Polisi Cantik

Polisi Cantik
KASUS BARU


__ADS_3

Selesai dengan acara mandinya. Sofia di bantu Manila dalam menggunakan bajunya.


Dengan sabar dan telaten Manila menyisir rambut Sofia dan mengepangnya.


"Lihatlah wajahmu di cermin sayang." titah Manila dan Sofia pun kini tersenyum girang.


Kini Sofia menutupi wajah dengan kedua tanganya karena merasa malu.


Manila memeluk Sofia dari belakang kemudian menempelkan pipinya pada pipi Sofia.


"Hei, kenapa harus malu. Ternyata kau sangat cantik sayang." puji Manila.


TOK ... TOK ... TOK...


Manila menoleh ke arah pintu mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya.


"Siapa?" tanya Manila.


"Ini aku, Lee." jawab Lee dari luar kamar.


Manila bergegas membukakan pintu kamar dan mempersilahkan Lee untuk memasuki kamar Sofia.


"Apa kau sudah selesai sayang?" Lee merengkuh pinggang Manila dan melangkah menghampiri Sofia yang masih duduk di depan cermin riasnya.


"Lihatlah ... ternyata adikmu sangat cantik." puji Manila.


"Benarkah ...?"


"Hem ...," Manila mengangguk.


Lee duduk di sebelah Sofia dengan pandangan melihat Sofia dari pantulan cerminya.


"Kau cantik sekali Sofia." Puji Lee sambil tersenyum.


Melihat Sofia yang kini terlihat cantik, rasa bersalah bercampur penyesalan tiba tiba saja melintas di pikiran Lee.


Dan tak berselang lama. Lee langsung memeluk Sofia sambil menangis.


"Maafkan Kakak sayang. Kakak telah gagal menjadi Kakak yang baik untukmu." Lee menangis bersedih.


"Aku sayang Kakak." Sofia membalas pelukan Lee dengan erat.


Manila yang menyaksikan hal tersebut dirinya pun terharu dan terbawa suasana sedih.


Lee melepas pelukanya dan menggenggam kedua tangan Sofia.


"Kali ini Kakak berjanji. Kakak akan melindungimu dengan nyawa Kakak. Dan Kakak berjanji, Kakak tak akan pernah membiarkan seseorang menyakitimu lagi." Lee menangis dan kembali memeluk Sofia.


Manila ikut menangis dan memeluk mereka berdua .


"Aku sayang kalian berdua." Manila mencium kepala Sofia dan Lee secara bergantian.


Di sela sela suasana yang sangat mengharukan. Tiba tiba saja ponsel Manila berdering menandakan ada seseorang yang memanggilnya.


"Manila, kau dimana?" tanya Michael.


"Aku ... aku sedang berada di rumah Lee bersama Sofia." jawab Manila sambil mengusap air matanya.

__ADS_1


"Manila, tadi Letnan mencarimu. Katanya ada sebuah kasus baru yang harus kau tangani saat ini." jelas Michael.


"Kenapa Letnan tak memberikan kasus itu padamu, kau juga kan polisi hebat." tukas Manila.


"Tadi siang aku kebetulan sedang bertugas menemani acara pertemuan presiden, dan katanya acara pidato kenegaraanya mendadak di batalkan." jelas Michael.


Manila menoleh ke arah Lee dan Sofia yang kini sedang memperhatikanya berbincang dengan Michael di handphonenya.


Manila menutup mic handphone dengan tanganya dan menggedikan kepalanya pada Lee.


"Ada apa?" tanya Lee dengan lirih.


"Bolehkah aku mengundang Michael kesini, ada sesuatu penting yang harus di bicarakan." pinta Manila dan Lee pun mengangguk mempersilahkanya.


Manila kini membuka mic handphone dan fokus kembali berbincang dengan Michael.


"Michael, apa kau sibuk? Aku tunggu kau di tempat Lee, sekarang juga."


"Baiklah, share loc posisimu sekarang, Aku akan mengikuti lokasimu via GPS." jawab Michael.


"Baiklah, aku share loc kan sekarang." tukas Manila sambil mengakhiri panggilan teleponya.


Setelah melakukan Share loc nya. Manila memasukan kembali handphone tersebut ke dalam sakunya.


"Sepertinya serius sekali." Lee terlihat sedikit jealous dan itu bisa di rasakan Manila.


Manila segera memeluk dan mengalungkan kedua tanganya pada leher Lee yang masih duduk di samping Sofia.


"Kamu cakep kalau lagi jealous seperti itu." goda Manila.


"Halahhh ..." Lee memalingkan pandanganya sambil menangapi malas.


"Tadi siang Letnan mencariku, katanya ada kasus baru yang harus aku pecahkan. Michael hanya menyampaikan itu saja padaku." jelas Manila.


"Lantas, kenapa kau tadi memintaku agar dia di perbolehkan datang kesini?" tanya Lee dengan logat ketusnya karena cemburu.


Manila menghadapkan wajah Lee dan mencium keningnya.


"Malam ini aku ingin menemani Sofia tidur. di kamarnya" jawab Manila.


"Lantas, apa hubunganya dengan mengundang Michael kesini?" Lee makin penasaran.


"Aku ingin tahu kasus apa yang di beritahukan Letnan pada Michael untuku, dan aku ingin Michael tidur bersamau agar kau tak berbuat macam macam padaku." tukas Manila seraya menggandeng tangan Sofia dan mengajaknya keluar dari kamar.


Sial, selain cantik. Ternyata kau bisa sedikit membaca pikiranku.


Bayangan memeluk Manial di malam hari tiba tiba saja sirna di pikiran Lee.


"Ah, apes." Lee mengacak acak rambutnya.


Hampir satu jam berlalu. Kini Michael telah datang membawa mobilnya dan berada tepat di depan pintu gerbang rumah Lee.


"Apa benar ini rumahnya?" tanya Michael pada dirinya sendiri.


Michael kembali mengecheck GPS pada handphonenya.


"Sebaiknya aku hubungi Manila sekarang." Michael menekan nama kontak Manila pada Handphonenya.

__ADS_1


"Manila, kau dimana sekarang. Aku sudah sampai di depan pintu gerbang rumah yang sangat besar sekali." tukas Michael.


"Tunggu sebentar." jawab Manila.


Dan tak berselang lama. Pintu gerbang tersebut kini telah terbuka dan mempersilahkan Michael untuk memasukinya.


"Besar sekali ..., apa benar si pria es itu tinggal di rumah sebesar ini." Michael berdecak kagum dengan suasana sekeliling kediaman Lee.


Michael mematikan mesin mobil dan keluar dari mobilnya.


Di bagian pintu depan. Michael sudah di sambut oleh 2 pelayan suruhan Lee agar mengantarnya masuk ke dalam rumah.


Di dalam rumah Lee yang megah. Michael benar benar takjub dengan seisi ruangan yang ada di dalamnya.


"Tak usah memasang wajah kaget seperti itu, duduklah." ucap Lee yang baru saja datang dan menyambut Michael.


Michael mengangguk sambil memasang senyumnya walau terpaksa.


"Dimana Manila, Lee? jangan bilang padaku kalau akan mengurungnya di rumahmu yang sangat besar ini." tanya Michael.


Lee hanya menghembuskan nafasnya secara malas dan kemudian memanggil pelayan agar segera membuatkan minuman untuk Michael.


Dan tak berselang lama. Datanglah Manila sambil menuntun Sofia untuk duduk di sampingnya menemani Lee berbincang dengan Michael.


"Maafkan aku, Lee. Sofia terus memaksaku untuk ikut kesini." ucap Manila yang merasa tidak enak pada Lee.


Dengan mulut menganga. Michael terus terfokus memandangi Sofia yang sangat cantik, tanpa berkedip sama sekali. Dan Lee yang mengetahui hal tersebut langsung saja melemparkan bantal sofanya ke arah muka Michael.


"Sebaiknya kau jaga pandanganmu." tukas Lee dan Michael langsung sadar dan mengusap wajahnya.


"Ini Minumanya Tuan." pelayan tersebut menaruh minumanya pada meja di depan Michael.


"Cepat katakan ada hal apa sebenarnya!" Lee kini terlihat jealous.


Michael tak langsung menjawab pertanyaan dari Lee. Dirinya lebih memilih menikmati minumanya sesaat dan kembali menaruhnya di meja.


"Tadi siang Sepulang dari bertugas, Letnan Bryan memberitahukan adanya kasus tentang seorang dukun yang berpakaian mirip santa klaus." jawab Michael.


Lee dan Manila mengerutkan dahi mendengar kata santa klaus atau sinterklas.


"Santa klaus ... bukanya kakek kakek yang selalu muncul di hari natal dan membagikan hadiah itu?" tanya Manila.


"I ya, Manila. Betul sekali itu." jawab Michael.


"Apa santa klaus tersebut membuat onar?" tanya Michael dengan wajah yang kini serius.


Michael menangkup dagu dengan kedua tanganya.


"Menurut beberapa laporan yang di terima Letnan. Santau klaus itu selalu membunuh sepasang muda mudi yang sedang berpacaran atau memadu kasih." jelas Michael dengan serius.


"Ini tidak bisa di biarkan!" Manila mengepalkan tangan, memandang ke arah Michael dan beralih pada Lee.


"Tapi kita jangan gegabah Manila, kriminal yang satu ini memiliki kekuatan supranatural yang sangat berbahaya." tukas Michael yang di angguki Lee.


"Benar dengan apa yang di katakan Michael, Manila." Lee membenarkan ucapan Michael.


"Tunggu sebentar, Aku harus memindahkan Sofia dulu ke dalam kamarnya."

__ADS_1


Lee membopong Sofia dari Sofa dan membawanya masuk ke dalam kamarnya.


__ADS_2