Polisi Cantik

Polisi Cantik
MENYAMAR


__ADS_3

Sore hari tepatnya di kantor kepolisian pusat. Letnan Bryan bersama ke tiga bawahanya terlihat berbincang menyusun strateginya untuk memancing si dukun cabul yang meresahkan warga.


"Jadi rencana apa yang sudah kalian susun untuk menangkap Dukun cabul itu?" tanya Bryan mengawali perbincanganya.


"Kita bertiga sudah bersepakat. Bahwa nanti Michael dan Manila akan menyamar menjadi sepasang muda mudi yang sedang berpacaran." jelas Lee pada Bryan.


"Lantas apa peran yang akan kau lakoni disini?" tanya lagi Letnan Bryan pada Lee.


Lee tertawa merasakan hal lucu dengan peran yang nantinya akan di lakoni dalam penyamaranya.


Sedangkan Letnan Bryan malah terlihat bingung tak mengerti dengan Lee yang tiba tiba saja tertawa di hadapanya.


"Lee nanti akan berperan sebagai pedagang bakso Cuankie keliling, yang kebetulan mangkal di dekat gang yang di sinyalir tempat Dukun cabul itu beraksi." tukas Michael membantu Lee menjawab.


"Apa! tukang bakso cuankie?" Letnan Bryan kaget dan kini memandang ke arah Lee meminta kepastian.


"Benar, peran itulah yang nanti akan ku lakoni nanti." Lee membenarkan apa yang telah di jelaskan Michael pada Bryan.


"Ada ada saja kalian ini." Letnan menepuk jidat sambil menggelengkan kepalanya.


Selesai dengan perbincangan seputar rencana strateginya. Letnan Bryan kini melangkah pergi meninggalkan ke tiga bawahanya.


"Michael apa kau sudah menyewa gerobak bakso yang nanti akan di gunakan Lee saat beraksi?" tanya Manila.


Michael mengangguk mantap mengiyakan pertanyaan dari Manila.


"Bukan hanya gerobak, aku pun sudah menyiapkan baju lusuh yang nantinya akan membuat Lee tampil meyakinkan sebagai sebagai babang tukang bakso di mata orang yang melihatnya." jawab Michael sambil tersenyum licik berniat sekaligus mengerjai Lee.


"Hei ... itu di luar rencana kita. Mengapa kau mendadak sampai ke bagian kostume segala." tukas Lee yang tidak terima dan tahu bahwa Michael akan mengerjainya.


"Lee, profesional lah sedikit. Bukanya kau sendiri yang mengatakan pada kita, apapun itu caranya yang penting kita bisa meringkus Dukun cabul tersebut." Michael berkilah menutupi ke isenganya.


Tak ingin berkepanjangan menyaksikan perdebatan kecil antara Lee dan Michael. Akhirnya Manila langsung melerainya.

__ADS_1


"Sudah ... sudah. Kalian berdua jangan seperti anak kecil, Benar dengan apa yang di katakan Michael. Kita harus profesional disini." tegas Manila.


"Tuh ... kan. Manila saja sependapat denganku, kenapa kau sendiri malah tidak terima." ucap Michael sambil tersenyum penuh kemenangan.


Dengan malas Lee akhirnya menerima semua itu.


Manila menatap jam dinding yang terpajang di dinding ruang kepolisianya.


"Sudah jam 4 sore. Sebaiknya kita langsung menuju ke tempat untuk segera menggganti pakaian kita." tukas Manila.


Lee dan Michael mengangguk dan langsung bangkit dari duduknya. Sesaat Lee dengan Michael beradu pandang dan langsung membuang muka enggan memandang satu sama lain.


Akhirnya mereka bertiga sampai di 300 meter sebelum lokasi, sebuah rumah kecil yang ia sewa untuk mereka jadikan markas sesaatnya.


Manila dan Michael bergegas mengganti seragam kepolisianya dengan pakaian casual anak muda pada umumnya.


Dengan tertawa puas. Michael menyerahkan baju lusuh style tukang bakso pada Lee.


"Tutup mulutmu!" Lee setengah malas menerima kostum tersebut.


"Lee, sudahlah. Cepat kau pakai baju itu, kita harus segera beraksi." titah Manila pada Lee.


Lee dengan terpaksa melangkah ke dalam kamar untuk segera mengganti pakain seragamnya.


"Kalau bukan karena misi tugas, mana mungkin aku mau mengenakan kaos oblong yang sudah bolong pada bagian ketiak dan lehernya." keluh Lee yang merasa jengkel dengan Michael.


Tak hanya itu. Lee juga mengalungkan handuk kecil pada leher dan topi layaknya tukang bakso yang sering mangkal di pinggir jalan dan kita temui pada umunya.


Dan tak berselang lama kini telah kembali bergabung bersama Manila dan Michael.


Manila yang melihat langsung menutup mulut dengan tanganya. Dirinya tidak tahan lagi melihat kekasihnya yang kini berpenampilan 100% mirip tukang Bakso.


"Bhua ... ha ... ha. Tak ku sangka, ternyata di balik wajah tampanmu. Kau memendam bakat menjadi seorang pedagang Bakso." ejek Michael dengan puas bercampur tawa.

__ADS_1


Lee mengepalkan tangan merasakan suasana hati yang kurang menyenangkan karena penampilanya.


Dan Manila yang mengetahui hal itu langsung menarik tangan Lee dan menaruh di atas dadanya.


"Apapun penampilanmu. Cintaku tak akan berubah padamu." tukas Manila yang berharap Lee akan segera terlihat tenang di matanya.


"Hentikan rayuanmu! Karena itu tak bisa membuat suasana hatiku menjadi tenang." jawab Lee sambil melangkah melewati Michael yang masih menatap dan mentertawakanya.


Namun baru saja beberapa langkah. Manila langsung menarik tangan Lee hingga Lee tertarik dan masuk ke dalam pekukanya.


"Jangan marah ya sayang, Nanti tampanya luntur loh." goda Manila sambil memeluk Lee dengan erat.


"Kiss dulu baru aku akan tenang." bisik Lee pada telinga Manila.


Manila membulatkan mata dengan wajah yang kini memerah malu.


"Mmmuachhh ..." dengan secepat kikat Manila mencium pipi Lee.


"Kok Pipi?" tanya Lee yang merasa tidak puas.


"Lantas ..." tanya Manila sambil menatap kedua mata Lee.


Dan tanpa aba aba lagi Lee langsung menarik tengkuk Manila dan merapatkan pada wajahnya.


Sedangkan Michael hanya bisa menelan ludah menyaksikan Lee yang begitu mahir dan piawainya bermain dengan bibir tipis Manila.


Michael berbalik dan memilih menghindar untuk tidak menyaksikan adegan dewasa layaknya drama korea yang sering muncul di layar kaca.


"Nasib ... nasib." Michael mengusap dada merasakan hasrat yang belum bisa ia salurkan karena tak ada lawan.


Eppppokkkkk ...


Manila segera melepas pagutanya dan mencoba menghindari permainan lembut Lee yang memaksa lebih dalam.

__ADS_1


Manila mencubit perut Lee hingga mengaduh kesakitan.


"Dasar! ... nuafsu apa doyan." tukas Manila sambil melangkah meninggalkan Lee yang sedang mengusap bibirnya yang telah merasa puas.


__ADS_2