
Manila membuka obrolan rencananya seputar penyamaran, yang nantinya akan di lakukan nanti malam.
"Ada usul, Michael?" tanya Manila yang langsung di angguki Michael dengan mantap.
"Seperti rencanaku sebelumnya, aku berencana mengutus Arby menjadi penggantimu untuk menyamar nanti." ucap Michael sambil memegang pundak Arby dengan santainya.
"Loh, kok Aku?" ucap Arby yang tak menyangka bahwa Michael mengundangnya datang Ke Cafe ternyata untuk sebuah misi.
"Kali ini aku setuju sekali dengan pendapatmu, kawan." timpal Lee sambil tersenyum penuh kemenangan.
Sial ... Lee, sepertinya puas sekali dan mendapat momen ini untuk kembali memuaskan balas dendamnya.
"Bagaimana denganmu, Manila? kau pasti setuju dengan juga dengan pendapatku, kan!" Lee menekan nada sedikit memaksa pada Manila.
Manila memiringkan kepalanya memandang ke arah Arby yang masih terlihat ragu menerima misinya.
"Jujur ... aku masih merasa bingung." Arby menggaruk tengkunya yang tidak gatal.
"Kau bingung apa lagi, By?" tanya Michael.
"Kau bingung? atau ..." ucap Lee dengan nada mengejek.
Arby bangun dan menatap tidak suka dengan Lee yang memandang remeh padanya.
"Apa maksudmu, Lee? kau akan bilang bahwa aku penakut atau pecundang! itu kan yang akan kau katakan padaku." Arby sedikit menaikan nada bicaranya.
"O ... O ...O, aku tidak bilang seperti itu, kau yang bilang itu sendiri, bukan?" Lee kembali memancing emosi Arby.
Dasar koplak! mentang mentang tampan melebihiku, lantas dengan seenak perut kau menyuruhku tanpa meminta pendapatku terlebih dahulu.
Manila melangkah memutari mejanya dan menghampiri Arby sepupunya.
"Tenanglah! jika kau tak bersedia. Biarkan aku sendiri yang akan melakukanya." ucap Manila.
Lee bangun dari duduk dan menatap tajam ke arah kekasihnya.
"Tidak bisa!" ucap Lee dan Arby bersamaan.
Michael dan Sofia malah tertawa kecil menanggapinya.
Lee dan Arby menoleh ke arah Michael dan Sofia.
"Diam! tak ada yang menyuruhmu tertawa!" tegas Arby dan Lee bersamaan.
Arby duduk dan kini meminum jus alpukat yang sudah tersedia di meja.
"Baiklah ... aku akan menuruti keinginan kalian." ketus Arby.
"Benarkah ... terima kasih, By." ucap Manila dengan senang hati.
"Akhirnya ... serigala buas pun bisa jinak juga." Lee kembali mengejek Arby.
"Apa kau bilang! jaga mulutmu kawan!" Arby marah dan menghabiskan minuman milik Michael, dan Manila.
"Woy! marah sih marah, kenapa kau harus menghabiskan minuman miliku?" ucap Michael yang jengkel.
Semua orang tertawa dan suasana tegang pun kini berlalu dengan begitu mudahnya.
__ADS_1
Di dalam misi penyamaranya. Manila sudah menyiapkan baju untuk nanti di gunakan Arby dalam tugas penyamaranya.
"Manila ... yang benar saja! masa kau memberi aku baju berwarna pink seperti ini." ucap Arby yang tak terima dengan pakaian yang di berikan Manila padanya.
"Sudah, kau pakai saja! Tidak usah ngeyel seperti itu." tegas Manila.
Manila melepas topi yang selalu menutupi kepala sepupunya.
"Uhuk ... uhuk ..." Lee tertawa puas hingga tersedak minumanya.
"By, tak ku sangka ternyata kau cantik sekali dengan rambut panjangmu itu." ucap Lee yang setengahnya memang mengejek.
Manila yang sedang memoles lipstik di bibir Arby pun sejenak menoleh ke arah Lee.
"Sudahlah ... belum puas kau mengejek Arby? Manila sedikit terlihat marah dan sukses membuat Lee terdiam tak melanjutkan ejekanya.
Lee bangkit dari duduk melangkah menuju menghampiri Manila.
Dengan keisengan dan kejahilanya. Lee sengaja menyenggol lengan Manila hingga tak sengaja lipstiknya menyerong ke arah pipi sepupunya.
"Lee!" seru Manila yang jengkel.
"Iya, maaf. Tadi aku benar benar tidak sengaja. Sumpah deh." Lee kembali tersenyum puas.
Gedek sudah pasti gedek. Namun Arby tetap mencoba tenang dan bersabar.
Manila segera mengelap lipstik yang menyerong dengan tisunya.
"Sudah selesai, By." ucap Manila.
"Buset ... bahkan aku tak bisa mengenali diriku sendiri, jika berdandan seperti ini." Arby menghela nafas heran.
Manila merangkul pundak Arby dan mengajak agar segera keluar dari ruang make upnya.
Arby dan Manila melangkah keluar menuju Lee yang sudah menunggu di dalam mobilnya.
Manila dan Arby kini duduk di bangku belakang mobilnya.
"Sayang, kenapa kau duduk di belakang?" tanya Lee dengan heran.
"Sudah, cepat jalan! Bawel amat sih" ketus Manila.
Lee tersentak kaget dan menoleh pada Arby yang kini puas tertawa.
Puas sekali kau mentertawakanku, By.
Lee membenarkan posisi duduknya. Dan kini mulai melajukan mobilnya menuju pelabuhan.
Di dalam mobil. Lee masih memandang Arby yang masih cekikikan tertawa via kaca depan mobilnya.
"Sakit hati
Bikin sakit hati
Semua ini terjadi berkali-kali
Nggak pernah aku mengerti
__ADS_1
Mengapa begini?
Masih saja kau selalu ingkari janji.
Kau taburkan bunga di angan-angan
Hingga jiwa-ragaku melayang
Saat semua kembali aku tersentak
Yang kurasa hanyalah kecewa.
Lagu sakit hati dari tipe-X, yang di nyanyikan Arby sukses membuat Lee makin jengah di buatnya.
"Awas saja Kau, By!" ancam Lee dalam hatinya.
Mobil yang di tumpangi mereka bertiga kini telah sampai di pelabuhan.
Lee dengan malas melangkah bersama Manila di ikuti Arby dari belakang berjalan menuju Akin yang sudah menunggunya di kios daganganya.
"Kalian sudah datang." sapa Akin pada mereka bertiga.
Akin memandang asing pada Arby yang baru saja di temuinya.
"Siapa dia?" tanya Akin pada Lee dan Manila.
Manila menjelaskan bahwa Arby adalah sepupunya sekaligus orang yang akan mengganti tugas dalam penyamaranya.
Akin mengangguk paham dan kini terlihat memandang arloji di pergelangan tanganya.
"Waktunya sebentar lagi, kita buat kopinya sekarang." ucap Akin.
"Wah ... belum apa apa sudah di suruh ngopi. Emang mantap deh, bang Akin." puji Arby.
"Jangan PD. itu Kopi bukan untukmu!" ketus Lee.
"Lantas ..."
"Tugasmu adalah mengantarkan kopi hitam ini ke gudang penyimpanan disana." Manila menunjuk ke arah gudang itu dengan wajahnya.
"Baiklah ... sekarang kau antarkan kopi ini kesana! usahakan kau berjalan dengan lemah gemulai." titah Akin yang di angguki Arby.
Dengan penuh keyakinan dan rasa percaya diri. Kini Arby melangkah membawa nampan yang berisi 4 gelas kopi hitam dan menuju gudang yang sudah di beritahukan Manila dan Akin sebelumnya.
Dari kejauhan Manila dan Akin melihatnya dengan harap harap cemas.
"Hei ... kenapa wajah kalian tegang seperti itu? percaya deh, tidak akan terjadi apa apa pada Arby." ucap Lee yang mendapat tatapan tajam dari Manila.
"Bisakah kau diam! kenapa tidak kau saja yang pergi kesana." Manila kembali jengkel pada Lee.
"Hei kalian berdua. Jika kalian ingin bertengkar sebaiknya jangan kalian lakukan disini!" ucap Akin yang sudah merasa pusing.
Manila dan Lee kini terdiam dengan menundukan kepala.
"Sebegitu pentingkah posisi sepupumu di hatimu? hingga kini aku merasa kau sedikit mengacuhkanku." gumam Lee di dalam hatinya.
"Maafkan aku, Lee. bagiku Arby sudah seperti saudara kandung satu satunya bagiku, dan dia sangat berarti bagiku. Ku harap kau bisa mengerti itu. Dan tak melakukan kecemburuan bodoh yang tak penting itu." ucap Manila.
__ADS_1