Polisi Cantik

Polisi Cantik
ORANG ORANG TERSAYANG


__ADS_3

Setelah di rasa puas dan cukup melampiaskan dendamnya. Kini akhirnya sang supir buka suara dan menyampaikan semua apa yang telah di sampaikan Dokter yang menangani Manila sebelumnya.


"Apa! hanya itu saja." ujar Michael yang merasa telah di bodohi supir itu mentah mentah.


"Tapi, kan benar. Hanya itu saja kok yang di sampaikan Dokter pada saya." jawab supir dengan santainya.


Enggan berdebat untuk masalah yang tak penting. Kini mereka semua memutuskan untuk kembali ke ruang tunggu. Dan menunggu Manila siuman dari pengaruh obat tidurnya.


Lee tak hentinya mondar mandir di depan pintu ruangan Manila. Rasa cemas, gelisah dan takut kehilangan berkecamuk di dalam benaknya.


Cklek ...


Pintu ruangan Manila kini terbuka dan memunculkan seorang Dokter yang terlihat dengan beberapa asistennya.


"Bagaimana keadaan pasien, Dok?" tanya Lee yang sangat mencemaskan Manila.


Dokter itu tersenyum melihat wajah Lee yang terlihat benar benar takut kehilangan.


"Sebelumnya. Saya minta maaf telah membuat anda menunggu. Pasien sekarang sudah sadar, dan tekanan darahnya pun kini telah kembali normal." jelas Dokter yang membuat Lee dan yang lainya bisa tersenyum lega.


"Apakah itu artinya saya sudah bisa masuk untuk menjenguknya?" tanya Lee meminta kepastian Dokter.


"Boleh ... asalkan tertib dan tidak membuat keadaan pasien terganggu." jawab Dokter itu.


"Terima kasih, Dok. Maaf telah merepotkan anda." ucap Letnan Bryan dengan senang dan mengajak berjabat tangan.


"Sama sama, Pak. Sudah menjadi kewajiban saya sebagai Dokter. Kalau begitu, kami pamit untuk mengerjakan tugas lainya." jawab Dokter seraya melangkah pergi meninggalkan semua rekan Manila di depan pintu ruanganya.


Lee bersama Sofia masuk ke dalam kamar ruangan Manila. Sedangkan yang lainya bersabar menunggu antrian selanjutnya.


"Manila ..." Lee langsung menghampiri dan mencium keningnya.


"Lee ... maafkan aku." ucap Manila dengan lirih dan matanya yang kini mengeluarkan airnya.

__ADS_1


Lee duduk dan langsung mencium punggung tangan Manila.


"Aku mohon Manila. Jangan kau lakukan hal seperti ini lagi." Lee memohon sambil menangis di hadapan Manila.


Pandangan Manila teralih melihat Sofia yang kini sudah berpenampilan lebih cantik dari sebelumnya.


"Sofia ..." panggil Manila.


"Iya, Kakak." Sofia segera mendekatkan wajahnya pada Manila sambil menangis.


"Sofia ... maafkan Kakak sayang." ucap Manila yang menyesali perbuatanya.


"Kakak sebaiknya jangan banyak bicara dulu dan beristirahatlah." tukas Sofia yang sangat mengkhawatirkan calon kakak iparnya.


Manila mengangguk. Di dalam hatinya kecilnya Manila merasa sangat senang dengan kehadiran kekasih dan calon adik iparnya yang selalu baik dan menjaga dirinya.


"Kakak apakah engkau tahu? selama Kak Manila belum sadar tadi, Kak Lee benar benar seperti orang stres dan hampir saja gila." ucap Sofia sambil tertawa dan membuat Manila merasa lucu dan senang di buatnya.


"Benarkah itu?" tanya Manila.


"Kak, cepat sembuh ya. Dan ingat! jangan lama lama pacaranya. Karena Sofia ingin Kakak tinggal bersama kami dengan status sudah menjadi kakak ipar." pinta Sofia hingga membuat Manila memerah malu.


*Ternyata ... selain cantik. Sofia juga sangat pandai. kalau begitu, aku tidak usah repot repot lagi mengutarakanya pada Manila*.


"Tapi sepertinya Kakak tidak bisa, Sofia." jawab Manila dengan sedih wajah yang di buat sedih sedemikian rupa.


Lee membulatkan mata seakan tak setuju dengan apa yang baru saja di ucapkan Manila.


"Kenapa tidak bisa?" tanya Lee penuh antusias penasaranya.


Sofia mengangguk mengiyakan jawabanya Kakaknya Lee. Dan beralih meminta kepastian dengan memandang Manila.


"Bertemu dengan orang tuaku saja belum pernah! apalagi melamar." jawab Manila dengan ketus dan malas memandang ke arah Lee.

__ADS_1


Sofia menyenggol tangan Lee dan menggedikan kepalanya.


Lee kini menggenggam tangan Manila kembali dan mencium punggung tanganya.


"Baiklah ... Aku berjanji padamu. Setelah kau sembuh, Aku akan langsung menemui kedua orang tuamu, Bagaimana?" ucap Lee yang meminta persetujuan kekasih hatinya.


Manila menangis dalam senyum. Dirinya sungguh tak menyangka bahwa Lee akan memantapkan niatnya.


Uhuk .. uhuk ...


Suara Michael terbatuk batuk seakan iklan layar kaca yang menjeda obrolan serius antara Manila dan Lee.


"Kenapa kau masuk sekarang?" tanya Lee yang merasa terganggu dengan kehadiran Michael disampingnya.


Michael mengacak ngacak rambut Lee karena setengah jengkelnya.


"Memang kau pikir kau saja yang ingin menjenguk Manila disini?" tanya Michael yang tidak berselang lama Grace dan Letnan Bryan pun menyusul masuk.


Manila hanya tertawa merasa lucu melihat wajah kekasihnya yang terlihat enggan terganggu.


"Manila sayang, Kau baik baik saja kan?" Grace mencium kening manila.


Manila mengangguk mengiyakan jawabanya.


"Manila ... jangan pernah merasa sendiri, Karena kami disini semua sangat menyayangimu dan sudah menganggapmu sebagai keluarga." ucap Letnan Bryan yang kini telah berdiri di tengah tengah orang yang sangat menyayangi Manila.


"Benar itu Manila!" timpal Michael sambil melipat tanganya di dada.


Ketika itu Manila benar benar merasa sangat di perhatikan dan di manjakan sekali.


"Mana yang sakit? cepat katakan padaku?" tanya Grace yang kini mulai memijat mijat kaki Manila.


"Kak, Tak perlu repot seperti itu." ucap Manila yang merasa tidak enak.

__ADS_1


"Tidak apa apa. Sofia, bantu Tante untuk memijat kaki Manila yang satunya lagi." pinta Grace dan Sofia pun langsung mengerjakanya.


__ADS_2