Polisi Cantik

Polisi Cantik
KESAL


__ADS_3

Kini Manila dan lainya telah sampai di New york. Tempat dimana mereka akan bertugas kembali seperti biasanya.


Di hari senin pagi yang cerah. Mobil Lee sudah terlihat parkir di depan gedung apartemen Manila.


Tok ... Tok ... Tok.


Suara ketukan pintu terdengar jelas di telinga Manila. Dirinya kini beringsut turun dari tempat tidurnya.


Manila keluar dari kamar menuju pintu apartemen.


Ceklek ...


"Lee ..." ucap Manila.


"Sayang ..." Lee membulatkan mata melihat Manila yang hanya menggunakan lingeri tidurnya saja.


Dengan cepat Manila langsung menutup pintu merasakan hal yang memalukan di dalam hidupnya.


"Kenapa aku bisa lupa?" Manila menyenderkan kepala di pintu merutuki kebodohanya.


"Kau sangat seksih sayang." puji Lee yang kini tiba tiba berdiri di belakang Manila tersenyum penuh makna.


Manila membalikan badan dan menyenderkan dirinya di pintu sambil menutup kedua bukit kembarnya.


"Lee ..." Manila menunduk malu.


Manila lupa akan kekuatan kekasihnya yang bisa bergerak secepat kilat melebihi pandanganya.


Manila mencoba melangkah pergi meninggalkan Lee, Namun dengan cepat Lee menarik tangan Manila hingga kini masuk ke dalam pelukanya.


Kedua pandangan mereka beradu.


Tubuh Manila kini berdesir seiring dengan Lee yang mulai mencercapi lehernya.


"Sayang ... aku mohon hentikan." ucap Manila akan tetapi tubuhnya bertolak belakang.


Lee kini menarik tengkuk Manila dan mulai mencicipi manisnya Vitamin C yang sudah lama tak di dapatkanya.


Eppppokkksss ...


Perlahan Lee melepas pagutanya dan memandang ke arah Wajah Manila yang masih memejamkan matanya menikmati lezatnya bertukar saliva.


"Bibirmu manis sekali sayang." bisik Lee.


Manila membuka matanya merasakan malu dan langsung menenggelamkan wajah di dada bidang Lee.


"Apaan sih kamu." tukas Manila.


"Cepatlah mandi! Kalau tidak kita akan terlambat." Lee kini melangkah dan duduk di sofa.


"Memangnya kita mau kemana?" tanya Manila yang heran.


Lee menghembus nafasnya dengan malas.


"Bertugaslah sayang." jawab Lee.


"Kau lupa kalau aku sudah mengundurkan diri." Manila sedikit merasakan penyesalanya.


Lee tertawa dan kini berdiri dan bergerak secepat angin dan berada tepat di hadapan Manila.


Dengan santai Lee memeluk kembali dan mengecup manis bibir Manila yang sudah menjadi candu berat baginya.


"Surat pengunduran dirimu itu palsu! Michael dan Letnan Bryan sudah merencanakan ini semua." jelas Lee.


Seraut wajah ceria penuh semangat kini terlihat pada Manila.


Cupppss ...

__ADS_1


Manila dengan cepat menarik tengkuk Lee dan melahap bibirnya.


Epppokkkk ...


Lee tertegun dan tak percaya sekaligus merasa senang dengan keagresifan tunanganya.


"Tunggu sebentar, aku mandi dulu. Awas saja kalau kau berani menggunakan kekuatanmu untuk mengintipku." Manila berlari masuk ke dalam kamar mandinya.


Sedangkan Lee masih saja memegang bibirnya seakan tak percaya dengan tunanganya yang kini lebih ganas melahap dan menikmati bibirnya.


"Luar biasa." Lee berdecak kagum memandang body Manila yang berlari masuk ke dalam kamar mandinya.


Di apartement si Play boy cap mlehoy. Michael yang baru saja menggunakan sepatunya. Kini dirinya terlihat masih santai menikmati kopi paginya dengan mata dan tangan yang asyik membalas pesan chat dari Sofia.


"Kak Chel. udah sarapan?" tanya Sofia di dalam chatnya.


Michael tersenyum membaca chat pesan dari Sofia yang bermakna sebuah perhatian.


"Belum, sayank akoh.Entah kenapa Kok bawaanya pengen di suapin aja sekarang." goda Michael.


"Ihhh dah berani yah manggil Sofia pake sayang. Jadian aja belum!" tegas Sofia.


Michael membulatkan mata sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Bukanya di tempat Manila dulu kita ..." Michael tak berani meneruskan ucapanya.


"Yeee ... Seorang wanita itu butuh pembuktian Kak Chel! No Hoax No tipu tipu!" tegas Sofia yang sambil tertawa mengirim Chatnya pada Michael.


"Ouwh ... jadi kamu pengen bukti yang kongkret toh." gumam Michael sambil menganggukan kepalanya.


"Sofia ... apakah malam minggu besok kau ada acara?" tanya Michael yang ingin mengajak Sofia bertemu.


"Kenapa harus malam minggu, Nanti malam Sofia tidak punya acara Kok." Sofia memberi Isyarat lampu hijau.


"Ya elah busyet ... gua demen yang kek begini nih. Bukan lampu hijau lagi tapi lampu patromak ha ... ha." Michael tertawa sebelum membalas chatnya.


"Iya, Kak Chel. Sofia tunggu🥰."


Kirim kiriman pesan chat pun berakhir. Michael menoleh jam yang terpajang di dinding dan langsung menyeruput habis kopi di dalam gelasnya.


Dengan membulatkan tekad dan niat yang sepenuh hati. Kini Michael Michael mulai melangkahkan kakinya keluar dari apartement.


Kembali pada Lee dan Manila. Mereka berdua sudah terlihat berseragam polisi dengan rapih.


"Ayo kita berangkat." ajak Manila sambil menggenggam tangan Kekasihnya.


"Tunggu sebentar! dimana jaketmu? tumben kok tidak memakai jaketmu hari ini?" tanya Lee.


Dua jaketku tertinggal di rumah Paman. Dan satunya belum kering." Manila tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya.


Lee mengangguk dan kini langsung melepaskan jaketnya.


"Kenapa kau melepas jaketmu?" Manila merasa heran.


Lee memakaikan jaketnya pada Manila.


"Sudah, jangan banyak tanya! pakai saja, aku tak mau nanti kau sakit." ketus Lee.


"Cie ... Udah perhatian banget sekarang ma akoh." goda Manila.


"Mau aku cium!" ancam Lee sambil menyeringai senyum liciknya.


Manila menggeleng gelengkan kepalanya. Dia tak mau pagi ini Lee membuatnya hanyut ke surga.


Mereka berdua kini melangkah keluar dari apartementnya menuju mobil Lee yang sudah terparkir di luar.


Beberapa saat berlalu. Kini mereka berdua telah sampai di kantor kepolisian dan mengikuti apel yang sudah biasa di lakukanya setiap pagi beserta rekan yang lainya.

__ADS_1


Dan setelah selesai dengan apelnya. Seperti biasa semua para staf police Officer akan menikmati 30 menit breaktimenya.


"Dimana Michael?" tanya Manila pada Lee yang sedang berjalan di sampingnya menuju kantin.


Lee memfokuskan pandanganya menatap ke arah Cafe yang biasa menjadi tongkrongan rekan polisi lainya.


"Michael sedang berada disana." Lee menggdikan kepalanya menunjuk ke arah Cafe.


"Darimana kau tahu?" Manila memiringkan kepalanya seakan tak percaya dengan jawaban yang di ucapkan Lee padanya.


"Bagaimana kalau kita bertaruh? Kalau dia berada disana, Kau harus menciumku dengan sepenuh hatimu?" tantang Lee pada Manila.


"Kalau tidak?" tanya lagi Manila ingin mengetahui konsekuensi apabila kalah.


"Aku akan menciumu juga dengan sepenuh hatiku, bagaimana?" Lee tersenyum licik.


"Itu mah enak di kamu gak enak di akoh!" Manila greget dan menjewer telinga Lee hingga memerah.


"Adu ..du..h. Sakit sayang." Lee mengusap telinganya yang terasa panas.


Manila melipat kedua tanganya di dada sambil mencebikan bibirnya.


"Lagian punya tunangan Kok cabul banget pikiranya." ucap Manila yang kini kembali melangkahkan kakinya menuju Cafe.


"Iya, ya. Aku minta maaf." Lee melangkah mengekori Manila.


Di dalam Cafe Manila langsung melangkah ke arah meja yang sedang di duduki Michael.


"Hei ... sudah sedari tadi?" sapa Manila pada Michael yang sedang asyik dengan koran paginya.


Michael melipat koran dan menaruhnya di meja.


"Iya, mana Lee?" tanya Michael.


Manila menolehkan pandangan ke arah Lee yang sedang memesan dua kopi manis untuknya dan untuk dirinya.


Manila duduk dan tak berselang lama Lee kini telah datang membawa dua gelas kopi paginya.


"Seneng bener kau Chel pagi ini?" tanya Lee yang baru saja menaruh kopinya di meja.


"Terima kasih," tanpa aba aba lagi Michael mengambil kopi yang di bawa Lee dan meminumnya.


"Eh ..eh ...eh. Maen serogot aja kopi orang." Lee berdecak kesal.


"Sudah tidak apa apa sayang." ucap Manila pada Lee.


"Hei, Michael. Kau belum menjawab pertanyaan dari Lee tadi?" tukas Manila yang penasaran.


"Ouwh itu, jelas aku senang. Karena malam ini statusku sebagai Jomblo akan lepas dan menjauh dari pundaku." Michael kembali tertawa dan meminum kopinya.


Lee mengeratkan rangkulanya ke pinggang Manila. Sambil mengelap pinggiran bibir Manila bekas minum kopi dengan tisunya.


"Sayang ... minum kopinya pelan pelan saja." ujar Lee.


"Sungguh menyebalkan." Michael merasakan kesal melihat kemesraan rekanya.


Dari dulu Lee memang senang sekali membuat Michael marah.


"Manila sayang." panggil Lee dengan mesranya dan Manila pun seketika menoleh.


CUPSSS ... Eppppokkkss.


Lee menarik dagu Manila dan dengan cepat mencium dengan dalam dan penuh penghikmatan dan kemudian melepaskanya secara fenomenal.


"Dasar kalian! minim akhlak, tega sekali kau berbuat itu di hadapanku." Michael merasa kesal dan memilih pergi meninggalkan Lee dan Manila yang kini puas mentertawakanya.


JANGAN LUPA! Klik like dan favourite kan juga ya.

__ADS_1


__ADS_2