
Pagi harinya citra benar-benar kebingungan karena youna masih belum bisa datang kerumahnya "ya tuhan gimana ini kak Youna ibunya masih sakit, terus Rio sama siapa dong"
Sebenarnya rencana citra sebelumnya adalah menitipkan Rio ketempat penitipan anak, agar dia tetap bisa berangkat kerja dan saat citra pulang kerja dirinya akan menjemput Rio disana.
Namun, karena ucapan Adit tadi malam citra jadi berfikir ulang untuk menitipkan Rio ditempat penitipan anak, entah ada apa dengan dirinya, bisa-bisanya dia mau mengikuti kata-kata Adit.
Mungkin walau bagaimanapun Rio adalah anak kandung Adit, jadi dia berhak memberi masukan untuk citra, selama itu baik kenapa tidak.
Jam baru menunjukkan pukul 6 pagi, citra berjalan kekamar Rio dan melihat Rio yang masih tertidur disana, citra memutuskan untuk kembali kekamarnya dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
30 menit kemudian citra selesai dengan ritual mandinya dan melanjutkan dengan ritual berikutnya yaitu merias wajahnya.
Selesai dengan kegiatannya, citra berjalan kembali ke kamar Rio.
Disana terlihat Rio masih terlelap dengan tidurnya, citra akhirnya pergi kedapur untuk memasak makanan untuknya dan juga Rio.
Setelah sekitar 15 menit citra berada didapur, bel pintu apartemen citra berbunyi.
ting, tong
Citra segera menyelesaikan kegiatannya dan berjalan menuju pintu lalu membukanya "pak Adit, ada apa pak Adit pagi-pagi kesini?
"aku ingin menjemput kamu sama Rio" *ucap Adit enteng.
"," citra tidak menjawab dia hanya diam menatap Adit.
"kak youna belum bisa berangkat kan hari ini kan? *tanya Adit dan langsung nyelonong masuk kedalam apartemen citra, tanpa persetujuan si punya rumah
"CK" citra berdecak melihat tingkah Adit "kenapa pak Adit tau kak Youna belum bisa berangkat kesini?
"tau lah apa si yang Adit ngga tau"
"ya Tuhan bicaranya sama persis kaya Rio" *citra menatap Adit hingga cukup lama membuat Adit mengerutkan alisnya.
"fyuuhh" Adit meniup wajah citra yang sedari tadi menatap dirinya tanpa berkedip.
"pak Adit apa-apaan si" *ucap citra yang tidak terima dirinya ketahuan sedang menatap Adit.
Citra akhirnya berdiri dan berniat untuk pergi kekamar Rio, untuk melihat apakah anaknya sudah bangun atau belum.
__ADS_1
Namun, sebelum citra melangkahkan kakinya, tangannya sudah ditarik terlebih dahulu oleh Adit,dan membuat citra jatuh kepangkuan Adit.
Dengan cepat Adit memeluk tubuh citra, dan menghirup aroma sampo dari rambutnya.
Citra terus berteriak meminta untuk segera dilepaskan "pak Adit lepasin"
"," Adit menggeleng dan menampilkan senyuman yang sangat menyebalkan Dimata citra
Bukan menyebalkan karena senyuman Adit jelek, tapi karena senyuman itu yang selalu citra rindukan selama beberapa tahun ini, senyuman yang selalu membuatnya terpesona.
Citra terdiam cukup lama menatap bibir Adit yang sedang tersenyum hingga suara kecil rio mengagetkan kegiatan mereka berdua.
"mami" *panggil Rio dengan tangan yang sedang mengucek-ngucek matanya, Rio belum menyadari keberadaan Adit disana dan bagaimana posisi mami dan papinya sekarang.
Citra dengan cepat berdiri dari pangkuan Adit dan berlari kearah Rio lalu menggendongnya "Rio, anak mami sudah bangun sayang?
"sudah mami, tadi Lio nyaliin mami didapul Ndak ada"
"iya tadi mami baru saja bukain pintu soalnya ada tamu"
"Hai Rio " *panggil Adit dari tempat duduknya.
Adit merentangkan kedua tangannya dan memeluk tubuh kecil Rio lalu memangku rio "baru bangun ya sayang?
"," Rio mengangguk dan "cup"
Rio mencium pipi kanan Adit, membuat Adit dan citra syok melihatnya.
Terutama citra, dia sangat paham dengan sifat anaknya yang tidak mudah dekat dengan orang kecuali citra dan juga youna, tapi dengan Adit dia bahkan sangat dekat dihari pertama mereka bertemu, dan lihatlah sekarang Rio tiba-tiba mencium pipi Adit.
Memang ikatan batin antara anak dan bapak sangat kuat, walaupun lama terpisah dan tidak pernah bertemu, namun ketika mereka sudah bertemu, mereka terlihat sudah sangat dekat satu sama lain.
"Rio mandi dulu sayang" *ajak citra
"Lio mau mandi sama papi" *tolak Rio, membuat citra membelalakkan matanya.
"baru saja beberapa hari rio bertemu dengan Adit, adit sudah bisa mendapatkan hati anaknya, bagaimana jika mereka sering bertemu? *ucap citra dalam hati.
"Rio ngga boleh kaya gitu sayang, ayo sini sama mami"
__ADS_1
"no mami, no" *mata Rio mulai berkaca-kaca dan beberapa detik kemudian .
"huwaaaa, huwaaaa" *Rio menangis sangat keras membuat citra dan juga Adit saling tatap satu sama lain, dalam tatapannya citra dia berkata "apa tidak masalah jika kamu memandikan Rio" sedangkan dalam tatapan Adit mengatakan "apa aku boleh memandikan Rio"
Akhirnya mereka berdua mengangguk secara bersamaan.
"yaudah ayo Rio mandi sama papi"
Mendengar ucapan Adit, Rio langsung menghentikan tangisannya "hole, hole, Lio mandi sama papi" *Rio terlihat begitu senang.
Citra berjalan terlebih dahulu dan diikuti oleh Adit yang sedang menggendong tubuh mungil Rio dibelakangnya.
Sampai dikamar Rio, citra masuk kedalam kamar mandi dan menyiapkan air hangat untuk Rio, lalu memberitahu Adit letak sabun dan yang lainnya, dan aditpun mengangguk.
"aku siapin baju untuk Rio dulu pak Adit" *citra berkata pada Adit dan bersiap untuk melangkah menuju lemari baju Rio, namun Adit memanggilnya.
"citra tunggu"
"ada apa pak Adit?
"Rio akan ikut kekantor sama aku, jadi tolong pakaikan baju yang tidak terlalu tipis, karena udara diluar sangat dingin"
Citra kaget mendengar ucapan Adit barusan, apa-apaan dia, main bawa anak orang sesukanya, eith bukannya Rio anak kandungnya juga , eith ngga bisa, ngga bisa Rio itu anakku.
"tapi pak Adit" *citra keberatan dengan permintaan Adit namun kalian tau sendiri sifat Adit sekarang kan READERS??
"tidak ada tapi-tapian"
Citrapun pasrah dan mengikuti permintaan bosnya.
Selesai Adit memandikan dan memakaikan baju Rio, Adit, citra dan Rio saat ini sudah berada dimeja makan untuk sarapan.
"maaf kalau saya lancang, apa pak Adit tidak sarapan terlebih dahulu sebelum kesini? *tanya citra disela sarapan mereka.
"," Adit menggeleng "aku biasa makan dikantor"
"apa dirumah tidak ada yang memasak? *citra bertanya kembali dengan nada yang sedikit ragu.
"setelah aku pulang ke Korea 4 tahun lalu, aku memilih tinggal diapartemen seorang diri"
__ADS_1