruk leherku. Meski terkejut aku tidak menolak karena aku tahu ia adalah suamiku, ayah Sifa. Hidungku sudah sangat familiar dengan parfum dan khas bau badannya yang sudah menemaniku 6 tahun terakhir pun sudah ku hapal. Tidak ada kata terucap dari bibirnya, sedangkan aku masih begitu menikmati hangatnya pelukan pria yang sampai saat ini masih menjadi pujaan hatiku. Ku pejamkan mataku, berharap waktu berhenti saat itu juga. Suamiku itu membalikkan tubuhku tanpa melepaskan pelukannya, sesaat pandangan mata kami bertaut, ada tatapan sendu penuh luka di sana. Entahlah, aku benar-benar tidak mengerti mengapa sorot mata terluka itu masih tetap bertengger di sana padahal aku sudah menyetujui keinginannya untuk berpisah dengannya. Meski berat aku harus merelakan kisah cintaku dan suami itu berakhir esok hari ketika talak dijatuhkan padaku.
Tanpa aba-aba suamiku itu menautkan bibirnya ke bibirku, ********** dengan lembut dan penuh gairah. Aku hanya diam menikmati, sengaja aku tak membalasnya karena aku tidak mau terlalu larut dalam gelombang kemesraan yang dua hari ini selalu diperlakukan padaku. setelah hari sebelumnya kami meluangkan waktu untuk masak bersama, makan bersama, memetik buah dan sayur bersama serta berbagi buah dan sayur dengan para tetangga pun bersama. Tadi pagi sampai sore kami juga menghabiskan waktu bersama.
Redupnya matahari yang seolah bersahabat membuat kami tidak menyadari bahwa pagi sudah berakhir dan kini beranjak siang. Tepat jam 11 kami tiba di rumah, membersihkan diri dan beristirahat Rahat melepas penat. Setelah makan siang dan shalat dhuhur, ayah Sifa mengajak aku dan Sifa berbelanja ke mall dan tempat bermain anak-anak. Suamiku itu benar-benar memanjakan kami berdua, kami mengakhiri akhir pekan ini dengan makan di sebuah restoran siap saji. Gambaran keluarga kecil idaman, mungkin itu yang disematkan oleh orang-orang yang melihat keromantisan kami bertiga. Tanpa mereka tahu, keluarga yang mereka puji-puji itu adalah keluarga yang dalam hitungan detik akan menjadi keluarga berantakan. Hm sungguh miris sekali. Semiris senyum dan hatiku yang tidak seirama.
Ayah Sifa menghentikan pagutannya ketika isakan kecil lolos begitu saja tanpa bisa dicegah.
__ADS_1
"Maafkan ayah, bun". Ucap Ayah Sifa lirih nyaris tak terdengar.
Tangannya terulur mengusap pipiku yang sudah basah oleh genangan air mata. Ku pegang tangannya dan ku kecup pelan telapak tangannya. Aku menggelengkan kepala. Air mataku mengalir semakin deras, sederas hujan yang tiba-tiba turun seolah ikut berdukacita akan nasib yang kini menimpaku, mencintai seorang suami yang jelas-jelas sudah tidak punya rasa lagi padaku.
Ku lihat mata ayah Sifa memerah dengan susah payah ia berusaha untuk tidak menangis, tapi pertahanannya akhirnya jebol juga, ia tidak bisa menahan laju air mata yang memaksa keluar. Ayah Sifa membawa tubuhku ke dalam rengkuhannya
Seiring isak tangis yang bersahutan dengan isak tangisku, juga isak tangis alam menjadikan suasana malam yang tadinya terasa syahdu berubah menjadi pilu.
"Maafkan ayah, bun".
"Maafkan ayah".
"Maafkan ayah".
__ADS_1
"Maafkan ayah, bun". Ucap ayah Sifa lagi
Aku sekali lagi menggelengkan kepala dalam dekapannya. Hingga kudengar isak tangisnya yang semakin menggelegar tanpa rasa sungkan dan malu. Pelukannya pun semakin erat. Sebenarnya, aku tidak paham mengapa ia menangis seperti itu, sungguh sangat aneh menurutku, harusnya ia senang bukan?. Tak perlu lagi hidup satu atap dengan seorang istri yang tidak dicintainya lagi. Apakah ia sesedih itu untuk menyematkan status janda padaku besok seperti yang sudah ia ucapkan.