
Manila dan Lee kini telah sampai di rumah sakit jiwa tempat dimana saudara kandung Lee di rawat.
Lee melangkah masuk ke dalam rumah sakit tersebut dengan tangan yang terus menggenggam Manila.
"Lee, apa kau sering datang kesini?" tanya Manila memulai percakapanya.
"Tergantung, tapi terkadang aku selalu mengusahakan diriku agar selalu bisa datang kesini." jawab Lee.
Dan tak berselang lama. Manila dan Lee kini telah sampai dan berada di depan pintu kamar tempat saudara Lee di rawat.
"Ayo masuk." ajak Lee seraya membuka pintu kamar tersebut.
Manila mengangguk dan mengikuti Lee dari belakang.
Di dalam ruangan tersebut. Terlihat seorang gadis cantik berambut panjang yang sedang diam menatap kosong ke arah depan.
"Sofia ..." panggil Lee yang langsung berhambur memeluk adiknya sambil menangis.
Lee melepas pelukan dan langsung mencium kening Sofia.
"Maafkan Kakak sayang kalau belakangan ini Kakak jarang menjengukmu." Lee kembali menangis memeluk adiknya.
Manila hanya bisa terdiam menyaksikan Lee yang terus menangis sambil memeluk adiknya.
Tok ... Tok ... Tok ...
Seorang perawat datang membawa troli makan siang menghampiri Lee dan Manila.
"Selamat siang, Pak Lee. Maaf, sudah waktunya pasien makan siang." ucap perawat itu.
Lee mengangguk dan langsung mengambil mangkuk bubur beserta sendoknya.
"Biar saya saja suster." pinta Lee dan Suster itu pun mengangguk.
Dengan pelan perlahan dan penuh perhatian. Lee menyendok bubur di dalam mangkuk dan menyuapkanya pada Sofia.
Tak seperti biasanya. Kini Sofia terus menutup mulutnya dan enggan menerima suapan bubur dsri Lee.
"Sayang ... ayo makan dulu buburnya." Lee mencoba membujuk Sofia.
Namun tetep saja Sofia diam dan menutup mulutnya.
Lee menaruh mangkuk buburnya dan mengusap lembut rambut Sofia.
"Kamu kenapa sayang, apakah kamu marah kepada Kakak?" tanya Lee yang kini kembali meneteskan air mata kesedihanya.
Lee menatap sedih pada Sofia yang masih melamun dengan tatapan kosongnya.
Manila memegang pundak Lee sambil mengusap ngusapnya.
__ADS_1
"Apakah aku boleh mencoba membujuknya?" tanya Manila pada Lee.
Tanpa menunggu jawaban dari Lee. Manila kini mengambil mangkuk bubur dan duduk di sebelah Sofia.
"Sayang ..., Ayo di makan dulu buburnya." Manila kini menyendok bubur dan mulai menyuapi Sofia.
Keanehan langsung saja terjadi pada Sofia. Kini pandangan Sofia teralih memperhatikan wajah cantik Manila.
"Kakak, Sofia sangat merindukan Kakak." Sofia langsung memeluk erat Manila.
Manila membulatkan mata merasa kaget akan perubahan Sofia padanya.
"Kakak, aku ingin pulang. Mereka selalu jahat padaku. Mereka selalu menyakitiku." ucap Sofia sambil menunjuk ke arah Dokter yang baru saja datang untuk mengecek dirinya.
Lee dan Manila beradu pandang dan kini mereka berdua beralih memandang ke arah Dokter yang sedang menyiapkan obat penenang untuk Sofia dengan jarum suntiknya.
"Maaf Pak Lee. Kami harus memberi pasien obat penenang. Karena di khawatirkan pasien tidak bisa beristirahat dan akan mengamuk." ucap Dokter rumah sakit jiwa itu dan membuat Sofia makin bergetar ketakutan.
"Lakukan saja yang menurut anda terbaik Dokter." jawab Lee.
Sofia terus menjerit jerit ketakutan dan bersembunyi di balik punggung Manila.
Lee berpaling dan terus menangis merasa tak tega melihat keadaan yang menimpa adiknya.
"Suster, tolong pegang tang dan kedua kaki pasien." titah Dokter pada beberapa perawatnya.
Beberapa suster tersebut mengangguk dan langsung memegangi tangan dan kedua kaki Sofia agar tidak memberontak.
Sofia terus memberontak menendang nendang ke arah Suster dan Dokter yang akan menyuntiknya dan spontan membuata Manila geram dan mengepalkan tanganya.
"Hentikan!" seru Manila.
Dokter dan beberapa suster kini berhenti dan memandang ke arah Manila.
Sofia langsung turun dari bad hospital dan bersembunyi di belakang punggung Manila.
"Jika kalian terus memaksa, jangan salahkan aku jika berbuat kasar kepalda kalian." ancam Manila pada Dokter dan beberapa suster yang berdiri di hadapanya.
Manila kini berbalik dan memeluk memncoba menenangkan Sofia.
"Sayang, tak ada orang yang berani menyakitimu lagi. Kakak berjanji padamu." ucap Manila dan Sofia pun kini menangis di pelukan Manila.
"Kakak, Sofia ingin pulang. Sofia tak mau berada disini lagi." pinta Sofia dengan badan gemetar ketakutan.
"Kau mau pulang?" tanya Manila dan Sofia pun mengangguk anggukan kepalanya.
"Tapi Sofia harus berjanji dulu sama Kakak. Nanti, di rumah Sofia tidak boleh nakal dan harus patuh pada Kakak dan Kak Lee." pinta Manila dan Sofia.
"I ya, Sofia Janji. Sofia tidak akan nakal lagi." Sofia mengangkat tanganya berjanji pada Manila.
__ADS_1
Manila memandang ke arah Lee yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua.
"Lee, kita harus membawa Sofia pergi dari sini." titah Manila.
Lee menghela nafas dan menghembuskanya secara perlahan.
"Baiklah, tapi sebelumnya aku harus membicarakan ini pada Dokter." jawab Lee.
"Tak ada yang perlu lagi di bicarakan disini!" Manila merasa jengkel.
"Ayo sayang, kita pulang ke rumah sekarang juga." Manila menuntun Sofia melangkah meninggalkan Lee yang masih terdiam dengan Dokter dan beberapa susternya.
Lee kini beralih pandang ke arah Dokter.
"Maafkan saya Dokter. Saya ...," Lee tidak meneruskan perkataanya karena merasa tidak enak.
"Tidak apa apa pak Lee. Sepertinya Sofia menemukan teman yang cocok dan di harapkan bisa sebagai menjadi teman penyembuh bagi dirinya." jawab Dokter.
"Maksud Dokter?" Lee masih merasa bingung.
Dokter memegang pundak Lee dan memberikan senyum persetujuanya.
"Terima kasih Dokter, anda sudah mengizinkan adik saya untuk pulang." ucap Lee.
Dan kini Lee berlari kecil keluar dari kamar itu menyusul Manila dan Sofia yang sudah melangkah lebih dulu dari dirinya.
Sementara. Manila terlihat menuntun Sofia dan membawannya menuju tempat mobil Lee terparkir.
Manila terus mengajaknya berbicara agar suasana hatinya berubah menjadi tenang.
"Nah, kita sudah sampai." ucap Manil pada Sofia.
Dari kejauhan Manila sudah melihat Lee yang berlari menghampirinya.
Tak ada kata yang keluar dari mulut Lee. Dirinya lebih memilih untuk langsung membukakan pintu mobil agar Manila dan Sofia segera memasukinya.
Di dalam mobil. Manila kini duduk di belakang bersama Sofia. Sedangkan Lee duduk di depan sebagai driver kemudinya.
"Ayo sayang, kita harus segera pulang." titah Manila pada Lee.
"Siap boskuh." Lee menginjak pedal gasnya dan perlahan meninggalkan area rumah sakit jiwa tersebut.
Sepanjang perjalanan pulang menuju kediaman Lee. Sesekali Lee mencuri pandang memperhatikan Manila yang terus menghibur Sofia dari kaca spionya.
Sofia kini tidak terlihat tegang dan ketakutan lagi seperti saat ketika masih berada di dalam rumah sakit jiwa.
Terima kasih Manila. Kau adalah wanita cantik sekaligus malaikat penolongku.
Lee kembali fokus pada jalanan yang di lewatinya.
__ADS_1
LIKE ... LIKE ... JANGAN LUPA LIKE RATE DAN COMMENTNYA YA KALAU KALIAN SUKA.