Polisi Cantik

Polisi Cantik
KESEMPATAN DALAM KESEMPITAN


__ADS_3

Beralih pada Michael yang masih berdiri bersama Sofia dan Arby. Mereka bertiga tak hentinya mentertawakan Lee yang terus berteriak ketakutan di wahana ombak banyunya.


"Chel, apa kau tak ingin mencoba mencoba wahana lainya bersama Sofia? Lihatlah! disana masih banyak wahana permainan lainya yang patut kalian coba." Arby menunjuk beberapa wahana pada Michael dan Sofia.


Michael menoleh pada Sofia yang kini terlihat sedikit tegang namun penasaran.


"Kau mau mencobanya, Sofia?" Michael menggandeng tangan Sofia dan mengajak melangkah menghampiri kincir angin raksasa.


"Tunggu sebentar." Michael menghentikan langkah dan merogoh saku celana mengambil dompetnya.


"Aku tidak punya uang ringgit, apakah disini bisa menggunakan uang dolar untuk membeli tiketnya?" Michael meminta kepastian pada Sofia.


"Entahlahla, coba saja! siapa tahu petugas tiket itu mau menerima uang dolar dari kita." ujar Sofia.


Michael mencoba berbicara pada petugas tiket akan tetapi mereka menolak karena tidak terbiasanya menerima uang dolar untuk penukaranya.


Dengan kecewa Michael kembali menghampiri Sofia yang sudah menunggunya.


"Kak Chel. Apakah mereka mau menerima?" tanya Sofia meminta kepastian.


Michael menghembus nafas kecewa dan menggelengkan kepala.


"Maafkan aku, Sofia. Ternyata mereka tidak bisa menerima uang dolarku." jawabnya.


"Ya sudah tidak apa apa, Kak." ujar Sofia namun wajah kecewa tetap tak bisa di sembunyikanya.


Letnan Bryan dan Grace kini datang dan bergabung pada Michael dan Sofia yang masih berdiri dengan wajah penuh kekecewaan.


"Kalian kenapa hanya berdiri disini saja? Cobalah naik kincir angin dan ajak Sofia bersamamu." Letnan Bryan menatap heran pada Michael.


"Kami tak punya tiket Om, aku tidak bisa membelinya karena di dompetku hanya terdapat dolar dan bukan ringgit." jelas Michael.


Letnan Bryan mengangguk paham dan terlihat mengeluarkan beberapa tiket dari saku jaketnya.


"Banyak sekali, Om?" Michael tak menyangka bahwa Bryan akan menunjukan segepok tiketnya pada mereka.


"Ini ambil semua. Aku masih memiki segepok tiket lainya untuk ku habiskan bersama Grace istriku." Letnan Bryan memberikan segepok tiket itu pada Michael.


Wajah kekecewaan kini berubah menjadi senang. Michael dan Sofia beradu pandang dan kemudian menganggukan kepala merasa senang.


"Ayo, Sofia. Kita coba naik kincir anginya." ajak Michael yang langsung menggandeng tangan Sofia.


Michael dan Sofia kini masuk pada kincir angin dan duduk bersebelahan menunggu pengunjung lainya untuk duduk mengisi tempat duduk kincir raksasanya.


"Aku takut Kak Chel." Sofia menggenggam tangan Michael.


Hawa dingin yang bercampur keringat bisa di rasakan Michael ketika Sofia memegang tanganya.


"Kau tidak usah takut Sofia." ujar Michael dan Sofia pun mengangguk dan mencoba menenangkan pikiranya.


Petugas kincir angin meniup peluitnya pertanda kincir akan segera di operasikanya.


Dan semua pengunjung yang menumpanginya terlihat senang dan bahkan ada juga yang terlihat ketakutan.


Dari atas. Michael dan Sofia berdecak kagum melihat keindahan lampu malam yang menghiasi tempat dimana Manila tinggal.


"Indah sekali." Sofia berdecak kagum.


"Iya, bahkan pemandanganya tak kalah menarik dari Disney land di tempat kita." ujar Michael.


Dalam diamnya Michael merasa takjub memperhatikan cantiknya wajah Sofia yang terus memandang indah lampu yang menghiasi keadaan pasar malam.

__ADS_1


"Sofia ..." bisik Michael di telinga Sofia yang masih setia memegangi tanganya.


Sofia menoleh ke arah wajah Michael dan ...


Cuppsss ....


Sofia membulatkan matanya merasa kaget dan tak menyangka bahwa Michael yang dengan berani mencium bibirnya.


Sofia yang merasa malu kini wajahnya memerah dan langsung mendorong dada Michael.


"Kak Chel. Aku mohon, kendalikan dirimu!" Sofia memalingkan pandanganya merasakan jantungnya yang kini terus berdegup kencang.


"Maafkan aku Sofia, tadi aku benar benar tidak sengaja. Dan terbawa suasana." Michael merutuki kebodohanya dan merasa malu dengan tindakan sembrononya.


Sekilas Michael menoleh dan memperhatikan Sofia .


"Aku harap dia bisa memaafkan kehilafanku tadi." gumam Michael di dalam hatinya.


Kincir raksasa yang sedari tadi berputar kini lambat laun mulai menghentikan perputaranya. Dan semua penumpang kini perlahan bangkit dan keluar dari tempat duduknya.


"Tiket yang kita punya masih banyak, bagaimana kalau kita berdua menghabiskanya?" Michael mencoba mengalihkan suasana canggung antara mereka berdua.


Sofia mengangguk semangat mengiyakan ajakan Michael yang begitu bersemangat dan antusias pada dirinya.


"Bagaimana kalau kita mencoba masuk ke dalam sana." Sofia menunjuk sebuah rumah yang di bangun dari papan dan triplek menyerupai rumah hantu persisnya.


"Rumah hantu?" Michael tersenyum sedikit memaksa.


Di dalam hati kecil Michael. Dirinya pun sebenarnya takut akan hal hal yang berbau mistis.


"Ayo Kak Chel. Sofia ingin nyobain kesana." Sofia menarik narik tangan Michael.


Di depan wahana rumah hantu. Sudah terlihat dua algojo bermuka bengis yang tugas meminta tiket pengunjung yang akan memasuki rumah hantunya.


"Mana tiket kalian!" tanya algojo itu pada Michael dan Sofia.


Sofia yang merasa takut dirinya langsung bersembunyi di balik punggung Michael.


"Sofia, tenang ada Babang Chel yang akan selali menemanimu sekaligus melindungimu dari kroco kroco mumet seperti ini." Michael sedikit berlagak agar sedikit terlihat keren di depan Sofia.


"Apa kau bilang! Kroco mumet?" salah satu Algojo yang berasal dari pulau jawa sontak tidak terima dengan apa yang di ucapkan Michael padanya.


"He ... He ... Maaf, saya bercanda. Ini tiket kami, dan biarkan kami berdua masuk sekarang." pinta Michael pada kedua algojo penunggu pintu masuk rumah wahana rumah hantunya.


Dua algojo yang berwajah seram pun kini menggeser posisi dan membukakan pintu hantunya.


"Ayo, kita masuk." ajak Michael dengan tangan yang tak pernah luput memegang Sofia.


Di dalam rumah hantu yang di ciptakan dengam nuansa gelap tanpa penerangan benar benar membuat Michael dan Sofia harus lebih bersabar dalam melangkahkan kakkinya.


"Sial ... gelap sekali disini ternyata." keluh Michael.


"Kak Chel jalannya pelan pelan saja." ujar Sofia yang masih menyembunyikan wajah di balik punggung Michael.


Terlintas ke isengan di dalam hati dan pikiran Michael untuk mengerjai Sofia di dalam rumah hantunya.


"Sofia, mau sampai kapan kau menyembunyikan wajah di balik punggungku. Kalau kau takut sebaiknya kita pulang saja." ejek Michael.


"Iya, Kak. Tapi Kak Chel, jangan pernah lari meninggalkanku disini." pinta Sofia.


Sofia menggandeng bahu Michael dan mulai menyusuri gelapnya lorong rumah hantu tersebut.

__ADS_1


BUAAAKEKOKKK ....


Suatu benda terjatuh dari atap dan tepat menggantung dan kini berayun tepat di hadapan Michael dan Sofia sambil cekikikan tertawa.


Sofia yang ketakutan menjerti sekencang kencang sambil memeluk Michael.


Alangkah senangnya Michael mendapat rezeki nomplok ketika dua dada mereka saling bersentuhan.


Michael tak menyianyiakan kesempatan yang jarang, bahkan tak pernah di dapatkanya dalam momen seperti ini.


"Jangan takut ... ada Kak Chel disini." Michael mengelus ngelus punggung Sofia dan dan dengan nakal mencercap leher Sofia.


"Kak Chel, Nakal." Sofia memukul mukul manja bahu Michael.


Michael kembali memeluk Sofia dan mencoba menenangkan dengan seribu rayuan mautnya.


Setelah di rasa tenang. Kini Michael kembali meneruskan langkahnya menyusuri wahana rumah hantunya bersama Sofia.


"Kak Chel, disana ada dua jalan?" Sofia menunjuk pada dua jalur di hadapanya.


"Kita coba yang kanan saja." ujar Michael sambil memikirkan strategi selanjutnya untuk keisenganya.


Mereka berdua kini melangkah mengambil jalur kanan yang di usulkan Michael sebelumnya.


Suara cekikikan mahluk penunggu wahana rumah hantu itu pun terdengar kembali di telinga mereka berdua.


"Kak Chel, Sofia takut." ucap Sofia.


Michael berbalik dan menangkup wajah Sofia dengan kedua tanganya.


Cuppppssss ....


Lagi lagi Michael mencium bibir Sofia yang menurutnya kini telah menjadi candu berat baginya.


Eppppoookssss ...


Michael melepas pagutan dan berdalih bahwa sebuah ciuman itu bisa mengusir rasa takut seseorang pada Sofia.


Sofia yang masih polos dalam hal seperti itu. Dengan mudahnya terpedaya oleh kata kata konyol Michael yang menurut Author sendiri gak masuk akal tentunya pemirsa.


"Lantas ... apa yang harus Sofia lakukan untuk melewati rumah hantu ini?" tanya Sofia dengan polosnya.


Michael tersenyum licik dan kini langsung menggendong Sofia dengan gaya brydal stylenya.


"Dekat wajahmu padaku dan cepat pejamkan matamu. Ingat kau tidak boleh melakukan protes sebelum kita berhasil keluar dari wahana rumah hantu ini." titah Michael.


Sofia patuh dan kini mulai mendekatkat wajah dengan tangan yang mengalung pada leher Michael.


Perlahan Sofia memejankan mata dan berharap ia bisa melewati wahana rumah hantunya tanpa kendala.


CUPSSS ...


Kali ini Michael sedikit memperdalam tekananya dalam memainkan irama bibirnya.


"Kak Chel ..." Lenguh Sofia yang kini mulai terangsang oleh permainan epic Michael.


Michael tak menggubris perkataan Sofia dan malah semakin memperdalam lidahnya menyusuri mulut Sofia.


"Kak Chel, aku mohon hentikan." pinta Sofia namun Michael menggeleng enggan dan terus melangkah membawa Sofia dengan bibir yang terus menghisap manisnya madu Sofia.


Like ... like ...ya cuy

__ADS_1


__ADS_2