Polisi Cantik

Polisi Cantik
SISTER IN LAW


__ADS_3

Sesampai di depan rumahnya. Lee langsung keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil belakang untuk Sofia dan Manila.


Manila yang baru mengetahui rumah Lee. Dirinya langsung terpukau dan berdecak kagum, melihat rumah Lee yang begitu besar dan megah bak istana.


"Kenapa sayang?" tanya Lee pada Manila sambil menuntun Sofia.


"Tidak, tidak apa apa." jawabnya.


Manila kini mengalihkan pandanganya pada Lee dan segera membantu Lee menuntun Sofia menuju rumahnya.


Dengan Scan fingernya kini Lee telah membuka pintu depan rumah dan mulai memasukinya.


Dari dalam rumah Cody langsubg berlari menyambut kedatangan Lee.


"Tuan, kenapa anda tidak menghubungi saya terlebih dahulu." ucap Cody orang kepercayaan Lee.


Cody juga langsung terkaget setelah menyadari siapa wanita yang di tuntun Lee masuk ke dalam rumahnya.


"Nona Sofia ..." Cody meneteskan air mata kerinduanya.


Cody langsung menghampiri dan mencoba membantu menuntun Sofia menggantikan Lee.


"Tuan, izinkan saya menuntun dan membantu nona Sofia." pinta Cody pada Lee.


Lee mengangguk dan mempersilahkan Cody agar menggantikan posisinya.


Dan kini Cody dan Manila kembali menuntun Sofia agar segera duduk di sofa ruang tamunya.


Dalam diamnya. Manila terus memperhatikan Cody yang tak hentinya menangis memandang wajah Sofia.


Sepertinya dia sangat menyayangi sekali Sofia.


"Paman Cody." panggil Lee.


Cody yang sedang duduk di sebelah Sofia. Kini dirinya bangun dan segera menghampiri Lee.


"Iya, Tuan." jawab Cody yang kini berdiri di hadapan Lee dan Manila.


Lee memperkenalkan Manila pada Cody dan menjelaskan status hubunganya antara dia dan Manila.


"Paman, bisakah kau cari seseorang untuk merawat Sofia? karena mulai hari ini Sofia akan tinggal bersama kita." ucap Lee dan Cody pun mengangguk dan langsung mengambil handphone dari dalam sakunya.


Lee melihat Manila yang kini melangkah menghampiri Sofia yang sedang duduk di sofa.


"Sayang, apa kau lelah?" Manila mengusap rambut Sofia agar tidak menutupi wajahnya.


Sofia menggeleng gelengkan kepalanya pada Manila.


"Kakak cantik, Sofia lapar ... Sofia ingin makan." Sofia memeluk tangan Manila.


"I ya, tunggu sebentar. Kakak akan buatkan untukmu. Jadi Sofia jangan kemana mana, cukup duduk disini aja." titah Manila dan Sofia pun menganguk patuh.


Lee hanya tersenyum merasa nyaman dengan Manila yang begitu cepat akrabnya dengan Sofia.


"Lee, rumahmu terlalu besar. Bisakah kau tunjukan padaku dimana letak dapurnya." pinta Manila.

__ADS_1


"Baiklah, ikutlah denganku." ajak Lee dan Manila pun mengekor dari belakang.


Dan tak berselang lama. Kini Manila telah sampai di dapur rumah Lee.


"Dapurnya bersih dan nyaman." ucap Manila.


"Dapur ini sudah lama tidak di pergunakan." ucap Lee dengan tangan sambil membuka pintu lemari pendinginya.


"Mengapa seperti itu?" Manila menanggapi ucapan Lee sambil mengambil ayam dari lemari pendingin dan membawanya ke depan wastafel dapurnya.


Lee menutup kembali lemari pendingin setelah mengambil beberapa bumbunya.


Tak mendapat jawaban. Manila kini memandang ke arah wajah Lee yang kini telah berdiri di sampingnya.


Kenapa wajahnya berubah menjadi sedih seperti itu. Apakah pertanyaan salah barusan.


Lee memandang enggan pada Manila.


"Sudahlah ... lupakan saja itu." ucap Lee.


Manila menganguk dan kini mulai membersihkan ayamnya untuk nanti di masak.


"Ngomong ngomong, apa yang akan kau buat dengan ayam itu?" tanya Lee.


Manila menoleh ke arah Lee sambil tertawa kecil.


"Apakah Sofia menyukai ayam goreng asam manis?" tanya Manila.


Lee kini memeluk Manila dari belakang dan menyenderkan dagunya pada pundak Manila.


"Sayang ..." Manila merasakan sesuatu yang tidak nyaman telah menempel pada pantatnya.


"Iya, kenapa?" bisik Lee di telinga Manila.


Wajah Manila seketika memerah ketika nafas Lee menghembus pada ceruk lehernya.


"Aku tidak bisa bernafas, bisakah kau lepaskan aku." pinta Manila dengan sangat hati hati agar tidak menyinggung perasaan Lee.


Lee melepaskan pelukan dan membalikan posisi Manila menjadi menghadapnya.


"Baiklah, aku akan memberimu nafas buatan." Lee tersenyum licik.


Dan dengan cepat Lee membungkam Manila dengan bibirnya.


Lee dengan rakus melahap dan menyesap bibir manis Manila yang laksana madu dan candu baginya.


"Hentikan!" Manila mendorong Lee dan langsung melanjutkan kembali pekerjaan mengolah ayamnya.


Lee tersenyum puas. Dia mengusap saliva manila yang masih menempel pada bibir dengan punggung tanganya.


"Berhentilah menggangguku, Aku tak ingin membuat Sofia menunggu lebih lama." ucap Manila tanpa menoleh pada Lee yang masih tersenyum puas.


1 Jam berlalu


Kini ayam goreng asam manis made in Manila telah sepenuhnya selesai dan siap di bawa menuju Sofia yang berada di ruang tamu.

__ADS_1


"Biar aku saja yang membawanya." titah Lee sambil memegang piring besar ayam goreng asam manisnya.


Manila mengangguk dan kini melangkah di ikuti Lee dari belakang menuju ruang tamunya.


"Dia tertidur sayang." ucap Manila yang melihat Sofia sudah memejamkan matanya di Sofa.


Lee menaruh piring ayam goreng dan duduk di sebelah Sofia yang terbaring tidur.


"Sayang ... bangun. Ini ayam goreng kesukaanmu sudah jadi." Lee menepuk nepuk pipi Sofia.


Sudah beberapa menit tapi Sofia belum kunjung terbangun juga.


Sepintas ide terlintas di kepala Manila.


Manila mengambil piring ayam goreng asam manis dan mendekatkanya pada hidung Sofia.


Dan benar saja. Dengan cepat Sofia kini tersadar dari tidurnya, mengerjap ngerjapkan mata memperjelas arah pandangnya pada piring ayam goreng yang masih di pegang Manila.


Manila menaruh kembali piring tersebut ke atas meja.


"Biar kakak suapin ya." Manila kini mulai mecubit sedikit ayam goreng tersebut dan meniupinya.


"A ... sayang." tukas Manila dan Sofia pun mengikuti dengan membuka mulutnya.


Mata Sofia membulat kaget dengan rasa ayam goreng asama manisnya.


"Kau suka?" tanya Manila dengan ragu.


"I ya, Kakak. Sofia suka." Sofia kembali membuka mulutnya.


Layaknya anak kecil yang berusia 5 Tahun, seperti itulah Sofia saat ini.


Cubitan demi cubitan di lakukan Lee dan Manila pada ayam goreng asam manisnya. Hingga tak tersadar ayam goreng itu tinggal menyisakan tulangnya saja.


Selesai dengan itu. Kini Cody datang membawakan air minum untuk mereka.


"Terima kasih Paman." ucap Lee seraya menuangkan air tersebut ke dalam gelas.


Dan dengan perlahan Lee menempelkan gelas tersebut pada bibir Sofia.


"Minum dulu sayang." tukas Lee.


Dan Manila juga mengambil tisu untuk membersihkan mulut Sofia.


"Terima kasih tuhan, mereka benar benar menyayangi nona Sofia sepenuh hati." ucap Cody di dalam hatinya.


2 jam berlalu ...


Manila menolehkan pandanganya pada jam besar yang berada di dalam rumah Lee.


"Sofia sayang, waktunya mandi. Ayo mandi sama Kakak." Manila bangun dari duduk dan menuntun Sofia menuju kamar mandinya.


Manila menghentikan langkahnya sesaat. Dan menoleh ke arah Lee yang masih yang memandangnya.


"Sayang ..., bisakah kau siapkan baju ganti untuk Sofia." Pinta Manila

__ADS_1


"Baiklah," Lee berlari kecil menuju kamar Sofia.


__ADS_2