
Ke esokan harinya. Pihak kepolisian mengalami sedikit kerepotan karena Si Dukun cabul terus mencoba memberontak tak mau di bawa ke kantor kepolisian.
"Lepas ... lepaskan aku!!!" seru si dukun cabul yang mencoba melepas tanga kedua polisi yang terus memegangi tanganya.
"Apa yang harus kita lakukan? orang ini terus memberontak." ucap salah satu petugas yang merasa kewalahan memegangi si dukun cabul.
"Tak ada jalan lain lagi, Bius saja dia!" titah rekanya itu.
Kecusss...
Salah satu polisi berhasil menyuntikan obat bius ke tengkuk si Dukun cabul dan membuatnya pingsan seketika.
"Masih hidup saja sudah bikin repot orang kamu ini!" ujar salah petugas kepolisian yang telah berhasil melemparkan tubuh si Dukun ke atas mobil losbak kepolisianya.
"Ho'oH bener. Apalagi nanti kalau mati." timpal salah satu rekanya.
Pihak kepolisian kini telah berhasil membawa si Dukun cabul dan langsung menjembloskanya ke dalam penjara.
Sementara di lain tempat. Lee masih terlihat mencoba menenangkan Manila yang masih di rudung trauma berat akibat percobaan pemerkosaan yang telah di lakukan Dukun cabul padanya.
"Aku ingin pulang ... aku ingin tinggal bersama Paman dan Bibiku saja di kampung." tukas Manila dan Lee pun hanya bisa terdiam.
"Kau boleh saja pulang, tapi apa kau yakin ingin berhenti dari kepolisian.?" tanya Lee.
Manila mengangguk sambil menangis.
"Apa sudah kau pikirkan matang-matang Manila, Bukankah menjadi polisi dan menegakan keadilan adalah cita cita luhurmu." Lee kini duduk di sebelah Manila dan merangkul pundaknya.
"Bayangan ... bayangan Dukun bejat itu terus menghantuiku, Lee." ujar Manila sambil menyenderkan kepalanya di bahu Lee.
Ini semua salahku Manila. Seandainya aku tidak menyuruhmu untuk pergi terlebih dahulu, Mungkin percobaan pemerkosaan Dukun cabul itu padamu tak akan pernah terjadi.
"Lee, bisakah kau tinggalkan aku sendiri disini." pinta Manila.
Lee nenghela nafas dan tak ada yang bisa ia lakukan saat ini selain membiarkan Manila sendiri.
"Baiklah ...." ucap Lee seraya melangkah pergi meninggalkan kamar apartemen Manila.
Lee berjalan menuju mobilnya yang terparkir di pinggir jalan depan apartemen Manila.
Dan tiba tiba saja handphone di dalam sakunya bergetar dan menunjukan sebuah panggilan dari Letnan Bryan Storm.
"Lee ... posisi dimana?" tanya Letnan Bryan di dalam panggilanya.
"Saya sedang berada di luar gedung apartemen Manila." jawabnya.
__ADS_1
"Aku tunggu kau sekarang di ruanganku!" titah Letnan Bryan yang langsung di angguki Lee.
Lee langsung masuk ke dalam mobil dan melajukanya menuju kantor kepolisian guna menemui Letnan Bryan di ruanganya.
Sesampai di kantor polisi. Lee yang telah memparkirkan mobilnya dengan cantik. Kini ia terlihat berlari kecil guna mempercepat langkahnya untuk menemui Letnan Bryan.
Di depan pintu ruangan Letnan Bryan. Lee langsung mengetuk pintunya.
"Masuk." seru Letnan Bryan di dalam ruanganya.
Lee masuk dan langsung menghampiri Letnan Bryan yang sudah sedari tadi menunggunya.
"Siang, Letnan." sapa Lee.
"Siang juga Lee, duduklah!" jawabnya.
"Bagaimana dengan keadaan Manila saat ini?" tanya Letnan yang sangat mengkhawatirkan bawahanya.
Lee menunduk bingung entah bagaimana cara menyampaikan pada atasanya.
"Manila ..." Lee menggantung ucapanya hingga membuat Letnan Bryan semakin penasaran di buatanya.
"Manila kenapa Lee? katakan padaku!" Bryan semakin cemas.
"Tidak ... tidak mungkin! apa dia tidak bermain dengan ucapanya, Lee?" Bryan mengusap wajahnya dengan kasar merasakan dirinya yang telah gagal melindungi bawahanya.
Di tengah ketegangan dan rasa buntu yang di alami Lee dan Letnan Bryan. Michael yang keadaanya sudah fit dan kembali normal. Kini dirinya sedang berdiri di depan pintu ruangan Letnan Bryan.
Tok ... tok ... tok ...
Lee dan Letnan Bryan menoleh ke arah suara pintu ruangan yang di ketuk Michael.
"Masuk." seru Letnan Bryan dari dalam ruanganya.
Michael masuk dan mendapati kedua wajah teman dan atasanya yang terlihat lesu dan tak bergairah.
"Ada apa ini? kenapa wajahmu sama lesunya dengan Letnan?" tanya Michael sambil mendudukan dirinya di kursi sebelah Lee.
Michael mengarahkan pandanganya ke arah Letnan Bryan dan Lee berulang ulang.
"Aku tahu! Pasti ada sesuatu hal yang serius. Hingga membuat kalian berdua menjadi kurang bersemangat. Iya kan?" tebak Michael dengan nada setengah bercanda dalam tawa kecilnya.
"Diamlah kau Michael! Apa kau belum tahu jika Manila meminta mengundurkan diri secara mendadak hari ini." jelas Letnan Bryan dengan nada tidak bercanda.
"Apa! benarkah itu Lee?" Michael bangkit dari duduk dan kemudian meminta kepastian yang di dengarnya pada Lee.
__ADS_1
"Iya, itu benar." Lee mengangguk lesu.
"Aku yakin, pasti percobaan pemerkosaan Dukun cabul bejat itu menjadikan trauma berat bagi Manila." tukas Michael, Letnan Bryan dan Lee pun menatap Michael sambil mengangguk mengiyakanya.
"Apa kau punya ide atau saran agar Manila bisa tetap disini tanpa harus mengundurkan diri? Karena jika itu sampai terjadi, Grace pasti langsung menghajarku habis habisan." Letnan Bryan bergidik ngeri dengan apa yang akan di alaminya nanti.
"Lee apa kau sudah menemui Manila? dan apa yang akan dilakukanya jika sudah berhenti dari sini?" tanya Michael.
"Tadi pagi aku sudah menemui dia di apartementnya. Dia mengatakan padaku bahwa untuk saat ini dia ingin pulang kampung dan tinggal bersama paman dan Bibinya saja." jelas Lee dan Michael pun mengangguk paham.
Michael bangkit dari duduk. Dirinya kini terlihat mondar mandir layaknya sebuah sebuah gosokan setrika.
"Michael ... tak bisakah kau berhenti mondar mandir seperti itu!" tegur Letnan Bryan yang merasa pusing dan mengalami kebuntuan di dalam pemikiranya.
"Aha! aku punya ide." Michael menghentikan langkah mondar mandirnya dan langsung menatap wajah Lee dan Letnan secara bergantian.
Letnan Bryan dan Lee kini berdiri menunggu ide cemerlang yang akan di lontarkan Michael pada mereka berdua.
"Kita buat laporan palsu pengunduran diri Manila." tukas Michael.
"Laporan palsu?" tanya lagi Lee.
"Iya, laporan palsu. Dan setelah itu kau berikan laporan itu pada Manila. Aku yakin Manila akan beranggapan bahwa dirinya sudah resend dari kepolisian. Kelarkan?" tandas Michael.
"Dan Letnan Bryan, tugas anda disini adalah memanipulasi laporan ini dan tinggal mengatakan pada kepolisian pusat bahwa Manila membutuhkan cuti panjang karena traumanya." jelas Michael pada Letnan Bryan.
Letnan Bryan kembali duduk sambil menepuk jidatnya.
"Kenapa hal ini tak pernah terlintas dalam pemikiranku." Letnan Bryan merutuki kebodohanya.
"Dan setelah itu?" tanya lagi Lee pada Michael menunggu intruksi selanjutnya.
"Lee ... kau ini bodoh apa telat mikir sih! Kau sebagai kekasih Manila seharusnya pemikiranmu lebih luas daripada aku." tukas Michael yang membuat kecewa pada cara pemikiran Lee yang sama lambatnya dengan Letnan Bryan.
Lee menggaruk kepalamya yang tidak gatal dan menggedikan kepalanya meminta saran pada Michael.
"Dengarkan aku Lee, Kau antarkan Manila ke kampung halamanya. Yah, sekalian kau bisa menemui Paman dan Bibinya untuk sekedar PDKT." jelas Michael dan Lee pun mengangguk paham.
Michael berkacak pinggang menatap Letnan Bryan dan Lee yang masih memandanginya.
"Nah, sekarang permasalahanya sudah selesai, kan? Manila bisa bergabung lagi dengan kita nanti setelah semua trauma di dalam kepalanya hilang." ucap Michael sekaligus penutup dari ide cemerlangnya.
"Tumben otakmu hari ini jenius, Chel." puji Letnan Bryan yang merasa bangga pada Michael.
"Iya, lah. Michael dilawan! Bhua ... ha ... ha." Michael tertawa terbahak membanggakan dirinya.
__ADS_1