
Satu minggu berlalu. Setelah kepulangan Manila dari rumah sakit. Kini Manila sedang dalam perjalanan menuju kampung halamanya di temani Lee, Michael, Sofia dan Letnan Bryan bersama Grace istrinya.
15 jam perjalanan yang di lakukan via pesawat telah berhasil mereka lalui. Dan kini pesawat yang membawa Rombongan Manila telah mendarat di bandara penang kuala lumpur Malaysia.
"Akhirnya ... kita sampai juga, Manila." ujar Grace yang melangkah lebih dulu menuruni tangga pesawat di susul yang lainya.
"Manila, Apa kau sudah memberitahu orang tuamu jika kita semua akan datang dan merepotkan mereka semua?" tanya Letnan Bryan.
Manila tertawa kecut mendengar pertanyaan lucu dari atasanya.
"Sudah, Pak. Anda tenang saja." jawab Manila sambil mengangkat jempolnya.
Dan tak berselang lama. Handphone Manila pun bergetar memberitahu jika ada panggilan masuk ke dalam ponselnya.
"Sebentar ya." ucap Manila seraya menjauh dan menutup sebelah telinga karena kebisingan bandara dalam mengangkat panggilan masuknya.
Dari kejauhan Lee bersama yang lainya memperhatikan Manila yang sedang berbincang serius di dalam ponselnya.
"Memang siapa yang menelpon Kak Manila?" tanya Sofia pada Lee.
Lee sejenak terdiam tak langsung menjawab pertanyaan dari adiknya. Dengan kemampuan kekuatan telepatinya, Lee kini mendengar apa yang sedang di percakapkan Manila dengan seseorang di dalam ponselnya.
"Dia sedang menerima panggilan dari seorang laki laki anak dari pamanya." jawab Lee.
"Dari mana Kakak bisa tahu?" tanya Sofia yang tak percaya.
Lee menggaruk kepalanya dan tertawa lucu sambil mencubit gemas pipi Sofia.
"Aku hanya bercanda, Sofia. Mengapa wajahmu serius seperti itu." ujar Lee sambil mengacak ngacak rambut Sofia.
Sofia menoleh ke arah Manila yang baru saja menutup panggilan ponselnya. Dirinya berlari kecil menghampiri Manila.
"Telpon dari siapa? pasti dari orang tua Kakak. Iya, kan?" tebak Sofia namun Manila langsung tertawa lucu sambil menggelengkan kepalanya.
"Bukan, tadi telepon dari sepupu Kakak, Arby namanya." jawab Manila.
Sofia menoleh ke arah Lee yang masih berdiri bersama Michael dan yang lainya.
"Kamu kenapa Sofia?" tanya Manila yang merasa Sofia mendadak bingung dari wajahnya.
Sofia kembali fokus memandang Manila.
"Tidak Kak, tidak apa apa." jawab Sofia.
Manila melangkah sambil menggandeng Sofia untuk kembali bergabung dengan yang lainya.
"Aku heran ... dari mana Kak Lee bisa tahu, dan sangat benar dalam tebakanya." gumam Sofia di dalam hatinya.
"Bagaimana Manila?" tanya Grace.
"Tadi sepupuku menelpon Kak. Dia akan menjemput kita semua dengan mobil bus 3/4 nya." jawab Manila dan yang lainya pun mengangguk paham.
Sambil menunggu jemputan mereka datang. Manila dengan rombongan kini terlihat sedang duduk menikmati minumanya di sebuah Cafe masih di area bandara penang kuala lumpur.
__ADS_1
Grace asik berbincang dengan Bryan suaminya. Begitu juga Lee yang tak kalah asik bercanda sambil sesekali tertawa bersama Manila. Menyisakan Michael dan Sofia yang terlihat bosan dengan acara menunggunya.
"Kak Michael."
"Sofia..."
Ucap mereka secara tidak sengaja dan bersamaan.
Michael kembali mengaduk minumanya begitu pun Sofia berpura pura meminum minumanya.
Mereka kembali saling menoleh. Dan setelah pandangan mereka beradu, mereka langsung enggan memandang satu sama lain.
"Kau duluan." ujar Michael.
"Tidak, Kak Chel saja duluan." tolak Sofia.
"Bukanya kau yang ...." ucap Michael yang menggantung ucapan karena tiba tiba saja merasakan grogi pada dirinya.
"Kak Chel, saja. Usia Kakak kan lebih tua dari aku." ceplos Sofia
"Uhuk ... uhuk ..." Michael tersedak minumanya setelah baru pertama kali ada orang yang berani berkata tua padanya.
"Eh, bocah. Jangan asal saja dalam berucap! Bagaimana bisa kau mengatakan tua pada pria yang level ketampananya satu level di bawah Lee." puji Michael yang membanggakan dirinya.
Sofia tertawa puas hingga membuat Lee dan Manila menoleh karena mendengarnya.
"Kenapa kau tertawa? memang benarkan aku ini tampan." ujar Michael dengan percaya diri.
"Iya, Kak Chel memang tampan. tapi ...." Kini Sofia yang menggantung ucapan dan membuat Michael merasa penasaran di buatnya.
Alih alih menjawab rasa penasaran Michael. Sofia malah terus tertawa hingga membuat Michael ingin membalas perlakuanya.
Michael bangkit dari duduk dan langsung menggelitiki perut Sofia hingga membuat Sofia terus merasa geli dan tak berhenti tertawa.
Manila dan Lee beradu pandang setelah memperhatikan Michael dan Sofia yang asik bercanda layaknya pasangan kekasih.
"Ayo bertaruh. Pasti Michael nanti akan jatuh cinta pada Sofia." tebak Manila sambil menggenggam tangan Lee.
"Masa sih?" jawab Lee yang masih kaget dengan tebakan Manila.
Pandangan Lee dan Manila kini kembali fokus memperhatikan Michael dan Sofia.
"Ampun, Kak chel. Geli tahu." ucap Sofia yang secara tak sadar kini menggenggam tangan Michael sambil menatap wajahnya.
Michael memandang ke arah tanganya yang kini sedang di pegang Sofia dengan begitu erat dan enggan melepaskanya.
"He ... he ... he." Sofia tertawa kecil terpaksa dan langsung melepaskan tanganya yang sedari tadi menggenggam tangan Michael.
Michael mengangguk dan kini terdiam sambil melangkah kembali ke tempat duduknya.
Suasana kini sangat terasa canggung diantara Michael dan Sofia. Oksigen yang mereka hirup serasa tipis hingga membuat jantung mereka berdegup tak berirama.
"Manila." panggil seseorang yang baru saja memasuki Cafe dan melihatnya dari jauh.
__ADS_1
Lelaki itu mempercepat langkah menghampiri Manila yang sudah berdiri dan tersenyum mengetahui kedatanganya.
"Manila, maaf membuatmu dan yang lainya menunggu sangat lama." ucap lelaki berparas manis dan tak membosankan itu.
"Tidak apa apa. Perkenalkan dulu, ini Lee." ucap Manila dan Lee pun bangkit dari duduk mengajak berjabat tangan.
Arby membalas tautan tangan Lee sambil tersenyum manis penuh keramahan.
"Lee." ucapnya.
"Arby." jawabnya.
Manila menepuk pundak Arby dan membuatnya menoleh padanya.
Manila juga memperkenalkan Arby pada Michael, Sofia dan Letnan Bryan bersama Grace istrinya.
"Senang berkenalan dengan anda semua yang merupakan polisi yang sangat hebat." ucap Arby memuji para rekan kerja Manila.
"Bisa saja anda ini." ujar Letnan Bryan.
"Baiklah Manila, Paman dan Bibi sudah menunggu di rumah. Ayo kita langsung saja berangkat." ajak Arby sambil membawakan koper Manila dan Lee menuju mobil bus 3/4 nya.
Semua rombongan Manila kini telah masuk dan duduk di bangku busnya.
"Sayang, tidurlah. Aku ingin sedikit berbincang dengan Arby yang sedang fokus menyetir busnya." ucap Letnan Bryan yang kemudian mencium kening Grace dan melangkah ke depan untuk menemani Arby yang fokus dalam mengendarai mobil busnya.
"Bolehkah aku duduk disini?" tanya Bryan.
Arby menoleh sesaat dan kini kembali fokus menyetir mobilnya sambil tersenyum ramah.
"Silahkan saja Tuan." jawab Arby.
Letnan Bryan melihat pistol yang masih bersarang di dalam sarung pistol pinggang Arby.
"Apa di daerah ini sangat berbahaya?" tanya Letnan Bryan sambil mendudukan dirinya di kursi depan menemani di sebelah Arby.
Arby menunduk sesaat menoleh ke arah pistol dan kembali menatap jalanan yang di lewatinya.
"Apakah anda memperhatikan pistol yang saya bawa?" Arby tersenyum dan bertanya balik pada Bryan.
Hebat sekali pemuda ini. Dia telah menyadari kalau aku sedang memperhatikan senjata yang di bawanya.
"Iya, benar." Letnan Bryan mengiyakan jawabanya.
Tak ingin membuat Letnan Bryan sedikit cemas. Arby sedikit berpikir untuk mengalihkan pembicaraanya.
"Tuan, apa anda tahu? jika Manila sering menceritakan atasanya yang hebat dan selalu bijak dalam mengambil keputusanya." ucap Arby dengan karanganya yang di harap bisa mengalihkan pembicaraan.
"Benarkah, memang siapa nama atasan yang sering ia ceritakan padamu?" tanya Bryan yang mulai tertarik dengan obrolan baru yang di karang Arby padanya.
Arby menoleh sesaat dan kembali fokus lagi menyetir mobilnya.
"Namaya kalau tidak salah ... Letnan Bryan Storm. Iya, itu dia namanya." ucap Arby dengan pasti di depan Bryan.
__ADS_1
Letnan Bryan membusungkan dadanya merasa bangga dengan dirinya yang ternyata selalu di puji Manila.