PILIHAN PEWARIS TUNGGAL

PILIHAN PEWARIS TUNGGAL
BAB 46


__ADS_3

"Pak Adit lepasin, saya mau kembali keruangan saya".


"kenapa? bukannya tadi kamu yang bilang sendiri, kalau kamu mau menemui Rio?


"tetapi didalam"


"didalam ada mamaku? terus kenapa?


"pak Adit, saya, saya,


"mami" *panggil Rio yang bingung dengan maminya yang malah pergi setelah memanggilnya.


Citra dan Aditpun menoleh dan melihat sudah ada Rio dan nyonya Kim disana.


"mami kenapa pergi, ayo sini mi masuk" *ajak Rio sambil menarik-narik tangan citra.


"Rio, mami harus kerja dulu ya, nanti dirumah aja mainnya, ya sayang"


"ngga mau, mami ayo sini, huwaaa"


"masuk saja nak citra, kasian Rio dari tadi nungguin kamu" *ucap nyonya Kim membuat citra semakin gugup, sedangkan Adit hanya tersenyum dan masuk kedalam.


"ayo mi, kita masuk" *ajak Rio dan diangguki oleh citra.


"mari nak citra"


"terimakasih nyonya Kim"


"," nyonya Kim hanya mengangguk dan tersenyum.


Mereka semua masuk dan duduk disofa yang berada diruangan tersebut, Adit segera menelpon OB untuk membelikan makan sing untuk mereka berempat.


Citra terlihat sangat canggung disana, dia lebih memilih diam dan bermain dengan Rio anaknya.

__ADS_1


"nak citra bagaimana kabar kamu?


"baik nyonya"


"sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan sama kamu, ini tentang,


"tok,tok,tok,


Belum selesai nyonya Kim berbicara, OB datang membawa makanan yang Adit pesan, dan langsung menata makanan tersebut dimeja, lalu pamit pergi.


Citra yang penasaran dengan apa yang ingin disampaikan oleh nyonya Kim, akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


"nyonya, kalau boleh tau, apa yang ingin anda sampaikan kepada saya"


"ini menyangkut,


"Ehhmm, lebih baik kita makan siang dulu sebelum makanannya dingin" *Adit menyela ucapan mamahnya, dia hanya tidak mau kalau mamahnya menyampaikan hal tentang Rio sekarang, karena ini terlalu cepat, Adit takut jika citra akan menghindarinya lagi, karena walau bagaimanapun hubungannya dengan citra sudah d perkembangan.


Nyonya Kim yang awalnya sedikit kesal dengan sikap Adit, akhirnya mengalah dan memilih untuk diam, beliau berfikir mungkin Adit sedang menunggu waktu yang tepat untuk menyampaikan hal ini pada citra, ya sudahlah tidak masalah, yang terpenting adalah fakta jika Rio anak kandung dari Adit dan cucu kandungnya.


Namun apalah daya, citra tidak mempunyai keberanian untuk bertanya lagi kepada kedua atasannya itu.


"mami, Lio lapar"


Dan lamunan ketiga orang dewasa tersebut harus tersadar oleh suara Rio yang meminta makan.


"ya Tuhan, kasian sekali anak mami, ayo Rio buka mulutnya aaa" *citra menyuapi Rio.


Nyonya Kim dan Adit juga langsung memakan makanan mereka, dengan tujuan agar mereka bisa bergantian untuk menyuapi Rio.


Setelah beberapa menit, makanan merekapun habis "nyonya Kim, pak Adit, saya pamit keruangan saya" *ucap citra lalu membungkukkan badannya.


"," nyonya Kim hanya mengangguk dan tersenyum, sedangkan Adit berdiri untuk mengantarkan citra sampai depan pintu ruangannya.

__ADS_1


"Rio, mami kerja dulu ya, ingat apa kata mami ya sayang, Rio harus pintar ngga boleh nakal"


"iya mami"


Adit dan citrapun berjalan menuju pintu "pak Adit, Terimakasih makan siangnya, saya pamit"


"tunggu"


"hishhh apalagi si ini orang, suka banget nahan-nahan kalau aku mau pergi" *ucap citra dalam hati


Namun dia tetap menoleh dengan senyum yang dipaksakan "ada yang bisa saya bantu pak?


"tidak jadi, sana kamu kembali ke ruangan kamu"


Tanpa menjawab ucapan Adit, citra langsung pergi dari hadapan Adit.


Melihat wajah citra yang sedang menahan kesal Adit tersenyum, "sungguh sangat cantik"


"ehm,ehm, " Adit tidak menyadari jika sedari tadi nyonya Kim sudah berada disebelahnya dan sedang melihat dirinya seperti orang yang sudah tidak waras, karena senyum senyum sendiri.


"mamah, ngapain disini?


"liatin orang bucin" *jawab nyonya Kim, lalu kembali kedalam untuk bermain dengan Rio.


Aditpun ikut masuk kedalam dan duduk disamping mamahnya "ma, please jangan dulu bilang ke citra mengenai Rio, biar Adit saja yang bilang ke citra"


"iya, iya, mama minta maaf, mama hanya sudah tidak sabar ingin selalu bersama Rio dit"


"iya mah Adit paham, Adit juga merasakan apa yang mama rasakan, namun sebisa mungkin Adit tahan agar semua berjalan sesuai keinginan kita"


"," nyonya Kim mengangguk dan mencium pipi Rio.


"tolong sering-sering bawa Rio kesini ya dit, biar mama bisa sering bertemu dengan dia"

__ADS_1


"iya mah, Adit usahain"


__ADS_2